
Pagi ini Syahril memutuskan untuk tidak ke kantor.Seharian mengikuti les di rumah membuat Syahril merasa suntuk.Syahril meminta izin kepada gurunya untuk menghentikan proses belajarnya.
"Maaf,bisakah pelajaran ini di hentikan dulu.Dari tadi kepalaku sudah puyeng memikirkan pelajaran ini." cetus Syahril berlalu meninggalkan guru lesnya itu.
Syahril keluar menuju garasi,dan membukanya.Terlihat beberapa mobil bersusun rapi dan sebuah sepeda ontel milik sang ummi.
"Pakai apa?ehmmm sepeda saja dech."
Syahril mengengkol sepeda ontel melewati bangunan tinggi ke bangunan lain.Rasa rindu pada suasana pasar membuatnya bertekad masuk ke sebuah pasar untuk bernostalgia bekerja sebagai tukang pikul.
Sasaran Syahril seperti biasa,orang lansia.Hari ini sudah banyak ia bantu memikul barang tanpa meminta bayaran.Membuat pekerja pikul lain-nya sakit hati dan marah pada Syahril.
Syahril terus saja mengelilingi pasar sambil bersiul.Pandangan-nya terhenti pada sosok Ibu-Ibu yang sedang membeli sayur-sayuran sambil membawa keranjang.Beberapa perampok memdekati sang Ibu dan merampas cepat tas ibu tersebut.
"Tolong..." teriak Syafa menguncang suasana pasar.
Syahril yang memiliki jiwa berani dan menolong sesama manusia tentulah jiwanya terpanggil menolong ibu tersebut.
Syahril melawan preman-preman itu tanpa ampun.Preman itu mengalami luka dan melarikan diri karna tak sanggup melawan Syahril.Tak di sangka aksi Syahril di abadikan seseorang dan menyebar ke media massa.
Syahril menjadi terkenal di kalangan masyarakat luas.Setelah berhasil mendapatkan tas Syafa,Syahril bergegas berlari menyerahkan tas itu.
"Nah,tas ini milik Ibu kan?" Syahril menyodorkan tas dengan senyuman manisnya membuat Syafa terpaku menatap dalam pria di depannya.
__ADS_1
"Terima kasih,Nak.Kamu tidak terluka?Preman itu banyak loh."
Syafa memperhatikan bola mata Syahril mengingatkan pada putranya.Syafa emang sengaja pergi ke pasar untuk berbelanja sedikit makanan sambil melepas rindu makanan rumahan Jakarta.
"Alhamdulillah tidak Bu.Bu tinggal di mana?"
Syahril khawatir melihat Syafa seorang diri tanpa pendamping yang menjaganya.Syahril tahu mungkin tak pantas kalo dia berjalan dengan Syafa,nanti orang menduga kalo dia suka yang tua.
"Saya tinggal tidak jauh dari pasar ini.Kebetulan jemputan saya sudah datang,itu dia!Kalo gitu saya pamit yah!"ucap Syafa dengan jalan yang berat meninggalkan Syahril yang terus memandangnya sampai dirinya masuk ke dalam mobil.
Syahril bergegas meninggalkan pasar menuju Rumahnya.Terlihat Arzil berdiri berkacak pinggang menunggunya di depan pintu utama.
"Assalam mu'aaa___?Abi kapan sampai?" Syahril menatap takut pada Abinya.Dia menggaruk kepalanya sembari menunduk tak berani menatap Arzil yang sudah memerah.Arzil marah bukan karna Syahril ke pasar tanpa izin,melainkan peristiwa yang terjadi bersama Indry beberapa hari yang lalu.Menggemparkan suasana di kantor membuat Arzil merasa malu.
"Syahril,apa ini?Jelaskan pada Abi!" pinta Arzil melempar foto-foto itu di dada Syahril.Syahril memungutinya lalu tersenyum malu.
"Ohhh,ini Syahril gak sengaja.Kemarin tu Syahril lapar Bi,makanya Syahril keluar.Tapi Syahril bingung menggunakan lift.Eh,kebetulan gadis itu masuk ke lift,jadi Syahril meminta tolong padanya.Tiba-tiba ia terjatuh dan Syahril menyambutnya.Gitu Bi,kami gak melakukan-nya.Kalau Abi tak percaya,tanya aja sama dia?" jelas Syahril lalu duduk di sofa.Pertanyaan Arzil menguras tenaga dan pikiran.Pikiran yang berlawanan pada tanggapan orang.Syahril pria yang tahu batas dan etika.Meski tidak merasa bangku sekolah.Syahril tetap bisa membedakan mana yang baik dan salah.
