
Hutan - Sesaat sebelum Nadi sadar
Dinna dan Miko sedang menjaga Nadi, mereka terlihat sangat kelelahan, bahkan garis hitam di bawah mata Dinna terukir jelas disana, Ia sama sekali tidak bisa tidur.
Seharusnya Dinna bisa saja tidur, bergantian dengan Miko untuk menjaga Nadi, tapi entah kenapa, Dinna dan Miko malah memutuskan untuk menjaga Nadi, dari sore hari sampai pagi.
Nadi pingsan sangat lama, Ia di temukan sedang terkapar sendirian, penuh luka di sekujur tubuhnya, bekas pertarungannya dengan Si Kelelawar.
Angguk.. Angguk..." Dinna sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang menyerangnya.
Plak!" Tamparan keras dilakukan oleh Dinna, kearah pipinya sendiri.
Setelah menampar dirinya sendiri, Dinna beranjak berdiri dari tempat duduknya, Ia berjalan mendekat ke arah Nadi yang sedang terkapar pingsan.
Saat Dinna baru saja sampai, Ia sedikit melihat pergerakan kecil di tangan Nadi, menandakan Ia akan bangun sebentar lagi.
"Miko!" Panggil Dinna sambil melambaikan tangannya.
Miko menghampiri Dinna, lalu duduk di sampingnya, mereka sama-sama menunggu Nadi untuk bangun. Terlihat jelas raut penuh harap dari wajah Dinna dan Miko.
Butuh sekitar 3 menit untuk Nadi mendapatkan kesadarannya kembali. Ia membuka matanya perlahan, nampak tatapan kosong di bulatan matanya itu.
Dan tiba-tiba, air mata yang entah datang darimana asalnya, mengalir keluar dari sudut mata Nadi.
"Ah, syukurlah.." Ucap Dinna, tanpa melihat Nadi sedang menangis, Ia langsung memeluk Nadi.
Momen itu berlangsung cukup lama, air mata Dinna sedang mengalir keluar, Ia sangat amat khawatir kepada Nadi, karena Nadi sudah Ia anggap sebagai keluarganya sendiri, dan Ia takut jika kembali sendirian.
Saat Nadi benar-benar telah sadar, bahkan air matanya sudah berhenti, Ia melihat Dinna yang sedang memeluknya, Ia merasakan kehangatan saat Dinna memeluknya.
"Ayo makan dulu, Kamu pasti lapar." Ucap Dinna tanpa melihat ke arah matanya, lalu melepas pelukannya perlahan, dan pergi mengambil makanan untuk Nadi.
Saat Dinna beranjak pergi untuk mengambil makanan, Nadi membenarkan posisinya, Ia sekarang sedang duduk bersila.
Miko yang melihat Nadi sudah duduk, mendekatinya perlahan, lalu Ia merebahkan tubuhnya, dan kepalanya di atas paha Nadi, dalam posisi telungkup.
Krrrr.." Dengkuran Miko terdengar nyaman, ini adalah kali pertama Miko bertingkah manja kepada Nadi, namun Nadi tidak merasa keberatan dengan hal itu, bahkan Ia mengelus kepalanya.
"Ini makanan spesial buatmu, tentunya dalam porsi jumbo." Ucap Dinna tersenyum, sambil memberikan makanan yang beralas cangkang telur.
Saat Nadi pingsan tadi, Dinna kembali ke sarang Burung Puyuh sendirian, karena Miko harus menjaga Nadi, dan entah keberuntungan atau apa, salah satu telur yang akan Ia bawa, ternyata sudah menetas, dan itu di jadikan santapan Nadi sekarang.
Saat Nadi menerima makanan itu, Ia seolah tidak tertarik, padahal biasanya Nadi yang paling bersemangat kalau soal makanan.
Nduss, nduss.." Nadi mengendus bau makanan itu, walau aromanya sangat harum, bahkan bisa membuat siapapun yang menciumnya pasti menginginkan itu, tapi Nadi sama sekali tidak bereaksi.
Sruuuut..." Dengan ekspresi datar, Nadi menyeruput kuah dingin itu.
Yang tadinya ekspresi Nadi seolah tidak tertarik, tiba-tiba ekspresinya berubah seketika, lalu dengan lahap Nadi menyantap makanan itu.
__ADS_1
Srupuut..."
Nymm. Nymmm.nymmm." Saking cepatnya Nadi melahap semua makanan itu, Miko yang sedang tiduran di pahanya mulai bangkit lalu duduk, Ia penasaran dengan makanan yang sedang di makan oleh Nadi.
"Nih, bagianmu." Ucap Dinna yang sudah menyiapkan bagian Miko.
Tentu Miko tanpa menunggu lagi langsung ikut menyantap makanannya, Ia sudah sangat lapar sebenarnya, karena menunggu Nadi saat pingsan, Ia tidak memiliki napsu makan, bahkan saat Dinna sedang memasak.
Set!" Nadi menyodorkan cangkang telur yang sudah kosong isinya.
"Oke oke, tunggu ya." Ucap Dinna sambil tersenyum hangat melihat Nadi.
Acara makan itu penuh dengan raut wajah bahagia, mereka bertiga makan sangat lahap, sampai panci kedua milik Dinna yang berukuran sangat besar, sudah ludes isinya di makan mereka.
