Penantian Panjang Sang Pewaris

Penantian Panjang Sang Pewaris
Bab 52: Tak mau Pisah


__ADS_3

"Aayah aku senang kalau kau selamat." ucap Amel tak berhenti memandang Berto yang dia rindukan.


"Iya.Ayah juga senang.Ternyata Syahril menjagamu dengan baik." ujar Berto mengacak rambut putrinya.


"Syahril??" tanya Arzil menunjuk Mus yang sedang berbicara pada Pak Al.


"Iya.Namanya Syahril."cetus Berto lalu keduanya menatap dalam Syahril.


"Emang ada apa?"tanya keterpuraan Berto


Berto ingin melihat reaksi Arzil saat dirinya menyebut Syahril.Jika Syahril benar putranya pasti Arzil menampakkan sikap penasarannya.


"Tidak apa-apa" pungkas Arzil lalu berjalan menuju Syahril.


Syahril melihat Arzil menuju ke arahnya dia tersenyum.Arzil menampakan sifat kecewa pada putranya yang tidak jujur.


"Siapa namamu?Ibumu?dan Ayahmu?"cetus Arzil spontan semua menatap pada Arzil dan Syahril yang memandang serius penuh penekanan.


"Bukankah aku sudah bilang namaku Mus.Lalu mengapa kau bertanya lagi?" ucap Syahril penuh sidik


Syahril menggaruk kepalanya lalu melirik Berto yang sedang tersenyum mengejek.Syahril merasa curiga pada Berto dan meminta penjelasan mengapa sikap Arzil tiba-tiba berubah kasar.


"Om,kata apa yang ucapkan padanya?" tanya Syahril memandang Arzil yang sudah berdiri memandang Berto dingin.


"Kau tanya saja sama dia." tegas Berto lalu mengajak Amel keluar mencari udara segar.


Syahril berkacak pinggang lalu mengacak acak rambutnya.Mana mungkin Syahril berani bertanya balik.Raut Arzil saja sudah kelihatan kesal dan penuh tanda tanya.


"Mengapa kau tak menjawab?" ujar Arzil menarik tangan Syahril untuk duduk di sampingnya.


"Jadi benaran pengen tahu!"


"Hehm.Siapa?"

__ADS_1


"Baiklah.Namaku Syahril,aku lahir dari seorang gadis bernama Syafa yang biasa aku panggil ummi.Lalu Abiku bernama Arzil." jelas Syahril lalu melamun memikirkan Syafa.


Tubuh Arzil melemas lalu tak berhenti menatap Syahril yang masih dalam lamunan yang panjang.Lamunan memikirkan orang tuanya.Terutama ummi yang telah melahirkan serta mempertaruh nyawa demi dia.Syahril tahu mungkin kenyataan untuk bersama keluarga sulit,dan tak semudah membalikkan telapak tangan.Hidup di jalanan penuh cobaan serta siap melawan kekerasan.


Berto masuk bersama Amel menepuk pundak Syahril.Syahril memutar menghadap Berto lalu melirik Arzil yang terduduk lemas.


"Syahril,kau tahu pria di sana itu siapa?"


Syahril mengangkat pundak.Emang dia tidak tahu pria itu siapa? sejak bertemu tadi Syahril tak bertanya siapa namanya.Syahril hanya merasa nyaman keramahan Arzil sehingga melupakan hal terpenting dalam perkenalan yaitu NAMA.


"Siapa?" ujar Syahri lalu melihat Arzil


"Dia adalah Ayahmu." jelas Berto lalu menarik Syahril untuk duduk berhadapan pada Arzil yang masih kebingungan.


"Dia adalah putramu.Sang pewaris Anggara."


Perasaan Arzil sedikit menegang,Tubuhnya seperti di pukul seseorang.Jiwanya terbangkitkan,raga dan semangatnya meninggi,memuncak lalu memegang pundak Syahril dengan kedua tangannya.Senyumnya menggulung puas melihat putra sudah besar dan tampan.Meski Syahril terlihat kusam,hitam,rambutnya panjang dan sedikit bulu-bulu halus membentuk kumis di atas bibirnya.


"Abi.."


Syahril mengatakan dengan suara gemetar dan berat.Rindu pada Abinya yang kian membara.


