
Hah hah hah..." Nafas Dinna terengah-engah.
Bagaimana tidak? Sekarang, Dia sedang melawan makhluk asing bertubuh astral, yang berukuran sangat besar, sebesar 4x lipat tinggi tubuhnya.
Mereka adalah makhluk panggilan Si Pemilik, dan benar kata Bi En, walau Dinna sudah bertambah kuat, tapi Dia tidak bisa mengalahkan makhluk itu sendirian.
Sebenarnya bisa sih, tapi karena ada anak-anak asuhan Bi En di belakangnya, jadi Dia tidak bisa bergerak bebas. Bisa-bisa, anak-anak itu jadi gumpalan daging kalau Dinna tidak menjaga mereka.
Sedangkan Nadi, Dia sedang berada di tengah-tengah Kota Note, Dia sedang bertarung disana sambil melindungi warga bodoh yang tidak bisa bertarung, tapi malah menonton disana.
"Pergi sana! Atau kalian akan jadi gumpalan daging!" Teriak Nadi menyuruh sisa warga yang sedang berkerumun.
Bukannya pergi, mereka malah maju untuk melawan makhluk panggilan itu. Dan hasilnya, tentu saja mereka mati, padahal sudah di peringatkan, tapi malah bertindak nekat.
Lalu Bi En dimana Dia? Dia sedang berada di Mansion Si Pemilik, karena Bi En datang kesana, jadilah makhluk panggilan itu di sebarkan oleh Si Pemilik.
"Kau tidak akan bisa menang melawanku, cepat pergi saja, kali ini Aku masih memaafkanmu, kalau masih nekat juga, akan makin banyak korban yang berjatuhan loh." Ucap Deon, Pemilik Kota Note sekarang.
"Aku tidak akan pergi, sebelum Aku berhasil memisahkan kepala busukmu dari tubuhmu itu." Ucap Bi En.
Dia sekarang sedang mengalami kesulitan, karena dari tadi, Dia sedang di gulung oleh makhluk panggilan Deon. Ya Bi En sedang berada di tengah-tengah kumpulan Makhluk itu, bahkan sampai Ia tidak bisa bergerak.
"Memangnya Kau bisa apa? Aku sudah memiliki banyak wilayah kekuasaan, Kau tau kenapa? Karena Aku sangatlah kuat, tidak ada yang bisa mengalahkanku." Ucap Deon sombong.
Deon sekarang sedang mendekat ke arah Bi En, dan sesampainya disana, Deon langsung mengangkat dagu Bi En dengan jari telunjuknya.
"Mau apa Kau Bre***k!!" Ucap Bi En, Dia terlihat tidak bisa melawan.
"Mau apa? Ya terserah Aku dong, mau Aku apa." Jawab Deon sambil menyeringai.
"Kau mau apa hah?" Teriak Bi En kepada Deon.
Deon sedang mendekatkan wajahnya kepada Bi En, berniat melakukan sesuatu yang di dorong oleh napsunya.
"Kau sangat manis, sayang sekali jika harus mati hari ini." Ucap Deon yang sedang mengarah bibirnya kearah bibir manis Bi En.
Melihat Bi En hanya diam sambil menatap tajam kearahnya, Deon makin bergelora ingin segera menyantap sesuatu yang kenyal disana.
"O, Kau tidak melawan, rupanya ini niat aslimu ya." Ucap Deon, lalu..
Craatt!!" Mulut Deon robek! dimulai dari pipi kanan sampai pipi kirinya.
"Haha, Kau pikir Aku tidak bisa menghadapi makhluk begini?" Ucap Bi En, lalu dengan sekejap mata, makhluk panggilan yang mengelilingi Bi En menghilang, hancur sampai jiwa-jiwanya.
"Kauw.. Bagaiamana bisya sprti itcu?" Ucap Deon sambil memegang wajahnya, Ia sekarang sudah kesulitan berbicara.
"Syuuutt...! Lebih baik Kau tutup mulutmu itu." Ucap Bi En sambil mengangkat jari telunjuk di depan mulutnya.
"I.. Itu?" Ucap Deon panik, lalu Ia melihat ke arah tangan kirinya, dan benar saja, jari telunjuk miliknya sudah hilang. Matanya tiba-tiba melotot, buku kuduk Deon semua sudah berdiri.
"Hehe, Kau mau ini kembali? Nih ambil aja!" Ucak Bi En melempar jari telunjuk itu, sambil tersenyum psikopat.
Pluk!" Jari telunjuk itu menempel di baju Dion.
Hiiii!!" Lengking jerit Deon terdengar jelas.
__ADS_1
"Haha, Kau seperti perempuan saja, tenang aja, Aku gak akan membuat ini makin lama, karena anak-anakku sedang kesulitan di luar sana." Seringai senyuman maut terukir di wajah Bi En, lalu..
Swushh..!" Dengan sekejap mata Bi En menghilang, dan sekarang sedang berada di belakang Deon.
"Hei, coba lihat kesini." Ucap Bi En.
Saat Deon membalikkan kepalanya, tiba-tiba saja kepala Deon terputus.
"Appwaa!!!" Lirih Deon sambil nemasang ekspresi terkejut sekaligus marah kepada Bi En. Sedangkan Bi En, Dia hanya tersenyum puas setelah melihat kepala itu lepas.
