
Sedihhh
Jalan cintaku ini....
Rapuh. Dan akhirnya...
Ku sendiri lagi....
Bian membuka cincin yang masih di kotak love kecil.Hatinya mungkin kecewa.Bersusah payah mengungkapkan tapi berujung pada kepergian Halwa tanpa bicara.
Andai saja semua bisa di ulang ia akan berpikir panjang hingga lautan selatan mencurahkan perasaannya yang masih larut dalam tumpahan air mata.
"Mengapa aku begitu cengeng.Gadis itu meregut kebiwaanku sebagai Bian yang selalu kuat menghadapi masalah," Rintihnya menepis air putih mengalir setitik dari matanya.
Bian menutup cincin itu dan melemparnya ke rerumputan di halaman Rumah Arzil yang besar.Dia tak ingin lagi berurusan pada cincin yang menyekat hidupnya untuk bisa melaksanakan amanah mamahnya.
Syafa merasa tak bisa tidur.Dia memilih keluar mencari udara segar.Syafa duduk di kursi panjang di mana tempat ia bersantai bersama Arzil saat dirinya masih serumah bersama sang suami.
Dia menghela nafas berat sambil menatap bintang kecil menghiasi langit yang gelap.Seluruh kenangan pahit dan manis memutar memory di pikirannya.
Bian bangkit meninggalkan halaman Rumah Arzil dan berencana ingin pulang ke rumahnya namun di halangi Syafa.
"Mau ke mana kak? Mari sini! Duduk di sampingku." tutur Syafa melempar senyum pada Bian tapi tak mendapat respons.Bian duduk sambil menatap satu tanpa memperdulikan Syafa di sampingnya yang dari tadi berharap bisa bercanda meluah kegelisahan malah sebaliknya di cuekin tanpa sebab.
"Kak Bian kenapa? Sakit ? " lalu memegang dagu Bian agar mendongak. Syafa terkejut melihat mata Bian sudah memerah, " Hoala! Kau menangis ? Ada apa denganmu?"
Setelah melontarkan pertanyaan,Syafa memilih diam.Melontar pertanyaan juga percuma.Toh,kang Bian lagi sedih sudah pasti tidak akan di jawab olehnya.Syafa mengangkat kepala Bian dan meletakkan di pundaknya.
Syafa tahu kesedihan kakaknya pasti menyangkut masalah hati.Hati yang lagi-lagi kecewa serta keputusasaan merasuh jiwanya yang gagal untuk membentuk Rumah tangga seperti keinginan Atikah.
"Sudah.Tak usah menangis lagi.Mungkin Halwa butuh waktu.Kalo jodoh juga gak ke mana-mana." ucap semangat Syafa untuk menenang perasaan Bian.
__ADS_1
Syafa mengusap lembut punggung Bian lalu meminta untuk Bian menginap di Rumahnya karna susah larut malam.
Shubuh ini Syafa begitu bersemangat memandang sang suami yang sudah sadar.Dia tak berhenti memandang dan mengusap rambut Arzil di pangkuannya.
"Alhamdulillah kakak sudah sadar.Aku turut senang yang pastinya nanti malam gak begadang lagi karna merawatmu." keluh Syafa sambil menguap menahan kantuk karna harus menjalankan sholat shubuh.
Syafa mengambil bantal dan meletak pelan kepala sang suami yang sudah terlelap karna semalaman merasa pusing jadi Syafa memilih memijat lembut pelipisnya sambil tertidur duduk.
Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah.Syafa turun membantu Bibik menyiapkan sarapan untuk semuanya.
"Bik.Apa menu pagi ini?" sapanya lalu mengelitik pinggang bibik kemudian menuju ke kulkas melihat stok bahan yang ada.
"Sepertinya stok makanan di Rumah banyak yang habis.hehm..siapa kira-kira bisa ku ajakin untuk belanja?" pikir Syafa duduk memikirkan orang yang bisa di suruh pergi belanja.
"Kak Bian gak mungkin.Dia bilang hari ini ada jadwal operasi di Rumah sakit.Lalu siapa yah?" gumamnya dalam hati . Kemudian Ardian datang bersama Syahril.Ardian menggendong Syahril yang merengek memintanya menemani jalan ke luar.
