
6 jam berlalu, dan akhirnya mereka sampai di Gua, tempat Si Kucing menunggu. Perjananan Nadi dan Dinna terasa singkat.
.
Di Dalam Gua
Nampak Si Kucing yang sedang duduk menunggu, sambil mengunyah tangan Hewan Ilusi buruannya.
Saat sedang enak-enaknya mengunyah, Si Kucing tiba-tiba merasakan kehadiran Nadi, tapi Ia juga merasakan kehadiran orang lain di sebelahnya.
Karena takut Nadi lebih memilih seseorang itu daripada dirinya, Si Kucing menjadi ketakutan dan marah.
Wrreeeeonnng!!" Si Kucing menggeram mengancam, agar Dinna menjauhi Nadi.
Tap, tap, tap." Si Kucing melangkah perlahan keluar dari Gua.
.
Dinna merasa bingung, kenapa Nadi mengajaknya ke depan Gua, dan lagi ada suara Hewan yang menggeram di sana, Dinna berpikir, Nadi mau mencari bahan makanan tambahan, sehingga Dia menjadi tidak waspada.
"Kau mau tambahan lagi? Yang benar saja.." Ucap Dinna protes kepada Nadi.
Nadi hanya meliriknya sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gua kembali.
Wreeoong!!" Si Kucing melompat dari dalam Gua, lalu menerkam Dinna yang sedang tidak fokus. Dengan berat tubuhnya, Si Kucing menindih tubuh Dinna, sampai Ia tidak bisa bernafas.
Nadi yang melihat Si Kucing bertingkah seenaknya, mulai kesal, lalu... Dzigg!" Nadi menendang Si Kucing, yang sedikit lagi berhasil melahap kepala Dinna.
Dinna bukannya tidak bisa melawan, Ia memang pandai bertarung, tetapi Dia juga memiliki kelemahan, yaitu Dia rabun jauh, dan untuk melihat ke arah jauh, Dinna biasanya menggunakan telinganya, tapi itu memerlukan konsentrasi yang sangat tinggi untuk memulainya.
Hah, hah, hah, terim.." Ucap Dinna terpotong.
Nadi berjalan melewati Dinna begitu saja, lalu mendekat ke arah Si Kucing yang sedang terkapar namun tidak pingsan.
Tep!" Nadi mengambil ekor Si Kucing, lalu menariknya ke arah Dinna.
Tentu Si Kucing tidak melawan, karena baginya, Nadi adalah Tuan sekaligus teman yang paling dihormatinya.
Braakk!" Nadi melempar Si Kucing kepada Dinna, lalu Dia jongkok sambil menunjuk api yang menyala di ekor Si Kucing.
Dinna yang masih mengatur nafas itu, tiba-tiba Ia tertawa setelah melihat Nadi. Karena Nadi bertingkah seperti seorang anak kecil yang menunjukan sesuatu kepada Ibunya.
"Hahaha, Kau ajak Aku kesini cuman untuk menunjukan itu?" Ucapnya, namun Nadi tidak menanggapi karena tidak mengerti.
__ADS_1
Setelah itu, Dinna mengeluarkan peralatan masak dan tubuh harimau dari tasnya, dan itu berhasil membuat Si Kucing dan Nadi terkejut di buatnya.
"Hebat kan?" Ujar Dinna setelah melihat Nadi yang terkesima.
Sementara Si Kucing, Ia berjalan perlahan ke arah tubuh harimau, lalu menyentuhnya menggunakan tangannya, tepat setelah menyentuh, Si Kucing bergidik ngeri, karena Hewan yang merepotkan seperti harimau itu, bisa muncul begitu saja di depannya.
"Kita bunuh dulu Si Kucing ya." Ucap Dinna sambil berjalan ke arah Si Kucing yang sedang merinding di samping tubuh harimau.
Saat Ia akan menebas leher Si Kucing, bahkan tinggal 5 cm lagi menuju lehernya, Nadi melemparkan batu kepada pisau Dinna.
Praakk!"
"Hei, apa maksudmu?" Dinna marah, karena Nadi mengganggunya.
Nadi hanya menjawab dengan ekspresinya yang mengancam ke Dinna, dan itu membuat Dinna merinding sekejap.
"Oke, oke, Dia bagianmu..." Ucap Dinna lalu berjalan mundur meninggalkan Si Kucing yang masih melamun menatap tubuh harimau.
Setelah itu, Dinna mengumpulkan ranting dan dahan pohon yang berserakan, lalu mengumpulkannya menjadi satu. Setelah terkumpul cukup banyak, Dinna meminta Nadi untuk membantunya.