Dan baru 1 detik kepala itu lepas, bahkan belum sempat menyentuh lantai mansion, kepala dan tubuh Deon lenyap, bahkan tidak menyisakan abu, seperti saat melenyapkan Makhluk panggilannya.
Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, sebutan Bi En adalah petualang tak terkalahkan, dan itu bukan cuma rumor belaka, info ini memang tidak menyebar.
Karena setiap musuh atau orang yang tahu tentangnya, akan lenyap tanpa sisa di dunia ini, dan hanya menyisakan rumor belaka tentangnya.
"Huh... Akhirnya selesai juga." Ucap Bi En.
.
Kembali ke Nadi. Setelah Deon mati, semua Makhluk panggilannya ikut lenyap juga. Tapi, kerugian terbesar terjadi disini.
Setengah warga yang harus Nadi dilindungi, sekarang semua sudah binasa tanpa sisa, mereka memang bebal, disuruh lari, malah diam dan berusaha melawan.
Tentu Nadi tidak merasa bersalah kepada orang-orang naif seperti itu. Setelah semua itu selesai, Nadi berjalan perlahan, dengan ekspresi biasa saja, seolah Dia tidak melihat gumpalan daging berserakan di sekitarnya.
Sekarang Nadi dan Bi En sedang berjalan ke tempat Dinna berada, mereka berdua datang secara bersamaan.
"Oh, Kau sudah selesai?" Ucap Bi En.
"Yosh, baguslah, terus bagaimana keadaan disini." Ucap Bi En sambil berjalan mendahului Nadi.
Sesampainya di tempat Dinna, mereka di suguhi pemandangan yang sangat mengejutkan.
Dinna, Dia sedang terkapar pingsan, di atas jerami, tapi yang membuat mereka terkejut adalah posisinya pingsan. Mungkin bila dibilang terkejut agak tidak sopan.
Mereka sebenarnya sedang menahan tawa, karena Dinna pingsan tepat di bawah bokong sapi milik Bi En, dan anak-anak berusaha untuk memindahkannya, tapi ekspresi Dinna terlihat sangat nyaman disana.
...******...
"Dan begitulah cerita saat Kau pingsan seunik itu, haha." Tawa seorang pemuda tampan, sambil menggenggam mangkuk kecil berisi sup daging.
"Ishh, apasih." Ucap Gadis cantik itu sambil cemberut.
Wruaaaahhh!!" Dan terlihat seekor Kucing gemuk berwarna putih sedang menguap disana.
Ya mereka adalah Nadi, Dinna, dan Miko, Dan beginilah penampakan mereka sekarang.
...ヘ( ̄ω ̄ヘ)...
(ini sebenarnya pakaian tempurnya, merangkap jadi pakaian pencuri) (sumber: teman)
- Nama: Nadi, umur 17 tahun, 176 cm, pendiam, bersih, kulitnya berwarna pucat, banyak luka cakaran dan gigitan di sekujur tubuhnya, tapi muka aman.
__ADS_1
- Pekerjaan: Pencuri, namun tidak segan membunuh.
- Karakteristik: jujur, penyayang, pendiam, kejam tanpa pandang bulu.
- Kelebihan: memiliki Anugerah Pencuri Serakah, sangat mahir dalam membunuh dan mencuri.
...•••
...
(tampilan santainya) (sumber: teman)
-Nama: Dinna, umur 19 tahun, 169cm, cantik nampak anggun, memiliki kekurangan di bagian matanya rabun jauh, tapi pendengarannya melebihi manusia biasa mencapai 5x lipat.
- Pekerjaan: Penipu.
- Karakteristik: pembohong yang cerdas, lucu, tegas, baik, ceria, penyayang dan setia.
- Kelebihan: Memiliki Anugerah Tukang Masak. Mahir dalam segala jenis keterampilan berburu, walau penampilannya terlihat lemah, tapi Dia tidak pernah kalah Bertarung, bahkan saat melawan Nadi.
...•••
(ini tampilan tempurnya) (sumber: teman)...
- Nama: Elena Althaia Amara (Bi En) umur 25 tahun, 174cm, Cantik, kadang seram, Ditakuti, banyak bekas luka tersembunyi di tubuhnya.
- Pekerjaan: Pemilik Toko/Kedai Makanan.
- Karakteristik: jujur, penyayang, kejam, pemberani, dalam mode serius menakutkan, Kadang lembut, Kadang galak.
- Kelebihan: memiliki Anugerah Guru/Murid, Mahir dalam pertarungan, semasa petualangannya tidak pernah terkalahkan (namun hanya segelintir orang yang tahu).
...•••
...
(ada alasan kenapa wujudnya seperti itu) (sumber: teman)
-Nama: Miko, umur 15 tahun, 98cm/150kg (masih termasuk ringan).
-Ras: Kucing Hutan jenis jantan.
-Tipe: Hewan Ilusi tingkat menengah tahap 1.
-Karakteristik: Penyayang, Setia, Penakut (tapi saat bertemu Nadi, rasa takutnya hilang). Pengintimidasi, lucu, menyenangkan.
-Kelebihan: Memiliki Anugerah Api Abadi (tapi masih tahap satu, jadi belum abadi ). gesit, lincah, kemampuannya berlari bisa tembus 200km/jam, hangat.
...°°°°°°°°...
__ADS_1