
Sekitar dua belas jam lebih Nadi berjalan kaki, akhirnya Ia sampai di sisi Hutan.
...°°°°°°...
Setelah sampai di sana, Nadi memasang raut muka kebingungan, sebab yang Ia lihat, bukanlah tempat yang penuh dengan Hewan Ilusi.
Melainkan, tempat yang di terangi banyak obor, dan juga sangat berisik, sampai terdengar oleh Nadi, yang berada dalam jarak 25 meter dari tempat itu.
Tempat itu adalah kota kecil di sisi Hutan, biasanya cuman dijadikan sebagai tempat peristirahatan, dan karena itu, banyak pedagang-pedagang yang berjejer di sepanjang jalan, sambil meneriakkan barang dagangannya.
Nadi yang semula ragu untuk mendekat, kini mulai melangkah kan kakinya perlahan. Ia sebenarnya tidak mau mendekati kota itu, tapi karena Ia melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya, Ia pun ikut menghampiri orang itu.
Orang itu adalah pria yang sedang mabuk berat, Ia melantur sambil berjalan sempoyongan keluar dari kota, dan Nadi penasaran kepadanya, karena bentuknya sama dengan Si Kusir waktu setahun lalu.
Tapi saat Nadi akan berpapasan dengan pria itu, pria itu malah mengayunkan tinjunya ke arah Nadi, dengan refleks Nadi menghindar dari serangan itu, namun...
slassh..."
craatt..!" Tangan kanan pria itu putus di tebas oleh Nadi, sampai darah nya muncrat kemana-mana.
Saking cepatnya tebasan Nadi, pria itu tidak sempat merasakan sakit saat tangannya sudah terpisah, tapi saat kesadarannya sudah mulai kembali, pria itu terkejut, karena Ia tidak bisa merasakan kepalan tangannya.
uaaarrrgghh!!!!"
bruk...! arggghhh!!" Pria itu menjerit kesakitan sampai terjatuh, rasa sakit yang teramat itu, mulai menjalar dari pergelangan nya menuju ke otak.
Butiran air mata mulai muncul dari sudut matanya, sambil memegangi tangannya itu, Dia meringis kesakitan, bahkan sampai seperti orang gila, karena syok yang dialaminya begitu berat.
Nadi yang melihat pria itu makin mengeraskan rengekannya, mulai menjadi kesal. Ia berpikir, kenapa Dia tidak menyerang balik kepada Nadi, kenapa Dia malah merengek sambil duduk di atas tanah.
Karena sudah tidak tahan melihat kelakuan orang itu, Nadi melangkahkan kakinya perlahan, mendekat ke arah pria itu.
slaaash!" Tebasan rapih terlihat jelas di guratan leher pria itu.
pluk.." Kini kepala pria itu sudah terpisah dengan tubuhnya.
Nadi sama sekali tidak memasang ekspresi apapun, Ia hanya bingung, kenapa mudah sekali membunuh orang itu.
Dan sedetik kemudian, Nadi pergi meninggalkan mayat pria itu, dengan wajah tanpa dosa.
Bruuk!" Tubuh pria itu terjungkal ke belakang.
...******...
Di Gang Kecil Pasar
Nadi berhasil masuk ke dalam kota itu, namun Ia tidak berani untuk melanjutkan langkahnya.
Nadi tidak berani melangkah, bukan karena Ia takut, tapi karena jijik melihat manusia-manusia yang begitu aneh di matanya, sampai-sampai, Ia menahan muntah di dalam tenggorokannya.
hwueeekks!!" Semakin dilihat, Semakin Nadi menjadi jijik, sehingga muntah yang Ia tahan dari tadi, akhirnya keluar.
Nadi masih dalam keadaan menunduk sekarang, karena tadi Dia muntah cukup banyak, dan saking banyaknya, muntah Nadi sampai muncrat kemana-mana, ya sampai mana-mana.
Bahkan sampai terkena sepatu orang yang bertubuh besar, yang kebetulan sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Heeyy!! Dasar Bocah!!"... Pria itu itu sangat marah, karena muntahan Nadi belepotan di sepatunya.
dziig!!".. Dia langsung menendang Nadi tepat ke arah perutnya yang masih keram, bahkan tanpa memberikan peringatan sama sekali.
bruakk!!" Nadi terpental jauh sampai menabrak tumpukan box yang berada di belakangnya.
cuih..! Dasar Bocah..!" Ucap Pria itu, lalu pergi tanpa menghiraukan Nadi, yang sedang menatap meremehkan dirinya.
