
Assalam mu'alaykum...
Maaf yah author lagi kurang sehat...
Jadi updatenya sering telat dan kurang bersemangat dalam✍️✍️
Author coba lanjutkan lagi!!!
Jazakumullah khairon atas like,comment n geefs nya..
Bian terdiam mencerna kata per kata dari wanita masa lalunya bernama Sheila.
"Sheila,aku juga bingung cara membantumu.Kakakmu sangat keras dan belum ikhlas kematian Ayahmu.Tapi..."
Bughhh
Satu tonjolan menempel ke rahang Bian hingga bibirnya berdarah.
"Berani sekali kau menemui Sheila.Sudah ku peringatkan jangan ikut campur masalahku.Dan kau Sheila harus ingat misi ku menyuruh kau menikah dengannya." ancam Aldan menarik tangan Sheila menuju ke mobilnya.
"Kau egois.Hanya demi membalas dendam,kau korbankan kebahagiaan adikmu sendiri." teriak Bian berjalan menarik tangan Sheila.
Dengan segera Aldan melepas paksa tangan Bian dan menyuruh Sheila masuk ke dalam mobil.
"Itu bukan urusanmu." Ujar Aldan mengarah jari ke muka Bian .
Mobil Aldan melaju dengan cepat meninggalkan Bian yang hanya pasrah melihat kepergian mereka.
Ditempat lain Syafa mencari Bian karna jam kerja udah usai.
Karn ruangan kerja kosong,Syafa memutuskan ke tempat Halwa.
"Permisi Bu dokter! mau tanya nih..tadi ngelihat dokter Bian gak??"tanya Syafa menyengir melihat Halwa sedang memainkan ponselnya.
"Gag tuhh..emangnya kenapa? , adik sendiri gak tahu kakak di mana.Pusing kepala .." sindir Halwa melihat Syafa yang lagi merengut .
"Udah ahh . Aku pulang duluan saja " kesal Syafa berjalan keluar mencari mobil angkot .
" Hei tunggu dulu . Bareng saja, sekalian aku juga kangen sama Syahril . Sejak dari pulang rumah sakit kemarin aku belum menjenguknya lagi " ucap Halwa yang sudah mengandeng tasnya di pundak .
Saat mobil ingin berjalan Farah datang merentang tangan di depan jalan .
" Kalian pergi tapi gak ajakin aku ! " kesal Farah
" Sorry ... kami lupa " Halwa menekan tombol open pada jendela mobilnya.
Jreeett
" Ayo masuk.." kata Syafa kemudian menggeser ke kursi sebelah agar Farah duduk di sampingnya.
" Eh tumben kamu ikut Halwa . Kakakmu Bian ke mana ? " tanya Farah melepas tas selempangnya untuk di letakkan di pangkuan .
" Gak tahu . Kabur kali..." cetus Syafa melihat ke arah jendela .
__ADS_1
Halwa memasukkan mobilnya ke halaman rumah Bian .
" Kamu beruntung banget Syafa , tiba-tiba jadi kaya mendadak . Iya kan Halwa ? "
" Iya benar tu . Apalagi dapat saudara kayak Bian " senyum Halwa merekah saat menyebut Bian lalu menutup pintu mobilnya.
Tit
" Alhamdulillah..itu si Syahril udah berlari ! " ucapnya memotong ucapan Farah yang tidak mau berkembang biak .
" Ummi...! " sapa Syahril mendekap ke pelukan Syafa .
" Assalam mu'alaykum Bu .Kenalin , ini Farah dan Halwa " Syafa menarik lengan Halwa agar Ibunya mengetahui yang mana Halwa . Gadis yang menyukai Bian .
" Halwa " ucapnya menyalami Atikah serta di ikuti Farah .
" Wa'alaykum salam .Tante senang kalian main ke sini " ujar ramah Atikah kemudian Syafa mengajak temannya untuk mengobrol di dalam . Halwa terlihat bahagia karna Atikah begitu ramah menyambut kedatangan mereka .
Tak lama mobil Bian memasuki halaman rumahnya dan menuju ke garasi .
Bian terlihat cuek dan kusut . Penampilannya sudah tak rapi serta rambut sudah acak acakan di tambah lagi bibirnya berdarah .
" Assalam mu'alaykum " sapa Bian dingin .
Bian masuk tanpa menunggu jawaban salam . Ia merenggang kan kemejanya .
" Wa'alaykum salam " jawab Syafa dan lainnya
" Kak kamu kenapa ? " Syafa memegang bibir Bian namun di tepisnya dan masuk ke dalam kamar .
