
Hah hah hah hah..." Nafas Nadi tersenggal.
Swuushh"
Swuusshh" Serang bertubi-tubi di hempaskan dari Si Kelelawar.
Druaaarr..."
Arrrrgggg....!!!" Serangan itu tepat mengenai Nadi yang sedang terbaring di tanah.
"Sekarang waktunya Aku membalas!!" Ucapan Si Kelelawar dalam bahasa Hewan Ilusi.
Namun Nadi tidak menghiraukan ucapan Si Kelelawar, lalu berusaha untuk bangkit berdiri.
Swuusshhh..." Serangan dari Si Kelelawar, mencegah Nadi berdiri.
"Kau pikir bisa menang di dalam Dimensi Buatanku?! Jangan harap!" Tegas Si kelelawar.
Pertempuran Nadi dengan Si Kelelawar cukup alot, apalagi Nadi tidak diuntungkan berada di dalam dimensi ini, Anugerah Belati miliknya tidak bisa keluar, karena tertahan oleh Anugerah Si Kelelawar.
Salah satu syarat untuk mengaktifkan Anugerah Belati itu hanya satu, yaitu harus bisa menebas setidaknya 1 mili dari bagian tubuh lawan, dan itu adalah hal yang sangat sulit.
Si kelelawar dengan tubuhnya yang ringan, Ia terus berlarian di udara, dan melancarkan serangannya, ibarat pesawat tempur yang sedang memburu kelinci liar, pertarungan ini sungguh berat sebelah.
"Sayangnya Aku tidak bisa membunuhmu disini, karena tujuanku untuk mencapai Hewan Ilusi tingkat tinggi, tinggal di depan mata. Aku akan membangkitkan seluruh keluargaku kembali, lalu akan menyiksamu secara perlahan nanti."
"Tapi sebelumnya, Aku akan memberikan sedikit hadiah untukmu, ini sebagai ucapan terima kasih, karena Kau telah membantuku mencapai tahap ini. Terima ini!!" Teriak Si Kelelawar.
Bulatan energi hitam berkumpul di ujung sayap Si Kelelawar, dan tidak lama kemudian, bulatan itu mendadak berubah menjadi sekecil kelereng, lalu di hempaskan begitu saja ke arah kepala Nadi.
Swusshjhj...." Bulatan energi kecil itu sudah masuk ke dalam kepala Nadi, dan seketika itu pula, Nadi tersungkur tidak sadarkan diri.
"heh, lemah, akan kutunggu sampai Kau menjadi kuat..." Dengus Si Kelelawar meremehkan.
Swushsjh!!" Si Kelelawar terbang dengan cepat keluar dari dimensi ini.
Setelah Si Kelelawar pergi, dimensi buatannya perlahan menghilang, dan menyisakan Nadi yang masih terkapar pingsan di atas rumput yang basah.
...*******...
Ruang Ilusi
__ADS_1
"Arrgghh, sakit!" Rintihan Nadi setelah membuka matanya.
Ia sekarang sedang berada di dalam ruang ilusi yang terbuat dari imajinasinya sendiri. Tepat setelah Nadi membuka matanya, Ia merasa bingung dengan keadaan di sekitar.
Ia merasa bingung, karena tempatnya berada, begitu kosong dan hening, terlihat jelas hamparan putih susu terbentang di sepanjang matanya.
"Dimana ini?" Tanya Nadi.
Saat Nadi akan beranjak berdiri, ruangan itu pun ikut berubah mengikuti gerakan Nadi yang sedang berdiri.
Ruangan itu berubah menjadi malam hari, banyak pepohonan di sekitar Nadi, dan terdengar jelas bunyi aliran sungai yang deras di belakangnya.
Tentu saja Nadi merasa sangat kebingungan dengan keadaannya itu. Tapi anehnya, Nadi tidak merasakan adanya ancaman di tempat itu, dan itu sedikit membuat hatinya tenang.
Saat Nadi mulai berjalan, berniat untuk mencari jalan pulang, tiba-tiba rintik air hujan menimpanya deras, namun tidak membuat Nadi lari untuk berteduh, karena hujan sudah menjadi kesehariannya.
Srak srak srak srak..." Terlihat seseorang menggelinding dari atas tebing.
Nadi mengira orang itu sudah mati, Ia mendiamkannya saja tidak peduli, tapi ternyata dugaan Nadi salah, orang itu bangkit berdiri kembali, dengan langkahnya yang tertatih, orang itu berjalan ke arahnya.
Tapi, walaupun Nadi terlihat jelas sedang berdiri di sana, orang itu seperti tidak melihat kehadiran Nadi, dan berlalu melewatinya begitu saja, begitu juga dengan Nadi, Ia tidak peduli dengan orang itu, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tepat saat Nadi akan berjalan ke arah sebaliknya dengan orang itu, terdengar suara sambaran petir yang dahsyat, bahkan sampai membuat Nadi terperanjat kaget.
Bersamaan dengan sambaran itu, Nadi yang tadi terkejut ketika mendengarnya, tiba-tiba pandangannya mendadak buram, kepalanya terasa seperti di tekan oleh dua orang bertubuh besar.
Brukk!" Nadi berlutut di atas tanah basah itu.
