
Indry sedang sibuk membersihkan ruangan meeting.Dengan gamis yang besar serta hijab menutup dada membuat Arzil menatap heran.
'Sejak kapan di kantor ini,ada pekerja wanita berpakaian seperti ini.' gumamnya lalu berjalan ke arah indry.
"Maaf Nak,kamu OG baru ya?Kog saya baru sadar?"
"Iya Pak,saya enam bulan kerja di sini.Kalo gak salah dulu CEO nya bukan Bapak." ucapnya sambil merapikan meja untuk acara yang di adakan Arzil hari ini.
"Oh gitu ya!"
Arzil meninggalkan ruangan meeting dan menemui Syahril di ruangannya.
"Syahril,sepertinya mulai besok Abi akan mencari guru untuk mengajarimu.Ini perusahaan milik Abi yang pastinya akan di teruskan untukmu."
"Apa?Abi gak salah."
Syahril membayangkan perusahaan sebesar ini,mana sanggup ia mengurusnya.Melihat laporan saja Syahril bingung.
"Iya,mulai besok kamu harus fokus untuk belajar.Okey!Kalau gitu Abi mau meeting dulu.Kamu jangan ke mana-mana ya?"pesan Arzil lalu menutup pintu menuju ruangan meeting.
Syahril merasa jenuh dan kelaparan.Dirinya mengintai di sekeliling untuk keluar mencari makanan.Syahril ingin memasuki lift tapi dia kurang paham hingga dari tadi ia tak menemukan kantin.
"Selamat pagi Tuan!"
'Mengapa orang memanggilku tuan.Ahh malaslah aku mikir,tapi kantin di mana ya?"guman Syahril.
Tiba-tiba seorang gadis memasuki lift sambil membawa ember dan kain pel membuat Syahril tidak sampai hati.Gadis itu terlihat pucat dan kelelahan.Seharian bekerja sampai lupa untuk mengisi perutnya yang mengidap penyakit maag.
"Eh,tunggu.Aku boleh masuk gak?Kebetulan aku lapar,mau ke kantin tapi gak tahu jalan.Bisa kau tunjuk jalan-nya dan cara liftnya ini kayak mana?" ujar Syahril menatap gadis berwajah teduh itu.
__ADS_1
"Silahkan mas,mas saja dulu masuk,baru saya." lirih Indry sambil mengelap keringat yang becucuran.Bukan keringat lelah melaikan keringat dingin karna penyakit maagnya yang kambuh.
Syahril yang sedari tadi berdiri di sampingnya kaget karna tiba-tiba Indry pingsan dan untungnya Syahril cepat menyambut.Kalau tidak kepala Indry terbentur.
Pintu Lift terbuka,sementara orang yang berdiri di luar sana menatap Syahril tak percaya.
"Eh,bukankah itu putra Tuan Arzil?Mengapa dia melalukan itu pada Indry?"tanya pegawai yang menatap Syahril menahan tubuh Indry.Bukan menolong malah melongos memperhatikan Syahril dan Indry.
Indry tersadar dan menyentuh kepala.Merasa pusing jadi dia terjatuh sejenak.Tapi Indry kaget saat para pegawai menatapnya seperti gadis murahan yang sedang merayu putra pemilik perusahaan besar ini.
"Maaf,tadi aku hanya ingin menolongmu saja."ucap Syahril melepaskan tangannya dan berlalu meninggalkan Indry tanpa merasa bersalah.
Syahril keluar menuju kantin dan memesan beberapa makanan lalu pergi mencari Indry.Dia merasa kasihan pada Indry.
"Mas,gadis yang tadi itu siapa namanya?"
"Yang mana tuan?"
"Dia ada di ruangan OG.Silahkan tuan menyusul ke sana saja.Saya yakin pasti dia ada di sana."
"Okey,terima kasih mas."
Syahril berjalan sambil mengenteng makanan.Tak sengaja mendengar seseorang sedang memarahi Indry karna peristiwa tadi.