"Hei, bisa, Kau, arahkan, api, itu, kesini.." Ucap Dinna terbata-bata, karena sambil menggunakan isyarat kepada Nadi.
Nadi paham maksud Dinna, lalu berjalan ke arah Si Kucing, dan menarik ekornya tanpa peringatan.
Csssshh!!!" Nadi meletakan ekor Si Kucing di tengah tumpukan kayu itu, lalu apinya mulai menyebar dengan cepat.
Si Kucing hanya bisa terdiam diperlakukan seperti itu oleh Nadi, sementara ekornya sedang menjadi sumbu untuk pembakaran.
"Oke, api sudah ada, tinggal letakan ini, sama potong kecil-kecil daging harimau itu." Gumam Dinna sambil meletakan Panci besar di atas api unggun itu.
"Ini adalah panci ajaib, bisa mengeluarkan air saat bawahnya di panaskan, jadi praktis kalau mau membuat makanan." Jelas Dinna kepada Nadi.
Pluk..!"
Pluk...!" bagian daging harimau di lempar satu persatu masuk ke dalam panci.
(Skip masak dan makan)
Nadi merasa sangat puas setelah menghabiskan setengah sup daging buatan Dinna, sementara setengahnya lagi dimakan oleh Dinna dan Si Kucing.
"Sekarang mau kemana?" Tanya Dinna.
"Ayo kita pergi berpetualang!!" Lanjut Dinna sambil berdiri.
__ADS_1
Nadi tidak mengerti maksudnya, dan hanya diam menatap panci yang kosong.
"Hei, Kau mengerti maksud ku?" Ucap Dinna sambil mendekat kearah Nadi.
Tap!" Dinna menangkap kedua pipi Nadi yang sedikit tembem itu.
"Ayo, pergi!" Ucap Dinna sambil mengangguk-anggukan kepalanya, dan di ikuti oleh Nadi.
"Oke, kita berangkat sekarang!" Tegas Dinna berkata.
Dinna dengan cepat membereskan barang bawaannya, lalu mengambil tangan Nadi dan mulai mengajaknya berjalan.
Kali ini Nadi tidak menolak ajakan Dinna, karena Nadi mengharapkan masakan enak darinya setiap hari, dengan tenang Dia mengikutinya dari belakang, bersama Si Kucing.
...******...
Di Tengah Hutan
Mereka sudah berjalan cukup jauh, dan Dinna yang tadi sangat bersemangat, sekarang sudah kehilangan semangatnya itu, dan sekarang Ia sedang tengkurap di atas punggung Si Kucing.
"Berguna juga punya peliharaan seperti ini ya." Gumam Dinna sambil berleha-leha di punggung Si Kucing.
Sedangkan Nadi, Dia sedang fokus melihat ke sekeliling, mencari-cari Hewan Ilusi yang bisa di jadikan santapan.
Perjalanan Mereka memang tidak tentu arah, bahkan bisa dibilang mereka sedang tersesat, tapi takdir berkata lain, mereka menemukan sarang ras burung puyuh, Mereka Hewan Ilusi tingkat rendah, dan membentuk koloni, agar bisa melindungi telurnya dari pemangsa.
"Wah jackpot!!" Dinna langsung melompat dari punggung Si Kucing, pandangannya tertuju ke arah kawanan Burung Puyuh yang sedang tertidur.
Mata Dinna membulat terpesona, bahkan pantulan cahaya terlihat jelas di manik matanya, menandakan Ia benar-benar bahagia dengan apa yang di lihatnya sekarang.
"Hei, hei, lihat disana! Makanan!!" Teriak Dinna kepada Nadi, sambil menunjuk ke arah sarang burung puyuh itu.
Ras Burung Puyuh memang bisa di sebut lemah, apalagi mereka tidak bisa terbang karena tubuhnya yang besar, dan lagi sarang mereka selalu berada di atas tanah, karena tidak bisa mendirikan sarang di atas pohon.
Tapi walaupun begitu, mereka hampir sama seperti Serigala, karena selalu menyerang secara berkelompok, dan yang paling merepotkan, adalah ukurannya yang mencapai 20 meter.
Tapi, seberapa merepotkannya mereka, hal itu tidak menjadi sebab mundurnya Dinna, malahan Ia menjadi semakin semangat.
"Itu telur, enak.." Jelas Dinna kepada Nadi, sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Nadi masih bingung maksud Dinna itu, namun Ia tidak bisa menyampaikan kebingungannya.
"Ayo!! Keburu mereka bangun!" Ucap Dinna, lalu menarik tangan Nadi.
__ADS_1
...°°°°°°°°°...