
"Sekarang Kau keluar dulu, ada yang harus kulakukan." Ucap Dinna sembari mengeluarkan panci miliknya.
"Aku?" Tanya Nadi bingung.
"Siapa lagi!" Jawab Dinna menatap tajam ke arah Nadi.
"Kan bisa cari kamar lain." Tolak Nadi.
"Pergi!" Tegas Dinna berkata.
Nadi pun menuruti ucapan Dinna, Ia sangat malas jika harus berdebat seharian dengannya, karena endingnya akan selalu sama.
"Ayo Miko." Ajak Nadi kepada Miko yang sedang menunggu di depan pintu.
"Tunggu, Miko disini, Aku butuh apinya." Saut Dinna.
"Miko juga?" Ucap Nadi dengan kekesalannya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Dinna masih dengan tatapannya.
"Yaudah sana, bantu Dia." Ucap Nadi melirik lesu ke arah Miko.
Miko pun melangkah ke arah Dinna. Sementara Nadi, Ia berjalan mencari kamar kosong lainnya.
Namun sayangnya, dari semua pintu yang ada di lantai 2, kebanyakan isinya adalah harta yang telah di kumpulkan Si Pemilik, dan hanya ada satu kamar tempat untuk tidur, yaitu tempat yang digunakan Dinna sekarang.
"Ck, Kenapa gak ada ruangan yang normal?" Decak kesal Nadi.
Karena di lantai 2 tidak ada ruangan yang bisa Nadi pakai untuk tidur, jadi Ia memilih untuk mencari di lantai 1, Nadi tidak tahu, bahwa lantai 1 juga sama keadaannya dengan di sana.
"Siapa Kau!?" Tanya seorang pria kurus dengan suara seraknya.
Nadi tidak menghiraukan suara itu, lagipun, dari suara itu tidak terasa niat membunuh, jadi Nadi dengan santai melangkah menuruni anak tangga.
"Breng*k, akan Ku bunuh Kau!!" Teriak orang itu lagi, dan sekarang Dia sudah berhadapan dengan Nadi.
"Siapa?" Tanya Nadi polos.
"Rasakan ini!!" Teriak Pria itu sambil mengarahkan kedua tangannya ke arah Nadi.
__ADS_1
"Lho?" Gumam Pria itu bingung, karena tidak ada yang terjadi saat Ia berniat untuk menyerang Nadi.
"Kenapa?" Tanya Nadi yang sekarang sudah berada di belakang pria itu.
"Hah!?" Pria itu terperangah kaget.
"Jangan meremehkanku! atau Kau akan tahu akibatnya!!" Lanjutnya mengancam Nadi.
"Ya, lakukan saja..." Jawab Nadi tidak peduli, lalu Ia melangkah pergi untuk melanjutkan mencari kamar.
"S----e!!" Teriak Pria itu tidak jelas.
Kyaaaaa!!!!" Teriak seorang wanita dari lantai atas.
Teriakan itu berasal dari Si Peri, Ia sekarang sedang terbang ke arah Pria itu, tentunya sambil merintih kesakitan.
"Hei! Kemana Kau!!" Teriak Dinna mengejar Si Peri, namun langkahnya terhenti, saat melihat Si Peri sudah di tangkap oleh Pria itu.
"Haha, Kau akan tamat!!" Gertak Pria itu sambil menangkap Si Peri, sekarang Si Peri sudah berada dalam genggamannya, layaknya Boneka usang, Si Peri hanya terdiam sambil di remas oleh Pria itu.
Nadi yang melihat Si Peri di perlakukan seperti itu menjadi geram, apalagi Si Peri sudah di selamatkan oleh Dinna.
Swuuushh..." Nadi berniat meninju ke arah Pria itu, namun entah kenapa serangannya meleset.
"Mau kemana?" Tanya Pria itu dengan senyuman licik di wajahnya.
Dassh..." Ledakan cahaya Pria itu layangkan ke arah perut Nadi.
Karena jarak Nadi sangat dekat dengan Pria itu, jadi Nadi sampai terpental jauh menghantam tembok.
