
"Kau dimana?" Tanya Dinna.
"Ada apa?"
"Sepertinya Adonis memiliki hubungan dengan Kota ini." Jelas Dinna sambil mengamati lagi satu persatu Foto disana.
"Ko bisa?"
"Di salah satu ruangan di lantai 2, Aku menemukan banyak Foto dirinya, namun Ia tidak sendiri, Ia berdiri dengan seoran Pria Tua."
"Tunggu sebentar, Aku sedang mengobrol dengan Pak Tua, katanya Ia Tukang Kebun di Mansion ini."
"Hah?! Tukang Kebun, mana ada! Kau tahu sendirikan, sudah tidak ada penduduk yang tersisa, dan apa Pak Tua itu memiliki bekas luka di lehernya?" Tanya Dinna memastikan.
"Ya, emang kenapa?"
"Dia adalah Si Pemilik, hati-hati, Kau ada dimana sekarang?" Raut wajah Dinna nampak pucat sekarang.
"Aku di ujung lorong sebelah kiri, ada pintu yang mengarah ke sebuah Taman."
"Tunggu sebentar..!!"
Dinna dengan cepat pergi keluar dari pintu ruangan itu, dan berlari secepat-cepatnya.
Sementara itu...
Nadi yang telah selesai berkomunikasi dengan Dinna, memasang senyum Psikopat ke arah Si Pak Tua, tentu saja Si Pak Tua tahu maksudnya, karena Ia mendengar pembicaraan Nadi.
"Oh, jadi Kau sudah berbohong." Ucap Nadi sambil melangkah dan mengeluarkan Belatinya perlahan.
"Apa maksudmu?" Tanya Si Pak Tua tidak takut dengan senyuman Nadi, malahan ekspresinya nampak biasa saja.
"Jika Kau masih bisa mengelak, berarti Kau memiliki kekuatan, apa kekuatanmu sama dengan Si Adonis?" Nadi tersenyum smirk.
Si Pak Tua ketika mendengar nama Adonis, matanya sedikit membelanga, namun tidak sampai terlihat oleh Nadi.
"Katakan apa alasanmu melenyapkan semua Warga Kota disini?" Tanya Nadi.
"Warga Kota?" Jawab Si Pak Tua pura-pura dungu.
"Ish, dasar Kau!"
Swushh...." Nadi menghunuskan Belatinya ke arah Si Pak Tua.
"Oh, rupanya kekuatanmu sama dengannya." Ucap Nadi santai sambil melirik ke arah belakang.
"Itu berbahaya, jangan bermain-main dengan pisau, nanti telunjukmu terluka." Senyum tipis di pancarkan Si Pak Tua.
"Kau...!"
Drap drap drap drap!!"
Swushhh!!" Lagi-lagi hunusan Nadi sia-sia.
"Apa ini? Ternyata Kau selemah ini, sia-sia Aku tadi waspada kepadamu..." Ujar Si Pak Tua yang sedang mengelus punggung Miko.
__ADS_1
"Wrrrreoonggg!!!" Miko terkejut, lalu Ia melompat ke arah Nadi berada.
"Wah wah, agresif juga rupanya, bolehkah Aku ambil Dia? Biar ku jadikan Dia Hewan Ilusi terkuat." Ucap Si Pak Tua sambil tersenyum mengejek.
"Diam Kau Pak Tua!!" Marah Nadi.
"Diam?" Si Pak Tua tiba-tiba hilang, dan dalam sekejap mata, kini Ia berada di hadapan Nadi.
"Coba saja bungkam mulutku." Lagi-lagi Si Pak Tua tersenyum mengejek kepada Nadi, dan itu berhasil memancing amarah Nadi.
Swuusshh...." Dengan cepat Nadi mengayunkan kembali Belatinya itu.
"Lemah!" Ujar Si Pak Tua yang kini berada tepat di belakang Nadi.
Tak!" Si Pak Tua memukul keras tengkuk leher Nadi.
"Ugh.." Brukkk.... Nadi tersungkur ke daratan rumput liar itu.
"Nah, sekarang Kau milikku sekarang." Ucap Si Pak Tua santai sambil berjalan ke arah Miko.
Tentu saja Miko waspada, bahkan Ia sampai memasang posisi mengancam kepada Si Pak Tua.
"Tenang saja, tidak usah takut, Aku akan memberikan kekuatan tak terbatas untukmu." Ucap Si Pak Tua, lalu Ia mengeluarkan sebuah kalung pengekang.
Dan dengan cepat kalung itu melingkar di leher Miko, sekarang Miko sudah menjadi milik Si Pak Tua, karena terlihat jelas di mata Miko, kini tatapannya menjadi kosong.
"Haha, terima kasih anak bodoh!" Tawa Si Pak Tua sambil tersenyum puas.
Namun Nadi tidak bisa menjawabnya, karena Ia sekarang sedang setengah sadar, akibat pukulan keras dari Si Pak Tua tadi, bahkan matanya sekarang terlihat seperti memutih.
"Dan untuk hadiah perpisahan, Akan ku beritahu alasanku melenyapkan semua orang disini. Alasannya cukup sederhana, karena menyenangkan, hihihi..." Tawa licik di keluarkan oleh Si Pak Tua.
"Ups, maaf, sepertinya percuma kuberitahukan sekarang, hehe, rasanya nenyenangkan lho, merampas semua milik orang lain. Selamat tidur..." Ucap Si Pak Tua santai.
"Ayo, sekarang bunuh majikan payahmu." Si Pak Tua memberi isyarat kepada Miko untuk segera membunuh Nadi.
