PENCURI

PENCURI
34. Anugerah Lagi?


__ADS_3

Bruakkk!!" Sekarang tanah gersang itu sudah rubuh, dan masih menyebabkan longsor yang berkepanjangan, sampai jarak 1 km jauhnya.


Trak, trak, trak.." Suara Kerikil yang terjatuh, karena reruntuhan di bawahnya sedang diangkat.


Dan Nadi sekarang sedang berada di tengah puing-puing reruntuhan itu, Nadi berusaha keluar dari tindihan tanah keras yang menimpanya.


Luka yang di terimanya tidaklah parah, karena sesaat setelah tanah itu rubuh, Nadi menggunakan Langkah Cepat untuk menaiki satu persatu runtuhan tanah di atasnya.


Walaupun Ia masih terkena reruntuhan juga, tapi setidaknya Ia tidak terkubur terlalu dalam. Sesaat setelah Ia berhasil keluar dari tindihan puing itu.


Nadi berniat untuk kembali ke atas, walaupun jaraknya terbilang cukup dalam, yaitu sekitar 96 meter, tapi Ia masih bisa memanjat ke atas, jika berjalan mencari ujung dari lembah ini.


Tapi sayangnya semua itu tidaklah mudah, saat Nadi akan melangkahkan kakinya berjalan, tiba-tiba saja, muncul tangan dari dalam tanah pijakan Nadi itu.


Dan dengan cepat mencekram pergelangan kakinya, dan hal itu membuat Nadi tersungkur jatuh ke tanah dengan keras. Bruuk!!"


"Jangan Kau kira bisa lolos semudah itu dari cengkramanku!!" Ujar Reg yang keluar dari dalam tanah seraya mencengkram pergelangan kaki Nadi.


Dan tentu saja Nadi terangkat olehnya, apalagi Reg memiliki tinggi tubuh 190cm, dan semua otot di tubuhnya sudah terlatih, jadi mudah saja baginya untuk mengangkat Nadi yang terbilang cukup ringan itu.


"Kau!!" Geram Nadi kesal sambil menatap tajam ke arah Reg.


Blusshhh..." Nadi melemparkan serbuk tanah gersang itu tepat ke mata Reg.


Braak!!" Nadi dilemparkan oleh Reg saat Ia akan mengusap matanya.


"Ugh! Sakit..." Keluh Nadi sambil berusaha untuk berdiri.


"Jika Kau ingin bermain kotor denganku, maka akan Ku ladeni!" Ujar Reg dengan Nada bicaranya yang seram.


"Bukannya dari awal Kau sudah bermain kotor." Ucap Nadi santai. Lalu Ia mengeluarkan Belati miliknya.


"Jangan harap Kau bisa lolos dari mautmu!" teriak Nadi lalu menghilang dari tempatnya.


Dashh!!" Nadi muncul dari hadapan Reg seraya menebaskan Belatinya itu, namun sayangnya tidaklah mudah untuk membunuh Reg, karena Ia memiliki Anugerah Pelindung Tanah.


Segala jenis macam tanah bisa Reg gunakan, dan tidak hanya itu, karena Anugerah ini adalah warisan dari orang tuanya, jadi jiwa orang tuanya sudah menyatu dengan Anugerah Reg.


Dan tentunya jiwa itu memiliki kesadarannya sendiri, walaupun terbatas, tapi jiwa itu dapat melindungi Reg dari segala macam bahaya, dengan cara membuat perisai hidup dari tanah.


Crakk!!" Tebasan Nadi terpental oleh perisai tanah itu.


"Hah!?" Nadi terperangah sambil mundur melihat perisai itu, padahal Dia sudah menggunakan Langkah Cepat, tetapi Reg bisa menangkisnya.

__ADS_1


"Hoho, tidak semudah itu bocah!" Seringai Reg meledek Nadi.


Tentu saja Nadi tidak kalah pikir, Ia sudah menyusun rencana seraya mundur tadi. Tanpa banyak kata, dan sedikit gerakan, Nadi langsung menghilang kembali dari tempatnya.


Sraak!"


Craak!"


Sraak!"


"Oy oy, mau kemana Kau!?" Tanya Reg sambil tersenyum. Namun Nadi tidak menghiraukannya, dan terus saja mencoba menebas perisai milik Reg itu, secara membabi buta.


"Sudah cukup!" Teriak Reg, lalu Ia membuat segumpalan tanah kering itu menyerupai tangan, dan menangkap Nadi dengan mudahnya.


Brak...!"


Brakk...!"


Braakk..." Nadi terus di hantam ke permukaan oleh tangan tanah itu, bahkan sampai Ia mengeluarkan muntah darah yang hebat.


"Maaf, Aku tidak bisa bermain lebih lama denganmu.." Lagi-lagi seringai Reg meledek.


"Ugh..." Nadi ingin menjawab, namun sayang ucapannya terdahului oleh muntah darah itu. Dan sekarang, Ia berusaha mencoba untuk berdiri.


"Sampai disini saja? Sungguh mengecewakan. Hahh..." Hela nafas berat Reg, lalu Ia berjalan perlahan ke arah Nadi yang terlihat setengah sadar itu.


Sesampainya disana, lagi-lagi Reg tidak kenal ampun, Ia langsung menendang Nadi sampai terpental hingga 5 meter jauhnya.


"Ups, maaf..." Senyum Psikopat Reg pancarkan.


Nadi masih tidak bergerak, dan darah yang keluar dari mulutnya masihlah banyak.