"Sekarang Aku tak terkalahkan!! Haahhahahah!!!" Tawa gila terdengar memenuhi isi Mansion.
Mendengar tawa Pria itu, Nadi menjadi makin marah, lantas Ia menggunakan Langkah Cepat untuk mendekat ke Pria itu, namun lagi-lagi, serangan Nadi menjadi tidak berarti.
"Haha, bocah sepertimu tidak ada apa-apanya, gerakanmu terlalu mudah untuk di baca!!" Ujar Pria itu dengan sombongnya.
"Mari Kita lihat..." Jawab Nadi dengan tatapan seriusnya.
Lalu Ia berpindah tempat dengan cepat, namun anehnya Pria itu selalu bisa menebak tempat kemunculan Nadi, dan selalu di iringi dengan tembakan ledakan cahaya ke arahnya.
__ADS_1
Gedubrakk!!" Nadi terpental jauh ke belakang, Ia terkena oleh ledakan cahaya dari Pria itu.
Sebenarnya serangannya tidaklah berbahaya, kalo soal Dia bisa menebak langkah Nadi, itu tentunya juga mudah untuk di patahkan, tapi yang membuat Nadi kerepotan hanya satu, Dia tidak memiliki niat membunuh.
Kalo ada sedikit saja niat membunuh darinya, Perisai Nadi bisa aktif walaupun di dalam Mansion, karena lapisan tanah di bawah Mansion sangat banyak.
"Kau! Bagaimana bisa?" Tanya Nadi, Ia sekarang mulai lelah.
"Baiklah, akan Ku beritahu sebelum kematianmu, alasannya.... Mana mungkin Ku beritahu bodoh!!!" Teriak Pria itu sambil menembakan ledakan cahaya yang tidak bisa Nadi hindari.
"Hahaha, dasar lemah!!" Ucap Pria itu, dan masih melayangkan puluhan ledakan cahaya pada Nadi.
"Hah hah hah hah..." Nadi terengah-engah, tubuhnya sekarang di penuhi oleh baret bekas ledakan itu, walaupun tadi Ia sempat memakai perlindungan dari tanah, ledakan itu masih dapat mengenai dirinya.
"Mungkin sudah cukup bermainnya, Aku nampak bodoh berada di sini..." Ujar Nadi sambil bangkit berdiri.
Nadi berdiri tanpa memiliki rencana apapun, karena sedari awal, memang Nadi tidak perlu melakukan apapun.
"Apa Kau sudah senang? Tapi maaf, sekarang Kau harus tidur selamanya, di dalam mimpi indahmu..." Ucap Nadi sambil menusuk pelan ke arah jantung Pria itu.
"Ke-na-pa!?" Ucap Pria itu terbata-bata, Dia sekarang tidak bisa bergerak, tubuhnya seolah sudah membatu.
"Jawabannya sederhana, Kau bodoh! Dasar manusia serakah!!" Ucap Nadi dengan tatapan dingin menusuk manik matanya.
Craat!!" Tusukan Nadi berhasil merobek pembuluh darah Pria itu.
"Akan Ku ambil pengalaman milikmu, setidaknya Kau dapat bersyukur, karena masih bisa berguna untukku!!" Ucap Nadi, lalu muncul cahaya emas dari Belatinya, dan perlahan merambat dari bahu hingga kepala Nadi.
"Ck, ternyata Dia memang tidak memiliki Anugerah..." Decak kesal Nadi.
Bruuk!!" Tubuh Pria itu sekarang terbaring di lantai.
"Apa yang terjadi? Kenapa Dia tiba-tiba jatuh?" Tanya Dinna yang mendekati Nadi.
"Nanti Kujelaskan, sekarang bawa Dia terlebih dulu." Ucap Nadi sambil melepaskan Si Peri dari genggaman Pria itu, lalu dengan hati-hati menyodorkannya kepada Dinna.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Dinna sambil meletakkan Si Peri di telapak tangannya, namun Si Peri sekarang sudah tidak sadarkan diri.
...°°°°°°°°°°...
__ADS_1