
Brakk!!" Nadi mendobrak pintu Mansion itu paksa.
"Pake perasaan dong, siapa tahu gak dikunci kan." Ucap Dinna seraya melangkah perlahan.
"Ck, buat apa!" Decak Nadi kesal.
"Setidaknya biar kita bisa istirahat disini nanti, tapi, yasudahlah..."
"Hmmm."
Nadi, Dinna, dan Miko sekarang sudah berada di dalam Mansion itu, tepatnya sekarang mereka berada di tengah aula, namun isi dalam Mansion membuat mereka terkejut.
Bukannya banyak hiasan megah dan mewah di dalam Mansion itu, isinya sangat kosong, sepi, seperti tidak ada penghuni, berbeda dengan kebanyakan Mansion yang mereka datangi.
"Sepi ya." Ucap Dinna sambil mengamati ke seluruh sudut Mansion itu.
"Ya, gimana sekarang? Mau mencar dulu?" Tanya Nadi biasa.
"Itu lebih bagus." Jawab Dinna, lalu Ia berjalan naik menyusuri tangga menuju lantai 2.
Sementara Nadi, Dia berjalan santai dengan Miko di lantai pertama. Setiap sudut Mansion ini membuat Nadi terpukau, Ia terpukau bukan karena melihat kemewahannya.
Tapi Nadi terpukau karena di sudut Mansion, lantai, atau langit-langit bersih tanpa debu, walaupun terlihat tidak terurus, tapi jika di perhatikan lebih detail lagi, ruangan ini sangatlah bersih dan nyaman.
"Miko, tempat ini bagus, tapi sayang pemiliknya orang bodoh." Ujar Nadi.
"Wreoong.." Jawab Miko, dan sekarang Ia sedang duduk manis di atas pundak Nadi.
Saat sedang menyusuri salah satu lorong, Nadi melihat cahaya terang di ujung lorong itu, tepatnya di ujung pertigaan sana.
Karena sudah terlanjur disana, Nadi memutuskan untuk melihatnya sejenak.
Sementara itu....
Dinna sekarang sedang berada di lantai dua, Ia masih menyusuri lorong disana, anehnya, lantai dua ini memiliki begitu banyak kamar, berbeda dengan di lantai satu, yang ada cuman 1 atau 2 kamar saja di setiap lorong.
__ADS_1
Dan sampailah Dinna, di salah satu pintu yang terlihat biasa saja, berbeda dengan pintu yang lain, pintu ini nampak lebih bersih, walau modelnya sama, tapi kesan biasanya lebih mencolok dari yang lain.
Kriiett!!" Derit pintu.
"Apa ini!?" Ujar Dinna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan sampai matanya membulat terkejut.
.
Setelah Dinna sampai di ruangan itu, Nadi juga sudah sampai di ujung lorong, lalu tanpa ragu Nadi melihat ke arah pintu yang terbuat dari kaca.
Di balik pintu itu, adalah tempat yang sangat berbeda dengan Kota ini. Tentu Nadi makin penasaran, lalu Ia berlari cepat ke arah pintu itu.
Blakk!!" Nadi membuka pintu paksa, bahkan sampai kaca pintu itu bergetar, namun tidak sampai pecah.
"Apa ini?" Tanya Nadi, Ia sangat terkesima dengan apa yang berada di hadapannya ini.
Di sepanjang mata memandang, tempat ini sangat luas, banyak terdapat berbagai macam aneka jenis bunga, ya secara umumnya tempat ini adalah Taman Belakang Rumah.
Hupla.." Miko melompat dari atas pundak Nadi, lalu Ia membesarkan tubuhnya seperti kucing normal pada umumnya.
"Apa yang Kau lakukan?" Tanya Nadi sambil menurunkan tubuhnya, dan sekarang Ia sedang jongkok sambil mengelus lembut perut Miko.
Krrrrrr..." Terdengar keras dengkuran nyaman keluar dari mulut Miko.
