PENCURI

PENCURI
7. Santapan


__ADS_3

Khuuurrr, khuurrrr, khuurrrr." Dengkuran Nadi mengisi seluruh penjuru Gua.


...*****...


Sementara itu, disisi lain...


Ndus, ndus.." Seekor Hewan Ilusi tingkat menengah sedang mengendus bau darah di tanah.


Hewan Ilusi itu berbentuk seperti Serigala, namun berbeda dengan Serigala di Tingkat Bawah, yang sering dijumpai di pemukiman warga, atau di sisi Hutan. Serigala ini memiliki bulu lebat di bagian leher dan dadanya, serta keunikan lainnya yang akan di bahas di lain episode.


Seperti Hewan Ilusi tingkat menengah lainnya, Serigala ini memiliki kemampuan khusus juga. Yaitu, Cakarnya yang bisa mengeluarkan es, bila menyentuh mangsanya. Bahkan Tanah yang di pijak pun, dapat berubah menjadi es, walaupun hanya sedikit, tapi efeknya bisa permanen, tergantung niat Si Serigala.


Dan seperti biasa juga, ini sesuai rantai makanan pada umumnya, Serigala dan Kucing itu musuh bebuyutan, jadi tidak heran, bila Serigala itu tertarik dengan darah Kucing yang khas.


Letak Si Serigala tidak jauh dari Gua, tepatnya sekitar 1 km jauhnya. Dan karena darah Kucing itu berceceran di sepanjang jalur yang Nadi lalui. Itu menjadi petunjuk yang mudah bagi Serigala.


...*****...


Di Sekitar Gua


Tap, tap, tap..!" Langkah pelan dari Si Serigala yang mengintai.


Sekarang Ia sedang bersembunyi di balik bayang pepohonan, Ia sedang memantau ke daerah sekitar Gua itu, untuk mengecek, apakah ada Hewan Ilusi lain yang tertarik dengan darah Si Kucing atau tidak.


Setelah yakin bahwa semuanya sudah aman, Si Serigala mulai mendekat ke arah Gua. Dan ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Serigala adalah Hewan Ilusi yang senang berkelompok, Mereka kuat jika bersama-sama, oleh karena itu, populasi Serigala di tingkat menengah banyak sekali, kalau dalam peringkat, Serigala peringkat Satu dalam jumlah, namun masih kalah dalam kekuatan.


Dengan Cerobohnya, Si Serigala satu ini malah merasa jagoan, itu juga karena Ia tahu, bahwa Si Kucing sedang berdarah-darah, makanya Ia merasa akan menang dengan mudah.


.


Di lain sisi, Si Kucing tahu, bahwa ada yang sedang memantau di depan Gua. Ia yang tadinya sedang duduk sambil kesakitan, beranjak berdiri dengan aura cemas terpancar di sekitar wajahnya.


Ya, Ia dapat merasakan kehadiran Serigala, dan yang Ia takutkan adalah kawanannya yang tidak sedikit, karena Serigala ketika menyerang, paling sedikit 10 ekor yang ikut turun tangan langsung.


Erwnnggg..!!!" Si Kucing meraung kencang, berniat mengintimidasi Serigala dengan raungannya. Karena suaranya itu sangat keras, sampai-samapi Nadi terbangun dibuatnya.


Dan Si Serigala yang mendengar intimidasi dari Si Kucing, melenggang maju dengan postur gagahnya. Dia sangat amat percaya diri. Apalagi, jika Ia dapat membawa kepala Si Kucing itu ke hadapan Pemimpin Kawanan Serigala, Ia bisa memegang Tiket untuk menjadi Pemimpin selanjutnya.


Hissssshhh..." Desisan Si Serigala, menjawab intimidasi dari Si Kucing.


Nadi yang sudah bangun dari tadi, merasa bingung dengan tingkah Si Kucing. Pasalnya, Si Kucing meraung tidak sambil menatap kearahnya, melainkan ke arah belakangnya.

