
Hutan Kecil Ers
"Jadi, ada apa disini? Khuweeekk..." Ucap Nadi terbata-bata, dan kemudian Ia muntah.
"Kita uji kebiasaanmu disini." Jawab Dinna sambil melihat-lihat ke sekeliling.
"Euugghh... Istirahat dulu ya.." Lirih Nadi lemas.
"Kenapa Kau jadi payah gitu? Bahkan kecepatan itu lebih pelan daripada biasanya, iyakan Miko." Ucap Dinna sambil melirik ke arah Miko.
"Wreeong?" Jawab Miko tidak mengerti.
"Entah, anehnya tubuhku sangat lelah. Hbb, wrueekk.."
"Ish, yasudah, Kau tunggu disini. Ayo Miko!" Saut Dinna kepada Miko.
Dinna dan Miko sekarang pergi meninggalkan Nadi sendirian, bukannya mereka tidak cemas atau apa, tapi ini sebagai bentuk ujian untuk mengetahui Anugerah Nadi.
.
"Miko, Kau cari Hewan Ilusi yang berukuran besar, mau tingkat apa pun itu." Perintah Dinna, dan dengan cepat Miko pergi dari hadapan Dinna.
Dinna sekarang sedang menunggu Miko untuk kembali, Ia tidak ikut mencari, karena sebenarnya Ia sedang mengawasi daerah sekitar, takutnya ada seseorang yang mengincar nyawa Nadi.
15 menit berlalu, Miko sudah kembali ke tempat Dinna menunggu tadi. Di mulutnya, kini terdapat satu ekor Singa Putih berukuran 7 meter, tentunya dalam keadaan mati.
"Bagus juga tangkapanmu, ayo Kita kembali." Ucap Dinna, lalu Ia melompat menaiki punggung Miko.
Setelah naik, Miko pun berlari dengan cepat ke tempat Nadi menunggu, bahkan tidak sampai menempuh waktu 1 menit untuk Miko sampai ke tempat Nadi.
Sesampainya disana, Dinna dan Miko terkejut, karena mereka tidak melihat Nadi di manapun, bahkan Miko sampai berkeliling 2 putaran mengelilingi daerah itu.
Tentu saja Dinna sangat khawatir, walau tidak terlalu menunjukan kekhawatirannya, tapi sekarang pikiran Dinna sedang bercampur aduk.
__ADS_1
"Ayo cari sekali lagi." Pinta Dinna kepada Miko.
Saat Miko akan berlari, tiba-tiba dengan sekejap mata, Seseorang melompat dan duduk di belakang Dinna, dan Dia duduk bersamaan dengan Miko yang langsung berlari.
Tentu Dinna sangat terkejut, bahkan Ia langsung melepaskan pegangannya, sampai Dinna dan orang itu terpental jatuh kebelakang.
Miko pun dengan cepat menghentikan langkahnya, lalu berbalik, dan menyusul ke tempat Dinna terjatuh, sesampainya disana, Miko menyaksikan Dinna sedang bertarung dengan orang yang memakai tudung.
Ya orang itu memakai tudung coklat, dan bertarung dengan tangan kosong, tentu Dinna sangat amat marah, karena Ia menduga, bahwa Nadi telah di sembunyikan oleh orang itu.
"Siapa Kau?!" Tanya Dinna marah.
Namun orang itu tidak menjawab, dan karena Dia memakai tudung, jadi mimik mukanya pun tidak terlihat sama sekali.
"Sudah cukup main-mainnya! Jika memang Kau serius ingin mati, maka akan ku kabulkan!!" Ujar Dinna, lalu Ia berlari secepat kilat, bahkan sampai terlihat debu tanah yang terhempas oleh hentakan kakinya.
Namun, seberapa kuatnya pun Dinna mencoba, orang itu berhasil mengimbanginya, tentu Dinna saat itu belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.
"Sepertinya Aku meremehkanmu." Seringai Dinna.
"Sudah kuduga, apa maksudnya?!" Ucap Dinna marah.
"Hehe, maaf, tadi cuman mengetes kekuatanku, kan katamu Anugerahku berkaitan dengan kebiasaan, jadi Aku coba untuk bertarung." Senyum tipis Nadi pancarkan.
Ya, orang itu ternyata Nadi, Ia sengaja menyamar untuk mengetes kemampuan bertarungnya.
"Pantas aja Miko gak bergerak, dasar!!" Ucap Dinna kesal, Ia sebenarnya tahu saat pertama kali melayangkan tinju pada Nadi, apalagi saat Miko datang Ia tidak langsung membantu.
Namun Dinna juga sengaja, karena Ia ingin mengetahui kekuatan Nadi sekarang.
"Yasudah, jadi untuk apa Singa itu?" Tanya Nadi tidak memperdulikan Dinna yang sedang merajuk.
"Ya untuk menguji keterampilanmu bodoh!" Jawab Dinna ketus.
__ADS_1
"Hmmm, oke." Ucap Nadi.
"Karena kebiasaanmu juga selalu memotong hewan buruanmu, jadi Kita uji keterampilan Belatimu." Ucap Dinna.
Lalu tanpa menunggu lama lagi, setelah Miko menaruh Singa itu di atas tanah, Nadi langsung menyembelih Singa itu, dan membagi-bagi bagian tubuhnya dengan cepat.
"Tidak ada perubahan, atau mungkin harus Kau yang langsung memburu?" Ucap Dinna.
"Oke, sekarang Kita cari Hewan buruan untukmu." Ucap Dinna, lalu membereskan potongan daging itu, dan memasukannya ke dalam tas.
Dan Nadi pun mengikutinya dari belakang, seharusnya sih dari awal Nadi langsung memburu, tapi karena tadi Ia pura-pura lemas, jadi rencana itu Dinna batalkan.
Sekitar 15 menit mereka menyusuri hutan, namun belum juga ada Hewan Ilusi yang menampakan dirinya.
"Sebaiknya Kita cari sambil menaiki Miko, biar lebih cepat." Ucap Nadi.
Tanpa menjawab, Dinna sebenarnya dari tadi sudah menaiki punggung Miko, dan tersisa Nadi yang masih di bawah, dan Nadi tidak menyadari, bahwa dari awal, Ia berbicara sendirian.
Hupla.. "Kenapa gak bilang?" Tanya Nadi setelah ikut naik.
"Emang harus?" Jawab Dinna.
"Gak juga, ayo cari sekarang." Ucap Nadi.
Miko pun berlari dengan cepat melewati pohon satu dan pohon lainnya, dan sampailah Ia di depan air terjun, dengan air sungai yang mengalir deras, di samping air terjun itu, nampak seekor ular piton raksasa sedang tertidur.
"Sepertinya itu mangsamu." Ujar Dinna.
"Baiklah." Jawab Nadi, lalu Ia turun dari atas punggung Miko, dan mulai berjalan perlahan ke arah air terjun itu.
"Kalo bisa jangan gunakan Belatimu!" Teriak Dinna.
Nadi hanya melambaikan tangannya kebelakang, memberi isyarat kepada Dinna. Sebenarnya Nadi bisa saja berlari, karena ular itu tidak akan mendengar langkah kakinya.
__ADS_1
Buktinya saja, teriakan Dinna tadi tidak di hiraukan oleh ular itu, apalagi langkah kaki Nadi, tapi Nadi memutuskan untuk berjalan perlahan, bukan tanpa maksud, Ia sebenarnya sedang memikirkan cara untuk membunuh ular itu dengan tangan kosong.
...°°°°°°°°...