
Arzil tak sadarkan diri masih terlelap.Berhubung waktu sudah mau malam Desny,Halwa,dan Farah memilih untuk pulang.Tak lupa ketiga berpamitan pada Syafa.Syafa masih terlihat syok karna melihat kondisi Arzil yang turun dratis.
"Syafa,aku pulang dulu.Besok sekiranya ada waktu luang aku mampir ke sini.Rasanya belum puas ngobrol bareng,apa lagi mereka menerima kehadiranku dengan hangat.Kau beruntung punya sahabat seperti mereka.Baik,cantik serta ramah dan yang pastinya setia suka dan duka." ujar Desny memuji Halwa dan Farah.
"Terima kasih loh udah mau merawat aku selama ini.Tidak ada yang bisa aku balaskan kecuali doa yang terbaik untuk my best friend yang satu ini." kata Syafa merangkul pundak Desny sambil berjalan.Keduanya begitu akrab.Menjalin persahabatan selama tiga tahun tentu tidaklah mudah.Lika liku sudah pasti di lewati mereka selama menjalin hubungan bisa di katakan seperti saudara.Saudara yang saling membantu mau senang ataupun susah.
Hanya saja Desny di besarkan di lingkungan keluarga yang mampu sehingga membawanya pada gelaran seorang dokter.Sementara Syafa lebih memilih menjadi Profesi sebagai Bidan.
Syafa mengantar Desny dan kedua sahabatnya ke pintu utama.Mereka saling bergantian memeluk Syafa dan tersenyum.
Melihat Halwa keluar Bian segera mengikuti untuk menyusul ke depan pintu utama.
"Halwa,tunggu ! " ucapnya lalu tersenyum sedikit raut wajah yang ragu dan gugup.
Pikir Bian mungkin terlalu cepat untuk mengatakan isi hatinya.Ia berdiri begitu lama sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.Bian emang tipe pria yang ganteng serta mampan namun masalah cinta sedikit membuatnya runyam masalahnya untuk berbicara mulutnya terasa berat seperti sesak sulit untuk bernafas.
Bian tak tahu harus memulai dari mana.Apa dari kata atau hadiah.Bian bingung,mau bilang langsung nanti di bilang gak romantis.Mau romantis tapi gak tahu menyusun kata yang indah agar Halwa menyambutnya dengan senyuman.
Halwa merasa malu.Bian memanggilnya tapi tak mengatakan apa-apa.Mereka hanya berdiri saling menghadap tapi menunduk malu.Sesekali keduanya saling pandang lalu senyum-senyum sendiri.Bian lagi seperti orang sedang mencari sesuatu tapi tak menemukan yang di cari.
Kelamaan menunggu Halwa,Farah menyusul namun di halangi Kevin.
"Jangan ikut campur.Biarkan saja mereka begitu." cegah Kevin menghalangi Farah untuk menyusul Halwa.
__ADS_1
"Heeeeee.Apa apan kau.Ini sudah jam 09.00 malam.Aku ingin segera pulang sebelum Ayah ku seorang BIN mengobak abik Rumah ini.Aku tidak mau berurusan panjang kalo Ayahku menyusul ke sini.Jadi,singkirkan tanganmu itu sebelum aku berbuat kasar padamu."
"Kau mengancamku?" tanya Kevin
"Iya."
Farah pergi meninggalkan Kevin yang membuang waktunya untuk menyusul Halwa agar cepat mengantarnya pulang.
Selama ini Farah selalu menyembunyikan identitasnya sebagai anak seorang TNI.Ia lebih memiliki hidup mandiri sehingga tinggal di kos kosan kecil untuk dirinya tempat berteduh dan membuang lelah selama bekerja di Rumah Sakit.
Sejak mengetahui dirinya sakit-sakitan.Papahnya menyuruh ia kembali ke Rumah dan tinggal bersama keluarganya agar mudah memantau kondisinya.
"Halwa! Cepat.Kamu ngapain berdiri di situ?" teriak Farah lalu menarik tangan Halwa namun di hentikan Bian.
"Kau sebenarnya mau bicara apa? Sekarang sudah malam.Tidak baik anak gadis pulang malam-malam.Kau kan tahu Halwa,jika aku pulang malam Ayahku akan marah besar." ujar Farah lalu menatap Bian yang sepertinya ingin bicara tapi berat.
