
Syahril berjalan tak karuan di pinggir jalan.Kemudian Syahril tak sengaja melihat Syafa bersama seorang pria duduk di sebuah Restorant.Pria itu adalah Bian,paman Syahril.
Syahril memberanikan diri masuk ke dalam menuju ke arah Syafa.Syahril tersenyum melebar memandang keduanya.Syahril merasa sebuah kehangatan saat mengobrol dengan Syafa.
"Eh,kamu bukan anak yang tadi?" Syafa menarik kursi lalu menyuruh Syahril duduk di samping Bian.
"Iya Bu.Kebetulan kita ketemu lagi.Oh ya,ini siapa?Suami Ibu?" Syahril memandang Bian.Wajah Bian di pikirannya tidak asing lagi.
"Dia kaka Ibu,namanya Bian.Kamu bisa panggil om Bian." Syafa menatap wajah Syahril dan baru teringat dari pertemuan tadi,Syafa belum bertanya siapa namanya.
"Namamu siapa?Lucu,dari tadi ngobrol tapi gak tanya nama?" cetus Syafa
"Syahril Bu.Putra dari Arzil Malik Anggara.Ibu dan om pasti kenal kan?"
Bian dan Syafa saling pandang.Perkataan Syahril menguncang jiwanya yang merindukan putranya.
"Apa Arzil masih hidup?" Bian sengaja bertanya untuk memastikan ucapan Syahril.
"Tentu Bu.Dia Abiku,sekarang...." Syahril menghentikan ucapannya karna melihat Arzil yang sedang turun dari mobil mencari Syahril dan menemukan sendal Syahril di pintu restorant tersebut.
"Pasti dia di dalam?Anak itu menyusahkan aku.Bukanlah aku menyuruh kerja dia kabur." gerutu Arzil bersembunyi di bawa meja membuat Syafa dan Bian ketawa.
Arzil memandang tamu di sana dan tak sengaja Arzil melihat dua kaki di bawah meja membuat Arzil menuju ke arahnya tanpa melihat wanita dan pria yang sedang duduk di meja itu.
Syafa yang menyadari kedatangan Arzil meggumam menatap suaminya menghampiri menuju ke arah mejanya.Kemudian Arzil berjongkok menarik kedua kaki itu.
"Syahril,keluar kau!"
Arzil menarik paksa kaki Syahril.Syahril meringis memelas agar Abinya melepaskan kakinya itu.
"Kau tidak baik memperlakukan putramu seperti itu?" ucap Syafa berdiri membela Syahril.
Syafa sangat mengenal Arzil.Arzil tak kan berbuat kasar jika tidak ada alasan yang kuat mendorongnya melakukan itu.
Arzil terdiam,suara itu,suara yang dia rindukan.Dia mendongak.Benar,itu adalah Syafa,istri tercinta yang dia rindukan selama ini.
Syafa menyentuh pipi Arzil.Selama ini,ia berpikir suaminya telah tiada.Cairan bening mengalir membasahi pipinya yang putih dan tak muda lagi.Sementara Syahril dan Bian hanya mengamati.
"Ini kesempatanku untuk kabur." pekik Syahril
Arzil dan Syafa saling berpelukan melepas rindu kian mendalam.Arzil tak mengingat masalahnya dengan Syahril,putranya itu.
__ADS_1
Syahril melarikan diri dan tak mau membahas masalah pernikahannya dengan Indry.
Syahril memilih duduk di danau sambil melempar batu-batu kecil di air.Masalah yang ia hadapinya saat ini sangat sulit.Memilih dua pilihan antara timur dan barat.
Saat ini dia tak bisa memutuskan keputusan untuk menerima atau tidak.
💦💦💦💦
Di tempat lain,Indry sedang melamun memikirkan ucapan Arzil yang ingin menikahi Syahril dengan dirinya.Indry hanya memandang gelap langit di hiasi bintang yang terang.Andai dia di kasih pilihan,dia akan menolak karna memikirkan Syahril.Sikap Syahril terlihat menolak perjodohan ini.
Perjodohan yang tak pernah ia bayangkan.Indry hanya berharap semoga Allah memberinya jalan untuk menyelesaikan masalah ini.Indry sadar di kehidupannya yang miskin ini tak sepantasnya ia menjadi menantu tuan Arzil yang kaya dan dermawan itu.
Dirinya merasa malu jika harus menerima semua ini tanpa memikirkan perasaan Syahril yang sudah memiliki calon istri.
'Ya Allah,apa aku berhenti saja bekerja di situ?Aku malu menolak permintaan tuan Arzil yang sudah berniat baik denganku.' gumam Indry menyentuh dadanya yang sesak ini.
Keesokan harinya Arzil memutuskan membawa Syafa kembali ke Rumahnya.Sementara masalah putranya ia pending dulu,demi menyambut Syafa kembali ke Rumahnya.
Arzil terlihat senang dengan melebar senyuman menyambut Syafa yang baru saja turun dari mobil.Syafa keluar bersama kakanya Bian.Bian sengaja mengantar Syafa untuk proses penyerahan kepada Arzil agar hatinya tenang.
