Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 6 : Siapa Bocil?


__ADS_3

Kemesrahan Azril dan Syafa terlihat begitu bahagia,Syafa yang menyadari cinta Azril yang tulus menyayanginya berusaha menjadi istri sholeha.


"Makanan ini sangat lezat,apa kau yang memasaknya?"puji Azril tak henti menatap Syafa,tak sadar bunyi ketukan pintu berkali-kali tidak ia hiraukan.


tok tok tok


"Kak,siapa tu yang di luar?,dari tadi pintu itu berbunyi tapi kakak malah sibuk ngelihatin aku kayak gitu"tanya Syafa,menghamburkan pandangannya melihat Syafa.


"Masuk!"titah Azril


"maaf tuan menganggu,saya hanya ingin mengantarkan berkas yang ketinggalan di ruangan meeting tadi"


"letakkan saja di meja kerja saya,jika urusan sudah selesai,silahkan keluar"ucap dingin Azril.


"Baik tuan"


Alena keluar dengan raut wajah kesal,apalagi tidak sengaja melihat kedekatan Azril dan Syafa yang begitu mesra.


"Siapa gadis kecil itu?,bisa-bisanya ia merebut pria idamanku"gerutunya sambil menutup pintu.


klekk


"Lu kenapa Alen,cemberut gitu?"tanya Selly mencubit pipi sahabatnya.


"Tu yang di dalam sono"


"siapa??"tanya Selly penasaran,kemudian menarik tangan Alena ke meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Selly.


"Gadis kecil kampungan itu mengambil pria idaman gue,mesra lagi"cetus Alena yang terbayang kemesraan Azril bersama Syafa.


"Mungkin saja itu adiknya,atau sepupu atau..."


"istrinya,maksud loe!"


"mungkin saja,setahu kita tuan Azril tak mungkin bisa seramah itu kalo bukan sama kekasihnya.Kau lupa saat ia menjalin hubungan dengan sang model bernama Diana"desah Selly menakuti perasaan Alena yang semakin ciut untuk memperjuang cintanya.


"Iya sihh,tapikan itu masih bocil,apa selera tuan Azril....?"


Azril dan Syafa keluar dari pintu.Azril melihat semua pekerjanya sibuk berbicara,menggosip tentang dirinya.

__ADS_1


Ia berdiri menyilang tangan menatap seluruh karyawannya dengan pandangan dingin.


"Apa aku menggaji kalian untuk menggosip?sekarang masih jam kerja,dan kau Alena meja kerjamu di mana?,apa sudah berpindah?"bentak Azril,Syafa menyaksinya hanya mengelus dada.


Syafa ingin menahan kemarahan sang pewaris,namun Azril menunjuk jari lima ke arah Syafa agar tidak mencampuri.


Syafa pun memilih untuk mundur dan diam.


"Kalau kalian masih mau bekerja di sini,jangan di ulangi lagi.Aku tidak butuh karyawan yang tidak disiplin apalagi hobynya menggosip.Kau Selly laporan yang ku suruh perbaiki udah selesai apa belum"teriak Azril mematikan ac di ruangan yang dingin menjadi panas karna ketakutan.


"Belum tuan"ucap gugup Selly.


"Kalau gitu saya kasih 30 menit untuk menyelesaikannya,kalau tak selesai juga sebaiknya buat surat pengunduran diri,kau pahamkan maksud saya"ujar Azril menantang Selly dengan tatapan serius.


Semua karyawan menunduk,begitu juga Syafa yang tak mengerti sifat Azril seperti Pancaroba.


"sekarang kembali ke tempat kerja kalian masing-masing!"tegas Azril,menarik tangan Syafa ke luar.


"maafkan kakak yah,kakak terpaksa begitu"


"Syafa hanya kaget saja"ujar Syafa tersenyum terpaksa.


"Kakak ini pemimpin jadi harus tegas dan berwibawa,itulah pesan almarhum Dedy kak Azril,makanya perusahaan ini masih bisa bertahan sampai sekarang"


"wa'alaykum salam,hati-hati yah!,jangan lupa hubungi kakak kalo sudah sampai"ucap Azril melambaikan tangan.


Azril bergegas masuk ke dalam kantor,rasa emosi masih menghiasi wajar datarnya.


Semua karyawan sibuk melakukan tugasnya masing-masing.


"Selly,Alena!,kau ikut aku sekarang"


Selly dan Alena saling memandang,wajah datar Azril menakuti batinnya.Keduanya saling colet mencolet lengannya.


Mereka masuk secara bersamaan,tampak Azril lagi mengusap kasar wajahnya dan memijat pelipis keningnya.


"Mengapa masih di situ?,duduklah"


"ini peringatan terakhir untuk kalian"ucap Azril mengarah jari telunjuk ke wajah kedua wanita yang sedang ketakutan.

__ADS_1


"Iy_ya tuan"sahut Alena dan Selly


"kalau tidak tahu ceritanya,jangan menggosip.Asal kalian berdua tahu,gadis tadi adalah istriku,jadi jangan asal berbicara tentanngnya,paham!"tegas Azril,berdiri memegang pinggang menatap Alena dan Selly.


"Tapi gadis itu bocil"ucap ceplos Alena,dengan segera ia memukul mulutnya.


"Bocil??,aku tak peduli,apa urusan kalian"ucap Azril membuat keduanya saling melongo.


"Apa tuan tidak takut kalo reputasi tuan turun karna menikah dengan bocil"cetus Selly mencoba memberanikan memberi pendapat.


"Umurnya sudah delapan belas tahun,bukankah itu umur yang sudah cukup untuk syarat menikah,iya kan?"


Keduanya saling pandang,kelakuan bosnya ini benar-benar sudah kasmaran.


"Sekarang kalian ke luar,ingat jangan ulangi lagi"tegas Azril berlalu mengambil jasnya dan pulang.


"Alena,hari ini jadwal meeting tidak ada kan?"


"tidak tuan"


"bagus kalo gitu"


Sementara Syafa sedang mengotak atik ponsel barunya.


"Assalam mu'alaykum,Syafa..."sapa Azril yang sedang melihat Syafa menahan kesal sulit menggunakan handphone barunya.


"Wa'alaykum salam,kak ini ponsel kog dari tadi susah banget pakenya"kesal Syafa.


"Suami pulang bukan di suguh minuman malahan ponsel"sindir Azril memasang wajah jutek.


"Syafa ambil minuman dulu,tapi tolong ajarin pakenya"pinta Syafa pergi ke dapur.


Azril tersenyum puas mengerjain Syafa.


"Ini kak,minumlah!"


"makasih yahh,ini ponselnya udah kakak benerin"


"sama-sama,kakak jangan marah kayak gitu lagi yah!jujur Syafa takut"

__ADS_1


"ya gaklah,kalo sama Syafa marahnya beda"


"mulai dehh,awas yah macam-macam"


__ADS_2