Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 7 : Kesedihan Masa Lalu


__ADS_3

Syafa keasyikan membuka pembelanjaannya kemarin,betapa kagetnya sang suami membeli pakaian yang sedikit sensitif baginya.


Azril yang datang membawa mapan berisi susu,sontak membuat Syafa menyembunyikan pakaiannya.


"Syafa,kemari sayang!"ucap Azril menepuk kasur yang masih kosong di sampingnya.


Dengan ragu Syafa duduk di sampingnya,"ini susu,minumlahhh!


"Susu???"


"Iy_ya,emangnya kenapa?"


"Syafa gak suka susu kak"ucapnya menyerahkan kembali dan meminta Azril untuk meminumnya.


"Susu ini kakak beli khusus untukmu,untuk penyubur kandungan"jelas Azril,Syafa mengerut pelipisnya,bingung harus bicara apa.Dari lubuk hati Syafa belum siap punya anak,mengingat cita-citanya ingin menjadi seorang bidan belum terwujud.


Cerita sang bapak tentang Ibunya masih membekas di dalam hatinya.Tatkala Ibunya ingin melahirkan kakaknya yang tak punya uang hingga meninggal dunia.


flash back


"Mas,ini perutku sudah sakit bangeet"lirih Atikah,memegang perutnya sembari menunggu sang suami menemui dokter.


"Dok,tolong saya mohon!,ini istri saya mau melahirkan!,ucap Imron dengan peluh manempel tubuhnya.


Sang dokter hanya menatap Imron,"apa bapak punya bpjs?"


"maaf dokter saya tidak punya,lalu mau bayar pakai apa??"cetus sang Dokter berlalu pergi.


Atikah yang tak mampu menahan sakit,terpaksa harus berjalan hingga menabrak seseorang Ibu muda.


Wanita itu memandang sebelah mata,"apa kau mau melahirkan yahh!"


"iyya Nyonya,tolong saya!,perut saya sudah tidak tahan lagi"


Perempuan muda itu menatap iba"baiklah,tapi dengan satu syarat?"

__ADS_1


"apa Nyonya?, katakan saja,yang penting bayi saya selamat"tegas Atikah yang tak mampu menahan ingin melahirkan.


"Berikan bayi itu padaku!,maka saya akan menanggung semua biayanya."pinta perempuan muda itu yang tak berbeda jauh umur dengan Atikah.


"Tapi Nyonya??"


"Pilihanmu dua,mau bayimu selamat atau kau akan menyesal karna telah menolak permintaan saya hingga bayimu mati tanpa mendapat pertolongan"tegas perempuan muda itu.


Atikah yang tak punya pilihan,harus menuruti permintaan sang wanita muda itu,baginya menyelematkan bayinya lebih utama meskipun ia harus merelakan sang anak kepada wanita yang sudah membantunya.


Atikah pun di bawa ke dalam mobil oleh wanita itu dengan kursi roda,"kau mau bawa aku kemana?"tanya Atika,lalu suara mulai mengecil dengan segera wanita muda itu memberi minum agar Atika kuat dan bertenaga.


Wanita itu melaju dengan kecepatan tinggi,ia pun bergegas memarkirkan mobilnya di klinik bersalin yang cukup terkenal kala itu.


Semua sangat mengenal wanita itu,wanita itu adalah Nyonya besar,memiliki suami seorang pengusaha sukses dan terkenal membuat ia di kenal semua orang.


Atikah langsung di bawa ke ruang persalinan,ternyata kondisi bayi Atikah sudah menampakkan kepalanya dengan segera Atika mengedan.


Keluarlah suara bayi,memberi senyuman dan nafas lega.Atika menggendongnya,lalu meminta untuk di Azhankan oleh salah satu perawat pria yang kebetulan bertugas di sana.


Imron kala itu sangat sedih,kehilangan sang istri dan anak memberi kesedihan mendalam.


Sementara wanita muda itu memberi sehelai kertas untuk Atika di atas materai.


