
Pagi telah datang, sinarnya yang hangat telah menembus jendela kosong tanpa tirai, dan membangunkan dua sejoli yang sedang tertidur lelap.
Nadi dan Dinna kini sudah terbangun, dan mereka sedang meregangkan tubuhnya secara bersamaan, namun setelah selesai meregangkan tubuhnya.
Tanpa sengaja pandangan mereka saling bertemu, ya tentu mudah untuk saling menatap, karena mereka tidur secara bersebrangan.
Wajah dingin Nadi yang baru bangun tidur, terasa sangat mempesona bagi Dinna, dan tanpa Ia ketahui, wajahnya menjadi memerah, bukan karena malu, tapi karena rasa yang Ia sendiri tidak tahu.
Sedangkan Nadi saat melihat melihat Dinna, Dia menjadi teringat, dengan saat Ia bertemu pertama kalinya dengan Dinna, Ia dengan ceroboh menumpahkan makanannya, lalu bertarung namun berakhir kalah.
Dan ingatan itu membuat Nadi menunduk malu, berkat pengetahuan dari Bi En, Ia tahu soal rasa malu, rasa sayang, atau kemarahan.
Dan itu semua, sebenarnya bukanlah emosi yang di perlukan bagi Nadi, ya setidaknya untuk sekarang, tapi karena emosi-emosi semacam itulah, petualangan Nadi yang sebenarnya, akan dimulai dari sekarang.
Brak!" Bi En membuka pintu dengan keras, sampai membangunkan Miko yang masih tertidur pulas.
"Yo bocah! Sudah bangun rupanya kalian, saatnya kalian segera pergi dari sini, Aku mau mulai merenovasi tempat ini sekarang!" Ujar Bi En setengah teriak.
"Baik Bi." Jawab Nadi, lalu Ia turun dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah Miko.
"Aku mau tetap disini dulu Bi, ada yang Aku inginkan, mungkin beberapa hari lagi Aku akan pergi." Ucap Dinna dengan tatapan serius.
Nadi yang sedang merapihkan bulu Miko, menjadi terhenti setelah mendengar ucapan Dinna, karena yang Ia tahu, Dinna itu selalu bersemangat untuk berpetualang, tapi sekarang Ia bilang akan menetap.
"Mau apa?" Tanya Bi En juga serius.
"Aku ingin minta latihan darimu lagi Bi, Aku ingin mengalahkan Si Pemilik." Jawab Dinna.
"Tidak, Kau tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu, sekarang Kau rapihkan dirimu, lalu pergi dari sini." Ucap Bi En lalu berbalik pergi dari ruangan itu.
"Tunggu Bi, Aku mohon! Hanya ini satu-satunya caraku membalas budi." Saut Dinna sambil mengejar Bi En.
"Kau tidak perlu pikirkan itu, Kau sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri." Ucap Bi En tanpa melihat ke arah Dinna, namun masih tetap melangkah pergi.
"Justru karena itu Bi, Aku sangat sayang keluargaku, Aku sangat sayang Bibi, tolong, Aku ingin melindungi keluargaku Bi, Aku tidak ingin kehilangan lagi." Ucap Dinna, serta diiringi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Dinna adalah anak yatim piatu, karena keluarganya telah di bunuh oleh seseorang, dengan mengirimkan Hewan Ilusi tingkat menengah tahap 3.
Dan saat itu, Bi En datang, Dia menolong keluarga Dinna, namun telah terlambat, dan yang tersisa hanya Dinna yang sedang terduduk ketakutan setengah mati.
__ADS_1
Bi En setelah mendengar ucapan Dinna, Ia menghentikan langkah kakinya, lalu berjalan, kembali ke arah Dinna.
Tap! "Kau tidak perlu memikirkan itu, Bibi kuat, tenang saja, Bibi akan melindungi semuanya." Ucap Bi En sambil memeluk Dinna yang sedang menangis sambil menutup matanya.
"Tapi Bi, kata Bibi Dia terlalu kuat, jadi setidaknya biar Aku yang melindungi anak-anak dan warga disini." Ucap Dinna.
"Ada apa ini?" Potong Nadi ikut dalam pembicaraan.
Drama pagi ini berhenti setelah Nadi ikut dalam obrolan, bukannya berhenti sih, tapi mereka melanjutkannya di dalam ruangan.
"Jadi Bi En bisa memberikan kekuatan juga?" Ucap Nadi takjub.
"Bukan memberi secara langsung kekuatan, tapi cuman pengetahuan dan pengalaman yang Bibi berikan, sisanya kalian harus berlatih sesuai pengetahuan itu." Jawab Bi En.