Saat Ia berusaha untuk membuka matanya, pandangannya tiba-tiba terfokuskan kepada seorang wanita yang terlihat lusuh, dengan penuh luka di wajahnya yang pucat.
Lalu Nadi tersentak ketika ingat wajah wanita di hadapannya, Ia adalah orang yang tadi berjalan melewatinya. Saat Nadi mengalihkan pandangannya, tepatnya ke arah kiri dia berada, Nadi melihat dirinya yang lain sedang kesakitan tidak jauh dari tempatnya berada.
"Namamu adalah Nadi, Anak kesayangan Ibu dan Ayah, Kamu harus bisa hidup, semoga Kamu bisa menemukan kebahagiaan di sana..hiks." Ucap wanita itu, lalu mencium kening Nadi.
Entah kenapa Nadi seperti mengerti ucapannya, namun terdengar sangat sulit jika Ia ingin meniru ucapan itu. Saat Nadi akan membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba pandangannya perlahan menjauh dari wanita itu, Ia seperti sedang hanyut dibawa arus sungai. Lalu Ia berusaha berteriak dan berniat untuk berdiri.
Cttaaarrr!!" Suara ledakan petir itu terdengar sangat dekat, juga lebih keras dari yang pertama tadi, dan itu membuat Nadi menutup matanya.
Hah hah hah..." Nadi kembali tersadar di tubuhnya kembali, nafasnya tidak beraturan.
Saat Ia melihat ke kanan, tepatnya ke arah wanita itu berada, Nadi disuguhkan pemandangan yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Tubuh wanita itu hangus tanpa sisa, bersamaan dengan darahnya yang mendidih, terlihat kristal air mata, dari sudut matanya yang perlahan melepuh, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk semua bagian tubuhnya ikut melepuh juga.
Dan tanpa Nadi sadari, Ia sekarang sedang menangis, entah kenapa Dia bisa menangis, hatinya terasa sangat sakit, perih, seperti sedang di remas oleh seseorang, sesak, dadanya sangat sesak, saat Ia memandangi kristal abu yang tersisa dari tubuh wanita itu.
Saat Nadi memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sesak itu, Ia lalu teringat dengan pemandangannya tadi. Pemandangan sebelum Ia perlahan menjauh dari wanita itu, sampai Ia hanyut dibawa arus sungai. Dengan cepat Nadi mencari sesuatu yang hanyut di sungai itu.
Crak crak crak.." Nadi berjalan di atas air, mungkin kata berjalan kurang tepat, Ia kini sedang setengah berlari, mencari sesuatu yang Ia tidak tahu bentuknya.
Nadi mencari, terus mencari, namun hasilnya nihil, Ia tidak menemukan apapun sampai matahari menunjukan dirinya.
Saat Ia akan menyerah, terdengar tidak jauh dari tempatnya berdiri, suara air terjun. Ya, Ia mengetahui itu suara air terjun, lalu dengan kekuatan penuhnya, Ia berlari sekuat tenaga mencapai suara air terjun itu, entah kenapa hatinya ingin Ia berlari ke arah sana.
Air terjun itu berada di cabang sungai lain, Ya cabang sungai lain, Nadi tadi salah memilih jalan, karena banyaknya lika liku yang menghubungkan sungai itu.
Crak crak crak crak..." Nadi berlari secepat cepatnya bersamaan dengan hujan yang belum berhenti sampai sekarang.
Hah!! Apa itu?" Batin Nadi melihat sesuatu diatas daun yang sedang hanyut, dan tidak lama lagi sesuatu itu akan mencapai air terjun, tepatnya sisa 10 meter lagi.
Tap!" Nadi menangkap daun itu, lalu Ia terkejut, karena di atas daun terlihat benda asing di matanya.
Benda asing itu adalah Nadi saat Ia masih bayi, lalu Nadi mengarahkan Bayi itu ke pinggir sungai tanpa mengangkatnya.
"Semoga Kau bisa hidup.." Ucap Nadi setelah mengarahkan Bayi itu.
Dan tidak lama kemudian, terdengar suara kereta kuda yang sedang mendekati Nadi, dan tepat saat Kereta Kuda itu melewatinya, tampak sebuah botol terjatuh dari kereta itu, lalu menimpa Nadi yang masih Bayi.
Dengan cepat Nadi menghampiri Bayi itu, namun tangannya tidak bisa menyentuh Bayi itu, tubuhnya sekarang seperti seakan perlahan menghilang.
Set.."
Satt.."
Sett.." Berulang Kali Nadi berusaha menggapai Bayi itu, namun sama sekali tidak tersentuh, lalu tidak lama kemudian, darah Bayi itu mendidih, dan menghasilkan asap tebal berkat air hujan yang mengguyurnya.
Swussh..."
Swasshh..."
Swuushh..." Nadi berusaha menghilangkan asap itu, dan sekarang tubuhnya hampir menghilang sempurna.
Saat Nadi sebentar lagi menghilang, Ia melihat asap yang mengitari Bayi itu perlahan menghilang juga. Lalu terlihat jelas dengan kedua bola matanya, bahwa Bayi itu sudah memiliki tubuh baru.
__ADS_1
Tubuhnya perlahan membesar, lalu Dia mulai beranjak berdiri, dan memperlihatkan raut wajah yang terlihat sangat lelah, dan saat itu pula, Nadi menghilang.
...°°°°°°°°...