PENCURI

PENCURI
39. Hari Yang Aneh


__ADS_3

Hari yang aneh, hari ini nampak begitu tenang, bahkan dedaunan yang lepas dari dahan pohon itu nampak lambat, kumpulan debu yang tersapu angin terlihat jelas.


Hari yang aneh, desiran angin lembut, membuat ujung pohon menjuntai, sehingga cahaya hangat dapat menembus celahnya, dan membangunkan 3 orang yang sedang tertidur lelap disana.


Hari yang aneh, padahal pagi ini cuacanya sangatlah dingin, tapi mereka nampak seperti nyaman tidur di atas rumput yang basah oleh embun, dan hanya beralaskan selembar kain coklat.


Hari yang aneh, walaupun hari ini nampak sangat tidak biasa, tapi itu tidak membuat mereka bertiga tidak nyaman, malahan sebaliknya, dan itu terlihat jelas di raut wajahnya.


.


Ng..." Lirih Dinna, Ia sekarang membuka matanya perlahan, dan menunjukan bulatan hitam yang nampak seperti berlian.


Setelah Ia bangun, hal pertama yang selalu di lakukannya hanya satu, yaitu memasak, Ia memulai hari ini seperti tidak ada beban di pundaknya.


Bahkan Ia melupakan semua masalah yang pernah Ia lalui, seolah semua itu hanyalah mimpi belaka.


"Mmm..." Gumam Nadi yang baru membuka matanya.


"Asiik, kayanya enak tuh..." Ujar Nadi sambil melihat ke arah Dinna.


"Pasti!" Jawab Dinna sambil mengacungkan jempolnya.


"Oi, pemalas bangun!" Ujar Nadi kepada Miko yang sedang meringkuk.


Namun tidak ada reaksi dari Miko, jadi Nadi memutuskan untuk menjahilinya sedikit. Dengan senyuman yang nampak seperti orang mesum, Nadi mendekat perlahan ke arah Miko.


"Rasakan ini...!" Teriak Nadi, lalu Ia melayangkan kedua tangannya ke arah tubuh Miko.

__ADS_1


"Wreong?!" Miko terkejut, karena tiba-tiba Ia merasakan ada yang menyentuh bagian perutnya.


"Tik kitik kitik kitik...." Gumam Nadi seraya memainkan jari jemarinya di perut Miko.


Karena sekarang Miko sedang dalam ukuran besar, jadi serangan Nadi akan dengan mudah untuk menjalar seluruh bagian tubuhnya.


"Wreng, wreoong...!!" Geram Miko berusaha berontak.


"Haha, rasakan itu pemalas!" Ucap Nadi seraya tersenyum puas.


"Sudah cukup, sekarang makan dulu." Ucap Dinna berjalan ke arah Nadi, seraya membawa dua mangkuk berisi rebusan daging di tangannya.


"Haha, siap..." Jawab Nadi menyudahi menjahili Miko, lalu Ia bergerak ke arah Dinna, berniat untuk mengambil bagiannya.


Namun, saat Nadi akan mengambil mangkuk di tangan kanan Dinna...


Setelah memberikan mangkuk itu, Dinna langsung melihat ke arah belakang, tentunya untuk melihat Nadi, dan Dinna di suguhkan pemandangan yang indah baginya.


Nadi sekarang sedang melihat ke arah Dinna, Nadi sedikit terkejut, terlihat jelas dari matanya yang tidak berkedip, dan saat pandangan mereka bertemu.


Dinna hanya memberikan senyuman jailnya kepada Nadi, dan itu membuat Nadi sadar seketika, ekspresi wajahnya kini mulai berubah, bukan kesal atau marah Nadi tunjukkan.


Tapi senyuman jail yang Nadi perlihatkan, dan benar saja, Nadi langsung berdiri lalu berlari ke arah panci berisi rebusan itu, dan dengan cepat Ia menyantap bagiannya langsung dari panci.


"Jangan serakah bodoh!" Ujar Dinna yang langsung berlari ke arah Nadi.


Namun sekarang tidaklah mudah untuk mendekatinya, saat sisa 3 langkah lagi Dinna mencapai Nadi, tiba-tiba muncul dinding yg tebuat dari tanah menghalangi Dinna.

__ADS_1


Bahkan setelah Dinna memutar, dinding itu muncul kembali di hadapannya, sampai membuat Dinna sangat kesal.


"Yasudah, terserah!!" Ucap Dinna kesal.


Tapi saat Dinna akan kembali ke tempatnya, berniat untuk menyantap makanan bagiannya, lagi-lagi muncul dinding menghalangi jalannya.


"Nadi...!!!!" Teriak Dinna marah, namun Nadi malah tersenyum puas sambil menyantap rebusan itu.


.


"Huuhh.... Kenyang!" Ujar Nadi sembari mengusap lembut perutnya.


"Ayo Miko." Ucap Dinna setelah merapihkan barang bawaannya, kecuali panci yang sekarang sedang berada di hadapan Nadi.


"Wreeoong.." Jawab Miko, lalu Ia merubah ukuran tubuhnya, dan Dinna pun lekas menaiki punggung Miko.


"Mau kemana?" Tanya Nadi, namun Dinna tidak menjawab pertanyaan itu.


"Tunggu!" Teriak Nadi kepada Dinna yang sudah hilang dari pandangannya.


Dan saat Nadi akan berlari mengejar Dinna, pandangannya teralihkan kepada panci kotor bekas makannya tadi.


"Aduh.." Gumam Nadi, lalu Ia terpaksa kembali untuk mengambil panci itu.


Nadi menggunakan langkah cepat sambil memeluk panci untuk mengejar Dinna, namun keberadaan Dinna tidak Nadi temukan.


Padahal belum lama saat Dinna pergi tadi, bahkan Nadi dengan cepat menggunakan Anugerahnya untuk mengejar Dinna, tapi sekarang, Dinna menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


...°°°°°°°°°°...


__ADS_2