"Kamu bisa kerja gak?Tiap hari selalu saja buat masalah.Gara-gara kamu pingsan tadi,seluruh karyawan menggosip kamu.Kalau tuan Arzil tahu kamu bisa di pecat?Karna merusak nama baik Tuan Arzil.Apalagi itu putranya,apa kamu mau di pecat secara tidak hormat?"
Indry hanya menunduk merasa bingung harus bicara apa?Dia juga gak mau itu terjadi.Semua terjadi di luar dugaannya.Dia juga merasa malu mendapat hinaan dari para pekerja di sana.Tapi dia juga butuh pekerjaan untuk membiayai kehidupan sehari-hari di tambah lagi ibunya yang sudah sakit-sakitan.
"Pokoknya saya gak mau tahu,kalo Tuan Arzil mempermasalahkan hal ini.Dengan terpaksa saya akan mengeluarkanmu." cetus Ibu Marni pengurus bagian keliling service.
__ADS_1
Indry pergi dengan raut wajah yang lemas.Ancaman Bu Marni membuatnya pusing memikirkan nasip dirinya.Bukan nasipnya saja melainkan nasip Ibunya juga.
Mendengar itu Syahril menemui Indry yang sedang terduduk sambil melamun.Tubuhnya kurus,matanya cekung tak terurus memikir beban yang terus menuntut.Dia juga harus bisa berlapang dada jika ucapan Bu Marni barusan benar terjadi.Terjadi pada hidup yang susah ini.
'Ya Allah,adakah yang bisa membantuku saat ini.Rasanya berat menjalani takdir ini.Bukan aku kufur tapi aku tak bisa kehilangan pekerjaan ini.Aku sangat membutuhkan ini.' gumam Indry
Air matanya jatuh seolah tak berhenti mengalir.Menahan hati ini dan rasanya ingin menjerit tapi harus di tahan karna tak ingin orang mengetahui kalau hati ini sakit.
Syahril datang duduk di sampingnya dan menyerahkan makanan untuk Indry.Indry spontan mendongak tak percaya.Ingin dia berlari,tak mau berurusan lagi dengan pria ini.Pria membawa masalah baru untuknya.
"Ambillah,aku sengaja membeli ini untukmu.Sudah,aku tahu kau pasti lapar.Setidaknya perutmu terisi jadi kau bisa berpikir jernih.Kalau gitu aku pergi dulu,sebelum orang melihatku dan menambah masalah baru untukmu.Kau tenang saja,aku akan membantumu." ucap Syahril sambil bersiul meninggalkan Indry.
Syahril tahu gadis itu dalam masalah besar.Tapi baginya tidak mengapa dan tak keberatan kalo dia akan menanggung semuanya.
Di tempat lain,Arzil baru saja keluar dari meetingnya.Dia bergegas menemui putranya.Khawatir hari sudah siang pasti Syahril kelaparan.
"Di mana dia?Bukankah sudah ku ingatkan jangan keluar.Apalagi dia tak membaca nanti malah jadi bahan ketawaan karyawannya."
Arzil sudah mulai gelisah,dia mencari Syahril di sekeliling kantor tapi tak ketemu.
Berusaha bertanya namun tak ada hasilnya.Alhasil dia mencari di belakang.Terlihat Syahril sedang duduk bersama seorang wanita.Jaraknya dua meter,Syahril hanya memberi kata semangat.
"Syahril sedang apa kau di sini?"
Syahril menggaruk rambutnya yang tak gatal lalu melirik Indry yang lagi gundah.
"Gadis itu Abi?Dia lagi sedihm.Lagi pula di sini aku sambil makan indomie di masakin sama Bu Marni.Maafkan Syahril pergi gak kasih tahu.Syahril lapar dan rindu sama indomie." ucapnya mengalihkan pembicaraan pada Arzil.
"Iya tuan" sahut Bu Marni
__ADS_1
Ternyata Bu Marni juga di situ.Mereka di pertemukan untuk mendengar alasan Syahril melakukan itu.