"Sebenarnya aa aku ma mau kas sih ini!" ucap gugup Bian mengoceh cincin di saku kemejanya.
Sebulan sebelum kehilangan Syafa memang Bian ingin melamar Halwa.Semua itu terlintas karna permintaan terakhir sang mamah yang Atikah sendirilah yang memilih gadis untuk menjadi istrinya.
Flash Back On
Sejak pertemuan pertama bersama Halwa.Atikah sudah merasa tertarik pada sosok Halwa yang penyayang serta sholeha.Di balut pahsmina besar menutup dada serta tutur kata yang baik itulah menjadi alasannya menginginkan Halwa menjadi menantunya.
__ADS_1
Bian yang baru pulang bekerja bergegas menemui mamahnya yang belakangan ini sedikit pucat.
" Mah,ku lihat wajah mamah pucat.Apa yang mamah pikirkan? Kan dokter sudah bilang mamah memiliki riwayat sakit jantung jadi tidak boleh stres apalagi memikirkan masalah yang berat." lirih Bian lalu melihat Atikah memegang dadanya yang sakit.
Atikah melebar senyum dan menyentuh lembut pipi Bian yang sudah duduk di sampingnya, " Jangan pikirkan mamah.Saat ini mamah memikirkan adikmu dan dirimu Nak.Kau kan tahu Syafa belum menemukan pasangan yang bisa melindunginya dan kau juga belum menikah-menikah.Umur kau sudah 32 tahun Nak.Apa yang kau tunggu.Bukankah ada Halwa begitu mencintaimu.Mamah tahu kau sangat mencintai Sheila tapi kau kan Sheila sudah menikah.Sampai kapan kau larut dalam masa lalumu sementara sudah ada masa depan yang menunggumu.Saat ini mamah masih ada bisa mengurusimu tapi....jika mamah telah tiada siapa yang akan mengurusimu? Syafa tidak mungkin akan selalu bersamamu, lambat laun ia akan mengikuti suaminya."lirih Atikah tak terasa air matanya jatuh.
Bian tak mau mengucap kata.Perkataan dalam mamahnya membuatnya kaku untuk berucap.Hanya yang tersiasa adalah harapan dan keinginan mamahnya.
Atikah menyerahkan sesuatu padanya yang membuat Bian mengeluarkan air mata serta tak menolak permintaan Atikah.
" Bian.Ambillah ini! Berikan ini pada gadis yang jadi pilihanmu.Meskipun mamah berharap itu adalah Halwa.Tapi mamah tak bisa memaksa karna kaulah yang menjalaninya." ucap Atikah mengenggam paksa sebentuk cincin di tangan Bian membuat Bian tak mampu berkata apalagi menolak.
*Flas*h Back off
Halwa terdiam memaku.Tubuhnya gugup,ucapan Bian barusan bercampur haru.Langkahnya mundur mengenang dua hari yang lalu Papahnya berniat menjodohkan dirinya dengan seorang pria anak dari sahabat Papahnya.
Halwa tak mampu berkata hanya kerlinangan air mata yang keluar mewakili perasaannya yang hancur.Halwa tak mampu menolak perjodohan yang Papahnya rencanakan karna telah menunggu lama memberi kejelasan tentang pria yang ia idamkan.
Halwa menarik tangan Farah dan berlari masuk ke dalam mobil lalu menyetir dengan laju meninggalkan Bian yang menunggu kejelasan jawaban tentang perasaannya.
Bian sadar mungkin saja Halwa kecewa dan lelah meninggu cintanya atau sudah memiliki pilihan sendiri untuk menjadi teman hidupnya.
Bian memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam Rumah di temani Kevin.Sementara Ardian hanya memandangnya dari celah jendela kamar bersama Paman Athur.
__ADS_1
Pak Athur hanya menatapnya lalu berbaring dan melirik Ardian yang sepertinya kecewa saat Bian mengutarakan perasaannya ke Halwa.Athur pernah muda jadi melihat keponakannya sedih bisa membaca dari raut Ardian yang tadinya duduk sekarang berdiri menatap langit gelap di atas sana.