
Bian melaju menuju Rumah Sakit.Jadwal operasi akan di mulai satu jam lagi.Dia sibuk berkacak di kaca spion mobilnya lalu keluar menuju ruangan.Semua orang menyapa lalu tersenyum padanya.
"Pagi semua," sapanya lalu masuk ke ruangannya.Berkas sudah bersusun di meja meminta untuk di sentuh jari jemarinya.
Menjadi kepala Rumah Sakit sekaligus mengemban menjadi dokter Bedah membuatnya harus siap siaga kapanpun di butuhkan demi menjaga akreditas Rumah Sakit yang sudah susah payah Papahnya dirikan.
"Berkas sebanyak ini.Mana mungkin di siapkan dalam satu hari?Coba saja ada Syafa,mungkin dia bisa membantuku." keluhnya menyandar duduk di kursi lalu memainkan pulpennya.Entah kenapa Bian terbesit teringat pada kejadian tadi malam.Dia memijat pelipisnya sambil memikirkan Halwa.
Lalu ia keluar menuju ruangan operasi tak lupa memakai pakaian perlengkapan.Saat ingin memasuki ruangan Bian tersempak bertemu pada Halwa dan Farah.
"Halwa! " tegurnya lalu bergegas masuk menuju ruangan operasi dengan terburu-buru.
Satu jam berada di ruangan operasi akhirnya selesai juga.Bian bergegas keluar membuka baju OK atau Operatie Kamer langsung menemui Halwa di ruangannya.
"Halwa.Bisa kita bicara sebentar?"tanya Bian duduk di depan Halwa yang sedang membaca majalah.
"Bicara apa? Ku rasa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan." tegas Halwa lalu berjalan meninggalkan Bian menuju kantin.
Farah yang sedang duduk manis di kantin sambil mengaduk-aduk jus buah alpukat dingin lalu meresapnya namun terhenti melihat Bian berjalan mengejar Halwa membuatnya berdehem keras.
"Ya ammpun.Dua sejoli ini belum kelar kelar juga masalahnya.Sebenarnya kalian membicarakan apa? Gak malu di lihatin orang di sini." gerutu Farah menunjuk satu persatu orang memperhatikan perdebatan Bian vs Halwa lalu Bian menepis jari Farah dan melanjutkan pembicaraannya yang terputus karna mendengar cerocos Farah.
"Jangan ikut campur.Ini urusanku dengan Halwa.Mau gajimu ku potong?" tegas Bian membuat Farah diam tak berkutik.
"Halwa.Aku mohon kasih ku kesempatan sekali lagi." pinta Bian duduk di depan Halwa sambil menyeduh minuman dingin karna kehausan mengejar Halwa.
"Hei Pak dokter.Itu minumanku mengapa kau minum?" kesal Farah memegang gelas jusnya yang tinggal setengah.
"Kau tinggal pesan saja lagi.Nanti ku bayar." kata Bian singkat lalu menyuruh Farah pergi duduk di sebelah Halwa.
Farah si pembuat ulah mengagetkan Bian, "Hello semuanya! Kebetulan dokter Bian lagi senang nih.Beliau menyampaikan ingin mentraktir kita yang di sini.Bagi yang mau nambah silahkan!" teriak Farah menghentikan obrolan Halwa dan memandang datar pada Farah si suara cempreng.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila? Kau lihat saja tunjanganmu bulan ini ku potong." gerutu Bian berbisik di telinga Farah lalu meninggalkan Halwa.Sementara Farah menghentak hentak kaki karna kesal pada ucapan Bian.
Bian pergi meninggalkan Halwa lalu memberikan uang untuk membayar minuman yang ia minum.Kemudian berjalan cepat menuju kembali ke ruangan kerjanya.
"Baiklah.Aku bukan pengemis cinta yang mudah mengalah lalu menyerah begitu saja.Kau lihat saja nanti." ucap geram Bian memberi semangat pada dirinya lalu mencoba menyentuh berkas untuk di cek kebenarannya.
Di tempat lain Syafa sibuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Sepertinya ini sudah cukup." ucapnya lalu memutar tubuh untuk memanggil Arzil yang tadinya lagi berbaring di tempat tidur.
"Kak bangun.Air hangat sudah ku siapin.Segera bangun nanti keburu dingin."