Syafa memeluk Atikah . Perubahan sikap Bian menjadi tanda tanya . Halwa dan Farah merasa hal yang sama . Sejak ia menjalani operasi Arzil sikap dinginnya terlihat .
Sementara Bian menghempas tubuhnya di kasurnya lalu menyentuh bibirnya yang terluka .
dret dret dret
" Ardian " pekiknya dalam hati .
Bian bangun dan menyandar di tempat tidurnya.
" Hallo ... "
" Bian kau di mana ? "
" Aku lagi di rumah , baru saja pulang . Bagaimana keadaan Arzil ? " tanya Bian
" Gawattt...Arzil belum sadarkan diri " kata Ardian mengubah posisi Bian menyandar jadi duduk . Ia teringat pada perkataan Syafa .
tut tut tut
Tubuhnya terasa lelah dan gerah sehingga memutuskan untuk membersihkan diri lalu turun menemui Syafa dan lainnya .
Halwa yang lagi becanda dengan Syahril terdiam saat melihat Bian menggunakan kaos oblong dengan sedikit penampilan berbeda .
__ADS_1
" Om kemari lah ! main ke cini sama tante Halwa dan tante Farah " ucap Syahril berlari ke arah Bian yang lagi mencari Syafa . Bian mengendong Syahril dan menciumnya .
" Ummi mana ? "
" Syafa lagi di dapur dok " ujar Farah . Bian meninggalkan keduanya dan bergegas menuju ke arah dapur .
" Syafa ... ada yang ingin aku bicarakan padamu ? " ucap Bian menarik tangan Syafa menuju ke taman belakang .
" Lepaskan aku " ucap Syafa memberontak menolak Bian .
" Aku ini kakakmu , bukan orang lain " bentak Bian .
" Cukup kak , cukup . Kau pikir aku tidak tahu hah ! kau lah yang menyuntik cairan itu ke infus kak Arzil " kesal Syafa mengoceh botol kecil dan memberi ke tangan Bian .
" Apa maksudmu ??? "
" Awalnya aku tak percaya kau melakukan ini . Tapi setelah aku melihat botol kecil itu ada di lacimu , aku benar-benar yakin kau lah dalang semua ini " lirih Syafa yang tak percaya ulah Bian tega ingin membunuh Bian .
flash back on
Syafa berjalan membawa botol kecil yang di curigainya mengandung racun .
klek
" Kak Bian ... di mana kamu ? " sapa Syafa melihat keadaan ruangan yang begitu sunyi .
Rasa penasaran pada album kecil itu membuatnya memberanikan diri mengambil lalu membukanya .
Syafa semula berdiri jadi terduduk . Tubuhnya jadi lemah , jantungnya terhenti sesaat mengetahui Bian memiliki hubungan masa lalu bersama Tapasya .
Hubungan begitu dekat terlihat dari foto Bian memeluk Tapasya begitu erat .
" Jadi...kak Bian adalah pacarnya Tapasya " lirih Syafa menutup mulutnya . Air matanya jatuh apalagi ia tak sengaja menemukan botol kecil yang mirip dengan botol pada dirinya .
Syafa berlari mencari Bian . Ia berusaha untuk tidak terburu-buru menuduh sang kakak . Namun saat perjalanan Syafa di panggil salah satu petugas laboratorium.
" Syafa tunggu ! " panggil Indah petugas kala itu .
" Iya .. ada apa yah ? " tanya Syafa serius melihat Indah memberikan amplop bewarna putih .
" Apa ini ?? "
" Hasil tes DNA , tolong kasih ke dokter Bian . Beliau yang menyuruhnya . " ucapnya pergi meninggalkan Syafa .
Syafa memutar amplop itu .
" Maafin Syafa yah..." lirihnya dalam hati membuka amplop itu .
...*Darrrrrrtrr...
Jantungnya terhenti ...
Bagaimana mungkin Kak Bian yang ia kenal Sholeh bisa melakukan demikian.
__ADS_1
Hati Syafa ragu, isi amplop itu membuka tabir rahasia terbesar Bian yang ia tidak ketahui selama ini*.
" Mengapa kau tega kak ... memperlakukan aku seperti ini " lirih Syafa . Manik matanya berkaca rahasia ini membuatnya begitu frustasi . Bendungan yang ia buat jebol karna tak mampu menahan panah meluncur satu persatu ke relung hatinya yang begitu tulus menyayangi sang kakak yang baru ia ketahui beberapa hari yang lalu .