
Atas Awan
Butuh waktu seharian penuh bagi para Pemilik untuk berdiskusi, akhirnya selesai juga. Tentunya setelah selesai mereka langsung bubar begitu saja, begitu pula dengan Weist dan Aglaea.
Mereka memilih untuk langsung pergi ke lingkaran teleportasi, berniat untuk langsung pulang tanpa banyak lagi bercerita.
"Tunggu Ju!" Saut Hiji menghentikan Aglaea yang akan berteleportasi.
"Ada apa?" Tanya Aglaea.
Hiji tidak langsung menjawab, nampak raut ragu dan bimbang di wajahnya.
"Hati-hati..." Jawab Hiji cemas.
"Ya." Ucap Aglaea singkat, lalu Weist mengaktifkan lingkaran teleportasi itu, dan dalam sekejap Aglaea dan Weist menghilang dari hadapan Hiji.
Kenapa kalimatku tidak mau keluar!?" Batin Hiji kesal.
Sementara Hiji meratapi kepengecutannya, Aglaea dan Weist sudah kembali ke Mansion.
"Weist, mulai hari ini Kau urus Wilayah Nara, jadilah pemimpin yang baik disana." Perintah Aglaea, lalu Ia berjalan masuk ke dalam Mansion, meninggalkan Weist di depan gerbang sana.
"Saya permisi..." Saut Weist sambil menunduk.
"Dan ingat ini, jangan Kau cari atau dekati orang yang membunuh Reg dan Adonis, biarkan saja Dia datang sendiri pada kita." Tambah Aglaea, lalu Ia menghilang dari pandangan Weist.
Setelah Aglaea pergi, Weist memanggil Hewan Peliharaannya, dengan cara bersiul nyaring yang dapat memekakan telinga.
Swuushh..." Seekor Burung Phoenix datang secepat suara, bahkan Ia meninggalkan jejaknya di atas awan sana.
"Ayo pergi!" Ujar Weist setelah naik ke atas punggung Phoenix itu.
__ADS_1
Karena Weist sekarang menjadi Pemilik peringkat 3, mau tidak mau Ia harus menjaga semua wilayah Nara, karena sekarang itu tugasnya sebagai Pemilik.
Pemilik, adalah sebutan bagi orang yang memiliki kekuasaan, namun tentu saja kekuasaan itu tidak permanen, karena dapat di gantikan dengan orang yang lebih kuat darinya.
Tapi berbeda dengan Lima Pemilik tingkat atas, mereka sudah tentu memiliki kekuasaan permanen, namun tidak ada orang yang mengetahui tentang mereka.
Karena yang tahu tentang 5 Pemilik, maka orang itu akan lenyap pada saat itu juga. Dan ini memang aturan tidak tertulis, para 5 Pemilik adalah orang yang mengatur kestabilan di dunia.
Jika mereka tidak ada, maka orang yang memiliki Anugerah akan lebih sewenang-wenang, tugas mereka adalah memberikan batasan tertentu pada orang yang memiliki Anugerah.
Mungkin ini terkesan seperti mereka adalah orang yang menjaga dunia, tapi kenyataannya tidaklah seperti itu, mereka melakukan ini, hanya untuk mencari orang terkuat saja.
Lalu salah satu dari Pemilik akan bertarung dengan orang itu, ya secara garis besar, mereka melakukan itu untuk menghilangkan kebosanan.
Tapi tentu saja alasan mereka menjadi Pemilik berperingkat tidak sepele itu, ada sebuah alasan pribadi yang mengikat jiwa mereka masing-masing.
Dan begitulah penjelasan singkat tentang Pemilik, masih banyak misteri tentang mereka.
Kota Ujung - Mansion
"Jadi, apa Aku boleh gabung?" Tanya Nadi.
Sekarang Ia sedang di beri hukuman oleh Dinna, karena kelakuannya tadi.
"Tidak, buat apa makan, Kamu gak merasa lapar ini." Jawab Dinna tidak peduli.
"Aku butuh nutrisi, dan sudah kubilangkan, yang tadi itu cuman salah paham." Ucap Nadi tidak mau kalah.
"Salah paham apanya! Sudah jelas-jelas tadi Kamu sedang... Ishh, sudahlah!!" Dinna tidak melanjutkan perkataannya, dan memilih untuk menyantap makanan buatannya itu.
"Biarkan Dia ikut makan saja, Aku tidak mempermasalahkan hal tadi kok." Ucap Si Peri ikut dalam obrolan, sekarang Ia masih dalam bentuk manusia normalnya, dan memakai baju kaos biasa milik Dinna.
__ADS_1
"Kau masih polos, belum mengerti sepenuhnya tentang dunia itu, lebih baik sekarang makan saja, dan jangan bahas lagi soal itu." Jawab Dinna serius.
"Baik.." Ucap Si Peri murung.
"Sudah, jangan pedulikan Aku. Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Tanya Nadi.
"Aku tidak memiliki nama, namaku satu-satunya adalah pemberian temanku dulu, tapi sekarang Aku sudah lupa tentang hal itu." Jawab Si Peri.
"Baiklah, kalo begitu, akan Ku beri nama yang bagus untukmu, karena tadi Aku melihat sebelah sayap di punggungmu, akan kupanggil Kau Virra, gimana?" Tanya Nadi.
Ya, itu adalah alasan sebenarnya Nadi melihat Si Peri dengan sangat fokus, Ia bukan melihat lekuk tubuh mulus Si Peri, melainkan Sayap yang melipat di punggungnya.
Anehnya, sayap itu hanya sebelah saja, tepatnya di punggung sebelah kiri Si Peri, sayap itu nampak sangat indah, dengan warna putihnya yang bersih, sayap itu seolah memberitahu, bahwa Si Peri adalah seorang bidadari.
"Virra? Apa hubungannya dengan sayap?" Tanya balik Si Peri.
"Gak ada, cuman itu bagus aja, hhe." Jawab Nadi dengan senyum konyol di wajahnya.
Hanya Nadi yang tahu, Ia sengaja memberikan nama itu, untuk mengganti ikatan dengan Si Peri, yang semula ikatan Tuan dan Bawahan, sekarang berubah menjadi Ikatan pertemanan.
"Dih, alasan, palingan itu cuman buat pengalih karena tadi Kau emang melihat Dia." Potong Dinna.
"Yaudah kalo gak percaya, Aku pun tidak bisa memberikan bukti nyata padamu, karena hanya Aku yang dapat melihat sayap itu, Kamu dan Virra tidak bisa melihatnya."
Dinna tidak mendengarkan ucapan Nadi, Ia mengalihkan fokusnya kepada makanan di tangannya itu.
"Aku pergi dulu, kasian perutku udah berontak disana." Ucap Nadi sambil mengelus perutnya.
Nadi pun pergi, sementara itu, Si Peri sedang menunduk, melihat pantulan dirinya dari air rebusan di mangkuknya.
"Virra, Aku suka itu." Gumam Virra tersenyum simpul.
__ADS_1
...°°°°°°°°°°...