
Brukk.." Dinna dengan cepat memeluk erat Nadi.
"Sudah, sekarang Kau bisa istirahat." Ucap Dinna lembut.
Nadi yang dari tadi masih dalam keadaan terkejut, tiba-tiba kembali menjadi tenang.
"Haahhh... Aku lelah..." Keluh Nadi sambil membenamkan wajahnya di pelukan Dinna.
...******...
Ruang Makan
Kini Dinna, Nadi, dan Miko sedang berada di dapur Mansion itu, mereka masih berada disana cuman untuk satu hal, yaitu makan.
"Emmmm..." Gumam Nadi sambil bangun dari tidurnya.
"Oh, Kau sudah bangun?"
"Ya, maaf merepotkanmu."
"Tenang aja, kemari, kita makan dulu." Ajak Dinna sambil menaruh piring berisi makanan dan menyusunnya.
Nadi pun menuruti ucapan Dinna langsung, dan Dia duduk di kursi meja makan itu.
(Skip Makan)
"Jadi, apa yang terjadi tadi?" Tanya Dinna seusai makan.
"Entah, ingatanku sedikit samar setelah melemparkan Belatiku." Jawab Nadi sambil memegang keningnya berpikir.
"Sedikitpun gak ingat?" Tanya Dinna memastikan.
"Ya."
"Saat Aku masuk ke dalam ruangan itu, Aku melihat Cahaya Anugerah terpancar masuk ke dalam dirimu, apa itu juga Kau tidak ingat?"
__ADS_1
"Ada kejadian seperti itu?" Tanya Nadi sedikit terkejut.
"Ya."
"Aku sama sekali nggak ingat, karena yang kuingat terakhir adalah saat Kau memelukku." Lanjut Nadi sambil memijat pelipisnya.
"Sayang banget." Ucap Dinna sambip bersandar kecewa di kursinya.
Mendengar perbincangan Nadi dan Dinna sudah berhenti, Miko langsung mendekat, dan duduk di atas pangkuan Nadi.
"Oiya, Kau kan ada disana, seharusnya Kau tahu apa saja yang terjadi." Ucap Nadi yakin.
"Wreong?" Ucap Miko sambil sedikit memiringkan kepalanya.
Lalu Nadi pun menjelaskan semua situasinya pada Miko, tentunya dalam bahasa Hewan Ilusi, sebenarnya dulu Miko pernah di ajari bahasa manusia, tapi entah kenapa malah tidak pernah berhasil.
Dan berkat penjelasan itu, Miko pun menjelaskan kejadian saat Ia terbebas dari kalung pengekang Si Pak Tua.
Butuh sekitar 4 menit untuk Miko bercerita, dan akhirnya Nadi mengetahui semua hal yang Ia lupakan, dari saat Ia menggila, dan muncul cahaya Anugerah baru.
"Terima kasih kawan." Ucap Nadi kepada Miko sambil mengelus ujung kepalanya.
"Aku ingat sekarang, dan sepertinya Aku tahu Anugerah apa yang kumiliki, tapi sekarang Aku ingin mencoba Anugerah baru ini dulu." Ucap Nadi sambil melihat kedua telapak tangannya.
.
Dan sekitar setengah hari telah berlalu, akhirnya Nadi dapat mengetahui Anugerah milik Si Pak Tua dan untuk mengetahuinya, tentu saja banyak hal yang harus Dia lewati tadi.
Apalagi Ia dari awal tidak mengetahui apa Anugerah Si Pak Tua, jadi Dia sedikit kesulitan, dan membutuhkan waktu lebih banyak dari pada yang Ia pikirkan di awal.
"Jadi gimana?" Tanya Dinna sambil berjalan mendekat ke arah Nadi.
Nadi sedari tadi masih berada di dapur, tentunya untuk mencari tahu Anugerah apa milik Si Pak Tua, dan Dinna Ia berkeliling sebentar di Kota ini.
"Ternyata Anugerah itu cuman langkah cepat." Jawab Nadi sedikit kecewa di raut wajahnya.
__ADS_1
"Langkah cepat? Pantas saja Adonis bisa menghilang dengan sekejap, itu sangat berguna lho." Ucap Dinna santai sambil berjalan untuk duduk di kursi.
"Mungkin." Nadi masih kecewa dengan Anugerah itu, tapi walaupun begitu, di sisi lain Ia merasa senang, karena sekarang Ia sudah tahu apa Anugerahnya yang sebenarnya.
"Oiya, ada yang ingin Aku tunjukan." Ucap Nadi sambil berjalan mendekat ke arah tempat cuci piring.
"Mau apa Kau kesana?" Tanya Dinna bingung.
"Kau punya apa di sakumu?" Tanya balik Nadi.
"Apa lagi kalau bukan uang." Jawab Dinna.
Setelah Dinna menjawab, Nadi langsung mengulurkan tangannya, seolah ingin mengambil sesuatu di antara udara.
Creeekk..." Suara tubrukan koin yang berat muncul di atas telapak tangan Nadi.
Entah bagaimana caranya, dengan sekejap mata, kantung koin di saku Dinna berpindah tempat ke tangan Nadi.
"Wah, bagaimana bisa?" Saut Dinna terpesona.
"Kerenkan, asal Aku tahu barang apa itu, Aku bisa mengambilnya walau tidak terlihat sama sekali, dan bukan hanya barang yang bisa Aku ambil, tapi Anugerah orang lain juga dapat dengan mudah Aku curi." Jelas Nadi bangga.
"Sudah, kembalikan dulu uang itu." Ucap Dinna sambil berjalan ke arah Nadi.
"Hehe, iya maaf." Ucap Nadi sambil tertawa kecil.
"Baguslah, sekarang Kita bisa melatih Anugerahmu itu, rasanya senang jika Kau makin berguna di dalam tim ini." Senyum puas terpancar di raut Dinna.
"Hah? Maksud?" Tanya Nadi sedikit kesal.
"Ya apalagi, Aku akan memeras setiap tetes keringatmu, sepertinya perjalanan Kita akan semakin berkesan." Jawab Dinna sambil menunjukan ekspresi penuh harap.
"Sudah ya, Aku kembali ke kamar dulu." Ujar Dinna lalu berjalan pergi meninggalkan Nadi sendirian.
Nadi tidak menjawab ucapan Dinna itu, karena Ia sekarang entah sedang memikirkan apa di otaknya, dan yang pasti itu bukanlah hal baik.
__ADS_1
Karena terukir di jelas di wajahnya, bahwa Ia sedang ketakutan, bahkan wajahnya sangat pucat, Ia juga lupa berkedip beberapa detik, lalu dengan perasaan tidak tenang itu, Ia berjalan pergi meninggalkan dapur, dan mencari kamar untuknya tidur.
...°°°°°°°°...