
Petugas kepolisian membawa sang pria itu ke sebuah apartement yang begitu besar.Sebelum masuk,mereka membuka seragam kepolisiannya dan membopong sang Pewaris menuju kamarnya.
Ternyata mereka bukan polisi sungguhan,melainkan suruhan Ardian Anggara adik kandung Arzil.
Andian Anggara seorang ketua gengster namun berjiwa sosial yang tinggi.Sifafnya yang ramah serta suka membantu sesama,membuatnya ia sukai banyak kalangan.
Sang adik yang baru pulang dari London menelpon Arzil yang sedang melakukan penyamaran mencari Syafa.
Dia mendapat kabar bahwa Syafa saat ini sedang melakukan kegiatan sosial di salah satu lapangan sepak bola yang di jadikan tempat utama acara itu di laksanakan.
Arzil yang sudah tak sabar bertemu Syafa,tiba tiba seseorang menembaknya mengenai bagian perut kanannya.
Dia mencoba berjalan hingga pingsan tepat di tenda Syafa bertugas.
Sementara Sang adik Ardian mencoba menghubungi sang kakak namun tidak bisa.Ia pun menyuruh anak buahnya untuk mencari sang kakak mengikuti peta gprs yang di kirim Ardian lewat ponselnya.
"Bos,kami sudah mengikuti arah gprsnya.Tapi Tuan Arzil belum terlihat?"tanya kevin sang kepercayaannya lewat ponsel genggamnya.
Kevin memperhatikan situasi,ia mencurigai tempat kerumunan orang.Kevin kaget ternyata itu adalah Tuan Arzil.
"Tuan Arzil"gumamnya dalam hati.
Kevin menyuruh anak buahnya untuk melakukan penyamaran menjadi anggota kepolisian dan yang satunya menyelinap menyamar menjadi panitia.Sehingga semuanya terhubung dengan sempurna.
Hebat juga tartik bang kevin 🤔
Bisa di katakan SEMPURNA 😂
Ardian menelpon dokter kepercayaannya,dan menyuruh segera memeriksa Arzil.
"Bagaimana dok,apa luka kakak saya parah?"tanyanya singkat tanpa senyuman.
"Luka Tuan Arzil sebenarnya parah,tapi anda tak perlu khawatir karna lukanya sudah saya jahit dan saya harap minum obatnya rutin,biar cepat sembuh.Tapi kalo boleh saya tahu siapa yang mencabut pelurunya?"
"Saya tidak tahu,emangnya kenapa dokter"tanya Ardian penasaran dan melirik ke kevin untuk menjelaskannya.
"Anda berhutang budi padanya,berkat dia tuan Arzil bisa selamat.Andai saja peluru itu tidak di cabut sampai saat ini,mungkin entahlah..."ujar dokter dan memberi beberapa resep kemudian pamit keluar meninggalkan mereka.
Sementara Ardian memanggil kevin untuk duduk besandar di sofa sembari melihat Arzil yang sudah terbaring lemah.
"Apa kau tahu yang di maksud dokter itu?"
"Aku tahu,dia seorang wanita.Dia lah yang mencabut peluru itu dengan kedua bibirnya.Karna saat itu terlihat bibirnya masih membekas darah"ucap kevin yang tersenyum mengingat kepolosan wanita itu.
__ADS_1
"Mengapa kau tersenyum?,emangnya ada yang lucu?"cetus Ardian kemudian melempar bulatan kertas ke arah kevin yang senyum tidak jelas.
"Tidak ada bos."
Kevin berlalu pergi meninggalkan Ardian yang lagi memikirkan siapa yang berani menembak sang kakak.
Beberapa jam kemudian,Arzil siuman.Dia menatap langit-langit rumah dengan tatapan yang masih samar-samar.Dia mengangkat tubuhnya namun perut bagian kanannya masih terasa sakit bekas luka tembakan.
"Kak Arzil,kau sudah sadar?"tanya Ardian mencoba membantu menyandarkan tubuh sang kakak dengan bantal.
"Syafa mana?"ucap pertama Arzil,mencari-cari sosok Syafa yang begitu ia rindukan.
"Syafa???"
"Iya,apa kau tak melihatnya?"
Ardian hanya menggeleng,sementara Kevin yang berdiri menyandar dinding melipat tangannya sambil memainkan jarinya tersenyum ke arah Arzil.
"Dia seorang gadis putih,berseri,dan siapapun yang menatapnya akan merasa tenang.Tutur kata yang baik serta kepolosannya begitu lucu,membuatku selalu tersenyum mengingatnya."ujar Kevin mengutarakan rasa kagum pada sosok Syafa.Arzil merasa jengkel dan cemburu,ia melempar bantal ke wajah Kevin yang sudah berani mengungkapkan rasa ketertarikan pada Syafa.
"Jaga mulutmu,dia milikku.Jika kau berani merebutnya dariku jangan harap kau bisa melihat hari esok"tegas Arzil memaling wajah dari Kevin yang sok puitis itu.
"Santai Arzil,kau itu temanku.Tak ada istilah teman makan teman,lagipula aku juga sudah punya kekasih."
"Jadi kau hanya ingin mengujiku?"tanya Arzil menahan kesal.
"Biasa saja Bos"ujarnya meninggalkan keduanya agar bisa leluasa berbicara.
Di tempat lain,Syafa bingung harus mencari pinjaman untuk pengobatan anaknya.Dia memang kerja di instansi pemerintah dan mendapat jaminan kesehatan.Namun karna Syahril tidak memiliki indentitas yang jelas sehingga pihak rumah sakit tidak bisa mengeluarkan Bpjs untuk sang anak.
