
Huuuk.. Kurrrr"
Huuuk.. Kurrr"
Nampak Hewan bulat besar dan menggemaskan sedang menutup matanya, membuat siapa pun yang melihat, pasti berkeinginan untuk memakannya.
Ya, siapa pun, bahkan Nadi juga termasuk. Sekarang Nadi sedang bersemunyi di balik bebatuan besar bersama Dinna, sedangkan Si Kucing menunggu di jarak yang aman.
Nadi sebetulnya ingin segera melahap Burung itu dari tadi, tapi karena Dinna menahan dirinya, Ia sekarang hanya bisa menunggu sambil mengeluarkan sedikit liur di mulutnya.
"Duh.. Jorok ih!!" Ucap Dinna yang melihat Nadi sedang ngeces.
"Tunggu, sebentar. Biar, Aku, yang, kesana, oke." Isyarat Dinna kepada Nadi, lalu melangkah mengendap-endap, mencari sarang burung yang tidak dijaga oleh induknya.
Sementara Dinna pergi mencari telur burung, Nadi berusaha untuk menahan rasa laparnya sendiri. Berulang kali Nadi mengintip Burung yang berada di depannya.
Namun apa daya, ***** Nadi terlalu besar dibandingkan kesabarannya.
Hupplaa.." Nadi melompat melewati batu besar itu, lalu berlari dengan cepat ke arah Burung Puyuh yang berada di depannya.
Drap drap drap drap..."
Huup... Haaaa!" Nadi melompat sambil membuka mulutnya, berniat ingin melahap Si Burung.
Sementara itu...
Dinna yang sudah berkeliling dari tadi, akhirnya menemukan mangsanya, Ia melihat tepat di arah jam 10, ada satu butir telur puyuh yang sangat besar, ukurannya mencapai 13 meter.
Dengan cepat Dinna menambah kecepatannya sampai kepada sarang itu.
"Yeaa, jackpot.." Guman Dinna setelah sampai di sarang itu.
Namun takdir petualangannya tidaklah semudah itu, tepat saat Ia akan memasukan telur itu ke dalam tasnya...
__ADS_1
Krueeeeee!!!" Jeritan Burung Puyuh terdengar dari tempat Nadi menunggu.
"Ishh, sial.." Dinna buru-buru memasukan telur itu, lalu pergi dengan segera, dan diikuti oleh jeritan burung puyuh lain, yang terbangun karena jeritan pertama.
Sebelumnya...
Haaaa!"
Blussh..." Nadi masuk ke dalam bulu tebal Si Burung.
Plupp..ha, ha, ha..." Nadi memunculkan kepalanya dari dalam bulu itu, lalu menarik nafasnya cepat-cepat.
Nadi merasa sangat kebingungan, karena Ia tidak tahu seberapa dalam bulu Si Burung. Tapi dengan pemikiran cepat Nadi, yang dibantu oleh napsu laparnya, Ia bukan keluar dari bulu itu, melainkan menyusup lebih ke dalam.
Karena di dalam bulu itu kedap udara, Nadi sedikit kesulitan untuk bernafas, dan Ia juga kesulitan mencari jalan, karena sebenarnya, ini adalah kemampuan spesial dari Burung Puyuh.
Kemampuannya cukup menyebalkan, karena itu digunakan untuk mengusir hama yang selalu hinggap di bulunya agar tidak masuk ke dalam dagingnya.
Nadi tentu saja menjadi sangat kesal, karena sedari tadi, Nadi hanya berputar-putar di satu tempat. Bersamaan dengan kekesalannya itu, Nadi menggenggam erat Belatinya menggunakan kedua tangannya.
Swussshh..." Belati itu tidak mengenai apapun, bahkan tidak memotong satu helai pun bulu Burung Puyuh.
Nadi yang tidak biasa berpikir, menjadi semakin kesal, lalu Ia berniat untuk kembali terlebih dahulu.
Plup... Ha, ha, ha, ha..." Nadi berusaha mengatur nafasnya cepat.
Dengan pikiran yang masih di penuhi napsu lapar, Nadi berniat kembali masuk ke dalam, namun sekarang caranya berbeda.
Nadi menggenggam Belatinya tepat di atas kepalanya, lalu Ia meringkukkan badannya dalam posisi itu, setelah melakukan itu, Nadi langsung menggelinding masuk ke dalam bulu.
Craaaat!!" Darah Burung Puyuh muncrat keluar, sementara Nadi, Ia terjebak di dalam bulu yang ternyata tidak lebih dari 1 meter dengan Belatinya yang menancap.
Krueeeee!!!" Suara jeritan Burung Puyuh itu.
__ADS_1
Krueee..."
Rueee..."
Wreureee..."
Jeritan Burung Puyuh itu menjadi alarm untuk semua Burung Puyuh yang masih tertidur. Dan sekarang tempat ini berubah jadi seperti orkesta jeritan Burung Puyuh.
Nadi yang masih tersangkut, berusaha sekuat tenaganya untuk melepaskan dirinya dari situ. Ia menarik Belatinya dengan cepat, lalu mendorong kakinya untuk berpijak di daging Si Burung, lalu...
Huplaa..." Nadi berhasil melompat keluar dari bulu Si Burung, namun sayangnya karena Si Burung sudah berdiri, ketinggiannya untuk mendarat pun berubah.
Bruaaak!!" Nadi mendarat dengan tidak selamat, menggunakan kepalanya yang mencapai tanah terlebih dahulu.
Drap dra drap drap...." Terlihat dari jarak yang tidak jauh, Dinna sedang berlari.
Saat Dinna sedang menuju ke batu besar tempatnya mengintip tadi, Ia melihat Nadi yang sedang tersungkur tidak jauh dari batu itu, lalu Ia merubah haluannya, untuk menarik kaki Nadi dari sana.
Drap drap drap... "Ah dasar merepotkan!!" Teriak Dinna sambil menggusur Nadi.
krueeee, krueeee..." Para Burung Puyuh menjerit makin kencang, namun tidak sampai keluar dari sarangnya.
Dan Si Kucing yang mendengar jeritan Burung Puyuh, mulai berlari ke arah batu besar, tempat Dinna dan Nadi mengintai tadi.
Drap drap drap drap... "Hei... Kucing kemari!!!" Teriak Dinna yang melihat Si Kucing sedang berlari ke arah batu besar.
Dengan arahan dari Dinna, Si Kucing berlari ke arahnya. Dan dengan cepat, setelah Si Kucing dekat dengan Dinna, Ia melempar Nadi ke atas punggung Si Kucing.
Bruaakk... Ngreeokk!!" Si Kucing sedikit terkejut, karena tiba-tiba Nadi di lempar ke atas punggungnya.
Huplla.."Ayo, menuju tak terbatas dan melampauinya, hahahahaha...." Ucap Dinna setelah ikut naik ke atas punggung Si Kucing, sambil tertawa bahagia.
Wreeooong...." Si Kucing hanya bisa mengeong keberatan dengan aksi dari Dinna ini.
__ADS_1
...°°°°°°°°°°...