Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 39 : Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Gadis berjilbab tersipu malu saat melihat Ardian yang berdiri di pintu utama.Pertemuannya yang kedua kali sedikit berbeda karna Desny datang bersama Syafa.


Arzil melebar sebuah senyuman melihat istri yang ia cintai kembali.Rasa haru bercampur bahagia tak bisa di ungkap dengan kata-kata.Arzil memeluk erat Syafa namun Syafa masih diam tanpa kata atau senyuman.


Syafa melepas paksa pelukan hangat.Kejadian silam menari-nari di pikirannya.Saat dirinya harus pergi karna Aida tak menyukai serta perselingkuhan yang di lakukan Arzil padanya.


"Kau jahat.Kaulah pembunuh Bapakku."


Syafa hanya mengingat sebatas saat pertama bertemu Arzil.Selebihnya ia tak mengingat apa-apa.


Desny menangkap Syafa yang mulai terjatuh dan menyuruh Arzil mundur.


"Maaf,Syafa mengalami amnesia.Tapi kata dokter amnesianya bisa di sembuhkan.Jadi,anda harus bersabar!" pesan Desny lalu mendudukan Syafa di kursi agar bisa besandar dan rileks.


"Syafa,kamu gak apa-apa kan? jangan di paksa kalo kamu belum ingat."


Desny menyentuh kepala Syafa dan mencari seseorang yang tak lain adalah Paman Athur.


Tak lama Athur turun lalu tersenyum pada Desny.


"Eh .. kamu udah datang.Mana gadis itu?"


Desny beranjak dan mempersilahkan Athur untuk menemui Syafa.


"Arzil,kemari kau? apa dia istrimu?"


Arzil mengangguk lalu melangkah pergi.


Menyadari Syafa sedang sakit tak ada kata yang mampu ia ucapkan.Bian datang duduk di samping Syafa, "apa kau tak mengingatku?"


Syafa memegang kepalanya " tidak,kau siapa?"


"Aku Bian,kakakmu."


Syafa menatap dalam Bian kemudian mengerjib sebelah mata pada Bian.Bian sontak kaget.Adiknya sedang bermain drama untuk mengusil suaminya,Arzil.


"Kau bercanda??"bisik Bian mendekat duduk di samping Syafa.


"Hehm" lalu mengangguk.


Bian berdiri meninggalkan Syafa.Sementara Athur memberi dua jempol pada Syafa yang sudah berhasil membuat Arzil sedih.


Arzil memeluk putranya.Kejadian tadi begitu membuatnya terpukul.Rasa rindu yang dalam harus terhempas saat Syafa mengatakan dia seorang pembunuh.


"Berat." batin Arzil


Tak terasa air matanya jatuh membasahi wajah Syahril yang tertidur.


"Abi..atap rumah Abi bocor yah?"

__ADS_1


Arzil merasa linglung dengan segera ia menatap langit-langit rumahnya.


"Bocor?? rumah sekokoh ini mana mungkin bocor." gumamnya dalam hati lalu menuju ke arah Syahril.


"Tidak Sayang."


Arzil baru teringat mungkin karna ia menangis mengenai wajah putranya.Dia tersenyum sendiri merasa di bodohi oleh ulahnya sendiri.


Syahril berlari keluar meninggalkan Arzil seorang diri.


"Syahriiill" panggil Syafa merentang tangan menyambut pelukan buah hatinya.


"Ummi...Syahril kangenn," ucapnya lalu mengucup pipi Syafa.


"Ummi juga sayang.Hehm kamu terlihat kurusan.Apa Abi dan Pamanmu tidak memberimu makan?" gerutu Syafa memandang Bian.


"Ini keponakanmu mengapa kurus??"


"Selama kau pergi Syahril hilang.Seharusnya tanya pada Pamannya yang satu tuh." ujar Bian mengarah pada Ardian yang melamun.


Lamunan Ardian terhamburkan saat semuanya menatap datar padanya.


"Mengapa kalian memandangkh begitu sinis?"


Syafa merasa sedih selama dia mengurusi Syahril tak pernah Syahril sekurus itu.


"Kau apakan putraku?"


"Dia?" Syafa menunjuk pada Ardian yang di panggil Syahril sebutan Ayah.Syafa heran pada putranya.Dia duduk mengusap kasar wajahnya.Kepergian lamanya membuat semuanya berubah.


Berubah suasana serta bertambahnya panggilan baru.


