
Syafa mengemasi pakaian Syahril,untuk bersiap pulang ke rumah.
Lima belas hari Syahril di rawat,baru hari ini di perbolehkan pulang mengingat kondisi Syahril semakin mengalami kemajuan.
Syafa,dan kedua temannya ikut membantu kepulangan Syahril.Mereka membawa Syahril menuju mobil di ikuti Syafa serta kedua temannya.
Halwa yang menyetir membawa dengan kecepatan sedang,hingga akhirnya sampai juga di rumah kecil ukuran 6×5 meter.
Hati Halwa terenyah saat melihat rumah Syafa.Selama ini setiap mereka ingin mengunjungi ke rumahnya,Syafa selalu memberi alasan dengan alasan tak mau di kasihani.
"Syafa,ini beneran rumahmu?"tanya Halwa tak percaya.
"Mari masuk!,aku akan buatkan minuman dulu untuk kalian"titah Syafa menuju ke dapur,tak lama kemudian ia membawa mapan berisi dua gelas teh hangat.
Halwa dan Farah merasa iba,ternyata di dalam rumahnya hanya beralas tikar dan kasur yang tipis untuk keduanya menghilang lelah sejenak.
"Ya ammpun Syafa,rumahmu ini sudah tak layak tinggal?"sindir Farah menatap langit-langit rumah Syafa.
"Hush,kamu itu Farah asbun saja.Coba lihat,Syafa kan jadi sedih"kesal Halwa mencubit lengan Farah agar berpikir sebelum berbicara.
"Huuft,maaf Syafa.Aku benar-benar tak sengaja"lirih Farah memegang tangan Syafa.
"Tidak apa-apa,emang reelnya seperti itu"lirih Syafa dengan sedikit senyum terpaksa.
Setelah duduk sejenak dan ngobrol bersama, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit mengingat waktu istirahat sudah habis.
"Kita pulang dulu yah,ntar kapan-kapan kita main ke sini"ucap keduanya sambil masuk ke dalam mobil.
Syahril dan Syafa melambaikan kepergian mereka dan masuk ke dalam rumah saat mobil Halwa sudah menjauh meninggalkan rumahnya.
Tak lama kemudian,mobil Bian memasuki gang rumah di mana Syafa tinggal.Bian memparkir mobilnya di pinggir jalan tepat di depan rumah kos kosan Syafa.
"Assalam mu'alaykum"sapa Bian yang datang mendadak serta membawa mamahnya.
__ADS_1
"Wa'alaykum salam.Dokter?,sudah lama di sini.Mari masuk!,kebetulan Syahril lagi tidur karna kelelahan bermain,katanya udah kangen sama rumah makanya pulang gak pamit"jelas Syafa agar Bian tidak berpikir lain tentang alasan Syafa pulang tanpa memberitahunya.
"Gak apa-apa,lagipula yang anterin kamu sahabatmu,bukan pria itu"ucap Bian yang terlalu pencemburuan sejak Syafa menerima lamarannya.
"Yah gak lah Dokter,oh yah ini siapa?"tanya Syafa melirik wanita di samping Bian yang sedang mengamati kondisi rumah Syafa.
"Aku sampai lupa,ini mamahku.Beliau baru semalam tiba di sini, tapi sudah ku ajak ke rumahmu.Habisnya kelamaan tunggu besok"cetus Bian menatap mamahnya dan membuat Syafa tertawa.
"Kamu kog ketawa?,ada yang lucu?"ucap polos Bian yang tak menyadari sifatnya seperti kekanak-kanakan.
"Udah ahh,mari masuk!,kasihan mamahmu kepanasan"lirih Syafa tak lupa menyalami calon sang mertua yang begitu bahagia saat melihat Syafa.
Bian dan Mamahnya menatap dalam rumah Syafa yang begitu sempit serta kurang fasilitas yang memadai.
"Syafa,buatin minum dulu!"tawar Syafa yang mulai beranjak menuju dapur.
"Tidak perlu Nak.Tujuan tante dan Bian ke sini hanya ingin melanjutkan lamaran yang Bian lontarkan padamu dulu,mendadak lagi.Hampir buat jantung tante copot"canda Mamah Bian membuat Syafa tersenyum.
