Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 20 : Asal Usul Syahril


__ADS_3

Pagi ini Halwa dan Farah sedang berjalan beriringan menuju ke ruangan masing-masing.Farah berbelok kiri sementara Halwa jalan lurus memasuki ruangan kerjanya.


Semua petugas di situ menyapanya.Halwa terlihat cantik apalagi saat ia tersenyum menyapa balik bagi yang mengenalnya.


"Selamat Pagi dok,apa sudah siap untuk memulainya?,karna sudah banyak pasien yang menunggu."ucap perawat yang setia mendamping Halwa.


"Oke,silahkan!"


Pemeriksaan di lakukan,satu per satu pasien masuk untuk memeriksa sambil membawa anaknya hingga akhirnya Halwa bernafas lega.


Halwa mengintip arloji di tangannya,sudah pukul 11.00 wib.Ia mengambil ponsel di tasnya,rasa kangen sosok Syafa membuatnya sedih karna sahabatnya satu ini tidak memberi kabar sudah hampir empat hari.


Halwa keluar menemui Farah yang sedang mengomel dengan tiga orang pria yang tak sengaja menumpahkan air di pakaiannya.


Tiga pria ini hanya memperhatikan ucapan Farah yang seperti mercon meletup letup dan peluru menerobos masuk ke dalam tubuh tiga pria itu.


"Mata kalian di mana?,di jengkul yahh?"cetus Farah mengerucut bibirnya yang kesal.


Di antara ketiga pria hanya satu yang membalas pertanyaan Farah dengan senyum menawan.


"Kalian mundur,ku rasa gadis ini mengundang nyaliku?"ucap bangga Kevin,Kevin memang lebih suka gadis yang cerewet,apalagi seperti Farah berbicara yang tidak berhenti.


"Kau cantik juga kalo sedang marah,boleh aku mintak nomor ponselmu?,akan ku kirimkan baju yang baru untukmu.Tak perlu khawatir,di belakangku sudah ada dua sultan yang akan membelinya."ujar bangga Kevin sembari memberi ponselnya untuk di ketik Farah.


Farah menatap dua pria itu,entah mengapa ia lebih tertarik pria dingin yang cuek itu daripada Kevin sok puitis itu.


"Kau pikir aku wanita murahan,hah?,dasar pria hidung belang."sindir Farah menghambur meninggalkan ketiganya yang sedang berbicara.


Farah berlari menuju Halwa yang sudah menahan tawa.Mereka beriringan masuk ke kantin untuk membuang lelah seharian bekerja.


"Huuuuft,kesel aku,pria itu emang-emang gila?"


"Sabar,kamu sihh marah mulu.Gak semua masalah harus di selesaikan dengan kemarahan."nasehat Halwa mendinginkan hati Farah yang sudah panas.


"Iy_iya"jawab Farah mangut mangut.


"Mending di dinginin tuh hati dengan air jeruk ku ini,yang rasanya manis-manis masem kayak hidupmu"canda Halwa.


Tiba-tiba ketiga pria itu masuk ke kantin dan tak sengaja Farah menatapnya.


Namun Farah bingung karna pria itu sekarang berempat,satunya dokter Bian.


"Kamu ngelihatin apa?,kog serius banget"tanya Halwa.


"Ituu,si abang-abang ganteng!,termasuk dokter idolamu,Bian"jawab Farah melotot,namun ia tersipu malu karna pria dingin melihatnya.


Halwa memutar tubuhnya memperhatikan gerak gerik mereka.


"Siapa mereka?"ucapnya dalam hati.


Keberadaan mereka menguras pikirannya,memikirkan pria yang bersama Bian.


Halwa pun mengajak Farah untuk meninggalkan kantin dan kembali bekerja.


Langkahnya terhenti saat Bian memanggil keduanya.


Ardian saat itu sedang fokus mendengar penjelasan dokter Bian,namun terhenti karna kehadiran Halwa yang mencuri hati.

__ADS_1


Dia menatap Halwa begitu dalam,menyadari hal itu Halwa menunduk dan bertanya maksud Bian memanggilnya.


"Maaf dok,ada apa memanggil saya?"tanya Halwa.


"Kalian sudah tahu?,masalah sahabat kalian"tanya Bian,keduanya saling menatap dan tanda tanya.


"Syafa!,maksudnya?"tanya serentak Halwa dan Farah.


"Iya"


"Sekarang dia di mana?"tanya Halwa,sementara Ardian tidak mengerjib mata menatap Halwa yang begitu cantik meski tidak tersenyum.


"Dia ada di ruangan Mawar no 12 tepatnya ruang rawat anak-anak,pergilah ke sana?"titah Bian kemudian melanjutkan pembicaraan dengan Ardian.


Arzil yang mendengar kata Syafa,meninggalkan mereka dan mencari ruangan yang di katakan Bian.


Saat ingin membuka pintu,ia melihat Syafa sedang mengaji di depan putranya masih tak sadarkan diri.


Arzil menangis,Syafa yang semakin kurus memikirkan masalah hidup yang bertahun ia jalani tanpa sosok suami.


Klek


Pintu terbuka menghentikan Syafa mengaji.Syafa kaget bagaimana Arzil mengetahui bahwa dirinya di sini.


"Kakak,kau tak apa-apa?"tanya Syafa masih pandangan yang sama saat Arzil pingsan waktu ia melakukan kegiatan sosial.


Ia menatap Arzil yang sedih,mengusap air mata Arzil dengan jilbab besarnya agar tidak bersentuhan langsung.


Arzil ingin memeluknya,namun Syafa mundur mengingat dirinya sudah resmi bercerai dua tiga tahun yang lalu.


