Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 29 : Misi Rahasia


__ADS_3

Syafa pergi meninggalkan Bian yang masih berdiri tanpa untaian kata maupun jawaban .


Semua yang di tuduhkan Syafa kepadanya ada benar ada juga yang salah .


Syafa berjalan mengusap air matanya . Kelakuan sang kakak mengecewakan dirinya .


Dia mencoba tersenyum merekah berpura- pura bahagia di depan sahabatnya .


" Kamu buat minum atau beli minum , kog lama buangeet sampai kering nih tenggorakan aku " cetus Farah meneguk cairan bewarna orange yang masih di pegang Syafa .


" Maaf dehhh !. Halwa mana ?? "


" Tuhhh si Bunda lagi main sama Syahril . Bunda cantik , cakep , comel ! . Imut kan ?? " ujar Farah menggelar Halwa dengan sebutan 3C lalu menyengir .


" Bisa saja .. lanjutlah . Aku mau ketemu Halwa dulu . "


" Ikuttt , masak aku di tinggal ." ujar Farah mengejar Syafa .


Setelah sekian jam mereka bersama . Halwa dan Farah memutuskan untuk pamit pulang .


" Makasih loh ... udah main ke sini . Apalagi Syahril senang bangettt ketemu tante Halwa " puji Syafa menilai Halwa sangat memiliki jiwa ke ibu ibuan jadi wajar Syahril sangat betah bermain dengannya .


" Iyahhh...oh yah Syafa,Bian ke mana?? , sejak dari taman Ibu gak ngelihatin dia ? " tanya Atikah memandang segala arah mencari keberadaan Bian .


" Dia ada di taman Bu " ucap Syafa lalu pergi meninggalkan Atikah . Syafa tak bisa membohongi kalau saat ini perasaannya begitu hancur . Bahkan tak yakin rasa kepercayaannya pada Bian bisa kembali seperti dulu .


Syafa menuju ke kamar sembari mengendong Syahril ke kamarnya .


" Syafa,tunggu ! semua yang kamu lihat itu salah . Kakak bisa jelasin semua " kata Bian tak sengaja barengan menuju kamar .


Raut mukanya begitu kecewa . Manik mata sudah berkaca-kaca . Atikah melihat Syafa begitu dingin tanpa kata sahutan bahkan teguran saat Bian memanggilnya .


" Kau sakit yah ? " tegur Atikah menatap Bian dan Syafa yang sedikit berbeda .


" Tidak Bu , Syafa cuma sedikit kelelahan saja " cetus Syafa lalu masuk ke dalam kamarnya . Begitu juga di ikuti Bian masuk ke kamar dengan raut yang sama .


🌾🌾🌾🌾


" Bu , Syafa duluan yah..." Syafa mengenteng tas tak lupa menyalami Ibunya serta mencium putranya .


" Muachhh , ummi berangkat yah ! " kiss by Syafa bergegas melaju dengan motornya .

__ADS_1


Sesampai di parkiran Syafa tak sengaja tertabrak dengan seorang pria .


" Ups . Maaf aku tidak sengaja " ucap Kevin membantu mengambil isi tas Cinta yang berantakan . Kevin tak sengaja melihat foto Arzil yang terselip di dompet Syafa yang terbuka .


" Wahh makin seru saja " senyum Kevin merekah mengucap dalam batinnya .


" Berikan itu padaku " Syafa mengambil paksa foto dan memasukkan kembali dalam tasnya lalu meninggalkan Kevin .


Kevin bergegas menuju ruangan Arzil . Arzil sudar sadar namun kakinya agak sulit di gerakkan .


" Kevin...dari mana saja kau ? baru sekarang datang ? "


" Aku menjalankan sesuai perintahmu . Mencari tahu siapa yang melakukan ini semua pada mu ?


" Lalu apa kau sudah menemukan ? " tanya Arzil menatap tajam Kevin .


Kevin memberikan beberapa bukti , " Kau yakin ?? , dia pelakunya ? "


" Semua bukti mengarah padanya " ucap Kevin menaikkan alisnya .


Di tempat lain Syafa berusaha untuk tidak bertemu Bian . Kesalahpahaman antara dirinya dan Bian masih berlanjut .


Bian mendatangi Halwa di ruangannya . Halwa terlihat canggung karna baru kali ini Bian mengunjungi ruangan kerjanya .


" Semalam Syafa bilang hari ini ia tidak masuk , katanya mau izin . Izin ke mananya aku kurang tahu "


Syafa membawa kotak kecil berisi brownis mini. Rasa rindunya pada seseorang membuatnya lupa rasa sedihnya .