__ADS_1


Nadi pun membalikkan tubuhnya, dan masih dalam posisi terbaring. Nadi memasang ekspresi biasa saja, Ia melihat Serigala melangkah pelan, namun berhenti setelah jaraknya sisa 6 langkah lagi dari Nadi.


Wronnnghh..!!/ grrrrrrr..!!" Si Kucing dan Si Serigala saling mengancam satu sama lain, dan tidak memperdulikan keberadaan Nadi sama sekali.


Dan karena Si Kucing merasa ketakutan, Api di ekornya yang semula berukuran Bola Sepak, menyusut menjadi sekecil Padi. Dan Nadi yang mengetahui hal itu, mengalihkan pandangannya, karena rasa hangat yang mengitari punggungnya kian mereda, dan digantikan oleh hawa dingin yang dibuat oleh Si Serigala.


Tentu Nadi menjadi kesal, namun Ia bukan kesal kepada Si Kucing, melainkan kepada Si Serigala yang menakuti Si Kucing, dan menyebabkan rasa dingin yang melebihi Angin Pagi tadi.


Dengan Sigap Nadi mengambil Belati yang berada di atas kepalanya, lalu beranjak berdiri dengan postur tubuh yang tegap. Tanpa Ragu Nadi melangkah maju mendekat ke arah Si Serigala.


Tap tap tap tap tap..!" Nadi berlari dengan cepat, mendekat ke arah Si Serigala, namun saat Nadi akan menyerangnya duluan, Si Serigala sudah mengangkat tubuhnya, lalu berniat melayangkan cakarnya.


Slasshj...!!"


Craaatt!!" Darah yang berasal tangan Si Serigala mencuat keluar, karena Belati Nadi dengan mudah menembus tulangnya seperti ranting biasa.


Auuuurggghhh....!! Rrrrggghh....!" Si Serigala mengaum kesakitan, lalu berjalan mundur sambil melompat kecil.


Nadi yang melihat Si Serigala akan kabur, langsung berlari dengan cepat melewatinya, lalu menghadangnya sambil melangkah mendekat perlahan ke arah Si Serigala.


Rrrgrgggh...!" Si Serigala menggeram mengancam, namun tidak sama sekali berhasil membuat Nadi takut. Yang ada, Nadi malah menjadi semakin kesal kepada Si Serigala itu.


Tap tap...slash..." Nadi melangkahkan kakinya dengan cepat, lalu memenggal kepala Si Serigala yang hendak melompat ke arah samping Nadi.


Sementara Kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya, dan menggelinding ke luar Gua. Nadi berjalan perlahan ke arah kepala Si Serigala, lalu menggandengnya dengan menggunakan tangan kiri.


Bruuuk!" Nadi melemparkan kepala Si Serigala ke arah Si Kucing yang sedang membatu.


Bagaimana tidak, Serigala yang Ia takuti, malah kalah dengan mudahnya, oleh anak kecil yang hampir berhasil Ia santap tadi pagi.


Tapi kali ini Si Kucing tidak jatuh pingsan, Ia tidak merasa takut kepada Nadi, Ia malah menunduk Hormat dengan kedua kaki depannya melipat.


Nadi tidak perduli dengan sikap Si Kucing, Ia mengalihkan pandangannya kepada tangan Si Serigala, yang Ia putus pertama kali.


Bruuk!" Nadi melemparkannya kembali kepada Si Kucing yang sedang membungkuk.


Nadi pikir, bahwa Si Kucing itu sedang meminta tambahan makanannya lagi, jadi Ia melemparkannya begitu saja, lalu berjalan mendekat ke arah tubuh Si Serigala yang sudah ambruk dari tadi.


Sluuurrrpp!" Nadi menyeruput darah Serigala, yang masih mengalir keluar dari bagian lehernya.


Hap... Craatt!" Nadi melahap bagian itu, lalu menariknya sampai pembuluh darah yang masih tersisa utuh pecah.


