
Matahari membumbung tinggi, cahayanya yang hangat itu, berhasil membangunkan Nadi yang sedang terlelap.
...°°°°°°°...
Nadi membuka matanya perlahan, karena cahaya dari mentari, sudah menusuk matanya.
Saat matanya terbuka, terlihat manik matanya seperti berselaput, dan bagian putihnya, mengeluarkan gurat merah dimana-mana.
Rasa perih dimatanya, berhasil membuat Dia mengeluarkan air mata. Perlahan Ia mencoba untuk bangkit berdiri, namun itu tidak berhasil.
Bagaimana Dia bisa berdiri, darah miliknya, serta darah milik Harimau itu, sudah mengering di bawah terik matahari, dan membuat tubuhnya menjadi menempel dengan bangkai Harimau.
Tapi Nadi tidak ingin berdiam disitu, walau bekas luka cakar di bahu kirinya baru tertutup, Ia berusaha berontak sekuat tenaganya, sampai-sampai, luka yang tertutup oleh darah yang kering itu, menjadi terbuka, dan menyebabkan cairan merah Nadi, mengalir keluar.
eeeehgg, eghhhhh, eghhhhh..!" Erangan Nadi terdengar keras, bahkan terus bertambah keras.
Ia sekarang sudah bisa merasakan aliran darahnya yang hangat, dan terus mengalir, membasahi seluruh bagian tubuhnya.
Dan berkat darahnya itu, bagian darah yang sudah mengering, menjadi ikut cair kembali, karena panasnya darah segar milik Nadi.
ckraakk..!" Suara yang terdengar kencang.
argrgghhh..!" Nadi berteriak kesakitan, bagaimana tidak, bagian luka di bahunya, malah menjadi makin membesar. Luka itu, ikut terobek bersamaan dengan Nadi yang menarik tubuhnya paksa.
Bahkan semua bulu-bulu di tangannya pun, ikut tercabut, karena melekat dengan darah kering itu, dan meninggalkan tanda merah, yang sangat perih di sekujur tubuhnya.
Setelah berhasil keluar dari sana, Nadi bergerak maju mencari Sungai, selain untuk membasuh tubuhnya, Ia juga merasa sangat amat haus.
Rasa linu, rasa perih, semuanya sedang menggerayami tubuh Nadi, terutama bahu kirinya. Rasanya seperti kesemutan, namun semut itu membawa sebuah silet untuk memotong tipis dagingnya.
Sekitar satu jam Ia berjalan, darah di sekujur tubuhnya sudah mengering, berkat sinar matahari yang sangat terik, dan Ia masih belum menemukan tempat tujuannya.
Rasa lelah itu, membuat tubuhnya menjadi sangat lapar, sangat-sangat lapar, bahkan saking laparnya, Nadi mengambil rumput yang berada di hadapannya dengan cepat, Dia mengunyah rumput itu, lalu menelannya tanpa ragu.
Saat Ia sedang menyantap rerumputan liar itu, Nadi mendengar suara gemericik air. Dia berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun, lalu mencoba fokus kepada suara yang Ia dengar tadi.
Setelah benar-benar yakin dengan suara itu, Nadi berusaha untuk bangkit berdiri. Sayangnya, karena darah di sekujur tubuhnya sangat lengket, bahkan sudah mengeras.
Membuat Ia susah untuk menggerakkan tubuhnya, karena terlalu lama jongkok untuk makan rumput tadi. Dengan kenekatannya, Nadi memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
__ADS_1
kreekk!" Suara dari hancurnya darah yang mengering.
Setelah berhasil, Nadi berjalan perlahan mendekat ke arah suara gemericik air tadi.
Saat Ia sudah sampai disana, terlihat Hewan Ilusi lain yang sedang tertidur, di dekat kolam air itu. Kolam itu memiliki air terjun, dan menghasilkan suara yang lumayan kencang.
Dan karena kencangnya suara itu, berhasil membuat Hewan Ilusi itu tertidur pulas, bahkan sampai Ia tidak menyadari keberadaan Nadi.
Nadi tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja.
kraaak!" Nadi memotong dahan pohon yang berukuran sedang.
Setelah mendapatkan dahannya, Nadi berjalan perlahan ke arah Hewan Ilusi itu. Hewan yang akan di bunuh oleh Nadi sekarang, adalah Hewan yang berwujud seperti ular.