"Berikan bayi itu padaku!"pinta wanita muda,ia mengulurkan kedua tangannya,berharap Atikah rela memberinya.


"Tapi Nyonya?,aku sangat menyayanginya apalagi ini bayi pertamaku"lirihnya meminta pengertian,namun wanita itu tidak peduli.


"Kau tak perlu khawatir,aku akan menyayangi anakmu serta menjamin masa depannya.Aku sangat merindukan untuk memiliki anak,tapi apa dayaku tuhan tidak menginginkan itu.Aku terkena kanker rahim sehingga Dokter terpaksa mengangkat rahimku.Saat aku melihatmu aku sedih,melihat kau bisa merasakan masa kehamilan serta menjadi ibu,sedangkan aku hanya pasrah pada takdirku dan selamanya aku tidak bisa memiliki anak"ucap wanita muda mencurahkan isi hatinya yang sangat berat menjalani hidup meski tampak dari luar sangat bahagia.


Mendengar curahan sang wanita,hati Atikah merasa tergugah.Merasa sesama wanita tentulah memiliki rasa perasaan yang sama,tidak tegaan.


"Meskipun kau memberikan bayi ini padaku,toh kau bisa hamil lagi"lirihnya memberi semangat pada Atikah agar mau menyerahkan bayinya.


Atikah pun dengan berat serta berlinangan air mata membasahi pipinya menyerahkan putranya.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar bercampur keraguan ia menyerahkan bayinya.


Wanita muda menyambut dengan senyum kebahagiaan,harapan ingin memiliki anak terwujudkan.


Dua hari Atika di klinik,perlahan mulai sembuh dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Demi mengelak kemarahan dari suaminya,ia terpaksa berbohong kalau putra pertamanya meninggal dunia.


Sejak itulah Atikah tak pernah lagi menjumpai putranya.Hanya doa yang ia lontarkan untuk sang anak jauh di sana.


Beberapa bulan kemudian ia hamil kembali namun keguguran hingga tiga kali.Rasa putus asa menghampiri perasaannya,ia pun memutuskan untuk tidak hamil mengingat kondisinya yang mengalami keguguran yang terus menerus.


Hingga beberapa tahun lamanya,Atikah di beri kepercayaan untuk bisa hamil lagi,hingga lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu di beri nama Syafa Kirana.


Karna faktor kemiskinan,Atikah terpaksa meminta izin kepada sang suami untuk bekerja di luar kota.Awalnya Imron tak mengizinkan tapi Atikah tetap pada pendiriannya.


Akhirnya Imron dengan berat hati melepaskan kepergian sang istri.


"Mas,Atikah berangkat yah!,tolong jaga buah hati kita.Aku janji tiap bulan aku akan kirimin uang dan saat liburan aku akan pulang"janji Atikah,mencium kening putrinya dengan air mata.


Imron hanya menatap kepergian Atikah dengan rasa hampa.Menjadi seorang suami mesti dialah yang menjadi tulang punggung keluarga,tapi malah sebaliknya.Imron yang bekerja kuli bangunan sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhannya.Tapi apakan daya Atikah yang menginginkan mencari putranya terpaksa berbohong pada sang suami yang tulus nan bertanggung jawab itu.


Bertahun Atikah merantau hingga datanglah kurir mengantarkan surat.


Dengan gemetar dan kecewa,Imron membacanya ternyata surat perpisahan dari sang istri yang ia rindukan.


Di lihatnya Syafa yang tertidur pulas dengan berlinangan air mata.


Syafa yang berumur tiga tahun harus merasakan hidup tanpa sosok ibu yang menyayanginya.


Imron tak pernah putus asa,ia tetap mendidik putri sematang wayang agar tidak seperti Atikah,sang Ibu yang rela meninggalkannya demi harta.


Sampai akhirnya, Syafa tumbuh menjadi gadis sholeha.Hidup di lingkungan pesantren,Syafa menjadi gadis berakhlak mulia dan pintar di mata teman,guru dan masyarakat.


flash off

__ADS_1


__ADS_2