
hah, hah, hah..."
dengan nafas yang terengah-engah, seorang anak kecil berusia kurang dari satu hari, sedang berdiri di bawah lebatnya air hujan.
ya, Dia memang anak kecil, tapi usianya baru satu hari. dan ini ceritanya...
...°°°°°°°...
Gudang Kayu
ea, ea, ea, ea," jerit tangis dari Bayi yang baru saja lahir.
Seharusnya ini adalah hari yang paling membahagiakan, seharusnya begitu, tapi sayangnya, Ia lahir bukan di waktu yang tepat. Karena kondisi keluarganya yang miskin, Ia harus dibunuh, atau di sembunyikan.
Kenapa bisa begitu, karena ditempat ini, tepatnya di seluruh belahan dunia ini, sama sekali tidak ada peraturan, disini hanya berlaku, siapa yang kuat, Dia yang menang.
Kuat, tapi bukan berarti dari fisiknya saja, dari harta, kecerdasan, keturunan, atau lainnya. Tapi yang paling ditakuti oleh semua orang adalah, orang yang memiliki Anugerah.
Ya, tidak lepas dari cerita fantasi secara umum, di dunia ini juga memiliki suatu kekuatan supranatural, tapi bukan sihir, melainkan kekuatan yang murni menjadi berkah miliknya, atau hasil dari latihan yang sangat panjang.
Dan begitulah keadaan Keluarga dari Bayi itu, Mereka tidak memiliki apa-apa, bisa hidup pun sudah bisa dibilang sangat beruntung, ya walau harus bayar pajak yang sangat tinggi, untuk memperoleh kehidupan.
Terus, kenapa Bayi Mereka harus dibuang, atau harus dibunuh? jawabannya sederhana. Pemilik, atau secara umumnya adalah raja, Dia menerapkan aturan di daerah kekuasaannya, setiap Bayi yang lahir pada hari ke 5, di setiap bulan baru, maka anak itu akan dijadikan sumber kekuatan Anugerahnya.
Kalau tidak mau, maka Mereka harus membayar pajak sebesar 5 kali lipat dari seharusnya. Kalau tidak mau memberikan uang pajak, berarti anak itu harus mati sebagai makanan dari Pemilik.
.
Mereka sama sekali tidak memiliki uang, bahkan untuk Rumah pun, Mereka ikut bersama warga lainnya, yang sama-sama tidak punya tempat tinggal, di sebuah gudang kayu, yang siap roboh kapanpun.
Pilihan terakhir Mereka, ialah meninggalkan anaknya sendirian di dalam hutan, itupun kesempatan hidupnya hanya 30% saja, karena banyaknya Hewan Ilusi yang tinggal disana.
Sebelum memutuskan hal itu, tentunya banyak perbincangan dari Mereka berdua, selaku Ayah dan Ibu dari anak itu, apalagi Dia adalah anak pertama Mereka.
Rasa sedih dan sakit yang mendalam, sedang menggerogoti dada Mereka, hingga sesak, bahkan sangat sesak, sampai air mata Mereka tidak kuasa menahan rasa sakit itu, dan mengalir deras tanpa henti.
.
Mereka tidak bisa menunggu waktu bergulir lebih lama lagi, karena Pemilik sudah mengetahui bahwa anak Mereka sudah lahir.
Dengan berat hati, akhirnya Mereka berusaha merelakan anak pertamanya, untuk di tinggal sendirian di dalam hutan.
Tentunya sulit untuk keluar dari Gudang itu, karena orang-orang suruhan Pemilik, menjaga daerah kekuasaannya. Tapi, berkat bantuan dari seluruh penghuni Gudang itu, Mereka berhasil melarikan diri ke dalam hutan.
Dengan awan hitam yang terlihat jelas di kelamnya langit malam, rintik hujan pun jatuh membasahi Mereka yang sedang berlari.
Tapi hebatnya Bayi itu, Dia sama sekali tidak menangis, setelah tangisan pertamanya saat Ia baru lahir. Banyak guncangan dan guyuran air hujan yang deras pun, sama sekali tidak membuatnya ketakutan.
Ia seperti mengerti, dengan keadaan kedua orang tuanya itu, dan raut wajahnya, terlihat seperti sangat pasrah akan takdirnya yang sulit.
ccak, ccak ccak," suara riak air yang Mereka pijak terdengar keras, saking cepatnya Mereka berlari.
Rasa sakit yang di rasakan oleh Ibunya, sangat amat perih, Dia sangat kuat, sambil memeluk erat anaknya, Ia berlari, dan meninggalkan jejak darah, yang mengalir melalui kakinya yang lemah itu.
