
Syafa pergi meninggalkan Bian yang masih berdiri tanpa untaian kata maupun jawaban .
Semua yang di tuduhkan Syafa kepadanya ada benar ada juga yang salah .
Syafa berjalan mengusap air matanya . Kelakuan sang kakak mengecewakan dirinya .
Dia mencoba tersenyum merekah berpura- pura bahagia di depan sahabatnya .
" Kamu buat minum atau beli minum , kog lama buangeet sampai kering nih tenggorakan aku " cetus Farah meneguk cairan bewarna orange yang masih di pegang Syafa .
" Maaf dehhh !. Halwa mana ?? "
" Tuhhh si Bunda lagi main sama Syahril . Bunda cantik , cakep , comel ! . Imut kan ?? " ujar Farah menggelar Halwa dengan sebutan 3C lalu menyengir .
" Bisa saja .. lanjutlah . Aku mau ketemu Halwa dulu . "
" Ikuttt , masak aku di tinggal ." ujar Farah mengejar Syafa .
Setelah sekian jam mereka bersama . Halwa dan Farah memutuskan untuk pamit pulang .
" Makasih loh ... udah main ke sini . Apalagi Syahril senang bangettt ketemu tante Halwa " puji Syafa menilai Halwa sangat memiliki jiwa ke ibu ibuan jadi wajar Syahril sangat betah bermain dengannya .
" Iyahhh...oh yah Syafa,Bian ke mana?? , sejak dari taman Ibu gak ngelihatin dia ? " tanya Atikah memandang segala arah mencari keberadaan Bian .
" Dia ada di taman Bu " ucap Syafa lalu pergi meninggalkan Atikah . Syafa tak bisa membohongi kalau saat ini perasaannya begitu hancur . Bahkan tak yakin rasa kepercayaannya pada Bian bisa kembali seperti dulu .
Syafa menuju ke kamar sembari mengendong Syahril ke kamarnya .
" Syafa,tunggu ! semua yang kamu lihat itu salah . Kakak bisa jelasin semua " kata Bian tak sengaja barengan menuju kamar .
Raut mukanya begitu kecewa . Manik mata sudah berkaca-kaca . Atikah melihat Syafa begitu dingin tanpa kata sahutan bahkan teguran saat Bian memanggilnya .
" Kau sakit yah ? " tegur Atikah menatap Bian dan Syafa yang sedikit berbeda .
" Tidak Bu , Syafa cuma sedikit kelelahan saja " cetus Syafa lalu masuk ke dalam kamarnya . Begitu juga di ikuti Bian masuk ke kamar dengan raut yang sama .
🌾🌾🌾🌾
" Bu , Syafa duluan yah..." Syafa mengenteng tas tak lupa menyalami Ibunya serta mencium putranya .
" Muachhh , ummi berangkat yah ! " kiss by Syafa bergegas melaju dengan motornya .
__ADS_1
Sesampai di parkiran Syafa tak sengaja tertabrak dengan seorang pria .
" Ups . Maaf aku tidak sengaja " ucap Kevin membantu mengambil isi tas Cinta yang berantakan . Kevin tak sengaja melihat foto Arzil yang terselip di dompet Syafa yang terbuka .
" Wahh makin seru saja " senyum Kevin merekah mengucap dalam batinnya .
" Berikan itu padaku " Syafa mengambil paksa foto dan memasukkan kembali dalam tasnya lalu meninggalkan Kevin .
Kevin bergegas menuju ruangan Arzil . Arzil sudar sadar namun kakinya agak sulit di gerakkan .
" Kevin...dari mana saja kau ? baru sekarang datang ? "
" Aku menjalankan sesuai perintahmu . Mencari tahu siapa yang melakukan ini semua pada mu ?
" Lalu apa kau sudah menemukan ? " tanya Arzil menatap tajam Kevin .
Kevin memberikan beberapa bukti , " Kau yakin ?? , dia pelakunya ? "
" Semua bukti mengarah padanya " ucap Kevin menaikkan alisnya .
Di tempat lain Syafa berusaha untuk tidak bertemu Bian . Kesalahpahaman antara dirinya dan Bian masih berlanjut .
Bian mendatangi Halwa di ruangannya . Halwa terlihat canggung karna baru kali ini Bian mengunjungi ruangan kerjanya .
" Semalam Syafa bilang hari ini ia tidak masuk , katanya mau izin . Izin ke mananya aku kurang tahu "
Syafa membawa kotak kecil berisi brownis mini. Rasa rindunya pada seseorang membuatnya lupa rasa sedihnya .
