
Kota Ujung
Setelah pagi yang aneh tadi, sekarang Nadi, Dinna, dan Miko sampai di Kota Ujung, kenapa di namai Kota Ujung, karena Kota ini adalah Kota terakhir di wilayah Ju.
Kota yang tidak jauh dari perbatasan, dan Kota ini menjadi jalur untuk para pelancong, petualang, bandit, ataupun pedagang.
Sebenarnya, dulu ini adalah Kota yang makmur, tapi sewaktu Pemilik disini terbunuh, semua warga di Kota ini mendadak miskin semua, dan karena itu, pemandangan di Kota ini sungguh tidak mengenakkan.
Banyaknya Tunawisma di mana-mana, para pedagang berjualan dengan harga selangit, pencurian, penyiksaan, bahkan pemerkosaan kerap di lakukan di jalan utama.
Banyak anak terlantar yang tinggal terbungkus oleh kulit saja, sedang berkubang di lumpur yang penuh balutan sampah, sungguh tragis, Kota yang seharusnya indah, sekarang menjadi Kota terburuk.
Tentu saja Nadi dan Dinna tidak peduli dengan keadaan Kota ini, mereka malah senang-senang saja, karena adanya target mudah yang akan mereka rampok sekarang.
Ya, mereka merampok, mungkin kata rampok kurang tepat, tapi mereka mencuri, tentunya bukan mencuri ke warga sekitar, karena apa yang mau di curi, kehidupan mereka aja sangat susah.
Target utama mereka yaitu Si Pemilik, sama seperti sebelum-sebelumnya, untuk bertahan hidup, mereka selalu mencuri di Rumah Si Pemilik, namun karena Si Pemilik sering melawan.
Jadi pencurian ini berubah menjadi perampokan, karena selain harta benda, mereka juga membunuh orang yang memiliki harta itu, dan tidak sekali, Nadi juga mengambil kepala Si Pemilik.
Bukan untuk di jadikan koleksi, tapi untuk dijadikan pajangan di luar Mansionnya, biasanya Nadi akan gantungkan kepala itu di ujung pagar besi pembatas, kalau tidak ada, tinggal di gantungkan saja di depan pintu.
Dan karena itu juga, Nadi menjadi memiliki Anugerah, dan Anugerah itu sebenarnya belum memiliki nama, karena Nadi belum tahu, alasan sebenarnya Ia memiliki Anugerah.
"Ayo!" Ajak Dinna kepada Nadi yang sedang menahan muntah.
Walau sudah lama Nadi melihat pemandangan seperti ini, tapi rasanya pemandangan itu tetap membuat dirinya merasa jijik.
__ADS_1
"Mereka lebih rendah daripada binatang. Hwekk...." Ujar Nadi, lalu akhirnya jackpot.
"Adduh... Nih minum dulu." Ucap Dinna lalu memberikan sekantung air.
"Makasih..." Ucap Nadi dengan wajah pucatnya.
"Miko, bisa Kau cari Rumah Si Pemilik, dan lihat juga, apa Dia ada disana sekarang." Perintah Nadi terbata-bata, kepada Miko yang sedang berada di pundaknya.
Setelah mendapat perintah dari Nadi, Miko langsung melompat dari pundak Nadi, menuju ke atas genteng rumah.
"Kamu emang lemah jika melihat hal seperti ini." Ujar Dinna, lalu Ia membopong Nadi yang seakan mau pingsan sebentar lagi.
Namun Nadi tidak menjawab, Ia sekarang sedang fokus menahan rasa mual di tenggorokannya.
Saat mereka baru melangkah, belum jauh dari tempat tadi, tiba-tiba muncul seseorang dengan tubuh besar menghadang jalan mereka.
"Oi manis, boleh, kenalan?" Ucap Pria itu dengan tatapan mesum ke arah tubuh Dinna.
Tangan besarnya siap menangkap pundak Dinna, namun sayangnya itu adalah hal bodoh yang di lakukan Si Pria Besar.
Grepp!!" Tubuh Pria itu sekarang terlilit oleh tanah liat yang menggeliat, sampai akhirnya Pria itu berubah menjadi patung hidup.
"Jangan berlebihan." Ucap Dinna, namun Nadi tidak menjawabnya.
Tap!" Miko datang kembali, sekarang Ia hinggap di pundak Dinna dengan tubuh kecilnya.
Dan tanpa berlama-lama, Miko pun memberitahu letak Mansion Si Pemilik kepada Nadi.
__ADS_1
"Oke, terima kasih." Ucap Nadi lemas.
"Ikuti aja petunjuk yang Aku buat." Lanjut Nadi kepada Dinna.
"Baik." Jawab Dinna setelah melihat boneka tanah yang berjalan di depannya.
.
Mansion Pemilik
"Ternyata sedekat ini... Hahh..." Ucap Dinna sambil menghela nafas berat.
"Ayo langsung masuk aja." Ucap Nadi sambil melepaskan dirinya dari Dinna.
Gedubrak!!" Nadi jatuh tersungkur.
"Ish, bodoh!" Ujar Dinna, lalu Ia membantu Nadi untuk berdiri kembali.
"Hehe, maaf." Ucap Nadi tertawa kecil.
"Miko..." Saut Dinna, lalu Miko turun dari pundaknya.
"Berubahlah jadi besar." Perintah Dinna, dan Miko mengerti kata besar itu, karena sudah di ajari oleh Nadi.
Miko pun mengubah tubuhnya menjadi besar, sekitar 7 meter Ia berubah, setelah itu, Dinna menaikkan Nadi yang sedang lemas tidak berdaya itu.
"Ayo!" Ajak Dinna, lalu Ia berjalan mendahului Miko.
__ADS_1
Bruakk!!" Dinna menendang pintu Mansion itu keras.
...°°°°°°°°°...