
Tiga tahun Syafa mencoba melupakan masa lalu.
Masa lalu yang mengajarkan arti cinta juga pengkhianatan.
Syafa berdiri di jendela sisi ruangan kerjanya mengingat kejadian yang dulu terjadi.
Ada kala rindu tak bearti,ada kala semacam tak di hargai.
Namun hati ini tetap sabar dan memaafkan Azril,meskipun untuk move on sulit di lakukan.
Apalagi pengkhianatan yang di ciptakannya melukai hati yang sudah mulai mencintai Arzil,sosok suami penuh pengorbanan.
Tiba-tiba terdengar rintihan wanita yang sudah menahan sakit ingin melahirkan.
"Subhanallah bu,kenapa baru sekarang di bawa?"tanya Syafa melihat kondisi sang ibu yang sudah lemah.
"Maaf bu,saat ini suami saya lagi nyari pinjaman untuk biayanya.Makanya saya baru ke sini?"
"Terus suami Ibu di mana?"
Terlihat seorang pria mengenteng tasnya dengan wajah sedih,karna tak punya uang untuk administrasinya.
"Ini kenapa Pak,kog baru sekarang si Ibunya di bawa ke sini?"tanya Syafa yang kesal kelalaian si bapak hampir membuat kehilangan bayinya.
"Anuh bu,kami gak punya biaya untuk administrasinya,makanya saya lama ke sini?"ujar bapak yang wajah menunduk serta gelisah.
"Bpjs punya?"
"Tidak bu,boro-boro Bpjs bu,untung makan saja pas pasan"lirih bapak mengusap keringatnya.
"Bayi bapak ini melintang,jadi harus di lakukan operasi caesar sekarang.Kalau tidak takutnya bayinya tidak tertolong"
Sementara si Ibu hanya pasrah,sakit yang dasyat tidak bisa berpikir lagi.
Syafapun dengan segera membawa si Ibu ke ruangan operasi,dan menemui Dokter spesialis kandungan.
Setelah si Bapak mendatangi suratnya,operasi pun di lakukan dan tak lama terdengar suara bayi.Si bapak yang sudah mondar mandir tersenyum lepas saat mendapati bayinya sudah lahir.
Syafa dan petugas kala itu keluar,"Selamat yah Bapak,anaknya cewe,cantik lagi"ucapnya senyum merekah.
"Terima kasih Dokter,Bu Bidan"ujar si Bapak yang terharu,ia mencium tangan Dokter membuat Syafa ketawa kecil memperhatikan si Bapak mengekspresi kebahagiaannya.
__ADS_1
Syafa dan Bian hanya tersenyum melihat ulah Bapak itu,kemudian pamit meninggalkan si Bapak.
Pria tampan specialis kandungan ini bernama dr.Bian,spOG.
Terkenal dengan kesholehannya dan keramahannya melayani pasien membuat keduanya bisa di katakan CUCOK alias serasi.
Bian emang menyukai Syafa dalam diam,belum berani mengungkapkan.Butuh keberanian apalagi Syafa gadis yang pernah menempuh pendidikan serta berhasil menjadi seorang hafidzhah.
Syafa yang kelelahan berjalan menerobos menuju kantin yang di gelarnya KANTIN HOT,karna terkenal masakannya yang pedas sesuai selera di mulutnya.
Sahabatnya Farah,dan Halwa sedang duduk manis sembari menikmati es jeruk peras mengembalikan semangat mereka yang lelah bertugas.
"Si Syafa mana sihh?,aku sudah lapar banget,mana perut ini sudah berbunyi"keluh Farah menahan lapar.Bagi mereka tak da makan kalo tanpa sahabat.
"Tuh Syafa,lihat wajahnya udah lemes bangett"ujar Halwa menikmati es jeruknya.
"Wa,dari tadi minum mulu gak kembung tuh perut,hah?"
"Aku mah tiap pagi udah sarapan,jadi aku santai saja"sahut Halwa memainkan ponselnya mengamati foto idolanya.
"Kamu sihh enak orang kaya.Bangun pagi sarapan udah bejimbun tu di meja makan,lah aku dan Syafa gag masak yah gak makan"celoteh Farah,sahabat yang sedikit bar bar di antara mereka.
