PENCURI

PENCURI
45. Ramalan


__ADS_3

"Jadi, Kenapa Dia bisa langsung pingsan saat Si Peri berada di genggamannya tadi." Tanya Dinna setelah sampai di kamar.


"Walau Kau lihat tadi Dia langsung pingsan, tapi sebenarnya tadi Aku sedang bertarung dengannya, kukira tadi bakalan mudah, ternyata Dia memakai kekuatan Si Peri."


"Bertarung?" Tanya Dinna mengernyitkan dahinya bingung.


"Ya bertarung, untungnya sejak awal Aku sudah memberikan serbuk ilusi sebelum Dia memanggil Si Peri." Jawab Nadi santai.


"Serbuk Ilusi?" Tanya Dinna kembali.


"Ya, Anugerah baru yang kudapatkan kemarin." Jawab Nadi sambil duduk di atas kasur.


"Kapan Kau dapat itu? Padahal dalam perjalanan kesini gak ada musuh." Ucap Dinna makin penasaran.


"Tepatnya pada saat mimpi aneh kemarin, mungkin ini keberuntunganku." Ucap Nadi tersenyum simpul.


"Tapi sayangnya untuk menggunakan Serbuk Ilusi, harus bersentuhan langsung atau dekat dengan korban, mungkin tadi cuman beruntung dapat lawan bodoh." Lanjut Nadi.


"Mudah-mudahan keberuntunganmu tidak akan habis." Ucap Dinna sambil duduk di kursi samping tempat tidur.


"Mau Kau apakan?" Tanya Nadi yang melihat Dinna membaringkan Si Peri di atas kasur.


"Dia masih bernafas, setidaknya Aku harus bersihkan kembali luka di tubuhnya." Jawab Dinna, lalu Ia mengambil kain basah dari dalam mangkuk di sampingnya.


"Miko, hangatkan kembali air itu." Saut Nadi kepada Miko yang sedang rebahan di lantai.

__ADS_1


"Apa Dia bisa sehat kembali.." Gumam Dinna sambil perlahan membersihkan tubuh Si Peri.


"Bisa, Dia cuman terkena kutukan, akan Ku sembuhkan nanti." Jawab Nadi yang mendengar ucapan pelan Dinna.


"Kutukan?" Tanya Dinna dengan wajah bingung.


"Ya, nanti akan Ku jelaskan, sekarang biarkan Aku tidur sejenak." Jawab Nadi lalu memejamkan matanya.


Sementara Nadi tidur, Dinna melanjutkan kegiatannya kembali, yaitu membersihkan tubuh Si Peri yang di penuhi oleh darah kering di tubuhnya.


...*******...


Kemarin, tepatnya di tempat pertemuan lima Pemilik...


"Aku mendapat sebuah ramalan, akan ada satu orang pengacau yang membunuh salah satu dari kita." Jawab Hiji dengan tampang seriusnya.


"Sepertinya menarik." Ujar Ret penasaran.


"Terus, kenapa Kita harus berada disini?" Tanya Aglaea.


Aglaea bertanya seperti itu karena Dia memang penasaran, biasanya mau sepenting apapun, pasti akan berkumpul di ruangan biasanya, tapi sekarang, mereka berkumpul di atas awan.


Awan itu bukanlah awan biasa, di atas sana, semua orang yang berada disana akan berbicara jujur, dan tidak akan ada yang bisa berbohong, bahkan di tulis dalam kertas pun, si penulis tidak akan bisa menulis kebohongan.


Begitulah keadaan mereka disana, kebanyakan memilih diam, bukannya takut jika mereka berbohong, tapi sebagian takut akan membongkar rahasia yang sudah di simpan rapat.

__ADS_1


"Menurut ramalan, Kau ada sangkut pautnya dengan Dia, apa akhir-akhir ini ada orang yang membuatmu tertarik?" Tanya Hiji kepada Aglaea.


"Hmmm, kalo di bilang tertarik menurutku bukan, ini lebih mengarah ke arah marah." Jawah Aglaea sembari memikirkan sesuatu.


"Marah?" Tanya Hiji.


"Ya, awalnya kukira Dia hanya orang biasa, tapi ternyata Dia dapat membunuh dua Ajudanku, dengan jarak waktu yang sangat dekat." Jawab Aglaea.


"Apa hanya Dia?" Tanya Hiji kembali.


"Untuk sekarang Ya, tapi sepertinya Dia bukan ancaman serius." Jawab Aglaea.


"Kita tidak tahu." Pungkas Hiji.


Tentunya bukan hanya tentang pengacau topik pembicaraan mereka, mereka juga membicarakan soal wilayah, ancaman, dan lainnya.


Mungkin kalian bingung dengan para Pemilik ini, di dunia tanpa aturan, kenapa mereka bisa ada?


Aku bahas di bab selanjutnya...


...°°°°°°°...


Maaf dikit banget, lagi ada kesibukan di dunia fana ini😣


Like kalo suka, kalo nggak? Ya harus suka🤗

__ADS_1


__ADS_2