Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 40 : Sakit


__ADS_3

Syafa mendengus tak percaya.Perasaan tadi Arzil baik-baik saja.Mengapa tiba-tiba demam.Merasa ganjil,Syafa berlari menaiki tangga menuju kamar suaminya.


Syafa mengintai dari pintu lalu terlihatlah Arzil sedang tidur posisi terlungkup memeluk bantal guling.Rasa penasaran tinggi ia memberanikan diri menginjak kamar yang sudah berapa tahun tidak ia tempati.Kamar itu masih sama tanpa ada yang berubah.Syafa menyusuri memandang langit-langit kamar serta lemari pakaiannya yang masih tersusun rapi.Foto-foto kebersamaannya masih terpajang di lemari kecil yang bertulis KENANGAN.


Syafa tersenyum mengembang.Melihat kamar itu menjadi ia teringat saat pertama menjalani malam bersama Arzil yang masih sama-sama polos.


"Lucu" batin Syafa lalu tersenyum merasa malu mengingat shubuh itu.


Syafa tersadar keinginannya ke sini menyusul sang suami malah membayangkan yang bukan-bukan.


Syafa menyentuh ubun-ubun Arzil," tidak panas,tapi mengapa Syahril bilang demam?" ucap batinnya lalu segera melepas tangan yang melekat di ubun Arzil.


"Kena kau!"ucap puas Arzil menangkap tangan Syafa.Kemudian Arzil bangun menarik Syafa ke tempat tidur.


"Berani kau mempermainkan perasaan aku yang begitu merindukanmu." cetus Arzil menyentuh lembut pipi Syafa yang menurutnya menggemaskan.


"Lepaskan aku.Kalau tak aku akan teriak!" ancam Syafa memukul bidang dada Arzil.


"Teriaklahhhh! tak kan ada yang dengar." kata Arzil lalu bangkit dan duduk membelakangi Syafa yang masih berbaring.


Bian memandangi kamar Arzil.Bian mendengus kasar karna menunggu lama Syafa dan Arzil turun.Merasa aneh ia menyusul Syafa ke kamar Arzil.


Tok tok tok


"Syafa..keluar kalian!Orang-orang sudah menunggu." tegas Bian mengetuk pintu lalu tak mendapat jawaban.


Bian mencoba kembali mengetuk pintu lagi dengan sedikit lebih kencang.Dia berpikir mungkin dengan seperti ini dua insan ini merespon.


"Arzil,buka pintunya! Kau apakan adik ku,hah? Awas kau macam-macam padanya." cetus Bian memegang knop pintu tapi terkunci dari dalam.


"Brisik! Jangan ganggu,aku lagi memberi pelajaran pada adikmu yang sudah berani mempermainkan perasaanku." teriak Arzil lalu ketawa lepas melihat Syafa yang sudah diam menuruti perintah suaminya.


"Cepetan turun.Kalau tidak ku dobrak pintu ini." titah Bian mulai melakukan aksinya.


Merasa risih ancaman Bian dengan terpaksa Arzil membuka pintu.Sebelum itu ia merapikan jilbab Syafa yang sudah berantakan.

__ADS_1


"Hah.Sekarang kau sudah cantik sayang.Pergilah dan buka pintunya." perintah Arzil tak lupa ia merapikan rambut dan bajunya kemudian mencium kening istrinya.


Syafa tersipu malu lalu berjalan menuju pintu.Dia menyengir kuda seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


"Kak Bian." Syafa menyengir lalu turun ke bawah namun tangannya di tarik Bian.


"Mana suamimu??"


"Bentar lagi juga keluar." kata Syafa lalu pergi menyusul temannya di bawah.


Semua memandangnya sambil tersenyum mengejek melihat Syafa turun.


"Syafa...kenapa lama? Lagi nostalgia yah ?" Farah berjalan menarik tangan Syafa untuk duduk di sampingnya.


"Mukamu kenapa?"


Pertanyaan Farah memerah pipi Syafa serta mengundang yang lainnya menatapnya lalu menyungging senyum.


Arzil baru keluar dari kamarnya sambil merapikan rambutnya.Berjalan keluar tanpa dosa serta tak melihat atau menegur kakak ipar yang sudah kesal karna tak menjawab panggilannya.


