PENCURI

PENCURI
33. Serangan Tidak Terduga


__ADS_3

Burung ers bertebrangan, sinar mentari kian mencolok, dan keringat mulai menyelimuti tubuh para petualang muda yang berjalan di bawahnya.


.


Nadi, Dinna, dan Miko kini sedang berjalan santai, menyusuri jalan kerikil di lahan yang gersang.


"Hahh.... Panas..." Keluh Dinna sembari rebahan di atas punggung Miko.


"Mau gak panas?" Ucap Nadi menjawab keluhan Dinna.


"Gimana?" Jawab Dinna semangat.


"Sini turun.." Pinta Nadi.


Drap!" Dinna melompat langsung dari atas punggung Miko.


"Terus?" Tanya Dinna.


Tak! "Jangan terus-terus bodoh, Kau dari tadi asik bersantai disana, tapi masih mengeluh." Ucap Nadi memarahi Dinna, bahkan sampai menggeplak jidatnya menggunakan jari telunjuknya.


"Ish, ya terserah Aku dong!" Ucap Dinna cemberut.


"Miko kemari!" Perintah Nadi. Lalu Miko melompat sambil mengecilkan tubuhnya.


Tap!" Miko berjalan perlahan ke arah Nadi.


"Lah, ko di suruh mengecil lagi." Keluh Dinna.


"Diam." Jawab Nadi sambil jongkok.


"Kita istirahat dulu sebentar di Gua itu, cuacanya tidak pas untuk melanjutkan perjalanan." Ucap Nadi sambil mengelus kepala Miko.


"Cuecenye tedek pes tek mlenjetken perjelenen." Ledek Dinna kepada Nadi, sambil memalingkan wajahnya.


"Oh, seperti itu, baiklah. Ayo Miko kita pergi." Ucap Nadi sambil tersenyum licik.


Lalu, secepat kedipan mata Dinna, Nadi dan Miko sudah menghilang dari pandangannya, tepat sesaat Ia akan menengok untuk menjawab perkataan Nadi tadi.

__ADS_1


"Eh?" Dinna terkejut.


"Oi..." Teriak Nadi sambil melambaikan tangannya di mulut Gua.


"Hah!? Dasar, awas Kau ya..." Marah Dinna, melihat Nadi sudah sampai di Gua yang berjarak 50 meter di depannya.


.


"Haha, dari mana aja Kamu? Gak lelah jalan di terik matahari gini?" Ledek Nadi dengan senyumannya.


Hah, hah, hah, "Awas Kau!" Jawab Dinna terengah-engah, lalu Ia mengeluarkan kantung air dari dalam tasnya, dan lekas meminumnya cepat.


"Ahh... Mulai hari ini Kau masak sendiri! dan jangan harap Aku akan meminjamkan peralatan masak padamu!" Tegas Dinna memberikan ancaman.


"Yah, jangan gitu dong.." Ucap Nadi memelas.


"Hah!? Jangan? Setelah Semu..." Belum beres Dinna menjawab.


"Tapi boong... Hehe." Pungkas Nadi lalu melanjutkan tawanya.


Duagh!!" Dinna murka dan mengayunkan kakinya menendang Nadi, namun sayang kali ini itu tidak berhasil, karena Nadi sudah menguasai Langkah Cepat, dan tendangannya hanya sampai di dinding Gua.


"Terserah Kau saja lah..." Ketus Dinna, lalu Ia pergi meninggalkan Nadi dan Miko begitu saja.


"Mau kemana?" Tanya Nadi, lalu Ia mengikutinya dari belakang.


Dinna tahu Nadi sedang mengikutinya, tapi Ia sama sekali tidak menggubris kehadirannya itu, dan masih tetap melanjutkan langkahnya yang di penuhi rasa kesal.


Selang 10 menit mereka berjalan seperti itu, tiba-tiba hal yang paling mereka hindari muncul.


Duarrr!!" Ledakan keras menerpa lahan seluas 10 meter di depan pandangan Dinna, bahkan hembusan angin kuat dari ledakan itu, sampai kepada Nadi yang berada di belakangnya.


"Ada apa?" Tanya Nadi yang tiba-tiba muncul di samping Dinna, dan meninggalkan Miko yang berada jauh di belakangnya.


"Mau apa Kau?" Jawab Dinna ketus.


"Hehe, maaf dong, tadi cuman cand..."

__ADS_1


Bwushhh..." Terlihat seperti kepalan tinju yang melayang ke arah pipi Nadi.


Daammmm!!" Ledakan terjadi di belakang Dinna.


"Rupanya Kau bisa menghindari serangan itu." Ujar seorang Pria yang keluar dari kabut bekas ledakan itu.


"Siapa Kau!?" Tegas Nadi bertanya.


"Kau tidak perlu tahu siapa Aku!" Tanpa berbasa-basi lagi, Pria itu langsung melompat cepat ke arah Nadi, layaknya sang kucing yang siap menerkam tikus.


Daamm!!" Serangan itu gagal untuk kedua kalinya, dan merusak tanah gersang itu lagi.


"Oh, rupanya Kau memiliki kekuatan seperti Dia." Ucap Pria itu sambil berjalan keluar dari kepulan kabut itu.


"Aku tanya lagi! Siapa Kau!?" Tanya Nadi yang sekarang berada tepat di belakang Pria itu.


"Aku adalah Reg! Ajudan Ratu yang akan membunuhmu sekarang!!" Tegas Reg memperkenalkan diri.


"Ratu?" Mendengar kata Ratu dari Reg, Dinna dan Nadi langsung mengetahui, bahwa orang itu sama seperti Adonis, yang datang untuk membunuh Nadi tanpa ragu.


"Miko! Bawa Dinna pergi dari sini sekarang!!" Teriak Nadi kepada Miko. Karena berkat serangan Reg tadi, Miko sekarang berada lumayan jauh dari Dinna.


Dan dengan cepat, Miko berlari ke arah Dinna sambil memperbesar dirinya, lalu Ia menggigit jubah Dinna, dan pergi secepat angin berhembus dari tempat itu.


"Ah, tidak!" Teriak Dinna sambil dibawa pergi oleh Miko.


"Oh, rupanya Kau pintar, Aku jadi semakin bersemangat untuk membunuhmu!" Ancam Reg kasar. Dan itu berhasil membuat Nadi meneguk salivanya keras.


Jika Adonis saja bisa membuatnya sampai tidak sadarkan diri, apalagi orang yang berada di depannya ini, mungkin kesempatannya untuk selamat sangat kecil kali ini, begitulah pikirannya.


"Rasakan ini!" Teriak Reg sambil menghantam tanah gersang itu menggunakan kedua kepalan tangannya.


Setelah Reg menghantam tanah itu, terdengar gemuruh keras dari bawah kaki Nadi. Dan tentu saja Nadi mengetahui bahwa itu berbahaya, lalu Ia berniat untuk langsung pergi dari situ.


Namun sayangnya Reg sudah mengetahui langkah Nadi lebih dulu, dan tadi, seraya menghantam tanah itu, Reg sudah menggunakan Anugerahnya untuk mencengkram erat pergelangan kaki Nadi.


"Apa ini!?" Tanya Nadi yang tidak bisa menggerakan kakinya.

__ADS_1


Saat Ia akan menghancurkan tanah itu, pijakannya mulai ambruk, dan Nadi jatuh terporos kedalamnya, bersama dengan Reg.


...°°°°°°°°...


__ADS_2