"Iya,aku adalah Abimu.Yang dulu terpisah 13 tahun yang lalu.Tapi,bagaimana kau berpisah pada ummimu?" pungkas Arzil


Arzil sangat ingat saat dia meninggalkan Syafa jelas waktu itu Syahril bersamanya.Lalu bagaimana bisa Syahril terpisah sedemikian jauh.


"Ardianlah yang telah membuangku.Untung saat itu ada Om Berto menolongku.Kalau tidak aku tidak tahu harus berbuat apa." kata Syahril menceritakan kisah pilunya.


Ardian meninggalkan tanpa belai kasihan.Demi harta dia rela merusakan hubungan baik yang sudah terjalin begitu lama.


Arzil menggempal tangan.Jujur Arzil tak suka kekerasan tapi jika orang sudah mengusik kehidupan keluarga tentulah orang itu telah berani menancapkan bendera perang.


"Kau tenang saja putraku.Aku akan memberi pembalasan pada mereka.Bukan dendam tapi peringatan bahwa yang mereka lakukan selama ini salah."

__ADS_1


"Iya benar." sahut Kevin dan Pak Al


"Aku juga mau ikut." sahut Berto


Kevin tak menyangka bocah yang dia lawan tadi adalah Syahril yang dia gendong dulu.


"Wajar saja kau ahli Bela diri.Rupanya kau putra Arzil.hehmm dunia emang sempit.Tapi siapa yang mengajarimu." tanya penasaran Kevin secara Syahril hidup di jalanan sebatang kara.


Syahril memulas senyum.Berto orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.Berto juga mengajarkan beberapa hal sehingga ia bisa seperti ini.Berto sudah menganggap Syahril seperti putranya sendiri.Begitu juga Amel.


"Tuhh,orangnya!"


Syahril memandang Berto dan menuju ke arahnya.Rasa kian mendalam mengucap syukur dan terima kasih sebesar besarnya pada sosok lelaki yang sudah banyak bekorban dalam hidupnya.


Syahril memeluk erat serta setitik cairan jatuh dari pelupuk matanya.


"Terima kasih.Syahril tidak tahu harus mengucap apa.Maaf Syahril belum berhasil mencari seseorang yang Om maksud." lirih Syahril memeluk Berto.


"Sudah-sudah.Kau tak perlu mencarinya.Kau sudah bertemu orang tuamu saja aku sudah senang.Mungkin sudah saatnya kita berpisah.Aku harus secepatnya mencari pria itu dan menyerahkan Amel padanya." jelas Berto memandang Amel di sampingnya.


Amel terlihat sedih kian merasuh dalam benaknya.Bukankah dia sudah menemukan Berto tapi mengapa Berto masih keukeh ingin menyerahkan Amel ke pria itu.Apa Berto sudah tak sayang tak padanya atau emang Amel bukan putrinya.Lalu siapa keluarga Amel.Amel menggemam dan berlari.Dirinya tak ingin berpisah pada Berto seperti Syahril.Amel melepas lengan Berto yang dirinya lingkar dari tadi sampai sekarang.


"Kau jahatttt!" pekik Amel


Berto kaget dan spontan mengejar Amel lalu menarik tangannya.


"Ada apa denganmu?" tanya Berto menguncup pipi Amel yang sedari menunduk.


Amel sadar dan benar sadar.Jika benar Amel bukan anak kandungnya lalu bagaimana dengan rasa sayang ini.Rasa sayang yang Amel rasakan kian mendalam.Dirinya tidak bisa berpisah pada sosok pria di depannya.Meskipun Berto sudah berkepala tiga ke atas entah mengapa dia merasa berbeda.Rasa nyaman saat bergelayut manja pada pria di depannya ini.Berbeda saat dirinya bersama Syahril.


Cairan bening jatuh lolos dari mata bercoklat bening ini.Berto tahu delapan belas tahun bersama tentulah rasa sayang muncul di hati seorang Berto pada Amel.Apalagi Amel seorang gadis belia yang lumayan manis jika di tatap.Sebenarnya itulah alasan Berto ingin secepatnya menemukan Alpin dan menyerahkan Amel padanya.Dirinya takut khilaf melakukan suatu yang seharusnya tidak dia lakukan.


Amel memang terlihat biasa-biasa saja.Namun sejujurnya dia memiliki rupa yang indah.Kulit dan wajahnya kusam karna memang dari dulu ia tidak merawatnya.Hanya sekedar mencuci muka tanpa skincare atau alat kosmetik.

__ADS_1


__ADS_2