
Hari ini Syafa terlihat santai dalam bekerja.Pekerjaan hari ini tidak membuatnya ia menguras stamina.
Syafa berjalan menemui Bian untuk menyerahkan beberapa laporan bulanan kepadanya.
Klek
Ruangan Bian yang begitu sepi.Terlihat sepertinya Bian sedang bepergian,namun yang mengganjal di pikiran Syafa album kecil bewarna biru yang di selipkan di tumpukan buku.
Bian emang tipe cowok yang hoby membaca.Di sela waktu kosong selalu di isinya dengan membaca beberapa majalah atau buku kesukaannya.
Meja Bian terlihat sedikit kotor membuat Syafa sebagai adiknya memberanikan diri untuk membersih dan merapikan beberapa laporan yang menunggu jari Bian untuk menyentuhnya.
..." Hehm...ini pasti kebiasaan kak Bian,lupa sama ponselnya" Syafa mengambilnya dan meletakkan di bawah lacinya meja kerja sang kakak....
Kemudian pergi melangkah keluar.
Dret dret dret
Ponsel Bian berdering berkali-kali.Awalnya Syafa ragu ingin mengangkatnya namun ponsel terus saja berbunyi.
Terlihat nomor tanpa nama.
" Aku angkat pa gak?" Pikiran Syafa kalang kabut.Ingin mengangkat takutnya lancang terlihat tidak sopan.Dia mondar mandir mengigit jari-jarinya.
Bian yang baru usai menjalankan operasi duduk besandar sambil memijat pelipisnya.Jadwal yang padat membuatnya sedikit kelelahan.
" Siapa dalang semua ini?" ucap Bian memainkan pulpen memikirkan pelaku yang terjadi penembakan pada Arzil untuk kedua kalinya.
Syafa yang sembunyi di belakan sofa mengintip Bian yang sedang berpikir keras.
Tok tok tok
" Masuk!"
" Bagaimana keadaan kak Arzil? apa operasinya berjalan lancar?" tanya Ardian berdiri menghadap Bian.
" Menurutmu siapa yang melakukan semua ini?" Bian memutar kursinya menyuruh Ardian duduk agar lebih leluasa dalam bicara.
" Arzil hampir saja kehilangan nyawanya.Jika kau lambat sedikit aku rasa dia udah lewat.Peluru itu kedua kali masuk ke tempat yang sama." Tegas Bian menunjuk hasil cek up Arzil yang begitu mengkhawatirkan.
" Ku rasa satu-satu orang yang tidak menyukai kak Arzil adalah Pak Bram,musuh buyutan Dedy.Beliau sangat membenci Dedy di karnakan Dedy ku berhasil menemukan bukti pembunuhan yang di lakukan Pak Bram pada karyawannya bernama Lusy."
"Tapi Pak Bram bukannya sudah meninggal? bahkan aku menyaksikan pemakamannya." Ucap Bian mematah dugaan Ardian.
Bianlah orang yang saat itu menyaksikan kematian Pak Bram.Dia juga menemani anak Pak Bram saat pemakaman.
"Bagaimana dengan putrinya?Sheila gadis tomboy itu.Ku rasa mungkin dia dalang semua ini" duga Ardian menuju ke Sheila.
__ADS_1
"Sheila?" Bian sontak berdiri saat Ardian mengatakan Sheila.
"Mungkin saja dia" Cetus Ardian pergi meninggalkan Bian.
Syafa keluar dari persembunyiaannya.Ia menatap datar pada Bian yang tidak memberi tahu kalau Arzil saat ini di rawat di rumah sakit tempat ia bekerja.
"Mengapa kakak tidak memberi tahuku kalau kak Arzil saat ini koma?"tanya Syafa . Bagaimana bisa Bian merahasiakan padanya tentang Arzil.
Syafa bertanya kepada temannya di mana Arzil di rawat.
"Kamu mengapa Syafa ? tegang banget " kata petugas yang mengenali Syafa.
" Ruangan VIP no 17 "
" Okey .." Syafa berlari menuju ruangan itu.Betapa kagetnya keadaan Arzil begitu kritis.Seluruh tubuhnya sudah di tempeli selang.
" Sebenarnya siapa yang tega melakukan ini padamu ? " lirih Syafa melihatnya dari kaca jendela kamar Arzil.
tit tit tit
Hanya terdengar bunyi alat detak jantung.Syafa mengemam bibirnya tak sanggup menatap Arzil.