Walaupun Nadi di tendang sampai terpental begitu, tapi Ia tidak kesakitan, bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, Ia tidak melawan, karena perutnya sedang keram.
Dan karena sekarang perutnya sudah kembali normal, Nadi berusaha untuk bangkit berdiri dari posisinya.
swussh...tap!.." Nadi melompat dalam posisi telentang di atas Box, lalu berdiri tegap tidak goyah.
Setelah berdiri, dengan cepat Nadi melangkah ke arah Si Pria itu pergi.
Nadi tidak kebingungan sama sekali untuk menemukan pria itu, malahan ini terlalu mudah baginya. Kenapa begitu? Ya karena pria itu memakai jaket wol berwarna hijau, berbeda dengan orang kebanyakan, yang hanya memakai kaos, atau jaket yang terbuat dari kulit.
endap..endap.." Nadi mengendap-endap mengikuti langkah pria itu pergi.
Dan sampailah Ia dirumah kayu, yang berukuran besar, lebih besar dari rumah orang lain di sekitarnya. Sebenarnya orang ini adalah Pemilik Kota ini, dan terlihat jelas dari Rumahnya yang berbeda sendiri.
Namun Nadi tidak tahu, bahwa orang yang akan di hadapinya itu kuat, Ia masih marah dengan kelakuan pria itu.
blam!!" Suara pintu rumah yang di tutup begitu kencang.
Suara itu berasal dari rumah Si Pemilik, Dia memang sengaja menutupnya dengan keras, agar orang di sekitar rumahnya tahu, bahwa Dia sedang berada di rumah.
Kenapa begitu? Karena Ia tidak ingin ada kebisingan di sekitar rumahnya, walaupun sebenarnya tidak akan sampai kedalam, karena saking besarnya.
Tap.." Nadi melompat ke dalam rumah, tapi beruntungnya, Nadi tidak disambut oleh siapapun, karena tidak ada siapa-siapa selain Si Pemilik yang tinggal disana.
Setelah masuk, Nadi sedikit terpesona dengan rumah itu, bagaimana tidak, rumah itu terbuat dari setumpuk kayu, yang Nadi pikir tidak ada gunanya, bahkan dahannya hanya bisa di pakai sekali untuk menusuk mati Hewan Ilusi.
Sambil melihat-lihat ke sekeliling, Nadi berjalan dengan santai, Nadi maju menyusuri rumah itu, sambil mencari keberadaan Si Pemilik. Nadi sudah menghabiskan waktu untuk berkeliling, sekitar 30 menit lamanya.
Akhirnya, pencariannya membuahkan hasil, Si Pemilik ternyata berada di kamarnya, Ia baru saja terlelap tadi. Nadi yang berpikir itu adalah kesempatannya, dengan cepat Ia berjalan masuk lewat jendela.
Tentu saja Si Pemilik mengetahui kehadiran Nadi, namun Ia memilih untuk berpura-pura tidur. Dan tepat saat Nadi akan menancapkan Belatinya, Si Pemilik bangun, lalu mengeluarkan Anugerah miliknya.
Anugerah Si Pemilik adalah Anugerah Penekan, Ia menekan Nadi dengan auranya saja, dan Anugerah ini, Dia dapatkan dari hasil gelagatnya sebagai preman yang selalu memberikan tekanan kepada orang lain.
Bruuk!!" Nadi terjatuh sampai memeluk lantai kayu itu.
Arggghh..! Arrgggh!!" Nadi menggeram kesal, karena Ia seperti di tarik dan di tahan dari atas dan bawah, tapi tidak sampai remuk.
"Cih,, kukira siapa, ternyata bocah yang tadi." Ucap Si Pemilik meremehkan Nadi.
Nadi mengabaikan ucapan Si Pemilik, karena Ia tidak mengerti ucapannya. Dan hanya fokus berusaha untuk mengangkat tubuhnya yang berat.
Tentu saja Si Pemilik marah dengan Nadi, karena Ia sama sekali tidak di tanggapi oleh Nadi. Lalu Ia mulai turun dari ranjangnya, dan berniat untuk menginjak Nadi sampai mati.
Tapi, saat Dia mendekat, pandangannya teralihkan kepada Belati Nadi yang terlihat indah, dan terbesit, keinginan untuk mengambil Belati itu, sebelum membunuh Nadi.