"Aku hari ini lagi gak badmood bocah.Jadi,tolong!Jangan paksa aku.Okey!"titah Ardian meneguk air putih sambil menatap Syafa lagi kebingungan.
"Maaf.Stok makanan di Rumah habis.Aku ingin belanja,cuman kak Arzil belum sehat.Jadi,aku tak mungkin meninggalkannya sendirian."
"Yasudah.Mana daftar belanjanya biar aku saja yang pergi.Kebetulan aku juga lagi gak ada ke mana-mana." ujar Ardian memandang Syahril yang antusias ingin ikut Ardian.
"Horee.Syahril ikut boleh?" Rayunya memeluk paha Syahri memberi kesan wajah serta tatapan mata penuh harap.
"Iya.Boleh! Tapi harus nurut perintahku." tegas Ardian membungkuk menghadap Syahril yang melebar senyum puas.
"Iya.Dengerin ucapan om Ardian yah.Jangan nakal!" pesan Syafa mencium pipi Syahril dan menyerahkan daftar belanja ke Ardian.
"Aku titip Syahril.Tolong di jaga! Dia masih kecil,takutnya dia menghilang."
Setelah mengantarkan Syahril masuk ke dalam mobil.Syafa bergegas masuk tak menyangka Arzil sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Kak Arzil.Sudah lama berdiri di sana?"
Syafa sedikit merasa senang karna suaminya sudah mulai ada perkembangan.Dia mengandeng tangan suaminya menuju ke dapur dan mendudukan Arzil.
"Ini.Aku buatkan bubur untukmu?"
Syafa menyuapkan bubur ke mulut Arzil.Anehnya Arzil hanya terdiam tanpa berkata.Keakraban Syafa dan Ardian menjadi duri di benak Arzil yang merasa termakan cemburu.
"Aku tidak lapar." ucapnya lalu mendorong kursi kembali dan pergi meninggalkan Syafa yang sudah mulai nanar.
Arzil memegang pelipisnya berjalan ke kamarnya.Rasa pusing plus melihat Syafa berbicara pada Ardian tadi membuatnya termakan api cemburu.
Arzil tahu dan sadar Ardian adalah saudaranya tapi setelah pengkhianatan yang di lakukan Ardian tak mudah ia lupakan.Apalagi putranya sangat menyayangi Ardian bahkan memanggil dengan sebutan Ayah.
Syafa sedih.Sifat dingin Arzil memberi ketidaknyaman pada hatinya.Hatinya mulai merasa gelisah tak tentu arah.Perasaan takut serta was was mulai menyusuri batinnya yang sedang memikirkan Arzil.
Syafa menyusul Arzil yang sudah bersandar di kasurnya.Arzil memaling wajah tak melihat Syafa yang sudah duduk di ujung kakinya sambil menatapnya.Merasa tak berbuat salah ia mendekati dan mengenggam tangan dingin Arzil
"Kak,jika Syafa punya salah tolong di tegur! Agar Syafa bisa merubahnya tanpa harus bersikap dingin pada Syafa.Syafa tidak kuat kalo kakak cuekin Syafa." lirihnya berbicara menunduk tak berani mendongak menatap suaminya.
Syafa berbuat demikian karna begitulah sifatnya.Sifat tak bisa di cuekin tanpa tahu salah yang ia lakukan.Ia pasti menangis untuk meringankan kesedihannya yang sudah memberat di dadanya.
"Kau mau tahu salahmu? Salahmu terlalu mudah bergaul pada pria yang belum kau kenal sifatnya."
Syafa mendengus kasar mendengar pernyataan Arzil yang membuat dirinya tanda tanya.
"Maksudmu Ardian? Astagfirullah kak.Ardian itu adikmu mana mungkin Syafa suka padanya.Kakak cemburu nih.Istigfar kak,sungguh was was itu datangnya dari syaithon." jelas Syafa menyentuh pipi Arzil.
"Syafa itu milik Allah.Allah telah mentakdirkan Syafa menjadi istri kakak.Jadi,sebagai seorang istri Syafa berusaha menjadi bidadari surga yang ingin menemani suaminya bukan di dunia saja melainkan di surga."
Syafa memeluknya memberi kehangatan pada hati Arzil yang sudah di rasuki bisikan Syaithon yang tak senang melihat keutuhan Rumah tangga berjalan dengan baik.
__ADS_1