
Di bawah bintang yang bertaburan, Nadi Dinna dan Miko sedang tertidur lelap, di selimuti oleh kelamnya langit malam ini.
Sebenarnya Dinna dan Miko sudah berjaga sedari tadi, berniat menunggu Nadi sampai bangun. Tapi semakin lama di tunggu, semakin mengantuk pula tubuh mereka.
Dan akhirnya mereka berdua ikut tertidur di samping Nadi. Sebenarnya Nadi bukan pingsan karena bekas dari pertarungan dengan Adonis, tapi Nadi pingsan saat menerima Anugerahnya.
Bisa di bilang hal ini cukup langka, dan menandakan juga, bahwa Anugerah yang di terima orang itu cukup besar. Mungkin ini adalah keberuntungan baginya, tapi juga sekaligus awal dari ancaman besar yang akan datang.
...******...
Mansion Ju
Sesaat setelah Nadi menerima Anugerahnya, Aglaea merasakan datangnya pemilik Anugerah baru, apalagi Nadi sedang di wilayah kekuasaannya, jadi mudah saja bagi Aglaea untuk mengetahui hal itu.
Dan sesaat setelah hawa Anugerah Nadi menghilang, datang gumpalan asap hitam di hadapan Aglaea, gumpalan asap itu berasal dari kekuatannya Si Serigala.
Si Serigala datang dengan membawa Adonis yang sudah terkapar, namun masih bisa di selamatkan. Tapi karena Si Serigala membawanya langsung ke hadapan Aglaea.
Aglaea menjadi marah, karena selain Adonis gagal menjalankan perintahnya, Ia juga malah menunjukan wajahnya yang sekarat di hadapan Aglaea.
"Apa maksudmu membawa Dia kesini!?" Ucap Aglaea dengan nada marah.
"Maaf Ratu, Saya membawa Dia kesini bukan untuk meminta perawatan atau bantuan untuknya, tapi ini adalah permintaan terakhir Adonis, Ia tidak ingin mati di tangan orang itu, Ia ingin Anda langsung menghabisinya dengan tangan Anda sendiri." Ucap Si Serigala sambil menunduk.
"Hah?! Dasar, udah gak berguna, permintaannya banyak, emang Dia siapa, cepat bawa Dia keluar!" Perintah Aglaea.
"Tapi Ra.." Belum tuntas Si Serigala berbicara, Aglaea memancarakan aura kematian ke arahnya, sampai Ia tidak sanggup untuk berdiri tegak.
Brukk!" Si Serigala tertarik ke lantai karena tidak bisa menahan aura Aglaea.
"Oh Kau masih mau berada disini." Ucap Aglaea.
"Maaf." Lirih Si Serigala yang masih terbaring di lantai.
"Baiklah, tapi ada satu syarat yang harus Kau setujui." Ucap Aglaea tenang.
"Baiklah, akan Aku setujui syarat apapun itu." Jawab Si Serigala.
"Bagus, itu jawaban yang ingin kudengar. Syaratnya cukup sederhana, Kau harus ikut mati bersama orang tidak berguna itu." Ujar Aglaea sambil berdiri.
__ADS_1
Dan tidak lama setelah itu, muncul lingkaran putih bersinar di bawah tubuh Adonis juga Si Serigala, dan tidak lama, tubuh mereka meleleh meresap ke dalam lingkaran itu.
"Terima kasih." Gumam Si Serigala, namun masih terdengar oleh Aglaea.
"Ck, merepotkan." Ucap Aglaea, dan Dia langsung menghilang dari tempatnya, bersamaan dengan lenyapnya lingkaran putih itu.
.
Sebenarnya, bukan hanya di wilayah Aglaea aura Nadi terasa, melainkan sampai ke empat wilayah besar lainnya, walau cuman samar-samar, tapi mereka masih bisa merasakannya.
Tapi walaupun begitu, ke empat wilayah lainnya, tidak menganggap serius hawa itu, karena selain hampir tidak di rasakan oleh mereka, hawa itu juga tidak membawa ancaman.
Bahkan dengan mudahnya, mereka melupakan hawa itu di pagi selanjutnya. Tapi berbeda dengan Aglaea, Ia sebenarnya juga tidak ingin repot-repot untuk mendatangi Nadi.
Tapi karena Nadi sudah mencuri bunga dan membunuh Adonis, Ia menjadi penasaran dengannya, dan Ia pun memutuskan untuk mendatanginya nanti.
...******...
Dengan pucuk mentari yang baru terlihat, namun sinarnya sudah menusuk tepat ke arah mata Nadi, sampai Ia harus terbangun karena itu.
"Pagi?" Gumam Nadi, namun berhasil membangunkan Dinna.
"Gak." Jawab Dinna, lalu Ia meregangkan badannya sebelum berdiri.
"Saatnya makan, bukan waktunya tidur." Ujar Dinna lalu mengeluarkan satu kelinci besar berukuran normal.
"Walaupun kecil, tapi lumayan untuk sarapan." Ucap Dinna.
"Aku bantu." Ucap Nadi lalu berdiri perlahan.
"Gak usah."
"Biar cepat."
Dinna pun tidak menolak tawaran Nadi, karena memang dalam urusan memotong daging, Nadi lebih cepat daripada Dia.
"Oi Miko, bangun! Butuh api nih." Teriak Dinna.
Dengan sekejap Miko membuka matanya terkejut, namun tidak sampai kelamaan, Ia langsung berjalan ke arah Dinna, sambil meregangkan tubuhnya, Ia juga mulai memperbesar ukurannya.
__ADS_1
(Skip Masak dan Makan)
"Jadi, Kau tahu kekuatanmu apa?" Tanya Dinna.
"Entah." Jawab Nadi sambil memikirkan sesuatu di kepalanya.
"Tapi biasanya orang akan langsng tahu apa Anugerahnya, Miko pun kemarin langsung jago." Ucap Dinna.
"Entahlah."
"Kita mulai dari kebiasaanmu, karena Anugerah tidak jauh dari kebiasaan penggunanya, dan biasanya itu baru di dapatkan setelah latihan yang panjang."
"Kebiasaan?" Ucap Nadi bingung.
"Ya, mungkin berburu?" Ucap Dinna Ragu.
"Membunuh?" Jawab Nadi menambahkan.
"Makan?"
"Emang makan masuk?"
"Gak juga sih, mencuri mungkin, karena kebiasaanmu banyak, harus kita uji satu-satu nih."
"Gimana?"
"Gampang, biar Aku bantu, tapi pertama-pertama Kita harus ke Kota selanjutnya, dan kita lewat jalan hutan aja."
"Terserah, Aku ikut aja."
"Oke, ayo Miko, kita berangkat." Ucap Dinna sambil berdiri. Miko pun memperbesar ukuran tubuhnya, lalu Dinna dan Nadi menaiki punggung Miko.
"Kita lurus aja ke depan!" Teriak Dinna.
"Wreeeoong!!" Jawab Miko, lalu Ia berlari kencang, sampai-sampai Dinna dan Nadi akan terbawa oleh angin.
"Lebih cepat!!" Teriak Dinna yang tubuhnya sudah terangkat.
"Wreeooong!!"
__ADS_1
...°°°°°°°°°°...