PENCURI

PENCURI
11. Siapa


__ADS_3

Sinar mentari sudah menjulang tinggi, Nadi yang semula masih menutup matanya, perlahan terbangun oleh sinar mentari yang menusuk sudut matanya itu.


"Udah bangun!?" Ucap Gadis yang berhasil membuat Nadi pingsan.


Nadi yang tidak ingat kejadian tadi pagi, langsut terperanjat kaget setelah mendengar ucapan Gadis itu.


Nadi bangkit berdiri, lalu mencari letak Belatinya berada, saat sedang sibuk melihat ke kanan dan kiri, pandangannya terpaku ke satu hal, tidak lain tidak bukan, pada panci yang berisi sup dingin.


Tentu saja hati Nadi berniat untuk langsung mengambilnya, namun hal itu Ia tidak lakukan, karena melihat ekspresi Gadis itu, nampak seperti mengancam.


Nadi dan Gadis itu bertatapan sepersekian detik, Nadi bukan merasa takut kepada Gadis itu, melainkan merasa malu, karena mengambil makanannya, dan membuangnya karena tumpah.


Bahkan jika itu makanan Si Kucing, Nadi tidak akan berani menyentuhnya, karena Ia tahu, bahwa mencari makanan itu susah, apalagi makanan yang enak seperti pemberian Si Pedagang kemarin.


Karena Nadi sudah merasa tidak mood dengan makanan enak itu, Ia kembali mencari Belatinya, dan Belati itu ternyata berada di samping Gadis itu.


Nadi perlahan mendekat ke arah Gadis itu, lalu mengambil Belatinya. Gadis itu masih menatap tajam ke arah wajah Nadi yang sedang murung.


Setelah Nadi mengambil Belati miliknya, Ia pergi begitu saja, bahkan tanpa melirik sedikitpun ke arah Gadis itu.


Baru tiga langkah Nadi berjalan, terdengar suara gelak tawa dari arah belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Gadis itu yang menertawakannya.


Hahahahaah, lucu banget, hahaha..." Dia tertawa sampai terbahak bahak, bahkan tidak sekali Ia sembari meledek Nadi.


Ya, Nadi tentu tidak marah, karena Ia tidak tahu omongan Gadis itu, karena yang Ia mengerti hanya bahasa Hewan Ilusi.


Nadi menghiraukan Gadis itu yang masih menertawakannya, sambil berjalan goyah, Ia menghela nafas berat... Hahhh"


"Hei..!" Teriak Si Gadis memanggil Nadi.


Nadi menoleh ke arah belakangnya, karena Ia tahu, Si Gadis itu berteriak kepadanya.


Saat Nadi menoleh, Si Gadis nampak seperti menawarkan sup yang sudah Ia pisahkan di wadah yang terbuat dari daun.


Tentu Nadi mengerti maksud Gadis itu, dan dengan cepat, Ia berlari ke arahnya, lalu duduk di hadapan Gadis itu.


"Nih, jangan sampe tumpah." Ucap Gadis itu seraya memberikan supnya.


Tanpa menunggu lama lagi, Nadi langsung menyeruput sup itu, karena hampir 80% sup itu hanya air, sedangkan yang lainnya sudah hancur, karena di potong-potong kecil, jadi gak ada sesuatu untuk di gigit.


Slurrrrpp..." Dengan cepat Nadi menyeruput sup itu sampai habis, bahkan Si Gadis itu baru saja selesai mengambil bagiannya.

__ADS_1


Karena Nadi merasa belum cukup, Ia menyerahkan wadah itu kepada Si Gadis, berniat meminta tambah. Karena sup itu masih banyak, Gadis itu memberikan tambahan sup kepada Nadi, sampai sup yang berada di panci habis.


Raut wajah bahagia terukir jelas diwajah Nadi, namun Ia rasa itu masih kurang, karena itu baginya hanya minum air, bukan makan.


Tanpa berkata-kata, Nadi menyimpan wadah itu, lalu berlari meninggalkan Gadis itu. Si Gadis hanya melihat Nadi yang sedang berlari dengan tatapan biasa, karena Ia sudah sering memberi anak terlantar seperti Nadi.


Tanpa menghiraukan Nadi, Ia melanjutkan makannya dengan santai, menikmati satu suapan, demi suapan.


Sementara itu...


Nadi yang tadi berlari, bukan bermaksud untuk meninggalkan Si Gadis, tapi Ia berniat untuk mencari Hewan Ilusi.


Sekitar 15 menit Ia berlari kesana kemari, dan akhirnya Ia menemukan Harimau, Hewan Ilusi tingkat rendah. Dengan cepat dan tanpa ragu, Ia berlari ke arahnya, dan seketika kepala Si Harimau sudah terlepas dari tubuhnya.


Plukk..." Kepala Si Harimau menggelinding.


.


Kembali ke tempat Gadis itu.