__ADS_1
Butuh beberapa waktu sampai Mereka sampai di kedalaman hutan itu. Mereka mengadu nasib di sana, dan berharap, akan adanya keajaiban yang menyertai keluarganya.
byar!" Suara ledakan guntur yang hebat menggema di udara, dan berhasil membuat Ayah anak itu terjatuh.
Saat Dia berusaha bangkit, dan berniat menyusul kembali istrinya...
ctar..!!!" Kilatan listrik yang sangat besar menyambarnya, sampai tidak menyisakan satu bagianpun yang utuh. Semuanya hangus, bahkan darahnya mendidih oleh ledakan listrik itu.
arrrggghhhh tidak...!!!!" Melihat Suaminya yang terpanggang habis, Dia menjerit. Namun tidak ada waktu baginya untuk meratapi nasib Suaminya itu, Ia langsung berlari menjauh, meninggalkan Suaminya yang terkapar hangus itu.
Kenapa Dia lari? karena Dia tahu, itu bukanlah ledakan listrik biasa, melainkan ledakan yang di hasilkan dari Anugerah Pemilik.
Raut wajahnya berubah menjadi sangat panik, selain memikirkan Suaminya yang tersambar tadi, Ia juga memikirkan orang-orang di Gudang itu, karena Mereka sudah membantunya untuk kabur, pastinya Mereka sudah mati tanpa sisa sekarang.
.
craak, craaak, craak... brak!" Karena jalanan yang licin akibat lumpur yang menggumpal, Ia terpeleset, lalu jatuh terguling di jurang yang lumayan tinggi.
srek srek srek!" Ia menggelinding kencang sambil memeluk Anaknya sangat erat.
sraaaakh!" Dengan waktu yang singkat, Ia berhasil sampai di dasar jurang itu.
Namun, seberapa sakitnya yang Ia rasakan, berapa banyaknya darah yang bercucuran, itu tidak membuatnya berhenti, Ia langsung bangkit kembali, untuk meneruskan langkahnya.
dwarrr!" Suara dentuman langit kembali terdengar jelas memekakan telinganya.
Dengan waktu yang terbatas, Ia memutuskan suatu keputusan sulit, yaitu untuk menghanyutkan anaknya, di sungai yang berada tidak jauh di depannya.
sreeek.." Sambil berjalan mendekati Sungai, Dia mengambil satu helai daun berukuran besar, bentuknya seperti daun umbi-umbian, namun berbentuk besar dan sangat lebar.
Daun itu bisa menampung berat lebih dari tiga kilogram, dan bisa mengambang di permukaan air yang datar.
"Namamu adalah Nadi, Anak kesayangan Ibu dan Ayah, Kamu harus bisa hidup, semoga Kamu bisa menemukan kebahagiaan di sana..hiks." Ucap Ibunya, lalu mencium keningnya.
set!" Dengan raut wajah menderita, Ia tersenyum rapuh. Ia mendorong anaknya perlahan untuk segera pergi, mengikuti arus Sungai yang lumayan deras itu.
ctarrr!" sesaat setelah Ia melepas anaknya pergi, Ia tersambar oleh Ledakan Listrik milik Pemilik.
Dan kini, tubuhnya hangus tanpa sisa, bersamaan dengan darahnya yang mendidih, terlihat kristal air mata, dari sudut matanya yang perlahan melepuh.
...°°°°°°°°...
ctar.... byar...dwarrr....!!!" Suara amarah dari guntur tidak segera lenyap, dan masih terdengar sampai sinar mentari menembus bumi.
.
Dengan rintik hujan yang masih belum berhenti, mata Nadi terbuka. tubuhnya hanya di balut oleh dua lembar kain tipis, dan Ia masih mengambang perlahan di aliran Sungai yang meluap.
Entah ini bisa di sebut beruntung atau tidak, tapi karena luapan air itu, Nadi bisa terbawa ke daratan oleh arus yang mengarah ke sana.
Walaupun Dia sudah berhenti mengambang di Sungai, tapi kelangsungan hidupnya masih dalam bahaya. Bagaimana tidak, seorang Bayi yang baru saja lahir, sudah terombang-ambing arus Sungai, serta di guyur air hujan semalaman.
Mungkin, semua keberuntungannya sudah Ia gunakan untuk selamat pada malam itu.
__ADS_1
.
klotak klotak klotak klotak, yaahh!" Teriak seorang kusir kuda yang melaju cepat.
Kereta Kuda itu adalah milik dari seorang Pencuri, Ia mengambil banyak ramuan dari seorang Pemilik di Negeri Seberang, karena saat ini Dia sedang di kejar oleh anak buah dari Pemilik Ramuan itu, Ia membawa Kereta Kudanya sangat cepat menembus tirai hujan yang lebat.