Dengan perut yang sudah penuh, mereka berbaring kekenyangan, dan tanpa mereka sadari, mereka langsung tertidur. Walau mereka sedang tidur, raut bahagia itu tidak hilang dari wajah mereka.
Sampai Matahari menjulang tinggi....
Angin sepoy sepoy berhembus pelan melewati wajah Dinna, rambut yang semula menutup wajahnya, ikut terbang searah dengan itu, dan menyisakan wajah mungil Dinna yang terlihat sangat cerah.
"Ah.. Sudah terik.." Gumam Dinna yang baru saja membuka matanya, karena terkena sorotan sinar matahari.
Dinna lalu beranjak berdiri, meregangkan tubuhnya, dan nampak wajah puas yang terukir jelas.
Plok plok... "Ayo bangun, Kita harus melanjutkan perjalanan!" Teriak Dinna sambil menepuk tangannya.
Rrrrr......"
Brrrr!!" Miko meregang dan menggoyangkan tubuhnya, Ia sangat pulas saat tertidur tadi.
Begitu pula dengan Nadi, Ia juga ikut meregangkan badannya, lalu menggaruk kepala yang sedikit gatal.
"Ayo, kalo beruntung, sebelum malam kita sudah sampai di Kota. Dan Aku ada sedikit kejutan buatmu.." Ucap Dinna sambil tersenyum licik, ke arah Nadi.
Tentu saja Nadi dan Miko tidak mengerti ucapan Dinna, mereka ikut kepadanya bukan karena ingin berpetualang, tapi untuk mendapatkan makanan lezat buatannya.
"Ayo kita mulai hari yang menyenangkan kembali!" Teriak Dinna, yang sudah jauh dari Nadi dan Miko.
...*******...
Kota Note
Seperti yang di katakan Dinna sebelumnya, perjalanan mereka untuk sampai Kota, hanya membutuhkan waktu kurang dari 6 jam, dan sekarang mereka sedang berada di depan gerbang Kota Note.
"Kita sampai, dulu Aku pernah tinggal disini sebentar, dan ada kenalanku disana, Dia pemilik sebuah restoran terenak disini lho." Ucap Dinna antusias.
Mereka masih di depan gerbang Kota itu, tepatnya sedang mengantri untuk membayar uang masuk ke dalam kota. Harganya cukup murah, cuman 1 koin perak per orang, tapi binatang juga di hitung.
"Ini, untuk 2 orang dan 1 hewan peliharaan." Ucap Dinna sambil memberikan uang.
__ADS_1
"Ya, cepat masuk!" Jawab Si Penjaga.
Sebenarnya untuk Hewan Peliharaan, hanya boleh masuk di Kota tertentu saja, kebanyakan Kota melarang masuknya Hewan Peliharaan, kecuali Hewan Panggilan, atau kontrak.
Kota ini cukup strategis, karena berada di tengah-tengah hutan, dan banyak sekali pedagang atau petualang singgah disini.
"Ayo, tempatnya disana!" Ucap Dinna menunjuk ke sebuah restoran sederhana tidak jauh dari gerbang masuk, lalu Dinna menarik tangan Nadi, dan berlari untuk cepat sampai restoran itu.
Klang!" Suara bel pintu yang berbunyi ketika dibuka.
"Selamat data... Eh? Kamu!" Ucap Pemilik Toko, Ia biasa dipanggil Bi En, karena nama aslinya cukup merepotkan jika di sebutkan.
"Bi En!!" Teriak Dinna di depan pintu, lalu berlari ke arah Bi En, dan lekas memeluknya erat.
"Aku kangen Bi, apa kabar?" Ucap Dinna sambil menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Bi En.
"Aku juga sama, Kamu sudah pergi kemana aja selama ini? Aku sangat khawatir." Jawab Bi En.
"Bi En Tambah Birnya satu gelas!" Teriak seorang pelanggan, namum Bi En masih fokus berpelukan dengan Dinna, melepaskan rasa rindu itu perlu waktu.
"Oy, Bi En cepat tambah."
"Ya Saya juga satu!"
"Bi En pesanan Saya mana tadi?!"
"Bi..." Belum sempat orang terakhir itu berbicara.
Swushshh," Lemparan Pisau melintas di samping wajahnya.
Hiii!" Orang itu bergidik ketakutan.
"Kalian diam br***sk, dasar b**i makan aja tu kot**an yang ada disana g****lk." Keluar kata-kata mutiara dari mulut Bi En.
Bi En adalah orang paling di hormati di Kota Note, karena selain memiliki Toko, Ia juga bekerja sebagai guru, dan sering membantu anak-anak terlantar.
Dan karena Ia dulunya adalah seorang petualang, tubuhnya sangatlah kekar, Ia memiliki tubuh ideal wanita berotot, dan banyaknya bekas luka di sekujur tubuhnya, namun selain hal itu, Bi En memiliki rupa yang sangat cantik.
"Sudah Bi, Aku tunggu di belakang aja ya." Ucap Dinna sambil melepaskan pelukannya. Lalu Ia berjalan ke arah Nadi, dan menariknya ke dalam ruangan di samping Toko itu.
Baru saja mereka masuk ke dalam ruangan itu, bahkan belum sempat untuk duduk, terdengar suara keributan di Toko Bi En.
Brakkk!"
Brukk!"
"Kau harus mati Bi En!!!"
...°°°°°°°°°°...
__ADS_1