"Bentar.Kakak masih ngantuk." jawabnya mengucek ucek kedua matanya lalu bangkit menuju kamar mandi.
"Kamu gak ikut?" tanya Arzil merangkul Syafa dengan menyeringai membuat Syafa kabur keluar lalu menutup pintu tak lupa mengintai di celah pintu.
"Dosa loh menolak permintaan suami." ujar Arzil menggantung handuk di pundak sambil berjalan.Arzil tahu pasti Syafa mengintipnya dari pintu.
"Gak usah ngintip nanti matanya sipit sebelah baru tahu..." kata Azzam membuka pintu lalu menarik paksa Syafa masuk.
"Takut kenapa? Kan Syafa istri kakak.Jadi tak ada yang di takutkan." tegas Azzam tersenyum lalu menyuruh Syafa keluar.
Mendengar ucapan Arzil Syafa bergegas turun menemui Bibik yang sedang merapikan ruang tamu.
"Bik,Ardian dan Syahril kog lama banget belanjanya?" tanya Syafa melihat jam sudah pukul 10.00 pagi.
"Mungkin macet Neng."
Sementara Ardian sedang bingung.Perdana belanja bahan makanan sebanyak ini membuatnya kewalahan di tambah Syahril yang tak mau diam.
"Syahril kau bisa diam gak! Aku lagi bingung mencari bahan makanan yang ummi mu tulis." gerutu Ardian membaca daftar belanja sambil memilah memilah yang sesuai di catatan syafa kasih padanya.
__ADS_1
Semua ibu-ibu mendecak kagum melihat Ardian bersama Syahril.
"Si bapaknya ganteng plus anaknya gemesin lagi.Tapi Ibunya mana?" tanya si Ibu A lalu mencubit si Ibu B," duren kali! hehehe" nyengir si Ibu B memandang Ardian yang lagi sibuk tanpa memperdulikan obrolan tak penting baginya.
Ardian terus saja mencomot barang satu ke barang yang lain membuatnya tak sadar Syahril sudah menghilang dari sisinya.
Ardian memandang seluruh sisi ruangan dan berlari mencari Syahril.Langkahnya berhenti saat menemukan Syahril sedang menikmati ice cream bersama seorang gadis yang tak lain adalah Desny.
"Desny..! Belanja juga yah?"
Desny memandang Arzil mendorong keranjang belanja yang sudah menumpuk lalu ia tak sengaja mengetawakan Ardian yang menurut begitu lucu karna kelelahan sambil membawa daftar belanja.
"Sudah siap belanjanya?" ujar Desny memberi minuman kepada Ardian.Meski tidak berkeringat namun raut wajah terlihat begitu frustasi memikirkan belanjaan yang belum selesai di beli.
"Belum.Aku bingung.Syafa menulisnya terlalu banyak sehingga aku tak tahu yang mana di dahulukan?"
Desny mengambil catatan dan mencoba membantu untuk menyelesaikan kegiatan belanja Ardian.Dengan begitu mereka bisa pulang dan beristirahat dengan tenang.
Desny seorang wanita sudah menjadi kebiasaan berbelanja adalah rutinitas hal yang di sukai olehnya.
"Nah daftar belanjanya! Sudah ku beli sesuai di catatan.Tinggal bawa ke kasir saja.Cepatan! Biar bisa istirahat.Ku lihat kau begitu lelah." ucap perhatian Desny sambil mengendong Syahril takut ketinggalan.
"Kau serius?" ucap Ardian lalu memandang Desny sudah berjalan memdahului dirinya.
"Hehm."
Desny menyelesaikan pembayarannya lalu keluar berdiri besandar di mobil bersama Syahril sambil menunggu Ardian keluar dari swalayan.
"Syahril.Bagaimana kabar umi? Apa sudah baikan?"
"Tadi pagi ummi udah sehat.Cuma Abi yang belum.Makanya ummi nyuruh Ayah belanja." kata Syahril buat Desny tertawa kecil karna Syahril memanggil Ardian dengan Ayah.
__ADS_1
"Kenapa di panggil Ayah? Nanti kalo Abi cemburu gemana?" Canda Desny ingin melihat respons Syahril yang gemesin karna celotehnya.
"Cemburu?" ucapnya bingung menggaruk kepala.