"Kalau tante boleh tahu,orang tuamu di mana?,kan kalo menikah mesti ada wali?tanya sang calon ibu mertua membuat Syafa menunduk.
"Sebentar lagi kamu juga jadi menantu saya,dan bearti menjadi anak saya"lirih Mamah Bian menatap Syafa.Sikap sang calon Ibu mertua memberi kenyamanan pada Syafa yang merindukan pelukan sang Ibu yang ia rindukan selama ini.
"Terima kasih tante,sudah menerima saya dan putra saya."
"Putra?"tanya Mamah Bian,memandang datar pada Bian yang tidak menceritakan kalau Syafa seorang single parents.
"Iya tante.Emang Bian tidak cerita kalo saya sudah mempunyai anak?"
Mamah Bian menggeleng dan menatap Bian untuk menjelaskannya.
Bian terdiam,rasa cintanya pada syafa terlalu besar hingga melupakan dirinya untuk menceritakan perihal tentang Syafa.
"Maaf mah,Bian lupa.Tapi mamah tidak marah kan?,dan tetap menerima Syafa untuk menjadi menantu mamah?"cetus Bian yang tak memikirkan perasaan Mamahnya karna kaget melihat tubuh Syafa sekecil itu tapi sudah memiliki anak.
__ADS_1
"Kau ini sudah gila yah?"cetus Mamahnya yang sengaja berbicara kasar untuk memprank balik sang anak yang sudah keterlaluan.
"Apa maksud mamah?"ucap Bian melihat reaksi mamahnya yang sedikit berubah saat mengetahui status Syafa single parents.
"Kau ingin menikahi Syafa tapi menyembunyikan masalah besar seperti ini?"cetus mamah Bian yang terus saja mengomel pada Bian.
"Apa kata orang?,kau pikir kita ini beli barang promo,beli satu dapat bonus satu?"ucap sang mamah yang sudah menahan tawa.
Syafa melihat pertengkaran mereka hanya terdiam.Mungkin dengan cara ini, ia bisa menolak lamaran Bian yang sebenarnya berat untuk menerima karna memikirkan perasaan Halwa yang sangat mencintai Bian.
Melihat ucapan sang mamah yang semakin pedas,Bian marah.Raut mukanya merah padam dan merasa posisi tersudutkan.
Bian berdiri di depan pintu menyandar pundaknya sambil menatap ke luar.
Mamahnya merasa puas kemudian berjalan ke arahnya.
"Anak mamah sekarang sudah dewasa,tapi kenapa masih kayak anak kecil?,pake ngambek-ngambek segala."
"Apaan sih mah,pake ngelihatin aku kayak gitu?"kesal Bian melihat mamahnya tersenyum puas karna berhasil membuat Bian marah.
"Kamu menangis?"tanya mamahnya melihat mata Bian sudah memerah.
"Tidak"ucap Bian dengan cepat tangannya mengusap air matanya yang mau keluar.
"Ya ampun Dok,beneran kamu menangis?"tanya Syafa tak percaya,ia bangkit dari duduknya menuju ke arah Bian dan melihat langsung wajah Bian menahan kesedihan yang melanda dirinya.
"Bian emang kayak gitu.Sudah sifat lahiriyah,kalo udah terlalu menahan marah ujung-ujungnya nangis sendiri.Katanya dari pada berdosa dengan orang tua mending di lampiaskan dengan air mata.Tapi sama mamah dan Papahnya saja,gak tahu kalo sama orang lain"ucap Mamahnya yang sudah hafal sifat Bian yang sedikit cengeng.
Mendengar cerita sang mamahnya,Syafa tersenyum.Di balik sifatnya dingin,Bian memiliki hati yang lembut serta sayang pada orang tuanya.
"Jadi gemana apa lamaran ini di terima?"tanya sang mamah menatap Bian yang sudah duduk bersila memandang Syafa penuh harap.
"Bismillah,Syafa terima"ucap Syafa terukir senyum terpaksa.
__ADS_1
"Mudah-mudahan keputusanku ini tidak salah dan menjadi awal hidup yang syakinah,mawadah,dan makhromah"lirih batinnya yang mengingat pernah gagal membina rumah tangga.