
Druuarrr!!" Ledakan keras terdengar sampai jarak 1 km jauhnya.
"Kau harus mati Bi En!!!" Ucap seorang lelaki kurus memakai jubah layaknya seorang penyihir.
"Hei an***g jangan buat kekacauan di Toko Ku lah, kalau berani kita selesain ini diluar." Jawab Bi En, tubuhnya tidak terluka, bahkan bajunya tidak tergores.
Tapi kerusakan di sekitar Bi En sangat parah, kerusakan itu membentuk sebuah lingkaran mengelilingi Bi En, karena tadi Pria itu melancarkan serangan ledakan yang mengurung Bi En.
"Kau Siapa! Sampai-sampai semua pelangganku jadi korbannya!!" Teriak Bi En marah.
Bagaimana tidak, selain Tokonya yang berantakan, bahkan bisa di bilang hampir hancur seluruh bagian dalamnya, semua pelanggan di Toko itu terkapar di lantai, terkapar kurang cocok, tapi mati, ya mereka mati.
Darah berceceran dimana-mana, bagian tubuh pelanggan ada juga yang terpisah-pisah, entah bagaimana kejadian sebelumnya, bahkan Bi En pun tidak tahu.
Ya Bi En tidak tahu, karena Pria itu tiba-tiba datang dengan ledakan, dan membuat benda atau orang di sekitarnya berhamburan, lalu seketika Pria itu menahan Bi En di gelembung ledakan.
"Kau tidak ingat siapa Aku? Hah.. Dasar J***g!" Olok Pria itu.
"Sudah cukup, Kau berhasil memancing amarahku, hari ini adalah hari kematianmu bre***k!!!" Ucap Bi En sambil berjalan perlahan mendekat ke arah Pria itu.
"Jangan mendekat, atau Kau akan mati!!" Ancam Pria itu ketakutan, bahkan sangat takut, sampai sampai Ia harus mundur beberapa langkah.
Brakk!! "Bi En!?" Teriak Dinna setelah membuka pintu yang masih tertutup.
Ruangan Dinna berada tadi sebenarnya tidak jauh, karena cuman berjarak 10 meter dari pintu Toko, tapi karena ledakan terakhir yang sangat keras, itu membuat Dinna, Nadi dan Miko berdiam di tempat sambil menutup telinganya.
Melihat Dinna yang sedang berdiri di depan pintu, Pria itu tersenyum picik, Ia tidak melihat Bi En yang tinggal 3 langkah lagi sampai kepadanya.
Dan tepat saat 1 langkah lagi Bi En sampai ke arah pria itu, tiba-tiba sekumpulan debu bekas ledakan yang dibuatnya tadi, berkumpul semua menjadi bola bola kecil.
Bi En tentu tidak peduli dengan bola itu, lalu berniat untuk memukul Pria itu, tapi...
Druaar!!" Bola bola kecil itu meledak ke arah Dinna.
Arrhhh!!" Teriak Dinna yang terpental jauh.
Seketika itu pula, Bi En yang tinggal sedikit lagi mengenai wajah Pria itu, menghentikan serangannya, lalu melihat ke arah teriakan Dinna.
Duaghh!!" Bi En di tendang oleh Pria kurus itu.
__ADS_1
Tentunya tendangan itu tidak ada efeknya kepada Bi En, tapi karena Anugerah yang dimiliki oleh Pria itu adalah ledakan, Ia mengumpulkan semua kekuatannya di bawah kaki yang menempel dengan perut Bi En.
Druaar!!" Ledakan itu sangat keras, bahkan sampai mementalkan Bi En.
Bruakk!!" Bi En menabrak dinding di belakangnya sampai berlubang.
"Hihihi... Akhirnya Aku dapat membalas penghinaan yang Kau berikan Bi En!! Hahahahahah!!" Tawa Pria itu nampak puas, Ia sangat menikmati momen saat Bi En terpental jauh.
.
Sementara itu, Dinna yang tadi terkena ledakan, sedang terkapar pingsan, sedangkan Nadi berhasil dilindungi oleh Miko, dan sekarang Miko sedang menderita luka parah akibat ledakan itu.
Melihat Dinna dan Miko yang tidak sadarkan diri, Nadi menjadi murka, Ia menggenggam erat Belatinya, lalu berjalan ke arah pintu yang sudah hancur lebur, bahkan sampai tembok-temboknya ikur hancur.
