
kecebek, kecebek, kecebek,"
byur..!"
Dibawah terik matahari, terlihat seorang anak kecil yang sedang bermain air, siapa lagi kalau bukan, Nadi.
...°°°°°°°...
Ya, Nadi bukan hanya bermain air biasa, Dia juga sedang membersihkan bekas darah yang menempel di tubuhnya. Karena darah itu sudah mengeras, sangat sulit untuk melepasnya, tanpa merasa kesakitan.
Apalagi, bagian darah yang menyambung dari tangan kiri, hingga bahunya. Sekali cabut, bagian darah yang menutupi luka Nadi, kembali ikut terbuka.
eeehh.." erangan kecil Nadi, yang merasa kesakitan.
Saat bagian darah itu di cabut paksa, seluruh kolam tempatnya berendam, berubah warna menjadi merah.
blub!" Nadi masuk ke dalam air, merendam seluruh bagian tubuhnya.
Dan perlahan, Ia mengusap darah yang keluar dari bahunya itu. Karena luka sobeknya besar, tentu saja darah itu tidak segera mengering.
Hampir saja, Nadi pingsan di dalam air, saat Ia merasa tubuhnya sangat amat lelah, Ia keluar ke tepi Kolam, sambil tengkurap, Ia tertidur.
...*******...
Siang, hampir berganti menjadi malam, tepatnya sekarang baru sore hari. Cahaya layung dari sebelah barat, terlihat indah, namun dapat membutakan mata.
Nadi yang sudah lama tertidur, membuka matanya perlahan, dan terlihat jelas, bola matanya masih berselaput, rasa kantuk itu bukan main Ia rasakan.
Tapi karena lapar, Nadi memutuskan untuk bangun saja, dan kembali menyantap Ular yang Ia bunuh, sebelum semua bagiannya membusuk.
__ADS_1
Dengan sangat lahap Ia makan, tanpa memikirkan rasa, dan tanpa memikirkan sekitar.
dwaarr!" Suara benturan guntur di atas langit.
Awan pekat hitam mulai datang secara perlahan, dan menandakan, bahwa langit akan kembali menangis.
Tentu saja Nadi tidak menghiraukan hal itu, Ia masih tetap fokus mengoyak daging Ular yang sudah tidak segar.
tik, tik, tik tik tik..." rintik hujan mulai menyerang tubuh Nadi.
Melihat hal itu, Nadi menjadi kebingungan, Dia tidak tahu, darimana asalnya air hujan itu, dan pertama kali Ia membuka mata juga, air hujan sudah menimpa Dia berulang kali.
Karena air hujan itu membuat daging Ularnya menjadi basah, dan rasanya juga menjadi sedikit hambar untuknya, jadi Nadi memutuskan untuk pergi dari situ, berniat mencari tempat berteduh untuknya.
.
Hujan masih menutupi daerah sekitarnya, tanah berubah menjadi genangan air dimana-mana, dan Dia tiba-tiba menjadi ingat, tentang Harimau yang tiba-tiba menyerangnya dari belakang.
set!" Nadi membalikkan tubuhnya ke arah belakang.
Namun tidak ada apa-apa di belakangnya itu, Ia kembali melanjutkan langkah kakinya.
beeerr!" Tubuh Nadi bergidik kedinginan.
Bagaimana tidak, Ia menembus hujan yang lebat tanpa memakai satu helai pun kain di tubuhnya.
Bruk!" Nadi terpeleset dan jatuh.
Tubuhnya sekarang terselimuti oleh lumpur, dan Ia hanya pasrah saja sambil memeluk tanah yang basah.
__ADS_1
Saat matanya melihat ke arah kiri, Ia melihat Hewan Ilusi berukuran kecil. Kali ini Hewan itu cukup berbahaya, karena tingkatannya, berada di Hewan Ilusi tingkat menengah, dan memiliki api di ujung ekornya.
Tubuhnya berukuran kecil, tepatnya setengah dari tinggi Nadi, dan wujudnya menyerupai Kucing berbulu lebat, walaupun begitu, Ia masih bersaudara dengan Harimau.
Tentu Nadi tidak tahu tentang bahayanya Kucing itu, Dia dengan cepat bangkit berdiri, kali ini dalam pikirannya cukup berbeda, Dia tidak merasa lapar atau ingin menyantap Kucing itu.
Melainkan rasa penasaran, karena Ia lihat, Kucing itu bisa nyaman tidur, walau hujan sedang turun.
Perlahan Dia mendekat ke arah Bibir Gua, karena Kucing itu sedang tidur, Dia tidak menyadari kehadiran Nadi, itu juga berkat bantuan hujan yang mengguyurnya.
tap tap tap..." Nadi masuk ke dalam gua, lalu ikut membaringkan tubuhnya dibawah kaki Kucing itu. Karena ekor kucing itu mengeluarkan api yang cukup panas, membuat tubuh Nadi menjadi sangat hangat.
Ia tidak tahu mengenai hangatnya berasal dari api, yang Ia tahu, hanya rasa nyaman, ketika Ia menutup matanya.
Tidak lama setelah Nadi tertidur, hujan pun berhenti.
kkuurr, khuurrr, khuurrr," Karena suara hujan sudah menghilang, dengkuran Nadi yang sekarang mengisi seluruh penjuru Gua, Dan berhasil membuat Kucing itu terbangun.
Dia merasakan sesuatu di bawah kakinya, lalu Ia menjadi sangat penasaran akan hal itu. Lalu Ia bangun untuk memastikan apa yang berada di belakangnya.
toel..." Kucing itu menyentuh Nadi dengan ujung kakinya, baru juga sentuhan pertama...
nmeooonhg." Kucing itu merinding setelah menyentuh tubuh Nadi.
Seakan-akan rasa dingin yang menyertai Nadi, ikut tersalurkan kepada Kucing itu.
Ia berpikir, bahwa Nadi sudah menjadi mayat, dan karena Kucing itu Hewan pemilih, Dia tidak tertarik dengan tubuh Nadi, lalu meninggalkannya begitu saja.
......°°°°°°°°°°°......
__ADS_1