Syafa melihat Sahabatnya sudah memasang wajah kesal,dengan segera ia duduk di depan Farah,karna Farah yang tidak sabaran dalam segala hal,dan selalu marah jika terlambat.
Mereka memesan tiga Bakso,serta minumnya teh botol sosro.
Setelah mengisi perut , ketiganya kembali bekerja dengan urusannya masing-masing.
Halwa seorang dokter specialis anak tentulah di kenal sifat lembut dan penyayang menjadi kunci utama dalam melayani pasien.
Sementara Farah adalah seorang perawat memiliki sifat seikit judes,bar bar,namun jiwa sosialnya tinggi.
Bian melihat ketiganya sedang ngobrol sambil ketawa ketawi bercerita,ia tersenyum menuju ke arah Syafa dan yang lainnya.
"Eh Pak Dokter,mau ke mana??"sapa ketiganya,terutama Halwa yang begitu semangat menyapa sang Dokter idolanya.
"Biasa,mau lunch,oh yah Syafa kamu sudah makan?"tanya Bian mengubah ekspresi Halwa yang kecewa sikap Bian lebih perhatian kepada Syafa.
Syafa melihat Halwa berubah manyun,ia pun duduk di samping Halwa agar Bian dapat melihat perhatian Halwa kepadanya.
Bagi Syafa cinta antara persahabatan lebih utama dari pada perasaan suka dengan seseorang.
__ADS_1
"Saya ke kantin dulu,selamat bertugas"ucap pamit Bian singkat.
Pukul 15.00 wib pergantian shift tugas berjalan.Syafa pulang menggunakan motor matic yang ia beli hasil titik peluhnya sendiri.Mesti bekas yang penting nyaman itulah kunci kebahagiaannya.
Sebelum pulang ia mampir ke rumah Sonia,sang pengasuh buah hatinya bernama Idris Syahril Hasan.Bocah kecil mungil itu berjalan menujunya.
"Um_mi"itulah ucapannya saat bertemu dengan Syafa.
"Makasih yah Bi,udah mau jaga Syahril"ucapnya sembari memberi kantong kresek berisi batagor kesukaan bibi Sonia dan pamit pulang.
Ia membawa Syahril dengan gendongan kanggurunya.Syahril terlihat beriuh kalo di bawa umminya berjalan berkeliling kompleks menuju rumah kecilnya.
"Alhamdulillah,sampai juga sayang"ucap syukur tak lepas dari bibir tipisnya.Kenikmatan yang ia rasakan begitu tidak bisa di dustakan.
klek
Syafa membuka pintu tak lupa mengucap salam dan di awali bismillah agar syaithon saat perjalanan tadi tidak masuk ke rumahnya.
Dilepasnya gendongan itu,Bocil itu mulai beraksi.Tumbuh kembang begitu baik meskipun hidup tanpa sosok Abi di sampingnya.
"Um_mi,Syahril lapal"
"Bentar yah,ummi masak bubur dulu.Kamu enteng enteng di sini"pintanya,Syafa menuju dapur dan tak lupa mengambil mainan untuk putranya.
Setelah memasak,Syafa menyuapkan nasi lembek ke mulut sang anak dengan lauk tumis bayam dan tempe goreng sudah buat Syahril makan dengan lahapnya.
Syafa sangat bahagia buah hatinya tidak memilih soal makanan,selagi dirinya yang memasak,putra sematang wayang selalu bersemangat untuk menghabiskannya.
Begitulah keseharian Syafa yang banyak tidak diketahui kecuali sahabatnya.
Syafa hanya berdoa semoga Allah mempertemukan dirinya dengan cinta sejatinya.
Syafa menjalani semuanya tanpa keluh kesah meskipun kerinduan pada seseorang menyelimuti hatinya.
Pelajaran beharga yang ia petik mencintai butuh kesabaran,keyakinan serta mampu menghadapi segala rintangan.
Sebesar apapun rintangan itu selagi ada kepercayaan dan keyakinan bisa melalui pasti semua akan berjalan seperti air mengalir.
Cinta tak butuh logika cukup gunakan perasaan yang tulus dan murni tanpa ada campuran hitam merusak putih suci itu.
Yakinlah Cinta tak mengenal seberapa besar kesalahan melainkan seberapa besar ketulusannya untuk memperbaikinya.
__ADS_1
Salam manis Suhada,
Jika suka like n comment..😉😁