Ia sekarang sudah menyelesaikan makannya, lalu membereskan semua barang bawaannya, dan memasukannya ke dalam tas yang berukuran sedang di pinggangnya.


Dan tepat saat Ia berdiri, dari kejauhan, terlihat Nadi yang sedang menggusur tubuh Harimau tanpa kepala.


.


Brukk!!" Nadi melempar tubuh Harimau yang memiliki berat 3x lipat dari tubuhnya dengan mudah.


Gadis itu tidak mengerti maksud Nadi, Dia hanya terdiam melihat Nadi dengan wajah polosnya yang sedang duduk di depannya.


"Kau mau memakan itu?" Tanya Si Gadis, namun Nadi tidak mengerti ucapannya, dan hanya diam seperti menunggu sesuatu.


"Kau, mau, makan, itu?" Ucap Si Gadis sambil menggerakan tangannya, memberikan isyarat kepada Nadi.


Nadi mengerti maksud Si Gadis, lalu Ia mengangguk mengiyakan ucapan Si Gadis.


Hahaha.."Dasar Kau..." Ucapnya sambil tertawa setelah Nadi menganggukan kepalanya.


"Jadi maksudmu ingin Aku memasakannya? Tapi sayangnya itu tidak bisa, karena kayu apinya sudah habis." Ucapnya sambil menunjuk ke arah tumpukan kayu yang sudah padam.


(Kayu api itu, seperti korek api)

__ADS_1


Nadi tidak mengerti maksudnya, dan memiringkan kepalanya bingung.


"Ini kayu ini gak ada apinya, jadi gak bisa masak.." Jelas Si Gadis sekali lagi, sabil mengambil satu bilah kayu yang habis terbakar.


Nadi yang semula tidak mengerti, sekarang menjadi paham maksudnya, karena Ia pernah melihat kayu seperti itu, saat Si Kucing tidak sengaja membakar batang pohon, saat sedang tidur di bawah pohon.


Karena tahu Si Gadis tidak bisa membuatkan makanannya seperti tadi, Ia menundukan kepalanya, Ia sangat kecewa.


"Sudah, sudah, jangan seperti itu." Ujar Si Gadis sambil mendekat ke arah Nadi. Lalu Ia mengulurkan tangannya kepada Nadi yang sedang menunduk.


Nadi tidak mengerti maksudnya, lalu Nadi mengangkat wajahnya, melihat ke arah wajah Si Gadis yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Kenalin, Aku Dinna, Kamu siapa?" Tanya Dinna, sambil meraih tangan Nadi, lalu membantunya berdiri.


"Namamu Siapa?" Tanyanya sekali lagi, tapi Nadi diam tidak menjawab.


"Dinna, Kamu Siapa? Aku Dinna.." Ucap Dinna perlahan, sambil menunjuk dirinya dan Nadi setelahnya.


"Din-na?" Ucap Nadi terbata-bata.


"Ya Dinna, Kamu?" Ucap Dinna. Namun Nadi tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke mayat Harimau yang tergeletak tidak jauh di depannya.


"Kita bawa dulu aja tubuhnya, lalu masak nanti jika sudah sampai di kota, sambil beli bahan-bahan yang lainnya." Ucap Dinna mengerti maksud Nadi, lalu Ia berjalan ke arah tubuh Si Harimau.


Dinna melakukan hal yang sangat mengejutkan bagi Nadi, karena Dinna hanya memasukan ekornya ke dalam tasnya, lalu Si Harimau tertarik masuk ke dalam tasnya.


Nadi dengan cepat mendekat ke arah Dinna, lalu melihat ke arah tas Dinna dengan ekspresi terkejut.


"Kau kaget ya? Haha ini barang bagus, bisa menyimpan barang-barang besar seperti itu, dan tidak akan membusuk lho, karena ini buatan pengrajin yang sangat ahli." Ucap Dinna bangga.


Tapi Nadi tidak memperhatikan Dinna yang sedang berbicara, Dia hanya fokus menatap tas Dinna, dan merasa bingung kemana perginya Si Harimau.


"Sudah, sudah, yuk balik ke kota." Ucap Dinna, lalu menarik tangannya dan berjalan ke arah kota.


Nadi menolak dengan ajakan Dinna itu, Ia menghempaskan pegangan Dinna, lalu Ia berjalan ke arah sebaliknya.


"Hey Kau mau kemana?" Tanya Dinna kepada Nadi, namun Nadi tidak menghiraukan panggilan Dinna itu, dan tetap berjalan.


"Hey tunggu, Aku ikut.." Teriak Dinna kepada Nadi yang sudah berjalan cukup jauh darinya.


"Sepertinya Kau suka bertualang ya, karena kemampuanmu seperti bukan amatir, Aku ikut ya." Ucap Dinna setelah berhasil menyusul langkah Nadi.

__ADS_1


Walau Nadi tidak menjawab, tapi Dinna tahu, bahwa Ia tidak keberatan jika Dia ikut dengan Nadi.


...°°°°°°°°°°...


__ADS_2