"Aku tak bisa berdusta dengan hati ini.Meskipun mulut ini mengatakan aku tidak mencintaimu namun hatiku berkata tidak.Jujur aku masih cinta padamu." Ujar Syafa mengusap air matanya namun terhenti saat mendengar seorang pria memakai sweater bewarna hitam menatap Arzil dengan penuh kebencian.
"Ini baru awal tuan Arzil"ucapnya berlalu melihat selang yang menempel di tubuh Arzil.
Syafa menyaksikan itu menutup mulutnya agar tidak ketahuan.Dia duduk di bawah tempat tidur Arzil.Setelah melakukan itu pria itu meninggalkan Arzil dan membuang suntikan itu di tong sampah.
Syafa menelan saliva bergegas keluar melihat Arzil.Dengan segera Syafa mengambil botol kecil dan membawanya untuk di cek cairan itu.
"Syafa kaget ternyata cairan itu berisi racun yang membuat seseorang bisa lumpuh." Syafa berlari menuju ruangan Arzil.
Namun sayang Arzil sudah di pindahkan di ruangan Iain.Cucuran air mata Syafa jatuh saat mendapati keadaan Arzil semakin memburuk.
Syafa pergi pertemu Bian.Berlari melihat dari ruangan ke ruangan lain.
Bian yang sedang bermain ponsel sembari menikmati menu makanan di kantin.
"Syafa,kau kenapa? seperti orang lagi bermain kejar kejaran." Sindir Bian mengamati sang adik yang sudah ngos ngosan.
"It...tu...kak Arzil gag da di kamar??" Ucap Syafa membuat Bian tersedak.
Byurrrr
"Kak Bian...."teriak Syafa memegang jilbabnya yang terkena semburan Bian.
Bian tertawa renyah melihat Syafa seperti cacing kepanasan.Tubuh tak henti mondar mandir memikirkan Arzil.
__ADS_1
Syafa mengambil minuman yang di pegang Bian dan meletakkan kasar di mejanya.
"Sekarang katakan di mana kak Arzil? kau pindahkan ke mana dia?"cetus Syafa meminta Bian memberitahunya.
Bian meletakkan uang di meja dan meninggalkan kantin.Telinganya panas mendengar ocehan Syafa.Sejak mengetahui Bian kakaknya Syafa berubah judes.
"Kak,tunggu"pekik Syafa berlari kecil.Ia mencubit lengan Bian karna meninggalkannya begitu saja.
"Sebaiknya kau bekerja.Jangan mengejarku,aku tidak mau di ganggu."Jelas Bian yang sudah mumet.
Bian masuk ke ruangan ingin beristirahat membuang lelahnya.
Pikiran mulai memutar memikirkan gadis masa lalunya.
Gadis yang memberinya warna kehidupan di mana dia dulu pernah terjerumus dunia gelap.
"Di mana dia?"gumam Bian mengerutkan dahinya dan berdiri mengoceh ponsel di saku celananya.
1 pesan terlihat di Whats App
Bian kau di mana ?
Bisakah kita ketemu di tempat biasa..
okey , jawab Bian lalu mengklik tanda kirim
Bian menutup pintu ruangan segera menemui seseorang yang meminta ketemuan.
Terlihat seorang wanita sedang menangis mengusap air matanya.
Bian menarik kursi duduk di hadapan wanita itu.
"Kau kenapa?"tanya Bian memberi kain kecil agar wanita itu membersihkan air matanya.
"Hiks hiks hiks...Bian tolong aku!"
Bian melihat segala arah karna takut ada yang mengikutinya.
"Aman"gumamnya dalam hati
"Sekarang cepat ceritakan padaku, masalahmu?"titah Bian duduk fokus mendengar cerita wanita itu.
"Kakak ku meminta aku untuk menghabiskannya.Tapi aku tidak bisa karna aku sangat mencintainya.Apalagi pernikahanku dengannya memilki seorang putri.Aku tak mampu melakukan itu."Lirihnya menangis tak ada henti.
"Kakak ku menterorku terus.Aku takut Bian...."ujar wanita itu.Raut mukanya begitu tegang serta memandang ke segala arah karna takut tiba-tiba sang kakak datang .
l
__ADS_1