"Mengapa kau mundur Syafa?"


Arzil termenung mengacak-acak rambutnya yang begitu mudah mengambil keputusan tanpa memikirkan hatinya.


Lalu dia menatap anak yang sudah terbaring tanpa suara.


"Siapa dia?,apa kau sudah menikah lagi?"


Mendengar pertanyaan Arzil,air matanya mengalir deras meresapi kisah pahit yang di jalani tanpa sosok cinta yang melindungi.


"Semuanya terjadi begitu cepat,kala itu ada pria yang melakukan itu padaku.Aku tak mengenalnya.Awalnya aku sedikit lega karna dokter mengatakan diriku mandul.Namun selang sebulan kemudian aku positif hamil.Aku juga bingung kak.Bearti dokter itu menipuku agar kau menceraikan ku."


"Bearti dia adalah putraku,buah cinta kita"ucap Arzil tersenyum bahagia.Penantian lamanya akhirnya Allah menjawab doanya untuk memiliki anak.


"Apa maksudmu kak?"tanya Syafa menatap dalam Arzil yang bahagia.


"Pria yang malam itu melakukannya adalah aku"ucap Arzil yang berusaha menjelaskan kepada Syafa.


Flash back On


Setelah meeting Arzil melihat arloji di tangannya,ia begitu lelah meeting hari ini banyak menguras tenaga di tambah lagi harus melihat proyek sana, proyek sini yang belum selesai.


Menjadi Pengusaha yang tidak satu jurusan saja membuatnya pusing,mengurus pekerjaan yang bercabang-cabang.


Arzil besandar duduk di kursi kebesarannya,memijat pelipis yang sudah menekan nekan otaknya.


Akhirnya ia memutuskan ke kampus Syafa,karna janji ingin hadir di wisuda sang istri.

__ADS_1


Sampai di sana,terlihat sunyi.Gedung yang di gunakan acara wisuda sudah satu per satu orang meninggalkannya.


Arzil yang kelelahan memutuskan pulang ke rumah.Pikirnya, jika pulang ke rumah mungkin ada Tapasya yang akan menghilangkan kelelahannya.


Arzil mengucap salam,tapi tak mendapati orang yang menjawab salamnya.Dia pun menatap seluruh ruangan.


Mbok Eny yang baru keluar dari pintu belakang berlari menyambutnya.


"Wa'alaykum salam tuan,maaf tadi saya di belakang.Jadi,tak dengar tuan mengucapkan salam"ucap mbok Eny melihat Arzil yang kelelahan.


"Nyonya dan Tapasya ke mana?"


"Mereka ke mall tuan,katanya suntuk di rumah"ucap mbok Eny yang sudah kelelahan mengurus taman belakang.


Arzil berlalu pergi menuju ke kamarnya dan berbaring lepas di kasur empuknya.


"Apes,apes!,pulang ke rumah berharap ada yang micitin,eh malah seperti ini"keluhnya menatap langit-langit rumahnya.


Arzil beranjak ke kamar mandi,mungkin berendam air hangat akan menghilangkan stresnya dalam bekerja.


Setelah membersihkan diri,ia turun terlihat mbok Eny membawa secangkir wedang jahe.


"Ini tuan wedang jahenya.Saya lihat tuan begitu kelelahan,barangkali minum ini menghilangkan kelelahan tuan seharian bekerja"ucap mbok Eny meletakkan wedang jahe di mejanya.


"Terima kasih mbok,tapi tunggu mbok?"


"Ada apa tuan??"


"Wedang jahe ini Syafa yang buat yah?"tanya Arzil sambil menyerumput minuman yang menggoda itu.


"Bukan tuan,saya yang buat.Cuma kemarin Syafa yang ngajarin meraciknya"ujar mbok Eny pergi meninggalkan Arzil yang sedang menikmati minumannya.


"Lanjutkan!"


"Maksud tuan?"


"Stok wedang jahenya jangan sampai habis"pinta Arzil tersenyum pada mbok Eny.


Arzil merenung,biasanya kalo ia pulang selalu di sambut sang istri dengan senyuman manisnya,serta memijatnya saat kelelahan.Sekarang hanya tinggal kenangan,apalagi mengingat Mamahnya menuntut untuk menceraikan Syafa.


"Syafa...kamu di mana?"gumamnya dalam hati.


Arzil beranjak menuju garasi mobil,mencoba mencari alamat Syafa.Ia menelpon tapi tak di angkat membuatnya berpikiran buruk pada Syafa.


"Dimana dia?"ucap Arzil menekan tombol klapson karna saat itu terjadi macet menghambatnya menemui Syafa.


Arzil mencoba melacak lewat ponselnya dan berhasil mendapat alamat Syafa.


Tapi sayangnya Syafa tidak ada di rumah.Saat ia menuju di sebuah restorant terlihat Syafa sedang mengobrol dengan temannya,dengan terpaksa Azril memutar arah ke swalayan karna ingin membeli minuman dingin.


Saat ia ingin kembali menemui Syafa,ia kaget Syafa bersama pria yang tak di kenal.


Arzil mendobrak pintu terlihat Syafa sedang terbaring.


Arzil yang sangat ahli bela diri Taekwondo,dia menghadapi dengan santai meskipun pria itu menggunakan pisau.


Setelah pria itu berhasil di kalahkan dan kakinya teruka.Ia menatap dalam Syafa,rasa kerinduan yang dalam mengajaknya berbuat demikian.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang,aku tak mampu untuk berpisah denganmu.Terima kasih kau telah melayaniku,tanpa melihat senyummu"lirih Arzil mencium kening Syafa,dan menutup tubuhnya dengan selimut.


__ADS_2