
Syafa tergeletak lemah di ruangan ICU.Dengan segala selang menempel di tubuhnya.
Bian merasa sedih dan prihatin kondisi Syafa.Di tambah lagi dokter mengatakan Syafa sedang hamil.Menurut dari USG rahim Syafa belum terlihat janin tapi kantong bayi sudah terbentuk.Bian hanya melihat dari kaca tubuh adiknya yang terlihat kurus.
Bian merasa kecewa dengan Arzil yang tak bisa di hubungi.Dirinya berinisiatif menyusul langsung menuju kantor Arzil mencari kejelasan yang sebenarnya terjadi.
Bian melangkah dengan cepat bertanya pada Sekretaris Arzil.
"Di mana Tuan Arzil?"
"Maaf Tuan! Seperti anda tidak tahu yah? Tuan Arzil mengalami kecelakaan sampai sekarang belum di temukan jenazahnya.Mobilnya jatuh ke dalam jurang saat pulang dari meeting ke luar kota bersama Kevin.Keduanya masih tahap pencarian.Jadi,untuk sementara Tuan Ardian mengambil alih mengurus Perusahaan ini." kata Sekretarisnya lalu melanjutkan pekerjaan karna Bian dengan segera mengoceh ponselnya.Dia baru menyadari kalo nomor ponselnya sudah di ganti oleh seseorang.Terlihat di kontak nomornya banyak nomor yang berbeda dari ponsel sebelumnya.
"Siapa yang melakukan ini padaku?" gumam Bian mengingat terakhir dirinya bertemu dengan siapa.Bian terduduk memijat pelipisnya.Kemudian Ardian dan Paman Athur keluar dan terlihat begitu senang seakan tidak terjadi masalah.Ardian mengantar pengacara sampai ke Parkiran lalu menyalami dengan wajah turut berduka.
Mereka segera masuk ke ruangannya tanpa menyadari ada Bian yang sedang mengintai kelakuan mereka.Kehilangan Arzil seharusnya membuat mereka sedih tapi sebaliknya menambah kecurigaan Bian terhadapnya.
"Ku pikir Ardian sudah berubah! Ternyata ini hanya tartiknya untuk mengambil kepercayaan Arzil lalu merusaknya kembali.Dasar pengkhianat!" ucapnya lalu pergi menyusul Syahril karna mengingat pesan Syafa untuk menjaga putranya.
Sepanjang perjalanan Bian hanya memikirkan Syafa.Kehidupan Syafa sepertinya sudah gawat darurat karna kehadiran Paman Athur yang menusuk dari belakang.Kehadirannya ternyata sudah di rencanakan dari awal berpura menolong Syafa sampai mempererat pertikaian antara Ardian dan Arzil.
"Tidak akan ku biarkan engkau tertawa di atas penderitaan adikku dan Arzil."ucap janjinya mengempal tangan karna geram dengan perlakuan yang di lakukan Ardian pada Arzil.
Bian pergi menuju ke Rumah kediaman Arzil lalu menemui Syahril.
"Bik,Syahril mana? Mengapa Rumah ini begitu sepi?" tanya penasaran Bian .
__ADS_1
Bian menatap datar bibik yang hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaannya.
"Bik.Aku ini sedang bertanya! Di mana Syahril?"
"Aduh tuan.Anuh den Syahril tadi di bawa tuan Ardian dan Paman Athur.Katanya mau jalan-jalan." jawab bibik membulatkan mata Bian.Bian tak menyangka mengapa Ardian bisa mengetahui kalo ia ingin menemui Syahril.
"Apa???" cetus Bian lalu berjalan mondar mandir memikirkan langkah selanjutnya.Dia sedikit putus asa karna Kevin yang mengerti ini juga korban salah satu kecelakaan yang terjadi pada Arzil.Biasanya Kevinlah yang membantunya dalam masalah genting seperti ini.
Bian baru teringat pada ponselnya.Dia bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengecek ponsel tersebut.Ternyata keinginannya ingin mengambil Syahril terbaca di sebabkan adanya pelacak yang di pasang seseorang meyakinkan dirinya ini adalah ulah Ardian dan Paman Athur.
Syahril menangis memohon pada Ardian agar melepaskannya.
"Ayah! Mau di bawa ke mana Syahril? Mana janji Ayah mau mempertemukan Syahril dengan ummi?" Rengeknya memelas agar Ardian tak meninggalkannya di pinggir jalan.
