Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 44 : Rencana Athur


__ADS_3

Setelah menunggu lama Ardian dan Syahril tidak muncul-muncul menambah kekhawatiran Syafa.Syafa mondar mandir di depan pintu utama sambil menggosok gosok tangan.


Bibik memperhatikan hanya menggeleng kepala.Bibik menyuruhnya duduk di sofa lalu menyuguhkan segelas air putih untuk menenang kekhawatiran Syafa memikirkan Syahril yang tak kunjung datang.Terpisah pada putra semata wayang menimbulkan trauma berat dalam benaknya.


"Sayang.Kamu di mana Nak? Mengapa tak kunjung datang? " pekiknya dalam hati kemudian Paman Athur memandangnya dari atas tingkah Syafa yang bimbang pada putranya.


Paman Athur turun menuruni tangga lalu duduk di hadapannya.Syafa merasa di tatap Athur,dia merasa tak enak hati lalu menyusul ke atas menemui suaminya.


Tok tok tok


"Kak Arzil? Buka pintunya?"ujar Syafa lalu membuka pintu.


Terlihat Arzil sudah rapi dengan kemeja serta tuxedo


memberi kesan berbeda pada Arzil saat Syafa menatapnya.


"Syafa gak salah lihat nih.Hari ini gak ada istilah masuk kantor." tegas Syafa membuka tuxedo suaminya dan meletakkan kembali dalam lemari.


"Apa yang kamu lakukan? Hari ini kakak ada pertemuan Rapat jadi harus masuk.Lagipula kakak udah sehat kan obatnya udah ada." ujar Arzil mengambil tangan Syafa kemudian menciumnya lalu memakai kembali tuxedo miliknya.


"Tidak! Kakak tu belum sembuh.Mengapa memaksa diri? Kan Kevin ada.Suruh saja dia menggantikan kakak sampai kakak benar-benar sembuh." cetus Syafa memutar tubuhnya karna Arzil tidak mendengar nasehatnya.


"Kamu gak percaya kalo kakak sudah sembuh? Baiklah akan kakak buktikan padamu." tegas Arzil merangkul pinggang Syafa dengan sedikit memaksa menjadi Syafa salah tingkah.


"Jangan memandangku seperti itu?" grogi Syafa menunduk lalu bergegas mencoba untuk melepas rangkulan itu tapi tak di izinkan Arzil.


Tak menjalani lama pernikahan kala itu karna masalah yang menghampiri Rumah tangganya menjadi dirinya terpisah lama kemudian hidup bersama saat sudah memiliki anak.


Syafa terdiam desiran suara itu menghayutkan pada khayalan yang tak tahu datang dari mana.Matanya terpejam hatinya menggumam merasa di pertemukan di Ruang rindu yang sudah lama tak pernah ia rasakan.


Melihat tingkah Syafa Arzil mengerut alisnya lalu mencubit hidung Syafa.

__ADS_1


"Aww.Sakit tahu! Kakak mau ke mana?" keluhnya memegang hidung yang sudah memerah dan melihat Arzil keluar memakai tuxedo tak lupa mencium kening istrinya.


"Kakak mau ke mana? Gak lihat nih Syafa pegang apa?" cetusnya mengenteng memainkan kunci di depan suaminya agar mengurung niat untuk bekerja.


Dengan cepat Arzil mengambilnya lalu berjalan keluar menuju garasi.


"Aku berangkat yah? Ingat! Jangan capek-capek kamu belum pulih sangat." pesan Arzil tak lupa berpamitan pada Paman Athur lalu bergegas menyetir menuju ke kantornya.


Athur menggeleng kepala.Tingkah Syafa dan Arzil seperti anak-anak yang bermain kejar kejaran.Tak lama mobil masuk ke halaman Rumah membuat Syafa senang karna Syahril putranya sudah pulang.


"Ummi.Syahril pulang." Sapa Syahril memeluk umminya.


"Anak ummi udah pulang.Tapi kenapa lama? Kan ummi jadi khawatir."


"Ayah ini mi.Belanjanya lama,untung saja ada Bunda Desny membantu Ayah.Kalo gak, mungkin saat ini belum selesai." gerutu Syahril melirik Ardian yang sudah berbaring melurus pinggang di sofa.


"Sudah-sudah Om Ardiannya kelelahan.Biarkan saja ia beristirahat.Tapi tante Desny gak ikut?"


Syafa mengangkat barangnya menuju dapur.Ingin meminta bantuan Ardian terasa malu takutnya menganggu jam istirahatnya.Syafa pun memilih mengangkat sendiri tanpa bantuan orang lain.


Karna kelelahan Syafa tak sengaja kesandung sesuatu membuatnya terjatuh dengan cepat Ardian menangkapnya.