Tapi karena kecerobohannya, hari ini Dia harus mati di tangan Nadi.
__ADS_1
Swushhh..." Nadi melempar Belati miliknya, tepat ke arah wajah Si Pemilik yang sedang menunduk, untuk mengambil Belati miliknya.
Craaat!!" Belati itu menembus tebalnya tempurung kepala Si Pemilik.
Gedubrakk!!!" Si Pemilik kini sudah tersungkur dan mati.
Jika kalian berpikir hal ini tidak masuk akal, jawabannya memang benar begitu, tapi ketidakmasuk akalan ini, telah di tebas oleh Anugerah Belati milik Nadi, karena Anugerahnya adalah, Penembus segala.
Dan keistimewaannya, selain bisa menembus, Belati itu beratnya sangat ringan saat di pegang, jadi dalam kondisi seperti tadi, asal pergelangan dan jari-jarinya bisa di gerakan, Nadi bisa melemparkan Belati itu dengan mudah.
[Alasan Belati itu dapat memiliki Anugerah, bahas nanti aja, author belum nemu alasan lengkapnya 〜(꒪꒳꒪)〜]
Drap drap.." Nadi bangkit berdiri dari posisinya tadi, lalu berniat pergi meninggalkan mayat Si Pemilik, setelah mengambil Belati miliknya.
Seharusnya hal ini sudah selesai, saat Belati Nadi menembus kepala Si Pemilik, tapi sayangnya kenyataan tidak seindah itu.
Swuusshh... Braakk!!!!" Nadi yang sedang berjalan menuju pintu keluar, terkena lemparan tong arak tepat di punggungnya.
Ternyata Si Pemilik masih sadarkan diri, walaupun darahnya banyak berceceran di mana-mana, tapi Dia masih bisa mengerakan tubuhnya.
Nadi yang mengetahui musuhnya masih hidup, sangat terkejut, dalam hati Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa, orang itu masih hidup setelah terkena Belati miliknya tadi.
Tap, tap, tap, tap..." Si Pemilik berjalan perlahan ke arah Nadi, dengan tatapannya yang sudah buram itu, Si Pemilik bisa ambruk tidak lama lagi.
Nadi berusaha untuk berdiri kembali, dan berniat untuk menyerang balik Si Pemilik. Namun, saat Ia akan melangkah maju, aura penekan itu datang kembali, dan berhasil menahan langkah kakinya.
Tentu saja Nadi berniat untuk melemparkan Belati itu lagi, tapi sayangnya gerakan itu sudah dibaca oleh Si Pemilik.
Drap drap drap..." Si Pemilik berlari memutari tubuh Nadi, dan berhasil membuat Nadi kebingungan dibuatnya.
Grepp!!" Tubuh Nadi di genggam erat, lalu diangkat oleh Si Pemilik.
Arrrgghh...." Teriakan keras berasal dari Si Pemilik, lalu dengan cepat Ia memutar tubuh Nadi, dan menghempaskannya sampai melubangi dinding kamarnya.
Bruaaakk!!" Benturan itu terdengar sangat keras.
Nadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan ini terlalu hening, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari balik dinding itu.
Si Pemilik dengan wajah angkuh, Ia melangkah mendekat ke arah Nadi, berniat menuntaskannya, sebelum Ia tumbang karena kehabisan darah.
Tap, tap, tap..." Si Pemilik sudah sampai di depan puing kayu itu, lalu Ia berniat mencari Nadi yang tertimbun oleh puing kayu.
Namun, ini bukan saatnya untuk Nadi mati.
Slasssshhh!!!" Gerakan cepat keluar dari puing itu, dan meninggalkan jejak cipratan darah di sekitarnya.
Plukk,." Kepala Si Pemilik sudah terpisah dari tubuhnya, dan jatuh menggelinding ke arah kaki Nadi.
Darah segar mengalir dimana-mana, tubuh Si Pemilik tersangkut di celah lubang yang dibuat oleh Nadi tadi, sehingga darahnya bisa mengalir terus keluar dari lehernya.
Seberapa banyaknya pun Nadi meminum darah Hewan Ilusi, tapi jika dihadapkan dengan darah manusia, Nadi merasa mual dan jijik, apalagi darah dari orang seperti Si Pemilik.
Dengan raut wajah yang terukir jelas sangat puas itu, Nadi melangkahkan kakinya, lalu pergi keluar dari rumah itu.
...°°°°°°°°...
__ADS_1