PENCURI

PENCURI
35. Teman


__ADS_3

RUMAH REG


1 hari yang lalu...


"Jadi, ada urusan apa Kau kesini?" Tanya Reg dengan wajah ketusnya.


"O o o owww... Tenang dulu dong, Aku kesini cuman ingin memberikan info kepada orang kudet yang terisolasi di tempat seperti ini." Jawab Weist sembari tersenyum mengejek.


Weist adalah Ajudan Ratu yang ketiga, dan sama seperti Reg dan Adonis, Dia juga memiliki tugas khusus untuknya. Tapi seperti yang kalian lihat, Dia tidak ada akur-akurnya dengan Reg, apalagi Adonis.


"Berisik! Pergi Kau! Ini sudah tenggat waktu, Aku harus mengerjakan tugas ini." Ucap Reg marah, sambil fokus duduk dihamparan tanah yang kosong.


Sebenarnya ini adalah tempat rahasia, dan hanya ada satu pintu masuk untuk mencapai tempat ini.


"Tapi ini adalah berita penting lho, Kau tahu kan tugas terakhir Adonis kemarin?" Tanya Weist masih berdiri di belakang Reg, tidak perduli dengan ucapan Reg tadi.


"Ya, terus..?" Jawab Reg sedikit tertarik dengan ucapan Weist, bahkan sampai melirik ke arahnya.


"Kalau sudah urusan Adonis, Kau pasti selalu menjadi bergairah... Hihi." Tawa ejekan Weist lontarkan.


"Pergi sana!!" Teriak Reg sambil mengayunkan tangan kirinya, lalu seketika muncul pasak tanah bergerak ke arah Weist.


Walaupun itu serangan kejutan, tapi sayangnya serangan Reg tidak berhasil, karena entah kenapa, pasak tanah itu, langsung melebur, bahkan sebelum mengenai baju Weist.


"Jangan bermain seperti anak kecil, untung saja bajuku tidak kotorkan..." Seringai Weist.


"Cih..." Reg langsung memalingkan wajahnya kembali, dan fokus lagi kepada hal yang di kerjakannya.


"Khusus hari ini, Aku akan berbaik hati padamu, jadi dengarkan baik-baik." Ucap Weist santai sambil berjalan perlahan kembali ke arah pintu.


"Adonis sudah mati..." Ujar Weist seraya tersenyum licik membelakangi Reg.


Reg yang mendengar ucapan terakhir Weist, tiba-tiba darahnya serasa mendidih, urat-urat ototnya sekarang mengembang keluar, dan terpancar tatapan marah di matanya.


Blam.. "Selamat tinggal.." Ucap Weist tanpa melihat ke arah Reg, dan perlahan menghilang, bersamaan dengan tutupan pintu itu.


.


Satu hari setelahnya...

__ADS_1


"Maaf Saya mengganggu, seperti perintah Anda, hari ini, Saya akan melaporkan kabar terbaru mengenai Tuan Reg." Ucap B, seorang pelayan khusus Weist.


"Ya, bicaralah." Jawab Weist yang sedang menikmati segelas anggur.


"Tuan Reg sudah tiada, dan pembunuhnya adalah orang yang sama, dengan orang yang telah membuat Tuan Adonis di hukum mati." Jelas B.


"Pergilah..." Perintah Weist setelah mendengar informasi itu, lalu B berjalan mundur secara perlahan.


"Hmmm, mati ya..." Gumam Weist seraya meneguk anggurnya itu.


"Mati? Hee, haha hahahahah...." Terpancar aura puas terukir jelas di wajah Weist, bahkan Ia sampai tertawa renyah menikmati momentum itu.


"Nah! Sekarang sudah tidak akan ada lagi yang dapat mengganggu rencanaku." Ucap Weist sambil berdiri dari tempat duduknya, lalu Ia berjalan gagah, layaknya tanpa beban di pundaknya.


.


Kediaman Aglaea


"Saya datang Ratu." Ucap Weist dengan sopan sesopan sopannya, bahkan Ia sambil bertekuk lutut, merendahkan dirinya di hadapan Aglaea.


"Ya, ada apa?" Tanya Aglaea kepada Weist.