Apa kalian berpikir Pencuri itu akan menyelamatkan Nadi? Jawabannya tidak, bagaimana cara menyelamatkannya, Ia membawa Keretanya pun tanpa melihat jalur yang ia lewati.
Dan karena ketergesa-gesaan Pencuri itu, Kereta yang Ia bawa terguncang hebat, dan saat Dia melewati Nadi, satu botol ramuan berwarna coklat pekat, jatuh dan menghantam kening Nadi dengan keras.
Akibatnya, darah dari keningnya mengucur deras. dan bersamaan dengan rintikan air hujan, darah itu mengalir, dan membasahi tubuh Nadi seluruhnya.
Sementara itu, Kereta Kuda milik Pencuri itu, sudah pergi menjauh, menyusuri lebatnya hujan, yang tidak tahu akan berhenti kapan.
Belum lama Kereta Pencuri itu melesat jauh, bahkan darahnya pun masih mengalir, tapi siapa sangka, ternyata cairan dari ramuan itu, mengalir masuk melewati celah luka di dahinya.
Sedangkan sisanya, mengalir bersamaan darah yang terbawa oleh aliran air hujan, yang berhasil membasahi seluruh tubuhnya yang kecil itu.
Beberapa saat kemudian, darah yang tersisa dalam tubuhnya mendidih, menyebabkan kulit Nadi melepuh karena panasnya darah itu.
cshhhhhh...!" suara darah yang mendidih, dipaksa menjadi dingin oleh air hujan, dan menyebabkan asap putih tebal menutupi seluruh tubuhnya.
Dan anehnya, hujan yang seharusnya sudah akan mereda sedari tadi, malah kembali menggelegar bersamaan dengan guntur yang keras.
dwaarrr!...draaaaa...!" Suara Guntur yg terdengar seperti bertabrakan satu sama lain di atas sana.
slassshhh...!" Sambaran petir yang menyilaukan mata menghantam kepulan asap putih itu.
drrtt, drrrtt, drrtt...!" terlihat listrik statis sedang menari memecah kepulan asap itu untuk segera menyebar.
Yang seharusnya tubuh Nadi sudah tidak bersisa lagi, tapi ajaibnya, Ia malah memiliki tubuh baru. Perlahan tubuh itu seperti membesar, listrik statis yang terlihat sedang menari itu, terlihat jelas mengitari tubuhnya yang sedang membesar.
Mungkin kalau di konversikan dalam waktu, fenomena itu terjadi sekitar tiga puluh menit. Lalu, tubuhnya berhenti membesar, saat Ia seperti anak berusia sembilan tahun.
Kulit putih bersih yang terlihat jelas, tanpa memakai satu helai kain pun yang menutupi tubuhnya. Wajahnya yang nampak seperti seseorang yang baru berlari 100 km jauhnya.
Ya, sangat lelah, raut wajah lelah terukir jelas di wajahnya yang kecil itu. Perlahan, Ia membuka matanya, lalu berusaha untuk membalikkan tubuhnya yang sedang terlentang itu.
Bersamaan dengan Ia membalikkan tubuhnya, rambutnya yang semula botak, sekarang tumbuh memanjang secara perlahan.
Dan setelah berhasil membalikkan tubuhnya, Ia lalu mencoba mengangkat tubuhnya untuk berdiri...
brak!" Ia terjatuh, seperti anak jerapah yang baru lahir, Ia berusaha untuk berdiri berulang kali.
brak! brak! ....brak!" berulang kali Nadi berusaha untuk bangkit. Dan setelah percobaan yang banyak itu, Ia berhenti sejenak sambil tersungkur di atas genangan air yang Ia buat.
Setelah berhasil mengumpulkan tenaganya, Ia mencoba kembali untuk berdiri, dan akhirnya, setelah banyaknya Ia mencoba, Ia bisa berdiri tegak.
hah, hah, hah..." Dengan suara yang sangat kecil, Dia terengah-engah.
Sembari menatap lemah ke arah tempat ia terbaring tadi, dan bersama air hujan yang masih mengalir deras, tanpa Ia sadari, bulir air matanya menyelinap keluar dengan cepat.
Ia tidak tahu alasannya mengeluarkan air mata, tapi rasa sesak di dadanya, seperti menginginkan untuk bertemu dengan seseorang.
__ADS_1
Seseorang yang Ia sendiri tidak tahu siapa itu, tapi rasa rindu yang Ia rasakan, benar-benar nyata.
...°°°°°°°°°°°°°°°...