Saking besarnya, Ular itu bisa melahap Nadi dalam sekali suapan. Tapi itu tidak menghentikan langkah Nadi, Ia masih tetap fokus kepada tujuannya.
Kenapa Nadi sangat berani melawan bahaya? Apa karena Ia sudah berhasil membunuh satu ekor Harimau? Jawabannya tidaklah serumit itu.
Jawabannya cukup sederhana, seperti kebanyakan Manusia lainnya, keberanian Nadi, di dorong oleh hawa nafsunya yang besar.
Rasa lapar yang sedang menggerogoti tubuhnya itu, menjadi faktor utama dalam kenekatannya. Dengan langkah berani, Nadi sudah dekat dengan kepala Ular Raksasa itu.
sclebbb!" Dahan itu menembus kepala Ular dengan mudahnya.
Sayangnya, Ular itu tidak langsung mati begitu saja, Ia langsung bangkit dari tidurnya, dan mengangkat kepalanya jauh-jauh keatas.
Dan Karena Nadi masih memegang Dahan yang di tancapkan di Kepala Ular itu, Nadi jadi ikut terangkat jauh ke udara.
groaawwwrr!" Ular itu mengaung kesakitan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.
sweuusshhh... byurrr!" Nadi terlempar jauh ke dalam Kolam, berkat aksi berontak dari Ular itu.
aghh," erangan kesakitan keluar dari mulut Nadi.
Untungnya Ia terlempar sampai ke sisi kolam, yang airnya hanya sampai bagian perutnya, kalau Dia terlempar sampai kebagian tengah Kolam itu, hanya kematian yang akan Dia dapat.
.
duagh,"
__ADS_1
duagh,"
duagh," Ular itu membenturkan kepalanya ke tanah berulang kali, bahkan sampai darahnya keluar bercucuran kesana kemari.
Benturan demi benturan, telah Ular itu lakukan, dan karena darah yang terus keluar dari kepala Ular itu banyak, berhasil membuat tubuhnya menjadi lemas.
Dan menyebabkan, Ia harus melepas nyawanya, di tangan anak kecil itu.
gedubrakk...!" Kepala Ular itu jatuh menghantam tanah dengan sangat keras.
.
Setelah kematian ular itu, Nadi berusaha untuk bangkit dari posisinya. Tapi Ia mengalami sedikit kesulitan, karena licinnya permukaan air kolam.
gejubar,"
gejubar"
gejubar," berulang kali Nadi berusaha untuk berdiri, dan berulang kali juga Ia terpeleset dan jatuh.
Karena tubuhnya sudah sangat lemas, Nadi memutuskan untuk setengah duduk dulu, sambil membersihkan darah yang sudah sangat lengket di tubuhnya.
Di tengah kegiatannya, Nadi melakukan hal yang Ia tidak pikirkan sebelumnya. Dalam posisinya yang setengah duduk itu, tanpa sengaja, kakinya bergerak, dengan menendang bagian dasar kolam.
Dan menyebabkan, Ia mundur dari posisinya semula. Lalu dengan cara itu, Nadi berusaha untuk mencapai tepi kolam.
Setelah sampai di tepi kolam, Nadi naik ke permukaan, lalu berlari cepat ke arah mayat ular yang Ia bunuh tadi.
Sayangnya, tepat di bagian mulut Ular itu, mengeluarkan cairan berwana hitam pekat, yang sudah menyatu dengan darah. Cairan itu mengeluarkan aroma yang sangat busuk, dan membuat napsu makan Nadi turun.
Tentunya Nadi tidak ingin menyia-nyiakan bagian tubuh Ular itu, Ia berlari ke arah pohon di dekatnya, lalu mematahkan bagian dahannya.
Dahan itu digunakan oleh Nadi, untuk merobek bagian punggung Ular itu, sampai terlihat bagian dagingnya yang di balur oleh darah segar.
Tanpa menunggu lama, Nadi segera melahapnya dengan rakus.
hap... yam, nyam, nyamn!" tarikan demi tarikan, kunyahan demi kunyahan, Nadi melakukannya sampai Ia benar-benar puas.
Karena ukuran ular itu lebih besar daripada harimau kemarin, hanya sekitar 5% bagian tubuhnya yang Nadi lahap, berbeda dengan Harimau kemarin, yang setengah bagiannya, hampir habis dilahap oleh Nadi.
__ADS_1
...°°°°°°°°°°°°°°...