"Sepertinya akan ku akhiri disini, maaf sudah membuatmu menunggu lama." Ucap Reg seraya mengumpulkan tanah di atas telapak tangannya, dan terbentuk gumpalan sebesar bola basket.


"Semoga Kau bisa tenang disana, dan jangan pernah ulangi kesalahanmu di kehidupanmu selanjutnya." Ucap Reg bersimpati, lalu Ia bersiap untuk melemparkan gumpalan tanah itu tepat ke arah kepala Nadi.


Swuuushh..." Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan, Nadi melempar Belatinya ke arah wajah Reg, tentu saja itu terhalau oleh Perisai Hidup milik Reg.


Namun serangan Nadi tidak berhenti disitu saja, Ia telah menemukan setitik kelemahan dari Perisai itu, walau kesempatannya hanyalah 0.5% untuk berhasil.


Karena untuk menjalankannya, niat membunuh dari Nadi harus hilang, dan harus menunggu ada celah perisai itu akan menghilang, dan menyerangnya juga, harus menggunakan tangan kosong.


Begitulah hasil analisis Nadi tadi, seraya menyerang secara membabi buta ke arah Perisai Reg itu.

__ADS_1


Duaggg!!!!" Hantaman keras melayang tepat di bawah dagu Reg, sampai-sampai Reg terpelanting 1 meter ke belakang, dan tanpa sengaja, gumpalan tanah yang dibuat Reg tadi, melayang jauh ke udara.


Daagghh...." Tambahan hantaman dari Gumpalan Tanah yang Reg kumpulkan tadi, yang menghantam keras tepat di kepalanya, sampai Reg tidak sadarkan diri.


Jika itu adalah serangan orang lain, seharusnya gumpalan itu tidak akan mengenai Reg, apalagi dengan kecepatan itu, tapi sayang, karena gumpalan itu bagian dari kekuatannya, jadi perisainya tidak menganggap itu sebagai ancaman.


Dan alhasil, sekarang kepala Reg sedang berdarah-darah, karena tertimpa oleh gumpalan tanah buatannya sendiri.


Nadi yang melihat kesempatan itu, langsung mengambil Belati miliknya yang tergeletak, lalu menggunakan Langkah Cepat untuk mendekati Reg.


Nadi dengan cepat melesat ke arahnya, karena ingin menjalankan rencananya yang kedua, yaitu mengambil Anugerah milik Reg.


Dan sekarang, Ia sedang duduk di atas perut Reg, tentu saja Reg tidak bisa melawan, karena Ia sekarang sedang di ambang pingsan dan sadar.


Dan tanpa berlama-lama lagi, Nadi langsung menghunuskan Belatinya tepat ke arah jantung Reg, tapi sayangnya serangan Nadi tidak berhasil, karena Perisai Tanah itu melindungi tubuh Reg.


Namun Nadi tidak kalah gentar, Ia terus berusaha menekan Belati itu sekuat tenaga, walau pun masih tidak berhasil.


Nadi lalu berpikir cepat, apa yang harus Ia lakukan, lalu Ia mengangkat Belatinya, dan menunggu sampai Perisai itu hilang, saat Perisai itu hilang.


Nadi langsung menyentuh dada Reg tanpa niat membunuh, dan Perisai itu tentunya tidak aktif, dan kesempatan itu Nadi gunakan untuk menusuk jantung Reg.


Dengan pikiran yang tenang, dan berusaha untuk menghilangkan niat membunuh, Nadi mengarahkan Belati miliknya ke arah punggung tangannya itu, lalu menempelkan ujungnya disana.


Dan dengan cepat, Nadi menancapkan Belati itu, sampai menembus tulang punggung tangannya, walau sakit rasanya, tapi Nadi tetap menusukkan Belati itu lebih dalam, sampai menembus jantung Reg.


Tentunya Nadi tidak ingin menyia-nyiakan momentum itu, lalu Ia memutar ulang otaknya, dan mengingat kejadian saat bertarung dengan Si Pak Tua.


Ia berpikir, mungkin ini saatnya Ia menggunakan Anugerahnya, untuk mengambil Anugerah milik Reg. Sambil terus menancapkan Belati itu semakin dalam tentunya.


Darah Reg dan Darah Nadi kini sudah bercampur menjadi satu, namun masih belum ada tanda-tanda keberhasilan dalam rencananya itu.


Lalu Nadi berpikir kembali, mungkin saja, harus sedikit lebih spesifik untuk mengambilnya, lalu Ia mengingat Serangan yang Reg gunakan tadi, dan berpikir untuk mengambilnya.


Namun hasilnya tetap sama, dan sekarang Nadi semakin cemas, karena mungkin saja, jika Reg sudah benar-benar terputus dengan jiwanya, maka Anugerahnya tidak bisa di ambil.


Maka dari itu, dengan pikiran yang cemas, dan dengan dorongan napsu, Nadi berpikir untuk merebut Anugerah Reg serta pengalamannya.


Sebenarnya Ia tidak mau hal itu, karena Ia takut akan jadi seperti kemarin, saat Ia menggunakan pengalaman milik Si Pak Tua, tapi sekarang, bukanlah saatnya untuk pilih-pilih.


Dan pada saat itu juga, gumpalan darah Reg mulai mengumpul menjadi satu, dan seperti kemarin, gumpalan itu meledak, dan mengeluarkan cahaya keemasan yang hangat.


Bersamaan dengan hilangnya cahaya itu, wajah Nadi kini terlihat puas, seakan-akan Ia mendapatkan hadiah paling luar biasa.

__ADS_1


...°°°°°°°°...


__ADS_2