Walau dalam keadaan terkekang oleh kalung, tapi kesadaran Miko masih tetap ada, tapi Ia tidak bisa melawan kekuatan perintah kalung itu, dan dengan tatapan mata yang kosong, Miko melangkah perlahan.
Walau Nadi masih dalam keadaan setengah sadar, tapi Ia bisa mendengar semua ucapan Si Pak Tua dengan jelas, lalu Ia makin marah setelah Si Pak Tua menyuruh Miko untuk membunuhnya.
"Akan ku ambil semuanya, akan kuambil, akan kuambil, akan kuambil, akan kurampas semuanya...." Gumam Nadi dengan tatapan kosong.
Tap!" Kini kaki depan Miko sudah menapak di punggung Nadi, lalu Ia mengangkat tangannya satu lagi tinggi, dan mengeluarkan cakar tajam yang siap merobek punggung Nadi.
Walau kini tatapan Miko begitu kosong, tapi hati dan pikirannya masih lah tetap Miko, Ia mengeluarkan cakarnya sambil menangis, bahkan air matanya sampai menetes di tangan Nadi.
Nadi merasakan adanya tetesan air mata itu, lalu Ia mendapatkan kesadarannya kembali dengan cepat, dan mengetahui situasinya sekarang.
Untungnya saat tersungkur tadi, Nadi masih menggenggam erat Belatinya, dan tanpa berlama lagi, Nadi langsung membalikan tubuhnya.
Karena Miko cuman menahan menggunakan sebelah kakinya, jadi dengan mudah bagi Nadi untuk membalikan tubuhnya.
Swusshh/trakk!" Cakar Miko dan hunusan Belati Nadi datang bersamaan. Namun hanya hunusan Nadi saja yang berhasil, sedangkan Miko meleset, karena Ia tidak memiliki keseimbangan.
"Meong?" Miko tersadar kembali, karena kalungnya sudah terlepas berkat serangan Nadi tadi.
__ADS_1
"Oh, hebat juga Kau! tapi dengan kekuatan seperti itu, murid bodohku masih belum bisa membunuhmu, sepertinya harus Aku didik lagi Dia." Keluh Pak Tua.
"Hah?! Membunuhku? Jangan mimpi Pak Tua, dan benar katamu tadi, Dia perlu di didik lagi, tapi, itu juga jika Dia masih hidup." Ucap Nadi sambil tersenyum mengancam.
"Apa maksudmu?" Si Pak Tua langsung terkejut mendengar ucapan Nadi itu.
Bagaimana tidak, karena Ia pikir ini hanyalah permainan Adonis, karena Dia suka bermain dengan korbannya.
"Apa Kau bodoh? Tentu saja Dia mati." Jawab Nadi sombong.
"Tidak mungkin!" Ucap Si Pak Tua marah, bahkan Dia nampak terguncang sekali.
"Akan ku balas seranganmu Pak Tua!" Teriak Nadi, lalu Ia berlari dengan cepat ke arah Si Pak Tua, lalu menghunuskan Belatinya, dan tentu saja itu tidak berguna, karena Si Pak Tua dapat menghindarinya dengan mudah.
"Haha, apa Ka..." Clebb!!!
Ucapan Si Pak Tua terpotong, karena sekarang di mulutnya terbentang Belati hitam milik Nadi. Ini bisa dibilang sebuah keberuntungan, karena Nadi bisa menebak dimana Si Pak Tua akan muncul.
Urrwghh!!" Rintih Si Pak Tua, lalu Ia berusaha mengeluarkan Belati itu, tampak jelas rasa sakit yang Ia rasakan, bahkan tidak sekali air matanya keluar.
Tapi sayangnya Belati itu tidak akan bisa di cabut oleh orang lain, karena Anugerahnya masih terhubung dengan Nadi secara langsung.
Drap drap drap drap..." Nadi berlari dengan cepat ke arah Si Pak Tua.
Bruk!!" Nadi menabrak tubuh Si Pak Tua dengan keras.
"Arghhh!!!" Erang Si Pak Tua, tentunya sambil muncrat darah kemana mana.
Crakk!" Nadi mencabut paksa Belati itu. Lalu menusukkannya kembali tanpa ragu.
Cleb!!"
Crakk!"
Cleb!"
Crakk!"
Cleb!!" Nadi mencabut dan menusukkan kembali Belati itu berulang kali.
"Akan kuambil, akan kuambil, akan Ku rampas semua...." Gumam Nadi sambil terus menusuk nusukan Belatinya dengan fokus, Ia sangat fokus, bahkan seperti sedang melamun.
Dan saat Nadi sedang sibuk menusuk bagian wajah, leher, dan dada Si Pak Tua, tiba-tiba darah yang mengalir membasahi rumput dan tubuhnya, mulai berkumpul secara perlahan.
Dan sayangnya Nadi tidak memperhatikan itu, Ia terus saja menusuk Si Pak Tua yang sudah tidak bernyawa itu.
Cratt!!" Kumpulan darah yang berkumpul di atas rumput itu meledak.
Namun bukan ledakan darah yang di keluarkannya, melainkan ledakan cahaya keemasan yang hangat, dan itu membuat Nadi tersadar dari pikirannya.
Brak!!" Suara seseorang mendobrak pintu, dan tentunya siapa lagi kalau bukan Dinna.
"Nadi!!" Teriak Dinna dengan ekspresi khawatirnya.
Lalu Nadi dengan cepat melirik ke arah Dinna dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
...°°°°°°°°°...