Tak lama sebuah mobil memasuki kawasan Rumah Arzil.Terlihat si cempreng Farah begitu antusias mendengar kabar kepulangan Syafa.


"Syafaaa..." Farah memeluknya dan meraba wajah Syafa.Dia terlihat panik dan gegabah memandang Syafa masih berbalut perban di kepalanya.


Halwapun datang dengan hijabnya serta kecantikan natural dari wajahnya.Ardian terlihat kaku dan gugup saat Halwa tersenyum mengucap salam.


"Assalam mu'alaykum.."


Semua orang tertuju padanya.Wajah anggun serta memiliki sifat ayu dan kalem tentulah menjadi daya tarik pria untuk mendekatinya.


"Wa'alaykum salam,Masya allah sahabatku yang satu ini emang membuat orang-terkagum kagum." puji Syafa memeluk dan cupika cupuki.


Halwa tersenyum dan mengusap lembut pundak Syafa dan tak lupa mengendong Syahril.


"Bukan kayak Farah main nyelonong saja."sindir Syafa lalu senyum terkekeh melihat Farah mengerucut mulutnya.


Syafa berjalan mencubit pipi Farah, "biasa saja tuh bibir.Tak malu tuh di lihatin Kevin." cetus Syafa buat Farah menutup mukanya.

__ADS_1


Sementara Bian asyik ngobrol bersama Paman Athur.Tampaknya kedua begitu akrab karna memiliki karir yang sama.Sama-sama seorang dokter juga.


Desny tak sengaja melihat Ardian begitu serius memandang sosok Halwa.Gemuruh hati menjiwai perasaannya.Sejak bertemu Ardian di Rumah Sakit Desny merasa ada yang berbeda pada hatinya.


Tak bisa ia tepiskan apalagi Desny tak sengaja bertemu kembali pada Ardian.Menambah kasmaran pada dirinya.Desny meminta izin kepada Athur untuk undur diri karna harus buru-buru ke kliniknya.


"Pak,saya pamit dulu yah.Tugas saya juga udah selesai." lirihnya menyadarkan Ardian lalu dengan cepat Ardian menghalangi kepergian Desny secara mendadak.


"Kog cepat bangettt?"


Syafa menghampiri Desny yang sudah mengenteng tas di pundaknya.Bernostalgia pada temannya sampai melupakan Desny yang sendiri duduk tanpa teman.


"Des,mari sini."


Desny tersenyum lalu mengulur tangan pada Halwa dan Farah.


"Desny." sapanya lalu memandang gadis yang menarik perhatian Ardian.


"Halwa."


"Farah.Senang berkenalan denganmu.Oh ya kerja di mana??" tanya ramah Farah.


"Aku kerja di Rumah Sakit Bhayangkara.Kebetulan pemiliknya Pak Athur paman suaminya Syafa."


Setelah mengucapkan itu Desny memeluk Syafa.


"Syafa.Aku pulang dulu yah.."


"Pulang?? gak boleh.Kebetulan aku mau masak dulu untuk merayakan ini.Jadi...please jangan pulang."


Syafa meletakkan tas Desny lalu menarik tangan Halwa,Farah,dan Desny menuju dapur.


" Mau ke mana?" tanya ketiganya lalu tersenyum mengikuti Syafa.


"Bik,apa yang perlu di bantu?" Syafa bertanya lalu menyuruh temannya memasak sesuai stok makanan yang ada.


"Bibik duduk saja.Biar kami saja yang memasak." titah Syafa menarik BiBik lalu menyuruh duduk paksa di kursi.


Setelah memasak mereka menghidangkan makanan di meja.


"Syahril,tolong panggilkan Abi di kamar yah" pinta Syafa lalu menyuruh yang lainnya berkumpul di meja makan.


Syafa terlihat begitu bersemangat pasalnya ini adalah hari yang ia tunggu selama ini.Bisa berkumpul bersama orang-orang yang ia sayangi terutama bersama Arzil dan buah cintanya Syahril.


"Abi...abi bangun.Ummi suruh makan."


Syahril menggoyang-goyang tubuh Arzil namun Arzil hanya diam tanpa merespon panggilan Syahril.


Syahril merasa takut melihat tubuh Arzil panas.Ia berlari menemui Syafa yang sibuk menghidangkan makanan di dapur.

__ADS_1


"Ummi..gawat.Abi demam,dan suhu badannya tinggi." kata Syahril menarik-narik ujung jilbab Syafa.


__ADS_2