Syafa mengendong putranya,sudah hampir tiga hari Syahril sakit.Segala obat sudah rutin di konsumsi.Namun hasilnya nihil.
Syafa sengaja mengambil cuti secara mendadak tanpa sepengetahuan sahabatnya.Sejak hari itu hubungan ketiganya agak merenggang.
Hingga akhirnya sang dokter,Bian mendatangi rumahnya.Terlihat Syafa memeluk sang anak dengan deraian air mata.
"Syafa,kamu kenapa?,ini anak siapa?"tanya Bian menatapi dalam sang anak yang begitu pucat.
"Iy,iya anak ku dokter"lirihnya menangis memeluk putranya.
"Anakmu kenapa??"
"Anakku sakit,sudah tiga hari demam tak kunjung sembuh"lirihnya mengutarakan perasaan begitu khawatir pada putranya.
__ADS_1
"Mengapa kau tak membawanya ke rumah sakit?"tanya Bian melihat suhu tubuh Syahril begitu panas.
Bian pun mengendong Syahril dan membawa masuk ke dalam mobilnya,kemudian di ikuti Syafa membawa tas kecil berisi pakaian putranya.Bian menyerahkan Syahril dan mengemudi mobil dengan cepat menuju rumah tempat Syafa bekerja.
Kini Syafa bernafas lega,Syahril mendapat perawatan,dan di tangani dengan cepat oleh petugas kesehatan yang bekerja pada kala itu.
"Terima kasih dok,aku tidak tahu harus membalas apa"ujar Syafa dengan tatapan yang tulus.
Bian tersenyum , "Sama-sama Syafa,aku juga senang membantumu.Masalah biaya kamu gak usah pikirkan,akulah yang akan membayarnya."tegas Bian tanpa sengaja menatap Syafa yang tersenyum haru.
"Kau lucu dok,rumah sakit ini milikmu.Mengapa kau harus membayarnya?"ucap Syafa berbicara sambil tertawa kecil,membuat Bian tak berkejib memandang senyum manis Syafa di hiasi kedua lesung pipit di pipinya.
"Bagaimana gadis sekecil dia bisa melewati rintangan begitu besar,membesarkan anak tanpa suami dengan ekonomi yang minim"lirih Bian yang menganggumi sifat Syafa yang sabar dan kuat menjalani cobaan hidup.
Syafa duduk membungkuk mengosok-gosok tanganya sambil menunggu dokter keluar menjelaskan hasil pemeriksaan anaknya.
Tak lama kemudian, sang dokter keluar membawa hasil cek darah Syahril dan menyuruh Syafa masuk ke ruanganya.
"Anakmu ini terkena Demam Malaria tropika,untung kau cepat membawanya.Kalau tidak, bisa berpengaruh pada otaknya.Apalagi apalagi wajah sudah begitu pucat."ucap dokter menjelaskan perihal penyakit Syahril.
Syafa mengusap wajahnya,ia emang sudah menduga namun di tepiskannya karna tidak memiliki biaya untuk pengobatan Syahril.
"Saya harap biarlah Syahril melakukan pengobatan di sini sampai sembuh total,jika tidak, takut demamnya kambuh kembali."tegas dokter.
"Baik dok"
Syafa keluar dengan wajah yang penyesalan,karna kelalaianya Syahril harus menaggung semua ini.
"Aku ini emang ibu yang bodoh,sudah mengetaui penyakit Syahril,masih saja memikirkan uang"lirih Syafa menggemam bibirnya menahan air mata sambil menatap sang buah hati yang sudah banyak di tempeli selang.
Syafa menangis terisak-isak,rasa sedihnya tak tertahan lagi.
Bian yang baru selesai mengurusi administrasi biaya pengobatan Syahril terkejut,saat ingin memasuki ke ruangan Syahril terlihat Syafa sedang menangis mengeluarkan isi hatinya yang ia pendam selama ini.
"Andai saja ummi tahu siapa abimu nak,mungkin ummi akan mencari meminta pertanggung jawabnya.Tapi ummi tak mampu sayang,ummi benar-benar tidak mengenali siapa pria yang sudah meninggalkan luka yang perih buat ummi"lirih Syafa mengusap air mata yang di bumbuhi rasa sakit.
Hati Bian terenyah,jiwanya merana.Bagaimana bisa Syafa menjalani hidup ini tanpa tahu siapa pria yang menghamilinya dan meninggalkan penderitaan yang berat.
Bian terduduk,mencerna ucapan Syafa yang baginya sangat memprihatinkan.
Dia pun bangkit dan masuk ke ruangan Syahril dengan senyum merekah agar Syafa tidak curiga.
"Syafa,bagaimana hasil cek darah Syahril?,tidak ada yang serius kan?"tanya Bian yang menyadari Syafa sedang mengusap air matanya.
__ADS_1
Syafa membalikkan tubuhnya,mengelap air matanya dengan cepat kemudian memutar tubuh dengan sedikit senyum terpaksa.
"Gag kog dok.Dokter hanya menyarankan untuk Syahril di rawat sampai sembuh.Syahril terkena Malaria tropika,jadi perlu pengobatan yang intensif untuk proses penyembuhannya."ucap Syafa menjelaskan penyakit anaknya pada Bian.Bian menanggapinya dan mencoba untuk tenang yang sebenarnya hati ini sudah berkejolak kesal mendengar isi rintihan ibu cantik ini.