"Jangan bilang Kau lupa, ini masih di wilayah musuh loh!" Ucap Nadi.
"Wreoong!" Miko pun langsung mengubah ekspresinya menjadi terkejut, lalu dengan cepat Miko berdiri, dan menambah ukuran tubuhnya.
"Mau apa? Lagipula apa-apaan ekspresi itu, Kau nampak serius sekali, bahkan belum lama tadi Kau menikmatinya, dasar..." Ucap Nadi tidak percaya dengan Miko.
"Selamat Siang. Maaf, ada yang bisa Saya bantu?" Tanya seseorang di belakang Nadi.
"Siapa!?" Nadi dengan cepat membalikkan tubuhnya, lalu mencari asal sumber suara itu.
"Maaf, sepertinya Saya mengagetkanmu." Tiba-tiba saja suaranya berubah tempat.
__ADS_1
"hah!?" Nadi terkejut, karena orang itu sekarang berada di sampingnya, dan Dia sama sekali tidak menyadari kehadirannya, bahkan Miko pun sama.
Orang itu adalah seorang Pria Tua, Dia memakai stelan layaknya seorang warga desa biasa, hanya kaos yang sudah luntur dan celana gombrang Ia pakai.
"Kucingmu sangat imut, siapa namanya?" Tanya Si Pria Tua sambil melirik ke arah Miko.
"Siapa Kau?" Tanya balik Nadi.
"Saya hanya Tukang Kebun disini, maaf atas ketidak sopanan Saya." Ucap Pak Tua sopan.
"Ya, mana Pemilik Mansion ini?" Tanya Nadi.
"Oh, Dia..." Saat Pak Tua akan menjawab, Nadi langsung mengulurkan tangannya, memberi isyarat untuk Pak Tua agar diam sejenak, lalu Nadi menyentuh telinganya, layaknya seperti sedang telepati dengan seseorang.
Sebelumnya....
"Apa ini?" Dinna terkejut, karena di hadapannya, Ia disuguhkan dengan hal yang tidak pernah Ia pikirkan sebelumnya.
Bahkan sepertinya bukan hanya Dinna, tapi bagi siapapun yang melihat, pasti orang itu akan sama terkejutnya, karena di dalam ruangan ini, terdapat banyak harta berharga.
Tapi harta itu bukan dalam bentuk batangan emas, uang, atau benda berharga lainnya. Harta di dalam ruangan ini, semuanya berbentuk Pigura Foto.
Ya, Pigura. Di ruangan yang luasnya sekitar 16x16 m², lumayan luas untuk ukuran ruangan seperti ini, dan semua sudutnya tertempel Pigura, yang berisi foto-foto seorang pria dan anak kecil.
Dan salah satunya, adalah wajah Adonis, Dinna masih ingat betul dengan wajah Adonis, walau sedikit samar, tapi Dinna sangat yakin, di foto itu, Adonis sedang berdiri dengan seorang Pria Tua.
Bisa saja Pria Tua itu adalah ayahnya, seharusnya begitu, tapi dugaan itu Dinna singkirkan, karena sama sekali tidak ada foto layaknya seorang ayah dengan anak.
Kenapa begitu, karena di foto itu, Adonis dan Pria Tua itu hanya berdiri biasa, dan tidak menempel sama sekali, di setiap foto, pasti ada jarak, setidaknya 1 meter, dan mereka selalu memakai kaos biasa, atau telanjang dada.
Dinna langsung menduga, pasti Pemilik di rumah ini ada sangkut pautnya dengan Adonis, karena intuisinya berfikir ini akan berbahaya, Dinna dengan cepat menghubungi Nadi.
Seharusnya kalian masih ingat, Dinna itu memakai anting perak di telinga sebelah kirinya, dan itu adalah alat sihir pemberian Bi En tempo dulu, Dinna menggunakan anting itu, untuk berkomunikasi dengan Nadi.
...°°°°°°°°...
__ADS_1