Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 53 : Berkumpul kembali


__ADS_3

Malam ini Arzil mengajak Syahril dan yang lainnya menginap di hotel dan melanjutkan perjalanan besok.Sementara Berto masih dalam lamunan-nya memikirkan Amel yang tak ingin pisah darinya.


'Amel mengapa kau seperti ini.Aku hanya ingin kau bahagia seperti Syahril menemukan Ayahnya.Hidup bersamaku hanya menambah penderitaan yang dalam untukmu.' gumam Berto


Melihat Berto hanya termenung,Arzil menghampiri menyentuh pundak sebelah dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan?Apa kau memikirkan gadis itu?"


Arzil menatap Amel yang menukuk lutut di atas kasur sambil tersenyum.Amel memang terlihat keras kepala.Amel tak mau berpisah pada Berto yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


"Sudah.Masalah anak itu biar aku yang urus.Besok pagi sebelum shubuh pergilah berangkat dan cari pria itu." tegas Arzil lalu bangkit meninggalkan Berto.


"Baiklah.Aku titip Amel padamu dan tolong jaga dia."


"Hehm."


Keesokan hari Amel terbangun dengan mata yang sudah membengkak dan berlari ke luar mencari Berto.


"Aaayaahh..kau di mana?"pekik Amel menuju ruangan Syahril.


Syahril kaget dan menuju ke arah Amel.Amel terlihat gamam dan ketakutan.Amel menangis jatuh di pelukan Syahril.Syahril bingung dan melirik ke Arzil.


Hari sudah menjelang siang Amel terus saja menangis memikirkan Berto.


'Ayah,kau di mana??Aku merindukanmu?'gumam Amel


Akhirnya Arzil memutuskan untuk pulang ke Rumahnya dan membawa paksa Amel.


"Aku tak mau pulang!Kalian pulang saja sana." bentak Amel berlari meninggalkan Syahril.


"Kalau kau tak mau ikut,yasudah.Biar aku pulang sendiri saja.Mungkin aku ini tidak bearti buatmu."


Syahril kecewa pada sikap Amel yang tak menghargai dirinya.Selama ini mereka seperti saudara.Melihat sifat Syahril berubah sendu,Amel merasa bersalah dan akhirnya terpaksa mengikuti Syahril ke Rumahnya.


Sebelum pulang Arzil mengajak Syahril ke sebuah salon kecantikan yang terdekat di situ.


Arzil ingin mengubah penampilan putranya tak lupa dirinya mampir sebuah toko pakaian.Entah mengapa Syahril tertarik membeli pakaian muslimah untuk Amel yang lebih memilih duduk di mobil dari pada ikut padanya.


Kini penampilan Syahril begitu berubah 180°.Syahril yang tadinya gondrong sudah stylist.


"Abi..bagaimana penampilanku?tanya Syahril yang tak percaya pada penampilannya.


"Kamu terlihat tampan.Aku yakin gadis di mobil itu kagum padamu." ucap Arzil melirik Amel yang lagi melamun.

__ADS_1


"Maksud Abi,Amel??"


Syahril tak percaya bahwa Arzil bisa menebak perasaan Syahril pada Amel.


"Syahril ada yang harus kamu ketahui bahwa ummi mu adalah gadis yang selalu menjaga pandangan dan tak mudah menyentuh yang bukan muhkrimnya.Jadi,Abi harap kau jaga batas saat bersama Amel.Abi tahu itu tidak mudah apalagi kau udah terbiasa melakukan itu." pinta Arzil pada putranya.


Arzil sangat menginginkan putranya mencontohi akhlak umminya.Syafa gadis suci yang tak mudah dekat dengan pria lain.Arzil hanya merasa kalian pada Amel yang belum memahami tentang agama begitu juga Syahril.


"Syahril apa kau sudah selesai belanjanya?"


Syahril mengambil pakaian yang dia inginkan lalu menuju kasir untuk membayarnya kemudian menuju ke mobil.


Amel terlihat aneh saat melihat Syahril yang sudah berubah namun dirinya merasa malu dan memilih diam tanpa berkata.


"Pak Al,jalan." perintah Arzil yang harus segera sampai ke Rumah.


Arzil sudah tak sabar untuk pulang ke Rumah karna ingin bertemu Ardian.


Mobil sampai di halaman Rumah yang begitu luas.Arzil bersegera turun di ikuti Kevin,Pak Al,dan Syahril.