Terlihat di dalam ruangan yang sudah hancur itu, seorang Pria yang sedang tertawa lepas, sementara seorang lagi sedang berusaha untuk berdiri, dibawah reruntuhan tembok.
Orang itu adalah Bi En, memang lukanya tidak patal, tapi Ia kesulitan berdiri karena Pria itu memasang ledakan di bawah kakinya, yang siap meledak jika Bi En menapakkan kakinya di lantai.
Errrgggghh!!!" Erangan Nadi mengancam.
Bi En dan Pria itu melihat Nadi yang sedang berjalan dengan tatapan sangat marah.
"Hei jangan masuk kesini! Bahaya! Cepat pergi keluar!!" Teriak Bi En, menyuruh Nadi untuk segera pergi.
"Hei Bocah, Kau juga mau mati?!" Ujar Pria itu.
"Rasakan ini!" Pria itu mengumpulkan debu di ujung telapak tangannya, lalu membentuk sebuah gumpalan energi besar, sebesar tubuh Nadi.
Swushhh!!" Bola itu dilemparkan begitu saja ke arah Nadi.
Tentu mudah saja Nadi menghindari bola itu, sebelum bola itu mengenai tubuhnya, Nadi membungkukkan tubuhnya, lalu berlari ke arah samping, dan dengan cepat Ia sampai di belakang Pria itu.
"Ko bisa?!" Pria itu terkejut dengan kehadiran Nadi yang tepat di belakangnya.
Druaarr!!" Bola itu menyentuh lantai dengan ledakan keras.
Dan saat ledakan itu berakhir.
Pluk... Glindig glinding..." Kepala Pria itu terjatuh dan menggelinding melewati kaki Nadi.
__ADS_1
Cuuurr...." Muncratan darah segar masih keluar deras dari bekas tebasan rapih yang terukir di leher pria itu.
Bahkan darah itu sampai membasahi wajah Nadi, tidak, tapi seluruh tubuhnya penuh dilumuri oleh darah, karena Nadi sedang menggenggam kerah baju Pria itu, dan tepat berada di bawahnya.
Bi En yang sedang melihat Nadi merinding takut, Ia tidak percaya, seorang anak kecil berusia 10 tahun, dengan mudahnya membunuh, bahkan tanpa ekspresi yang terukir di wajahnya.
Bruk!!" Nadi melempar tubuh Pria itu, lalu berjalan ke arah keluar, ketempat Dinna dan Miko sedang terkapar pingsan.
Sesampainya disana, Nadi langsung mengangkat tubuh Dinna, lalu melemparnya ke atas pundak kecilnya itu, dan tidak lupa dengan Miko.
Nadi memeluk erat tubuhnya, dengan tangan kanannya, tubuh Miko sebenarnya sangat berat, tapi Nadi sudah terbiasa mengangkat mayat Hewan Ilusi yang lebih berat dari Miko.
Setelah itu, Nadi berjalan ke arah pintu gerbang Kota Note, berniat untuk kembali ke Hutan.
"Tunggu!!" Saut Bi En yang mengejar Nadi.
Tentu saja Nadi tetap berjalan tanpa menoleh, karena Ia tidak tahu Bi En sedang memanggilnya.
Drap drap drap." Bi En berlari mengejar Nadi, lalu mendahuluinya.
"Bawa Dia ke kamar, biar Aku obati Dia disana." Ucap Bi En. Tapi Bi En tidak tahu, bahwa Nadi tidak mengerti ucapannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Bi En kepada Nadi, karena Ia malah melewati Bi En begitu saja, bahkan tanpa menjawabnya.
Tap!" Bi En menyentuh pundak kanan Nadi, berniat untuk menghentikannya.
Errgghh!!" Nadi menggeram marah kepada Bi En, dan menatap tajam mengancam kepadanya.
"Maaf maaf." Ucap Bi En sambil mengangkat kedua tangannya.
Euh..." Gumam Dinna kecil, Ia perlahan membuka matanya sadar.
"Turunkan Aku." Ucap Dinna sambil menepuk pundak Nadi.
Nadi mengerti Dinna sudah bangun, lalu menurunkannya perlahan dari pundaknya itu.
"Ada apa?" Tanya Dinna merasa bingung.
"Syukurlah Kau sudah sadar." Ucap Bi En, lalu memeluk Dinna yang sedang menggaruk kepalanya gatal.
__ADS_1
"Hiks, syukurlah, maaf itu salah Bibi." Rengek Bi En di pelukan Dinna.
...°°°°°°°°...