"Maaf kak ipar,aku sedang buru-buru.Sebaiknya emosimu kau simpan dulu untuk bertemu Halwa.Coba lihat sana!Halwa memperhatikanmu."bujuk Arzil merayu Bian untuk melepaskan kerah bajunya yang menganggu kerongkongannya sehingga sulit berbicara.


"Baiklah.Tapi ingat!Urusan kita belum selesai." ucapnya lalu turun menggulung gulung lengan kemejanya yang panjang.


Arzil berjalan beriringan.Memiliki kakak Bian yang hampir menjadi saingannya membuatnya bernafas lega.Sekarang ia hanya fokus untuk membahagiakan Syafa dan putranya Syahril.


Senyum manis khas menawan ia lontarkan saat melihat Syafa sedang duduk bersama teman-temannya.


"Wahhh..yang di tunggu udah turun.Tapi kau ngapain saja di kamar selama itu.Apa kau tak takut pada kakak iparmu yang sudah menampakkan taringnya?"canda Kevin menyenggol lengan Arzil yang duduk manis di sampingnya.


"Dia masih single.Mana tahu rasanya menjadi suami.Jadi wajar saja dia bersikap seperti itu." bisik Arzil pada Kevin.


Sementara Ardian hanya memandang dua gadis yang saat ini mencuri perhatiannya.


"Profesi sama lalu sama-sama seorang dokter." batin Ardian lalu terkejut saat Syahril tak sengaja menyenggol kakinya.

__ADS_1


"Ayah lihatin apa? Pasti ngelihatin bu dokter cantik sama tante Halwa? Iyakan?" ucap Syahril menggoda Ardian yang lagi serius melihat Halwa dan Desny.


"Jaga ucapanmu! Nanti di dengar mereka." Ardian dengan segera menutup mulut Syahril dan berpura-pura menyuapkan puding ke mulut keponakannya saat Syafa mulai curiga padanya.


"Aaaaa,makan yang banyak yah.Anak pintar." sindir Ardian tersenyum mengusap kepala Syahril agar diam.


Mereka berkumpul lalu meminta Syahril membacakan doa sebelum makan.


"Bismillah...Allahumma baariklana piima rozaqkana waqina a'zaa bannar.Aamiin!"ucap Syahril lalu semuanya memulai mengambil nasi serta lauk pauk yang tersusun di meja makan.


Semua menikmati tanpa tersisa di piringnya masing-masing.Mata Syafa tertuju pada Arzil yang memakannya tidak begitu semangat.


Syafa memilih tidak makan karna ingin menyuapi Syahril terlebih dahulu barulah ia mengisi perutnya.


"Kak,kenapa makannya dikit? Tidak enak yah?" tegur Syafa menuju ke arah Arzil dan mengusap lembut punggung sang suami.


"Enak,cuma lagi gak selera saja.Belakangan ini kakak gak sehat badan." keluhnya memegang kepala karna pusing.


Arzil merasa kelelahan.Selama Syafa menghilang dia tak berhenti memikirkan Syafa serta putranya hingga kurang istirahat.Dia bekerja siang dan malam mengurusi kantor dan masalah yang bertubi-tubi menghampiri hidupnya.Kesehatan pada dirinya ia lupakan demi mencari sang istri dan putranya.Sekarang barulah ia bernafas lega karna Syafa kembali di tambah lagi Syahril sudah di temukan.


Barulah Arzil merasakan tekanan mental dan tubuhnya lunglai terjatuh dan pingsan.


Bugh


Arzil terjatuh dengan cepat Bian dan yang lainnya mengangkatnya ke Sofa.


Syafa sedih,ia memukul kecil pipi Arzil agar sadar dari pingsannya.


"Kak,bagaimana keadaan kak Arzil? Apa dia baik-baik saja?"tanya Syafa yang begitu khawatir pada kondisi Arzil.Apalagi terlihat jelas wajahnya pucat pasih.


Syafa menangis memeluk Bian.Harapannya saat ini adalah Bian sebagai saudara satu-satu yang ia miliki.


"Arzil tidak apa-apa.Dia cuma kecapean saja.Bentar lagi juga siuman.Kan kakak sudah memberinya suntikan,mudah-mudah obatnya cepat bekerja.Jadi jangan sedih lagi yah!" pinta Bian memeluk Syafa lalu menyuruh yang lainnya duduk sambil menunggu Arzil siuman.


.

__ADS_1


__ADS_2