Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 38 : Mulai Membaik


__ADS_3

Dengan berat serta pertimbangan ke tiganya.Arzil memerintah para awaknya untuk keluar.


Perundingan kali ini di lakukan berempat serta tak lupa di temani putranya.


Jujur Arzil kecewa pada Ardian yang mengkhianatinya serta pencuri putranya.Ada rasa sakit hati bahkan dendam,tapi mengingat Syahril begitu menyayangi Ardian bahkan memeluk pria yang ia panggil sebutan Ayah.


" Buat kau membelaku bocil?"kata Ardian mengacak acak rambut Syahril.Syahril bahagia karna Paman dan Abinya tidak jadi berbuat kasar pada Ardian.


" Ayah,jangan tinggalkan Syahril."


" Aku bukan Ayahmu.Sebaiknya pergilah kau bersama Abimu.Tugasku sudah selesai karna sudah mempertemukan kamu dengan Abi dan Pamanmu." ujar Ardian mulai melangkah ingin meninggalkan Syahril,dengan segera Syahril memeluk dirinya.


" Kalau kau Abiku,tolong hentikan Ayah.Aku tidak mau ia meninggalkan aku.Aku sangat sayang padanya.Coba lihat! kakinya luka karna membawaku ke Rumah Sakit." lirih Syahril memegang ujung pakaian Arzil agar menghentikan Ardian.


" Sayang.Dia itu jahat Nak.Biarlah dia mempertanggung jawab atas perbuatan yang ia buat." kata Arzil menahan Syahril yang mulai berlari ingin mengejar Ardian.


Polisi yang sudah sampai di lokasi kejadian dengan segera menangkap dan memborgol kedua tangan Ardian.Sebelum Polisi membawanya masuk ke mobil,ia meminta izin untuk bicara pada Syahril yang sudah menangis memeluk Arzil.


Ardian duduk mensejajar ke arah Syahril.


" Jangan menangis.Kau udah aman bocah." ucapnya mengusap kepala Syahril dan tersenyum lalu pergi masuk ke dalam mobil.


Syahril melambai tangan serta sesekali memejam mata menjatuhkan air matanya yang sudah tumpah.Di usapnya cairan dengan lengan tangannya.


Arzil mengendong dan membawa masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju meninggalkan markas Bian di ikuti Kevin dan Bian.Tak lupa menyuruh anggotanya untuk berjaga.


Syahril terlihat murung.Perpisahan yang terjadi secara mendadak melemahkan semangatnya.


Arzil melihat Bian,"ummi mana?"


" Ummi lagi pergi Nak,berobat." kata Bian tak mau membuat Syahril bertambah sedih.


" Om,kita mau ke mana?"


" Pulang ke rumah Abi," ucap Arzil lalu tersenyum memandang putra yang begitu ia rindukan selama ini.


Syahril memandang Bian yang sedang menyetir.Syahril berharap Bian membawa dirinya pulang ke rumahnya untuk bertemu Atikah.

__ADS_1


" Syahril ingin bertemu Nenek,apa nenek ada di Rumah?"tanyanya membuat wajah Bian berubah sendu.


" Nenek gak ada Nak. "


" Emang nenek ke mana?"


" Nenek dah meninggal sayang.Jadi kalo Syahril rindu doain aja buat nenek yah." bujuk Arzil memeluk putranya.


Tak lama mobil melaju memasuki kawasan Rumah Arzil.


Arzil merasa heran karna beberapa mobil besusun di halaman Rumah bak istana itu.Dia berjalan sambil mengendong Syahril masuk ke dalam Rumah di ikuti oleh Bian dan Kevin yang setia menemaninya.


Terlihat beberapa orang berjas hitam sedang berbicara pada Art nya.


" Di mana tuanmu??" Pria itu bertanya sambil melipat tangan .


" Tu tuan..."


Arzil datang tak lupa ia melirik pria tua itu yang sangat mirip sama Daddynya.


" Pa paman Athur..." sapanya berlari memeluk Paman yang sudah 10 tahun tidak bertemu.


" Sudah besar rupanya kau.Ini putramu kah? bearti cucukulah." ucapnya mengendong Syahril lalu menyuruh body guardnya pulang.


" Hei,kau semua pulang.Nanti cucuku takut pula melihat tubuh kau yang besar itu di tambah wajahmu yang sangar." sindir Athur lalu ketawa lepas melihat Syahril teringat pada Arzil yang masih kecil.