Si Kucing yang melihat Nadi sudah mulai melahap Serigala, ikut menyantap bagian tangan dan kepala Serigala, yang sudah Nadi berikan tadi.

__ADS_1


Nymmm, nymmm, nymmm.." Kini ruangan itu penuh dengan suara kunyahan Nadi dan Si Kucing.


...*****...


Sekitar 15 menit Nadi melahap tubuh Si Serigala. Namun karena ukurannya lumayan besar, seukuran dengan Si Kucing lebih sedikit, Ia tidak bisa menghabiskan semuanya, dan memberikan sisanya kepada Si Kucing yang sudah menghabiskan bagiannya dari tadi.


Dan sekarang, karena Nadi sudah kekenyangan, Ia berniat untuk kembali tidur di tempatnya semula, karena rasa hangat yang di sebabkan oleh Api Si Kucing sudah kembali.


Sedihnya, baru saja Nadi memejamkan mata, datang seekor Hewan Ilusi tipe pengerat. Siapa lagi kalau bukan Si Tikus.


Dia memiliki tubuh yang lebih kecil daripada Si Kucing, giginya panjang, bulunya tipis, dan ekornya melilit mengeluarkan percikan listrik, Dia juga memiliki kemampuan berlari yang sangat segit. Namun, ada satu hal yang Nadi tidak suka padanya.


Yaitu bau busuk yang keluar dari tubuhnya, bau busuk itu adalah racun spesial dari ras tikus, bahkan dengan baunya itu, bisa membunuh satu kawanan Serigala yang berisi 10 ekor.


Tapi sayangnya nasib Si Tikus kurang beruntung saat ini, mood Nadi yang tadinya sedang berbahagia, karena perutnya sudah terisi sampai kenyang, dan sekarang moodnya berubah drastis, karena Ia diganggu saat akan memejamkan matanya, ditambah bau Si Tikus yang menyengat, hampir memenuhi seluruh penjuru Gua.


Untungnya Si Tikus masih berada diluar, jadi baunya masih bisa terbawa oleh angin yang berlalu.


Tanpa aba-aba, Nadi yang sedang dalam posisi terbaring di lantai Gua itu, mengambil Belati miliknya dengan santai, lalu..


Swuuushh....!!"


Cleebb...!!" Belati itu terbang ke arah Si Tikus, lalu menancap sempurna di bagian kening, tepatnya di tengah bola mata Si Tikus yang sedang melotot.


Braaak!!" Si Tikus terjatuh seketika, dan langsung tidak bernyawa.


Karena Bau Si Tikus itu termasuk Anugerah miliknya, jadi saat Ia mati, bau itu juga ikut menghilang, bersamaan dengan derat listrik di ekornya.


Saat Tikus itu telah jatuh dan mati, Nadi menghampiri mayatnya. Tapi karena Nadi tadi terlanjur jijik dengan bau Si Tikus, Ia hanya mengambil Belatinya yang menancap, lalu berlalu pergi masuk ke dalam Gua.


Bruuk.." Nadi menjatuhkan tubuhnya kembali di Lantai Gua yang keras itu, lalu lekas menutup matanya, sampai tertidur pulas.


.


Sementara itu, Si Kucing yang tadi melihat Nadi membunuh Si Tikus, mulai beranjak berdiri ke arah mulut Gua.


Seeet.. seeet...sett.." Si Kucing menarik mayat Si Tikus masuk ke dalam Gua, lalu menyantapnya tanpa ragu, karena Ia masih lapar, walau sudah makan daging Serigala bersama tulangnya tadi.


Nymmm, nymmm, nymmm.."


Khuurrrr. Khurrrr. Khurrr.."


Ruangan itu kembali terisi oleh suara kunyahan Si Kucing, dan dengkuran Nadi yang terdengar kencang.

__ADS_1


...°°°°°°°°°°°...


__ADS_2