"Saya mau melaporkan, bahwa Reg sekarang sudah tiada." Jelas Weist tanpa menatap wajah Aglaea, Ia masih menundukkan wajahnya.


"Kemarin, setelah Saya memberitahu bahwa Adonis sudah mati, sepertinya Reg bertindak untuk membalas kematian Adonis, dan Saya mendengar kabar, bahwa Ia sudah mati di tangan orang yang sudah membuat Adonis sekarat."


Mendengar itu, Aglaea tidak menjawab perkataan Weist, begitu pula dengan Weist, Ia masih terdiam setelah memberitahu hal itu pada Aglaea.


"Kita urus itu nanti, sekarang Kau pergi!" Perintah Aglaea.


"Baik." Jawab Weist, lalu Ia berjalan mundur sampai ke arah pintu, karena Ia takut tidak sopan jika membelakangi Aglaea


Setelah Weist pergi, Aglaea langsung mengepalkan tangannya kuat, terasa jelas amarahnya dari kepalan itu, jika saja Dia tidak ada urusan penting hari ini, maka Ia akan datang menghampiri Nadi sendiri.


Urusan Aglaea terbilang sangat penting, karena urusannya mencakup nyawa seluruh orang yang berada di wilayah kekuasaannya, sebenarnya Ia tidak peduli dengan nyawa orang-orang itu.


Tapi karena Ia sudah terikat janji, maka tidak ada pilihan lain selain harus menepatinya, dan salah satu cara untuk menepatinya, adalah dengan datang ke pertemuan rutin para Pemilik Wilayah.


Pertemuan besar, yang di adakan selama 5 tahun sekali. (Mungkin nanti akan Aku bahas lebih detail lagi).

__ADS_1


...*******...


Di sisi lain, setelah Nadi berhasil mengalahkan Reg, tepat bersamaan dengan itu, Dinna datang sambil melompat terjun dari atas bersama Miko.


Dinna datang bukan karena tahu bahwa pertarungannya sudah selesai, melainkan Ia datang karena ingin membantu Nadi bertarung.


Mungkin membantu kurang tepat, tapi menyelamatkan. Karena Dinna juga tahu sampai mana batas kekuatannya.


Tap!" Miko mendarat perlahan sampai menyentuh permukaan.


Nadi yang sedang fokus menikmati momen kemenangannya itu, tiba-tiba menjadi sadar kembali setelah mendengar seseorang datang dari belakangnya.


"Kau?" Tanya Nadi sambil melihat ke arah Dinna yang sedang berlari ke arahnya.


Grep!! "Bodoh! Bagaimana jika Kau mati..." Ucap Dinna sambil memeluk erat Nadi.


"Hmmm, iya maaf." Jawab Nadi sambil membalas pelukan Dinna.


"Tapi syukurlah Kau masih hidup, dan bagimana caranya mengalahkan orang itu?" Tanya Dinna melepas pelukannya sambil melihat ke arah Reg yang sudah tidak bernyawa.


"Oh itu, jawabannya rahasia." Jawab Nadi sambil tersenyum.


"Ya sudah, Ayo kita pergi." Ajak Dinna sambil mengulurkan tangannya.


"Oke." Nadi langsung menyambut hangat uluran tangan itu, lalu Ia berdiri dengan mudah karena bantuan Dinna.


"Tapi sayangnya, Aku sudah tidak bisa makan masakan enak lagi." Celetuk Nadi disamping Dinna, mereka kini sedang berjalan ke arah Miko.


Bugh! "Bodoh! Jangan bahas itu lagi!" Jawab Dinna sambil meninju bahu Nadi.


"Aww, sakit!" Rintih Nadi.


"Lemah..." Ucap Dinna tidak peduli dengan rintihan Nadi itu.


"Wreeoorrng!!" Ucap Miko sambil mengeluskan wajahnya ke tubuh Nadi.


"Ya, maaf..." Gumam Nadi sambil memeluk dan mengelus wajah Miko lembut.


Hari ini, adalah hari yang melelahkan, namun mereka berhasil melanjutkan hari itu dengan senyuman, senyuman rapuh yang entah sampai kapan akan bertahan.

__ADS_1


...°°°°°°°°°...


Jangan lupa Likenya 😊


__ADS_2