Berbeda dengan Arzil yang termakan omongan karyawan-nya apalagi pihak yang ingin mencoreng nama baiknya.Membuatnya mengambil langkah untuk menikahi putranya dan gadis OG demi menjaga nama baik keluarga.
Arzil menarik tangan Syahril dan menyuruh masuk ke dalam mobil.
"Abi,kita mau ke mana?"
__ADS_1
Syahril memandang serius Arzil tanpa senyuman.Syahril bingung melihat sikap Arzil yang mendadak begini membuat dirinya semakin takut.Arzil memang lagi serius memantapkan hati untuk melamar Indry demi menjaga nama baiknya.
"Kau diam saja.Nanti kau juga tahu." tegas Arzil lalu fokus pada mobilnya.Arzil menyetir dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Indry yang alamatnya sudah Arzil dapatkan dari Marni.
Mobil berhenti tepatt di Rumah kecil berukuran sederhana.Bisa di bilang 5*5 ukuran rumahnya.Terdapat dapur serta bilik yang kecil.Para tamu yang datang hanya duduk di kursi yang bertata rapi di teras mini.
Seorang wanita tua duduk di kursi roda memperhatikan Arzil dan Syahril datang menuju rumahnya.Arzil merasa prihatin pada keadaan Indry yang begitu minim.Rumah yang kecil serta keadaan yang miskin.
Arzil menyapa Ibu yang sedari tadi memamdangnya," assalam mu'alaykum.Maaf menganggu,saya mau bertanya apa benar,ini rumah Indry.Ibu itu hanya mengangguk tanpa berkata.Tubuhnya terlihat kurus serta katung matanya begitu pucat.
"Indry,ini ada yang cari kamu!" panggil Bu Erni,Bu Erni memutar rodanya menyusul Indry di dapur.
Terlihat gadis yang kecil dan kurus keluar sambil menunduk menyambut tamu yang begitu ia segani.Siapa lagi?Seorang CEO tempat dirinya bekerja.
"Eh,tuan Arzil.Aada apa ya?" Indry menyuruh keduanya duduk dan ingin menuju ke dapur untuk menyuguhkan minuman sebagai bentuk menghargai tamu.
Tamu yang membuatnya takut serta bingung.Mengingat kejadian yang telah lalu.Pikiran Indry sudah menghalu memikirkan nasip dirinya.Pasti Arzil ingin menyampaikan maksud membuatnya sedikit terkejut.
"Maaf Indry,saya ke sini ingin meluruskan kejadian kemarin.Saya malu melihat Syahril melakukan itu padamu.Jujur berita itu mengemparkan di berbagai kalangan.Saya tidak tahu siapa yang menyebarkannya.Yang pasti saya ingin membersihkan nama baik saya dengan menikahkan kamu dan Syahril.Cuma itulah cara yang terbaik yang harus saya lakukan saat ini." ucap Arzil tanpa mengulur kata.Ucapannya jelas dan padat satu tujuan.Menjadikan Indry dan Syahril merasa terkejut.Syahril yang masih berumur delapan belas tahun harus menikahi dengan gadis tujuh belas tahun yang menurutnya terlalu kecil untuk menikah dini.
"Apa??" Syahril berdiri di depan Arzil.Dirinya tak terima harus di perlakukan seperti ini.Jelas,Syahril tidak sengaja tapi mengapa Arzil menikahinya dengan gadis itu?Bagaimana dengan perasaannya yang mulai tertarik pada Amel.
"Aku tidak mau Bi.Umurku masih terlalu dini untuk menikah.Aku hanya menganggap dia teman tidak lebih." jelas Syahril pergi meninggalkan Arzil.
__ADS_1
Sementara Indry hanya menduduk merasa tersudutkan.Andai saja waktu itu dia tidak jatuh mungkin tidak seperti ini.
Sedangkan Syahril pergi dalam pikiran yang galut.Memikirkan perasaannya pada seorang gadis yang menemani tiga belas tahun lamanya.