"Kau tak apa-apa kan?" ucap Ardian dengan cepat Syafa memperbaiki posisinya.Takut-takut ada yang melihat dan berpikiran negatif padanya.Khususnya sang suami yang begitu pencumburuan.


Sementara Arzil yang ingin mengambil berkasnya yang ketinggalan tak sengaja menatap Ardian yang sedang membantu Syafa membuatnya pitam tak bisa mengendalikan emosinya.


Arzil menarik tangan Syafa membawanya ke kamar.Kemudian menghempaskan Syafa di tempat tidur.


"Aku di kantor bekerja keras demi kalian.Tapi kau dan dia malah bermesraan di belakangku.Lalu kau menganggapku apa?" bentak Arzil mengambil berkas di lemari lalu pergi meninggalkan Syafa yang sudah menangis.


Syafa ingin menjelaskan tapi tak di beri kesempatan oleh Arzil.Perasaan Arzil yang sedang emosi tak mampu buat Syafa untuk berkata.Syafa hanya bisa menangis meluahkan perasaannya yang sakit.Sakit di bentak oleh suami yang selama ini bersikap lembut malah berubah menjadi pemarah.

__ADS_1


Arzil keluar menghempaskan pintu.Kemudian turun tanpa sapaan atau teguran pada Ardian yang sudah dari tadi berdiri memperhatikan Arzil yang sepertinya sedang kesal.Keduanya sempat saling pandang lalu Arzil memaling muka bergegas keluar menuju ke kantor.


Sementara Paman Athur tersenyum melihat ketiganya saling diam tanpa bicara satu sama lain.


"Sepertinya rencanaku berjalan dengan baik tinggal selangkah saja." gumam Athur lalu menuju Ardian yang sedang bingung sikap Arzil yang berubah dingin padanya.


Athur menepuk pundak Ardian lalu mengajak Ardian untuk ketemu seseorang.


"Ardian mari ikut Paman! Paman ingin bertemu pada seseorang.Pasti kau akan senang?" ujar Athur masuk ke mobil dan melaju di sebuah Restorant mewah.


Terlihat seorang pria paruh bayah sedang duduk santai sambil menikmati minuman yang ia pesan.


"Selamat siang sahabatku.Sudah lamakah menunggu? Ini keponakanku yang ku ceritakan kemarin.Bagaimana menurutmu? Ardian kenalin ini Pak Hasan." ucapnya lalu Ardian menyalami tangan Hasan.


"Ardian om! Senang berkenalan." senyum Ardian lalu melepas tangan itu.


Setelah Athur dan Hasan bercerita panjang masalah karirnya.Athur mulai ke intinya pembicaraan yang ingin menjodohkan Ardian dengan putri Hasan.


Tak lama Halwa sambil mengenteng tas di pundaknya.Senyuman khasnya terbentuk dari bibirnya.Dia memandang sekitaran ruang Restorant mencari sang Papah yang menyuruh menemuinya di sini.


Halwa terpandang ketiga pria yang di situ ada Papahnya sedang mengobrol.Halwa bergegas menuju ke meja Hasan.


"Papah!" sapanya membuat Ardian dan Athur menoleh menatap gadis yang di maksud Pamannya adalah Halwa.Senyuman mengukir manis di wajah Ardian yang dari awal bertemu Halwa sudah menjatuhkan hati padanya.


"Halwa! Jadi...dia anak om?" tanya Ardian memandang Halwa yang sudah di samping Papahnya.


"Iya.Emangnya sudah saling kenal yah? Dan kamu Halwa bagaimana menurutmu calon suamimu?" ujar Hasan sontak membuat Halwa berdiri memandang Athur dan Ardian.


"Calon suami? Pria yang Papah maksud adalah dia?" ucap kaget Halwa tak percaya.Bagaimana mungkin ia bisa menerima perjodohan ini sementara Ardian teman Bian yang secara tak langsung menyakiti perasaan Bian berlipat ganda.


"Iya sayang.Kamu gak suka?"

__ADS_1


"Bukan gk suka Papah.Tapi pria di depanku ini teman pria yang aku sukai.Sekiranya dia ini bukan teman Bian mungkin aku terima.Maaf Paman! Halwa menolak perjodohan ini." lirih Halwa memudar semangat Ardian yang sudah menggebu menerima perjodohan ini.Seketika wajah Athur berubah hampa mendengar penolakan yang di katakan Halwa secara terbuka.Athur menarik kursi lalu pergi meninggalkan Hasan sahabatnya yang baru beberapa bulan bertemu di ikuti oleh Ardian tanpa berkata apa-apa.


__ADS_2