Ardian membawa Syahril ke luar kota dan meninggalkannya di sana.
Sebenarnya Ardian berat dan tidak tega.Namun Athur memaksanya hingga dengan berat dirinya meninggalkan Syahril yang sudah menangis memandang kepergian Ardian yang sudah jauh dari posisinya.
"Apa salahku? Mengapa Ayah tega memperlakukanku seperti ini?"ujar kecewanya lalu berjalan menyusuri pinggir jalan tak sengaja melihat Rumah makan.Syahril menyentuh perutnya karna merasa lapar dan meringis menahan perut yang sudah kesakitan.
Dia terduduk lemas besandar di tembok jalan menyentuh perutnya.Kemudian datang seorang pria berpakaian seperti preman menghampirinya.
"Kau lapar??" tanya Berto sang preman yang bertugas di pasar.Berto emang terlihat seperti preman tapi pekerjaan bukan preman loh.Kesehariaannya tukang pikul.Dari hasilnya itulah dirinya menghidupkan putri kecilnya bernama Amel.
"Iya om.Ampun! Jangan apa apakan saya." lirihnya memohon agar Berto tidak memukul atau menyuruhnya yang bukan-bukan seperti di sinetron-sinetron tv.
__ADS_1
"Mari ikut aku.Aku akan membelimu makanan."
Berto mengandeng tangan Syahril dan menyuruh duduk di meja Rumah Makan pinggir jalan.
"Ini beneran untuk Syahril?"tanya Syahril tak percaya karna sepiring nasi plus ayam goreng sudah di hadapannya.Syahril mencuci tangan tak lupa mengucap Bismillah lalu mulai melahap makanan di depannya membuat Berto menatap heran.Bocah sekecil Syahril sudah mengerti adab makan.Sementara dirinya tidak pernah mengucapkan itu meyakini bahwa Syahril bukan orang sembarangan.Terlihat dia memakai jam tangan yang menurutnya jam mahal serta penampilannya begitu rapi.
"Om gak ikut makan?Kata ummi kalo kita lagi makan sementara orang di depan kita tidak makan,kita harus rela berbagi.Kemungkinan orang itu menahan lapar karna kita." ucapnya lalu menyuapi Berto.Berto tertegun Bocah sekecil itu bisa mengetahui kalo dirinya emang sedang menahan lapar karna memikirkan uang tidak cukup untuk dua porsi.
Syahril menunjukkan perutnya yang sudah buncit.Kemudian menyerahkan nasi plus ayam yang sudah ia asingkan tadi agar Berto tidak memakan bekas mulutnya.
"Makanlah om! Nanti sakit loh." pintanya menyerahkan nasi di depan Berto menambah kekaguman Berto pada sosok Syahril.
Berto tak mampu menolak.Ia memakan dengan lahap namun terhenti mengingat putrinya Amel pasti sudah menunggu di rumah reotnya.
"Loh.Kenapa berhenti?"tanya Syahril mendengus melihat Berto memberhentikan makan lalu menduduk.
"Putriku Amel belum makan.Pasti dia sedang menungguku." ucap sedihnya karna melihat uang di sakunya sudah habis membeli nasi untuk Syahril.Syahrilpun membuka jam tangan pemberian Abinya,Arzil.
"Om,ambillah! Dan tolong jualkan ini untuk menukar uang yang om belikan nasi untukku."
Berto tanpa ragu mengambilnya.Merasa hidup miskin dan memerlukan uang menjadinya tidak berpikir dua kali untuk menolak pemberian Syahril.Namun niatnya terhenti melihat Syahril sedih setelah menyerahkan jam tangan itu.
"Nah,ku kembalikan.Sepertinya ini jam barang beharga untukmu." cetusnya memakai kembali jam di lengan Syahril dengan cepat Syahril menolaknya.
"Jam ini emang beharga om.Tapi putri om lebih beharga karna harus menahan lapar.Jadi ambillah! Syahril ikhlas."
__ADS_1
Berto mengenggam jam itu dan menatap aneh pada ucapan Syahril yang begitu bermakna.Dia mengandeng Syahril lalu menjual jam tangan Syahril.Betapa kagetnya Berto jam tangan Syahril di harga dengan harga yang fanstatik menurut orang rendahan sepertinya.
"Beneran Pak!Jam kecil begini di hargai Rp.2000.000." tanya penasarannya membulat matanya memandang Syahril yang berdiri di samping menampakkan wajah polosnya.