Sementara Amel tidak di izinkan mengingat ini gawat darurat.Semua bukti sudah terkumpul mengarah pada Ardian.


Ting


Bunyi Bel Pintu..


Terlihat Arzil dengan tak sabar menunggu Ardian keluar.


Sementara Ardian sedang berbaring menikmati harta santai di balkon kaget,matanya membulat,tubuh merenggang seakan ada sesuatu memaksanya begitu.


"Keluar kau Ardian!" teriak Arzil dan Kevin


Rumah masih tampak sunyi.Tak ada jawaban atau sahutan.Dengan terpaksa Arzil medobraknya.


Ardian keluar dengan wajah meringisnya.Tiga belas tahun tidak bertemu tentulah banyak berubah.


"Tak ku sangka kau masih hidup?Ku pikir kau sudah mati?" Ardian berjalan menuju ke arah Arzil dan melempar surat perpindahan kekuasaan.


Arzil membacanya dengan senyuman smirk.Arzil sudah mengatur permainan ini begitu sempurna untuk menjebak Ardian tanpa sepengetahuannya.


"Kevin suruh Pak Polisi masuk ke dalam dan tangkap dia." tegas Arzil lalu duduk dengan santai di kursi sofa miliknya.


"Aku tak tahu,apa aku yang bodoh atau kau yang bodoh.Apa kau lihat surat itu palsu.Sungguh malang nasipmu."

__ADS_1


Arzil berdiri berputar mengelilingi tubuh Ardian yang mematung tanpa perlawanan.Arzil sebenarnya tidak mau melakukan ini pada Ardian.Mengenang Ardian adalah adiknya juga.Namun semua yang di lakukan Ardian terlalu kejam bahkan rela membuang keponakan-nya demi harta.


Arzil mendekati Ardian dan menatap dalam pada adiknya itu.


"Apa kau lihat anak yang di sana?Dia hidup terombang ambing karna kau." Arzil menepuk bidang Ardian sontak Ardian menatap anak yang berdiri di samping Kevin.


"Dia adalah Syahril anak ku dan keponakan yang kau buang dulu."


Jantung Syahril terhenti mengingat betapa hampanya saat Ardian meninggalkan tanpa belai kasihan.Bahkan Syahril mengejar dan berteriak namun Ardian tidak memperdulikannya.


"Apa kau lupa?"sindir Arzil lalu menarik tangan Syahril untuk memandang secara dekat siapa Ardian sebenarnya.


Hati Syahril terenyah.Syahril menggumam menahan kecewa pada Ardian.Syahril bisa saja menghajar atau memaki tapi tak ia lakukan.Tubuhnya seakan tertahan membuatnya berteriak kencang.


"Aaaaaarrrgh."


Syahril meninggalkan mereka tanpa kata.


"Hei Syahril,mengapa kau lari?Hajar saja dia! Kau bukan anak kecil lagi yang dikit-dikit lari."


Kevin ingin memancing kemarahan Syahril.Kevin ingin melihat seberapa kuat anak ini menahannya.


'Aku ingin lihat!Apa masih menahan atau mencuat.' gumam batin Kevin


Entahlah!Tubuh ini tak mampu untuk bergerak melampiaskan kemarahannya.Syahril lebih memilih memukul tangannya di tembok untuk meluahkan kekesalañnya.


Melihat tangan Syahril berdarah,dengan cepat Amel menahan-nya.


"Cukup Syahril,hentikan!Tanganmu sudah berdarah."


Amel memegang tangan Syahril dan menyuruh Syahril duduk di sampingnya.Di robeknya ujung kaosnya lalu mengikat rapi menutupi tangan Syahril.


"Jangan lakukan itu lagi.Itu tidak baik." Amel meninggalkan Syahril yang mengkhayati ketulusan Amel.


Sementara Polisi sudah memasuki Rumah Arzil dan membawa Ardian masuk ke dalam mobil.


Syahril hanya memandang dalam kejauhan lalu memaling.Pandangan Syahril pada Amel yang sudah meredup.Syahril tak tahu itu perasaan apa?Yang pastinya Syahril senang dan bahagia.


Arzil mendekati Syahril yang terduduk memandang Amel.


"Hehm,hehm."


"Abi..?" Syahril merasa berbegas berdiri meninggalkan Arzil yang tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2