"Mari masuk." sapa Arzil mengandeng Syafa masuk ke Rumah,di ikuti Bian dan Syahril.Syahril terlihat senang dan bahagia melihat orang tuanya bisa menyatu.Menyatu seperti dulu memiliki keluarga yang utuh.
Syahril mendekapkan kepala dalam pelukan Syafa.Rasa bahagia becampur haru menghiasi hati saat ini.Syahril tak mampu berucap,sementara Arzil hanya mengusap punggung Syahril yang begitu merindukan sosok Syafa.
Tak terasa air mata Bian menitik jatuh memandang keluarga yang lama terpisah,akhirnya menyatu.Lalu ia teringat pada seorang gadis.Andai saja dia sudah menikah,pasti juga sama seperti Syafa.Namun Cintanya tak kesampaian.
Mereka duduk bersama di meja keluarga.Tak lama seorang pria datang sambil membawa pria yang lain.Pria itu adalah Berto.Kedatangan Berto untuk bertemu Amel.Berto datang tidak sendiri melainkan bersama Alpin,Ayah Amel.
"Berto?"
Arzil berjalan menuju Berto,dan menyuruh dirinya masuk namun di halangi Syahril.
"Om,kalo mau masuk tuh ucapin salam.Jangan main masuk saja!Itu gak sopan.Tak lihat nih,ada ummi Syahril?" cetus Syahril membuat Berto mundur lalu mengucap salam.
"Assalam mu'alaykum" teriak Berto menggempar suasana rumah.
Bian,Syafa,dan lainnya hanya tersenyum mendengar salam dari Berto yang mengira orang di Rumah ini budeg alias tuli.
"Wa'alaykum salam." jawab bersamaan mereka
Syahril merangkul pundak Berto," bagaimana kabarnya?Apa sudah ketemu pria itu?"
__ADS_1
"Sudah,itu orangnya." Alpin menghampiri dan bersalaman pada semuanya,kecuali Syafa.Syafa hanya bersedekap dada.
"Tapi,om kenapa berubah ganteng gini.Kalo Amel tidak pasti dia kaget?" Syahril memutar tubuh Berto memandang dari atas sampai ke bawah.
"Kamu serius?" tanya polos Berto membuat Bian menggeleng kepala melihat ulah keponakannya ini.
"Dua rius lagi.Tak percaya?Aku panggil Amel nih.Amel....ini Ayahmu,sudah datang." pekik Syahril lalu memandang ke ruangan atas.
Terlihat seorang gadis muslimah keluar dengan wajah yang menunduk menahan rindu.Amel tak berlari seperti dulu justru di menunduk tanpa berkata.Hanya air mata yang tumpah mewakili rasa kerinduan pada pria di depannya.
"Ini beneran kau Amel."
Berto menatap tak percaya.Amel sudah banyak berubah.Syafa melihat Amel langsung mendekati dan bertanya," Syahril,apa dia calonmu?" Syafa mengusap kepala dan tersenyum karna Syahril pandai mencari calon wanita seperti keinginan Syafa.
Syahril hanya menunduk dan mengusap kasar rambutnya.Dirinya bingung mau menjawab apa,karna perasaan Amel padanya saja,dia tidak tahu.
Sementara Arzil beranjak meminta izin untuk menemui Syafa.
"Bukan.Dia bukan Calon Syahril." ketus Arzil membuat Syahril menatap tajam pada Arzil.Ternyata keputusan Abinya sudah bulat menikahi dia dengan Indry.
"Apa maksud Abi?Aku sangat mencintai Amel." cetus Syahril membuat semua menatapnya,termasuk Alpin,Ayah kandung Amel.
Alpin tersenyum lalu menuju ke arah Amel.
"Amel putriku,kemari Nak!Maafkan Ayah sudah mentelantarkanmu selama ini?Tapi kau perlu khawatir,karna sekarang kau sudah aman bersama Ayah.Apa kau mengenap pria di sana?tanya Alpin menunjuk ke arah Berto yang sudah berubah.
"Iya Berto.Orang yang sangat bearti buat aku.Berjuang nyawa demiku.Tapi sekarang aku tidak bisa memeluknya lagi karna dia bukan Ayahku.Dia juga bukan mukhrimku." lirih Amel menangis menahan kerinduan pada pria di depannya.
"Sayang,tatap wajah Ayah!Apa kau sayang padanya?"
Amel melirik Berto lalu menunduk dan memeluk Alpin.Alpin memeluk dengan dekapan yang lama.Dia tahu perasaan Amel pada Berto.Mungkin dulu sebatas anak dan Ayah.Seiring berjalan waktu semua berubah.Apalagi sekarang Amel sudah tahu batas antara pria dan wanita.Tidak boleh bersentuhan yang bukan mukhrimnya.
"Ayah udah buat keputusan.Kalo Ayah menikahimu dengan dirinya.Dia juga masih tampan dan Ayah yakin kau pasti bahagia kan?"
"Ayah serius?"
"Iya sayang.Demi putri Ayah."
Syahril masih berdialog pada Abinya agar mengubah keputusannya.Namun tak berhasil dan lebih kagetnya lagi,dia mendengar ucapan Alpin yang akan menikahi Amel dengan Berto.
Syahril memutuskan pergi keluar meninggalkan mereka.Cintanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1