
Pertempuran di Hutan ini terbilang sangat membosankan, karena tidak adanya ancaman yang harus Nadi takuti.
Begitulah pikirnya, saat Ia berjalan ke arah Dinna, Ia tidak mengetahui, bahwa di balik bayangan ada yang sedang mengintainya, dan selalu siap untuk menyerang Nadi kapanpun.
Swuuushhh...!" Dengan kecepatan suara, ada seseorang yang sedang meluncur dari atas pucuk pohon ke arah Nadi.
Tentu saja Nadi tidak menyadarinya, karena serangan itu terbilang cepat untuk telinga dan matanya menangkap momen itu.
Mungkin saja, ini adalah hari terakhir Nadi, tapi sayangnya takdir belum membolehkan untuk Nadi mati. Mungkin dalam keadaan ini, jika itu adalah Nadi yang dulu, maka Ia akan mati dengan mudahnya.
Kenapa begitu? Jawabannya mudah, dan mungkin kalian juga sudah tahu...
Sraaakk..." Tebasan orang itu menembus perisai tanah yang tiba-tiba muncul, dengan sisa jarak 3 cm lagi.
Ya, Perisai Hidup itu kini telah menjadi milik Nadi, tapi karena yang Nadi ambil adalah Anugerah Reg, jadi jiwa yang berada di dalam perisai itu adalah Jiwa Reg, yang tertarik otomatis seperti kutukan.
Walaupun jiwanya masuk ke dalam Anugerah itu, tapi kesadarannya hanya sebatas melindungi Nadi, dan itu sudah lebih dari cukup, karena ini bisa menjadi perlindungan kuat untuk Nadi.
Braakk!!" Orang tadi kini terpelanting ke belakang.
"Hah?!" Nadi seketika terkejut, namun bukan terkejut karena ada yang menyerangnya, melainkan Ia terkejut karena melihat Perisai Hidup itu melindungi dirinya.
Seraya Perisai Tanah itu melebur, Nadi menangkap leburan tanahnya menggunakan telapak tangannya, lalu Ia tersenyum sangat bahagia karena hal itu.
Walaupun Nadi tidak tahu apa yang ada di dalam Perisai itu, tapi Ia tidak peduli, karena yang menjadi prioritas Dia sekarang, adalah untuk menjadi kuat, agar dapat melindungi Dinna dan Miko.
Swuushh..." Pria tadi sekarang melompat ke arah Nadi sekali lagi.
Namun sayangnya serangan itu tidak berguna, bahkan Nadi tidak menggerakan tubuh atau tangannya seinci pun, karena dengan Perisai itu saja sudah lebih dari cukup.
"Mau apa Kau!?" Tanya Nadi sambil melihat Pria itu terpental ke belakang.
__ADS_1
"Berisik!" Jawab Pria itu, lalu berniat untuk kabur dari Nadi.
Tapi Nadi telah mengetahui pergerakannya, sekarang Pria itu tidak bisa kemana-mana, karena kedua kakinya sudah tertahan oleh tangan yang terbuat dari tanah.
"Sial..." Umpat Pria itu, lalu kembali menatap tajam ke arah Nadi.
"Tenang saja, Aku cuman mau mengambil Anugerah milikmu." Ucap Nadi santai sambil berjalan ke arah Pria itu.
"Hah?" Pria itu terperangah, karena seharusnya tidak ada yang tahu, bahwa Ia memiliki sebuah Anugerah.
"Kau pasti merasa bingung, bagaimana Aku bisa tahu tentang Anugerahmu." Ucap Nadi, dan sekarang Ia sudah berada di depan Pria itu.
"Jawabannya sederhana, karena Aku sudah merebut keterampilan temanmu, di dalam keterampilan itu, ada sebuah ingatan tentangmu juga." Lanjut Nadi.
"Cuih... Breng*ek.. Tunggu saja, akan ada ribuan orang disini yang mengincar nyawamu!!" Ujar Pria itu, setelah meludah ke wajah Nadi.
"Tenang, Kau akan segera bertemu dengannya." Jawab Nadi tenang, entah kenapa Dia bisa setenang itu.
Dan sekarang Pria itu telah menghembuskan nafas terakhirnya, bersama dengan darah yang mengalir keluar dari celah Belati yang menusuknya.
Setelah Nadi menancapkan Belatinya, darah yang keluar dari tubuh Pria itu mulai mengumpul, lalu meledak mengeluarkan cahaya keemasan.
Dinna yang mendengar suara ledakan itu langsung terperangah kaget, lalu Ia melihat ke arah Nadi, yang sedang di selimuti cahaya keemasan.
.
Bersamaan dengan cahaya yang meredup, tampak telihat jelas, bahwa Nadi sekarang sedang menitikkan air matanya.
"Kenapa?" Tanya Dinna yang muncul di samping Nadi.
Grep!!" Nadi dengan cepat memeluk erat Dinna, Ia membenamkan wajahnya di pelukan itu.
__ADS_1
Tentu saja Dinna mengerti dengan keadaan Nadi, lalu Ia membalas pelukan Nadi dengan sama eratnya.
"Keluarkan semua, setelah itu Kita makan..." Ucap Dinna lembut, jika harus di ilustrasikan, ekspresi wajah Dinna sekarang, layaknya seorang Ibu yang sedang menenangkan anaknya.
Sangat lembut, dan terlihat sangat nyaman, terasa jelas rasa sayang yang berlipat di wajah itu.
Entah berapa lama agar Nadi dapat tenang, mungkin sekitar 10 menit mereka dalam posisi itu, dan sekarang Nadi tampaknya sudah sedikit tenang, Ia melepas pelukannya perlahan.
"Terima kasih.." Ucap Nadi sambil mengeluarkan senyumannya yang hangat.
"Ya.." Jawab Dinna membalas senyuman Nadi.
"Ayo, Aku sudah lapar.." Ucap Nadi seraya menarik tangan Dinna.
"Lah, bukannya Kamu tidak bisa lapar?" Tanya Dinna dengan senyum jailnya.
"Gak usah di bahas! Pokoknya Aku lapar." Jawab Nadi tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
Namun, bukan marah atau kesal yang Nadi rasakan sekarang, melainkan rasa bahagia yang begitu besar, dan itu terlihat jelas dari senyuman tipis di wajahnya.
...******...
Di sisi lain, tepatnya di atas udara, terlihat jelas sebuah bangunan megah berdiri disana, dan di tempat itu, muncul 5 orang dengan aura mencekam di sekelilingnya.
Dan salah satu dari 5 orang itu, terlihat Aglaea yang datang bersama dengan Weist, mereka muncul di lingkaran teleportasi.
Sebenarnya tempat apa itu?
Kenapa Aglaea juga ada disana?
Pasti kalian sudah tahu jawabannya, yaitu...
__ADS_1
...°°°°°°°°°°°°...