" Baik Tuan, " ucap bersamaan para Body guard yang di bayar Athur untuk menjaganya selama perjalanan menuju Rumah Arzil.


" Hei...kau berdua siapa? dari tadi berdiri menatapku.Apa aku ingin jelek atau penjahat."


Athur mendekati Bian dan Kevin.Dia menepuk pundak dan bediri di tengah Bian dan Kevin serta merangkulnya menyuruh duduk.


" Duduklah.Tak usahlah kau melihatku seperti itu.Aku orang baik bukan berniat jahat pada kalian.Jadi santai saja brooo!" ujar Athur menjelaskan lalu tertawa lepas menatap Syahril.


Bibik membawa minuman serta beberapa cemilan menemani obrolan mereka.


" Aku mendengar kalau kau saat ini sedang mendapat masalah? dari kehilangan istri,anak bahkan keluargamu meninggal mendadak.Keputusanmu memenjarakan Ardian salah besar.Ardian hanyalah korban dari seseorang yang menyimpan dendam pada keluargamu." tegas Athur memandang Bian,Kevin,sementara Arzil baru keluar mengantar Syahril ke kamar untuk istirahat.


" Maksudnya??" Arzil sebenarnya curiga pada Pamannya yang datang mendadak.Ia meletakkan obat tidur pada minuman untuk memastikan bahwa niat Pamannya tulus untuk membantu bukan karna sesuatu.

__ADS_1


" Paman sudah tahu Nak.Kau lihat temanmu sudah tertidur karna ulahmu sendiri."


Arzil tak percaya mengetahui Athur sudah bisa membaca rencananya.Beberapa menit kemudian Ardian keluar dari kamar sambil tersenyum menatap Arzil.


" Kau..."


" Iyya kak.Kakak kaget..." sindir Ardian menyungging sebuah seyuman yang memiliki arti.


" Tentu.Bukankah tadi Polisi sudah menangkapmu lalu mengapa kau ada di sini?"


" Pamanlah yang melepaskanku."


Alasan Athur melepas Ardian karna Ardian tahu tempat persembunyian musuh sebenarnya Arzil.Athur menepuk pundak Arzil dan Ardian yang sedang berdiri berlawanan arah.


" Seharusnya masa genting ini kayak kini kalian tuh kompak,bukan berpecah.Saling curiga dan menjatuhkan sehingga musuh kalian memanfaatkan kesempatan itu.Sebentar lagi akan ada seseorang yang akan datang ke sini.Jadi bersiaplah..." titah Athur lalu naik ke kamar atas.


Arzil membangunkan Bian dan Kevin tertidur akibat efek obat yang di berikan Arzil namun salah sasaran.


" Kalian berdua,BANGUN!" teriak Arzil .


" Ada musuh,mana,mana, " sahut Bian di ikuti Kevin mengambil pistolnya.


Aksi mereka mengubah suasana menjadi riuh serta kelucuan.Kepolosan Kevin saat terbangun membuat Ardian tertawa.


" Kalau anggotanya seperti ini,wajar kalah." kata Ardian menyindir Kevin dan Bian lalu Arzil berdiri di samping Ardian tersenyum.


"Lhoo ini kenapa di sini?" Bian tak percaya,sudah jelas ia melihat Ardian di borgol oleh Polisi tapi sekarang terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa.


" Maaf sebelumnya.Pamanku Athur yang melepaskannya." Jelas Arzil bicara serius dan memeluk Ardian untuk membuktikan kalo mereka sudah baikan jadi tak perlu di permasalahkan.


" Itu kauu,tapi di aku tidak." sindir Bian,lalu pergi meninggalkan Rumah Arzil.


Bian nyatanya belum bisa memaafkan Ardian.Karna ulah Ardianlah adiknya depresi serta Mamahnya meninggal dunia akibat serangan jantung mendengar suara tembakan yang di tuju Ardian untuk membunuh Arzil.


Sebuah mobil hitam memasuki kawasan Rumah Arzil.Sosok seorang dokter mengandeng wanita yang menurut Bian tidak asing lagi.Wanita muda itu tersenyum menyapa Bian.


" Assalam mu'alaykum." sapa dokter itu yang tak lain adalah Desny.


Desny lah yang selama ini mengurus Syafa sampai Syafa benar-benar sembuh dari Depresinya.

__ADS_1


__ADS_2