Tok tok tok


" Masuk "


Syafa memasuki ruangan VIP dengan senyum merekah sedikit sedih karna melihat Arzil terbaring .


" Galak bangett..nyuruh masuknya kayak nyuruh bawahan " ujar Syafa menuju ke arahnya .


Arzil mencoba bangun untuk duduk besandar namun kesulitan .


" Sini aku bantu " kata Syafa meletakkan kotak kecilnya sembari mengambil bantal agar Arzil bisa besandar .


" Syaafaa , ini beneran kau ? "

__ADS_1


" Kakak kaget yah ! , ini Syafa bawa bronis buat kak Arzil. " Syafa menyuapkannya , tatapan matanya hanya tertuju pada Arzil dengan senyum manisnya mengingat Arzil saat pertama bertemu dengan Syafa .


" Sudah cukup Syafa . Kakak sudah kenyang . Kau menyuapnya seperti peluru tak berhenti " sindir Arzil yang melihat Syafa yang begitu bahagia . Wajahnya yang teduh menenangkan jiwa Arzil yang kaget saat mengetahui siapa dalang dari semua ini .


" Iýýa iya " cetus Syafa meletakkan bronis di meja kecil sampong tempat tidur Arzil .


" Syafa kalau kak Arzil boleh tahu, apa yang membuatmu ke sini ?, bukankah kemarin kau menolakku bahkan lebih memilih ikut Bian ketimbang suamimu. "


" Aku ingin memberikan ini " ujar Syafa mengoceh amplop putih dan menyerahkan ke Arzil .


" Jadi...? , dari mana kau mendapatkan ini ? " tanya Arzil . Arzil menatap Syafa yang masih terdiam menunduk . Rasa kecewanya saat ini susah untuk di ungkapkan . Ia terduduk menangis menutup wajahnya .


" Dari...Bian kak . Tapi aku mohon jangan kau apa-apakan kak Bian . Dia saudaraku , aku sangat sayang padanya " lirih Syafa memohon agar Arzil memaafkan Bian .


" Tapi ... ini sudah keterlaluan . Dia bukan saja merusak pernikahan kita tapi juga merusak masa depan dirinya sendiri " tegas Arzil memeluk Syafa yang duduk menghadap dirinya .


Arzil benar-benar kecewa segala pengkhianatan telah terlihat dari keluarganya sendiri . Hanya demi materi serta dendam masa lalu mereka tega menghabiskan nyawa seseorang .


Arzil mengempal tangan , ingin rasanya menghajar meluahkan hatinya yang kecewa namun semua itu hanya terlintas di pikirannya .Kakinya kaku tak mampu untuk berjalan .


" Kak , kakimu kenapa ? "


" Entahlah Syafa . Hari-hari di kasih obat tapi kaki kakak bukan sembuh malah sulit bergerak " ucap kecewa Arzil menyentuh kakinya yang belum ada perubahan .


" Sekarang kakak ikut Syafa yah " titah Syafa lalu melepas selang infus yang menempel pada Arzil dan menduduki Arzil di kursi roda . Syafa mendorongnya menuju parkiran sementara Arzil menatap aneh ulah Syafa yang di luar dugaannya .


Terlihat sahabatnya Halwa sedang menunggu di parkiran . Senyum di sertai sikap siap beraksi di mulai .


" Wa , kamu udah siap ? , dan kamu Farah apakah situasi aman ? " tanya Syafa menatap kedua sahabatnya seperti detectiv upin dan ipin yang siap membantu .


Farah dan Syafa berdiri berdampingan serta Syafa menghadap mereka memberi arahan kepada sahabatnya .


Arzil di tengah hanya tersenyum melihat ulah mereka .


" Halwa , kau bertugas supir . Farah kau bertugas memantau situasi di luar sedangkan aku akan melindungi pangeran ganteng ini " tegasnya di sertai senyum kelucuan melihat wajah sahabatnya yang selalu setia padanya .


" Siap komando " ucap bersamaan Farah dan Halwa memberi hormat . Kemudian ketiganya tertawa lepas saling berpelukan .


Halwa bergegas menyetir mobilnya dan melaju menuju sebuah rumah kecil miliknya yang letaknya tepat di belakang rumah Halwa .


" Kamu yakin menyuruh Arzil tinggal di sini ? , aku takutnya Arzil tidak terbiasa . Secara Arzil 'kan orang kaya. " Ujar Halwa prihatin kondisi Arzil yang masih duduk di kursi roda .

__ADS_1


" Insya allah yakin . Iya kan kak ? " tanya Syafa meyakinkan perasaannya yang sebenarnya ragu namun ia tepiskan demi keselamatan Arzil .


__ADS_2