"Kalau gitu Aku ikut Bi, kalau soal pertarungan, Aku sudah memiliki banyak pengalaman."
"Tidak bisa."
"Gak, pokoknya Aku tetap ikut!" Tegas Nadi.
"Baik baik, kalian memang keras kepala. Haahh..." Bi En mengalah kepada Nadi dan Dinna.
"Ayo kita mulai sekarang!!" Teriak Dinna sambil berdiri di atas kasurnya.
"Sebelum itu, Kau rapihkan dulu rambut dan bajumu." Ucap Bi En santai.
Setelah mendengar perkataan Bi En, Dinna baru sadar, Ia melihat bajunya sedang tidak beraturan, bahkan rambutnya masih acak-acakan, seketika itu Dinna langsung bersujud malu.
"Tak apa, Kau tetap imut ko." Saut Nadi.
Dan itu membuat Dinna bahkan Bi En terkejut. Memang Bi En yang memberikan pengetahuan itu, tapi menurutnya, ini tidak terduga.
Sedangkan Dinna, Ia yang tadinya sedang menunduk malu, bertambah malu setelah mendengar ucapan Nadi. Mungkin, malu kurang tepat, tapi senang, ya Dinna senang dengan ucapan Nadi.
Sejenak, Nadi merasa bingung dengan tingkah Bi En dan Dinna, tapi Ia tidak menghiraukan itu lebih lama, Ia langsung mengambil Belatinya di meja disampingnya.
"Kapan Kita mulai?" Tanya Nadi.
"7 hari lagi dari sekarang. Sebelumnya Aku akan berikan kalian latihan dulu, agar tidak mudah mati nantinya." Ucap Bi En sambil beranjak pergi keluar.
__ADS_1
"Tunggu dulu disini." Ucap Bi En, lalu meninggalkan Nadi dan Dinna berdua di ruangan itu. Tidak, masih ada Miko disana, jadi bertiga (~‾▿‾)~
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Nadi bingung, karena melihat Dinna masih dalam posisinya.
"Tidak! Jangan lihat kesini!" Teriak Dinna.
Nadi masih belum mengerti tentang hal yang di lakukan Dinna itu, dengan raut wajah bingung, Ia membaringkan tubuhnya di samping Miko, lalu memeluknya erat.
...******...
3 jam berlalu...
Bi En akhirnya kembali ke ruangan itu, tapi setelah Ia masuk, Bi En melihat pemandangan tak terduga, di dalam ruangan itu, Nadi dan Dinna sedang tertidur lelap dengan tenang.
"Ish, membosankan. Hei kalian! Bangun!!" Teriak Bi En membangunkan mereka bertiga.
Swush.."
Swushh.."
Bi En melemparkan bungkusan kepada Nadi dan Dinna, dengan raut wajah masih mengantuk, karena nyawa mereka belum terkumpul, mereka membuka bungkusan itu perlahan.
Dan saat membukanya, Mereka berdua terpesona dengan isi di dalam bungkusan itu. Bungkusan Nadi berisi Sweater merah baru dan Sarung Belati.
Sedangkan bungkusan Dinna berisi satu buah Anting bulat berwarna perak, Hoodie berwarna hitam polos dan Belati berukuran normal.
Sweater dan Hoodie itu memiliki kemampuan special, salah satunya memiliki ketahanan terhadap serangan fisik, sedangkan satu buah anting itu, memiliki kemampuan untuk telepati.
Walaupun tidak sepasang, tapi anting itu sangat berguna. Dan Bi En memberikan Sweater itu pada Nadi, karena Sweater merah yang Ia pakai, sudah sangat lusuh, bahkan warnanya sudah berubah.
Sedangkan Dinna, Bi En sengaja memberikan perlindungan lebih padanya, padahal Dinna juga sudah memakai satu set pakaian pemberiannya dulu, walaupun hanya pakaian yang seperti petualang pada umumnya.
"Sebelum kalian pakai benda-benda itu, Aku akan memberikan satu hal lagi." Ucap Bi En sambil mendekat ke arah Nadi.
Ya Bi En memberikan pengetahuannya tentang cara bertarung, dan cara meningkatkan diri, dan kali ini Bi En memberikan semuanya, baik pada Nadi, atau Dinna.
Dinna walaupun hanya satu jenis beladiri yang di berikan kepadanya, tapi Ia sudah bisa dibilang sangat kuat, tapi Bi En rasa itu belum cukup, jadi ia memberikan lagi semua pengetahuannya pada Dinna.
...******...
__ADS_1
7 hari telah terlewati, kini Dinna dan Nadi sudah sangat siap untuk bertarung.