
Darr."
Duarr!"
"Dwarrr!" Ledakan itu semakin lama semakin kencang terdengar.
"Arrgghh!!" Terdengar suara teriakan di jarak 20 meter sana.
Dan ya, suara itu berasal dari orang yang tadi kabur, sekarang Ia sedang terpelanting ke udara, karena terhantam oleh tebing curam yang tiba-tiba muncul di pijakannya.
Tentu saja Nadi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan pemikiran cepat, Ia langsung mengeluarkan Belati dari sarungnya, dan tanpa berlama-lama lagi, Nadi mengatur posisi tubuhnya untuk melempar.
Swuushhh.....!!!" Terdengar suara desiran angin yang terpotong oleh Belati itu.
Cleebb!!" Dan kini Belati itu bersarang di dada kiri orang asing tadi.
Dan benar saja, saat Belati itu menancap di jantungnya, suasana di sekitar menjadi berubah, Dinna yang berada di bawah pun, sekarang menjadi tertidur lelap di samping Miko.
Seharusnya Nadi juga tertidur disana, tapi Ia tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, Ia lebih memilih menahan rasa kantuk yang sangat berat itu.
Dengan Langkah Cepat, Ia langsung berpindah tempat ke arah Orang tadi, kali ini Ia tidak terkena cahaya putih yang menyilaukan itu lagi.
Bruukk!!" Orang itu terbanting ke tanah dengan keras.
Ughh..." Muncul muncratan darah dari mulut dan dadanya.
"Terima kasih Anugerahnya..." Ucap Nadi sambil tersenyum.
Lalu Ia dengan cepat menyentuh Belatinya, dan mendorongnya agar lebih dalam menembus dada orang itu, tentunya agar dapat mengenai jantungnya lebih dalam.
Mungkin kalian ada yang penasaran, kenapa Belati Nadi sekarang tidak menembus tubuh orang tadi, jawabannya sederhana, karena Nadi sudah dapat mengendalikan ketajamannya.
__ADS_1
Karena percuma saja, jika Belati itu menembus jantungnya, karena itu membuat Nadi tidak dapat mengambil apa-apa dari orang yang Ia bunuh.
Sekitar 2 detik setelah Nadi menembus jantung orang itu, dan seperti biasanya, gumpalan darah yang mengalir kemana-mana sekarang berkumpul menjadi satu, lalu meledak saat itu juga.
Duaar...!" Ledakan yang diiringi cahaya keemasan itu kini menyerap ke dalam tubuh Nadi.
Namun karena Nadi masih dalam Ilusi orang itu, sekarang Ia terjatuh pingsan, bersamaan dengan hilangnya cahaya keemasan itu.
Bruukk.!!"
.
"Oi bangun Pemalas!!" Teriak Dinna sambil menendang tubuh Nadi.
"Hah!?" Nadi langsung bangun karena terkejut oleh tendangan Dinna itu.
"Dasar Pemalas, sudah berapa kali Aku mencoba membangunkanmu tadi, dasar....!" Gerutu Dinna sambil menyimpan kedua mangkuk yang sedari tadi Ia pegang.
Drap drap drap..." Nadi berjalan cepat ke tempat Ia terkena cahaya menyilaukan sebelumnya.
Apa disini?" Batin Nadi, lalu Ia berjalan perlahan menjauh dari Dinna.
"Mau kemana?" Teriak Dinna bertanya, namun tidak Nadi jawab.
Ya tidak Nadi jawab, karena sekarang Ia sudah menjauh dari tempat itu.
Ternyata benar, yang tadi itu hanya Ilusi.." Batin Nadi sambil mencari lokasi tempat orang yang Ia bunuh tadi.
"Ada!" Ucap Nadi.
Ia langsung berpindah ke tempat orang itu, dan sekarang Ia dapat melihat wajahnya, berbeda dengan sebelumnya, yang hanya bayangan hitam saja.
__ADS_1
Setelah memastikan keadaan sekarang, Ia langsung berpindah kembali ke tempat Dinna.
"Ayo makan..." Ujar Nadi semangat, tapi saat Ia duduk, makanan bagiannya sudah hilang entah kemana.
"Mana bagianku?" Tanya Nadi kepada Dinna.
"Hah? Bukannya gak mau makan tadi, pergi seenaknya begitu." Jawab Dinna ketus.
"Ya maaf, Aku cuman mau memastikan mimpi tadi." Ucap Nadi beralasan, namun Dinna tidak menanggapinya.
"Yaudah, Aku makan aja semua sisa rebusan disana." Ucap Nadi, lalu Ia berpindah ke tempat panci itu berada.
"Hah!?" Nadi terperangah kaget, karena rebusan di dalam panci itu sekarang sudah habis tak bersisa.
"Tadi Aku juga bermimpi aneh, makanya Aku dapat mengetahui tindakanmu itu." Ujar Dinna tanpa melihat ke arah Nadi yang sedang terkejut itu.
"Mimpi?" Tanya Nadi, dan sekarang Ia sudah berada di samping Dinna.
"Ya." Jawab Dinna singkat.
"Lalu kemana semua rebusan itu?" Tanya Nadi bingung.
"Kau tidak melihat kah? Tuh..." Jawab Dinna sambil melirik ke arah Miko yang sedang tertidur pulas.
Ya, semua sisa rebusan itu sudah di lahap oleh Miko, dan karena sudah sangat kenyang, Miko jadi mengantuk kembali, lalu tertidur begitu saja.
"Gak adil dong!" Ucap Nadi tidak terima.
"Bodo, gak peduli..." Jawab Dinna.
Dan hari pun berlalu dengan perdebatan Dinna dan Nadi.
__ADS_1
...°°°°°°°°°°...