Tok tok tok
" Masuk "
Syafa memasuki ruangan VIP dengan senyum merekah sedikit sedih karna melihat Arzil terbaring .
" Galak bangett..nyuruh masuknya kayak nyuruh bawahan " ujar Syafa menuju ke arahnya .
Arzil mencoba bangun untuk duduk besandar namun kesulitan .
" Sini aku bantu " kata Syafa meletakkan kotak kecilnya sembari mengambil bantal agar Arzil bisa besandar .
" Syaafaa , ini beneran kau ? "
__ADS_1
" Kakak kaget yah ! , ini Syafa bawa bronis buat kak Arzil. " Syafa menyuapkannya , tatapan matanya hanya tertuju pada Arzil dengan senyum manisnya mengingat Arzil saat pertama bertemu dengan Syafa .
" Sudah cukup Syafa . Kakak sudah kenyang . Kau menyuapnya seperti peluru tak berhenti " sindir Arzil yang melihat Syafa yang begitu bahagia . Wajahnya yang teduh menenangkan jiwa Arzil yang kaget saat mengetahui siapa dalang dari semua ini .
" Iýýa iya " cetus Syafa meletakkan bronis di meja kecil sampong tempat tidur Arzil .
" Syafa kalau kak Arzil boleh tahu, apa yang membuatmu ke sini ?, bukankah kemarin kau menolakku bahkan lebih memilih ikut Bian ketimbang suamimu. "
" Aku ingin memberikan ini " ujar Syafa mengoceh amplop putih dan menyerahkan ke Arzil .
" Jadi...? , dari mana kau mendapatkan ini ? " tanya Arzil . Arzil menatap Syafa yang masih terdiam menunduk . Rasa kecewanya saat ini susah untuk di ungkapkan . Ia terduduk menangis menutup wajahnya .
" Dari...Bian kak . Tapi aku mohon jangan kau apa-apakan kak Bian . Dia saudaraku , aku sangat sayang padanya " lirih Syafa memohon agar Arzil memaafkan Bian .
" Tapi ... ini sudah keterlaluan . Dia bukan saja merusak pernikahan kita tapi juga merusak masa depan dirinya sendiri " tegas Arzil memeluk Syafa yang duduk menghadap dirinya .
Arzil benar-benar kecewa segala pengkhianatan telah terlihat dari keluarganya sendiri . Hanya demi materi serta dendam masa lalu mereka tega menghabiskan nyawa seseorang .
Arzil mengempal tangan , ingin rasanya menghajar meluahkan hatinya yang kecewa namun semua itu hanya terlintas di pikirannya .Kakinya kaku tak mampu untuk berjalan .
" Kak , kakimu kenapa ? "
" Entahlah Syafa . Hari-hari di kasih obat tapi kaki kakak bukan sembuh malah sulit bergerak " ucap kecewa Arzil menyentuh kakinya yang belum ada perubahan .
" Sekarang kakak ikut Syafa yah " titah Syafa lalu melepas selang infus yang menempel pada Arzil dan menduduki Arzil di kursi roda . Syafa mendorongnya menuju parkiran sementara Arzil menatap aneh ulah Syafa yang di luar dugaannya .
Terlihat sahabatnya Halwa sedang menunggu di parkiran . Senyum di sertai sikap siap beraksi di mulai .
" Wa , kamu udah siap ? , dan kamu Farah apakah situasi aman ? " tanya Syafa menatap kedua sahabatnya seperti detectiv upin dan ipin yang siap membantu .
Farah dan Syafa berdiri berdampingan serta Syafa menghadap mereka memberi arahan kepada sahabatnya .
Arzil di tengah hanya tersenyum melihat ulah mereka .
" Halwa , kau bertugas supir . Farah kau bertugas memantau situasi di luar sedangkan aku akan melindungi pangeran ganteng ini " tegasnya di sertai senyum kelucuan melihat wajah sahabatnya yang selalu setia padanya .
" Siap komando " ucap bersamaan Farah dan Halwa memberi hormat . Kemudian ketiganya tertawa lepas saling berpelukan .
Halwa bergegas menyetir mobilnya dan melaju menuju sebuah rumah kecil miliknya yang letaknya tepat di belakang rumah Halwa .
" Kamu yakin menyuruh Arzil tinggal di sini ? , aku takutnya Arzil tidak terbiasa . Secara Arzil 'kan orang kaya. " Ujar Halwa prihatin kondisi Arzil yang masih duduk di kursi roda .
__ADS_1
" Insya allah yakin . Iya kan kak ? " tanya Syafa meyakinkan perasaannya yang sebenarnya ragu namun ia tepiskan demi keselamatan Arzil .